ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
LABIRIN 2


Degup jantungku semakin lama semakin cepat, bulu-bulu halus di leher hingga telingaku mulai bereaksi. Aku harus cepat! ucapku tanpa suara. Tangan kiri memegang pedang lidi dan HP untuk penetangan, tangan kanan membuka tiap lembaran buku coklat yang penuh pola dan misteri.


Aku semakin pusing, aroma daun pandan dan kemenyan semakin kuat, dicampur dengan iringan lagu pemanggil iblis. Siapa yang tidak gemetaran lutut kakinya? aku yakin, seandainya aku memiliki "Burung," mungkin ia akan menegang, berdiri, lalu terbang. Ya elah Sarah, ngomong apa sih? ucapku tanpa suara.


Sedikit lagi, tingal 3 lembar saja. Ini mudah bagi mahasiswa Sarah! ucapku terus menggila. Rasa takut membuat gadis pemalu dan pendiam seperti ku menjadi liar dan gusar.


Dati arah belakang, aku mendengar bisikan dari suara yang sangat halus dan tipis. "Tumbal pungkasaaaan ... tumbal pungkasan ... tumbal pungkasan." Lalu suara itu menghilang.


Seketika seluruh tubuhku merinding hingga bergetar. Aku seperti sedang joget disko dalam ketakutan. "Lembar terakhir," ucapku dengan suara pelan. "Tumbal pungkasan," aku membaca tulisan pada paragraf pertama yang dicetak miring tebal berwarna merah.


Dengan jari lincah namun gemetaran, aku mengetik di pencarian arti dari kata tersebut dan aku menemukannya kemudian membacanya. "Tumbal adalah pemberian persembahan nyawa untuk roh halus. Sedangkan pungkasan artinya terakhir. Berarti ... tumbal terakhir."


"Si-siapa?" tanyaku dengan suara yang bergetar. "Siapa tumbal terakhir yang dimaksud?" tanyaku sekali lagi sambil memperhatikan bagian bawah buku tersebut dan aku sempat membaca bagian terpentingnya.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok ....


Terdengar suara ketukan yang lambat namun misterius dari arah pintu lainnya di sisi kiri kamar tersebut (Bukan pintu pertama saat aku masuk).


"Apa, disana ada ruangan lainnya?" tanyaku dengan suara berbisik.


Tidak ingin bertanya, aku memutuskan untuk menghampirinya dengan berjalan lambat. Aku memegang pedang di tangan kanan dan HP di tangan kiri. Tapi saat posisi ku sangat dekat dengan pintu tersebut, suara ketukan misterius itu, menghilang.


Aku memperhatikan pintu datar tersebut dan menarik sudut kanannya dengan cepat (Menyentak), tapi aku tidak melihat apapun kecuali kegelapan. Tiba-tiba, "Eeeeemm .... " ucapku ingin berteriak tapi mulutku seakan ditutup dengan tangan yang dingin dan aku terjatuh di lantai.


Tidak, bukan hanya aku sendiri, tapi aku dapat melihat dengan jelas, ada seseorang yang berbaring di atas ku (Pocong dengan matanya yang melotot, tapi aku yakin dia bukan Sinta karena aku mengenali wajah Sinta).


Aku berusaha menggeser pocong tak dikenal itu dari atas tubuhku, tapi dia sangat berat. Mungkin dia terlalu banyak makan protein (Cacing) di dalam tanah.


Tak lama, saat aku terlentang di lantai, aku melihat seseorang yang mengenakan pakaian pengantin putih panjang berjuntai hingga ujung kakinya. Seseorang itu membuka pintu dan tampaknya ia mengamati segalanya isi ruangan ini.


Untung aku sejajar dengan lantai, jika tidak mungkin aku akan ditemukan dalam keadaan yang tidak siap. Ucapku tanpa suara. Setelah cukup lama berdiri, ia menutup kembali pintu kamarnya dan pergi entah kemana. Berarti pocong barusan menyelamatkan aku, kataku di dalam hati.


Merasa cukup aman, aku kembali berdiri (Pocongnya menghilang). Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku belum sungguh-sungguh memahami situasinya. Aku sangat kesal pada diriku sendiri.


Sambil menatap sekitar, aku mengeluh hampir menangis. Tiba-tiba kedua pergelangan kakiku ditarik paksa oleh sesuatu yang tidak aku ketahui.


Rasanya aku diseret cukup jauh, bahkan rasanya beberapa kali tubuhku seperti menyentuh anak tangga. Entah apa maksudnya, seandainya mereka bisa berbicara dengan baik-baik mungkin semua ini akan lebih mudah, ucapku di dalam hati


Aku kembali menghidupkan senter hp ku yang mati karena beberapa kali terhentak lantai kasar. Ketika aku aku mendapatkan cahaya, aku sangat terkejut karena melihat empat mayat manusia terbaring diatas sebuah meja yang terbuat dari tumpukan batu dengan lapisan semen yang halus.


Disekitar mereka ada beberapa nampan yang terbuat dari bambu. Nampan tersebut berisikan kendi-kendi kecil berjumlah lima buah, aneka bunga yang masih tampak segar, mangkuk arang, pisang raja, aneka jajanan pasar, aneka minuman seperti kopi, teh, suatu, dan air putih, dengan aroma kemenyan dimana-mana (Semerbak) hingga menusuk ke dalam hidungku.


Tak main-main, kali ini seluruh tubuhku gemetaran. Rasanya aku akan benar-benar pipis kali ini. Tiba-tiba aku teringat pola rasi bintang yang baru saja aku baca. Jika ini empat, berarti dia membutuhkan satu lagi.


Lalu apa hubungannya semua ini dengan Feli? tanyaku di dalam hati sembari melihat satu per satu mayat yang hanya bopeng-bopek tidak membusuk tersebut. Siapa pun orangnya, dia sangat kejam. Mengingat para mayat ini yang sepertinya berusia tidak jauh dari ku (Gadis).


sudah sangat pusing melihat para mayat, aku langsung memalingkan wajahku dan pada saat yang bersamaan, aku melihat roh Sinta tepat dihadapanku dengan kucuran darah di bagian bawah matanya. Dia menangis ... gumamku.


Aku seperti merasakan hatinya yang terluka. Aku yakin Sinta tidak bersalah dalam hal ini, mungkin juga dia hanya korban dari perasaan manusia yang punya alasan tertentu untuk melakukan kejahatan gaib seperti ini.


"Katakan padaku! apa yang sebenarnya terjadi? aku tau kamu sama sekali tidak bersalah dan apa yang mereka niatkan untuk sahabatku, Feli?" ujarku sambil mengatur nafas yang sudah sangat berat dan sesak.


"Cepat pergi! bukan hanya di yang dalam masalah, tapi juga kamu," ucapnya dengan suara yang basah dan menggema tapi sangat pelan dan halus.


"Apa maksud kamu, Sinta?"


"Dia (Feli) hanya wadah, sementara kamu .... " Tiba-tiba terdengar suara langkah lamban dari atas sana dan roh Sinta pun menghilang tanpa meneruskan perkataannya.


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.


CINTA DAN DOSA, kisah seorang gadis hasil broken home yang dijual hidup-hidup namun ia mampu melewati masa suram dengan mengayun langkah walau terseok, sekarang ia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.


PERFECTION OF LOVE, merupakan sambungan dari novel Cinta dan Dosa.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘