ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEHANCURAN


Semua perbuatan ada ganjarannya. Walaupun manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna, tapi kita jugalah yang paling sering melakukan kesalahan dan dosa. Baik dosa kepada Tuhan, kesesama manusia, maupun kepada ciptaan Tuhan yang lainnya.


Kesalahan dan dosa masa lalu terkadang dapat menjadi malapetaka untuk kehidupan kita di kemudian hari. Jika kita sendiri tidak merasakannya, kemungkinan besar anak cucu kita lah yang akan mendapatkan karmanya. 


Kita diciptakan dengan sifat dan tabiat yang berbeda - beda, ada yang bisa menerima kenyataan dan ada juga yang tidak, walaupun sesungguhnya Tuhan tidak pernah memberikan ujian di luar kemampuan umatnya.


*****


Dari sebuah rumah yang cukup megah dan kemudian berubah menjadi mencekam karena ceceran dan tumpahan darah yang sangat mencolok di lantai. Tiba-tiba aku beralih lokasi dan sepertinya aku mengenali tempat di mana aku berdiri saat ini.


Aku masuk ke dalam rumah sakit dan memperhatikan sekelilingku. Awalnya situasi di sini masih ramai orang yang lalu lalang. Tanpa ragu, aku melanjutkan langkah tanpa arah dan tujuan. Feli, apa yang ingin kamu perlihatkan kepadaku? tanya ku di dalam hati sambil terus melangkah dengan mata yang basah.


Semakin jauh kaki ku melangkah masuk ke dalam rumah sakit ini, semakin aku merasakan sepi. Seperti masuk ke dalam ruangan seorang diri, tidak ada teman, tidak ada cahaya, bahkan lama kelamaanpun suara yang tadinya berisik tiba - tiba menghilang dan suasana menjadi sangat senyap.


Ya Tuhan ... dimana ini? sepertinya hanya ada aku dan suara langkahku, hening sekali. Ucapku di dalam hati sambil memperhatikan sekitarku.


SEEEEEET ....


Seperti ada sesuatu yang menyebrang di belakang ku. Rasanya bagai angin yang menerbangkan kain tipis berwarna putih dalam ukuran yang cukup panjang, sehingga aku bisa melihat sedikit kibarannya.


"Tidak, aku tidak boleh melihat ke belakang! Sarah dengar! Tenang lebih baik," ucapku dengan suara yang samar. Aku meneruskan langkahku namun dengan kecepatan yang lebih tinggi, rasanya sungguh tidak nyaman.


Beberapa saat berlalu, aku merasakan angin lembut menyapa pipi dan telinga kiri ku dari arah depan ke belakang sehingga membuat bulu - bulu halus di telinga, leher, dan tanganku berdiri. Ini tidak baik, ujarku di dalam hati.


Tak lama, aku melihat seseorang berada di dalam lift dengan wajah yang tertunduk, tapi aku tidak yakin untuk mengikutinya. Hingga aku mendengar suara Feli berada di dalam lift tersebut.


"Feli?" Tanpa pikir panjang, aku segera mendekat dan menunggu di depan lift untuk menuju lantai atas.


Ting


Liftnya terbuka, tapi tidak ada siapa - siapa di dalamnya. Aku mrmutuskan untuk masuk ke dalam lift tersebut dan berdiri di dekat pintunya. Pikirku, jika terjadi sesuatu yang mengerikan, akan mudah untukku berlari keluar. 


Aku berdiri sangat dekat dengan pintu lift,


entah kenapa kali ini rasanya naik lift seperti lama sekali, padahal biasanya tidak. Aku menegakkan kepalaku dan saat itu aku tau sesuatu berdiri di belakang ku dengan kakinya yang tidak menyentuh lantai. Di dalam hati, aku mulai membaca ayat-ayat perlindungan.


Dari arah pintu lift yang berwarna silver ,


aku seperti melihat seorang wanita berambut panjang, dengan warna kulit yang pucat sedang menundukkan kepalanya tepat berada di belakangku. Ternyata perasaan ku tidak salah. Jika kamu maju, maka aku akan membakarmu. Ucapku tanpa suara.


Tiiiing


Liftnya terbuka dan aku langsung melangkahkan keluar, tapi setelah keluar dari lift ini, langkah ku malah berhenti. Ini, dimana ini? seperti sebuah ruangan panjang tanpa sekat dan hanya seperti lorong yang panjang. Aku tidak tau, aku dimana.


Aku membalikkan tubuhku berniat kembali masuk ke dalam lift dan turun ke lantai bawah. Namun saat aku membalik badan, aku kembali terkejut hingga terdiam. Bagaimana mungkin? tanyaku di dalam hati dengan mata yang membesar sambil berpikir keras.


"Bagaimana mungkin ini terjadi, bahkan aku kehilangan liftnya?" Aku sangat bingung dan berkata di dalam hati sekali lagi. Disini, tidak ada lift, hanya tembok berwarna coklat yang sudah usang.


Aku bergerak kesana dan kemari, aku berlari ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapapun di ruangan ini. "Dimana liftnya? dimana liftnyaaaa?" teriak ku hampir frustasi. "Siapapun, tolong akuuuu .... "


Aku terus berlari samnil berharap ruangan ini berujung. Tapi tidak, ruangan ini seperti lautan luas. Aku mulai merasa lelah dan berhenti berlari. Aku terduduk di lantai yang dingin sambil terus menatap sekitar ku. Ya Allah ... ucapku tanpa suara, dengan keringat dingin bercucuran membasahi wajah dan juga tubuhku.


Tak lama, dari arah kiri, aku mendengar suara tetesan air yang cukup banyak dan berulang.


Aku berdiri dan melangkah untuk mendekatinya.


Aku melihat punggung lelaki yang tidak aku kenali. "Maaf, permisi Pak. Anda petugas disini? ini dimana ya? lalu dimana jalan untuk turun? maksudku lift ataupun tangga?" ucapku bertanya tanpa henti.


Lelaki misterius tersebut membalikkan badannya dan membuat aku terkejut. "Maaf, Pak," ucapku sekali lagi, tapi orang tua tersebut hanya berdiri dan memandangku dengan pandangan yang datar.


Belum habis pandanganku, laki-laki paruh baya tersebut membelokkan wajahnya ke kiri. Sepertinya ia ingin aku melihat ke sana dan aku pun berjalan menuju suatu ruangan yang tampak asing bagiku.


Dari luar kamar tepatnya di dekat jendela,


Aku melangkah karena ingin mendekat dan bergabung bersama mereka di dalam ruangan tersebut, tapi seolah - olah ada dinding penghalang yang transparan menghadang dan menghentikan langkah ku sehingga aku tidak bisa masuk ke dalam ruangan itu, aku hanya bisa menatap dan melihat dari luar.


Dari sini, aku melihat seorang laki - laki berumur sekitar 45 tahun, badannya tinggi besar dengan wajah yang teduh, sedang duduk di kursi dan di temani oleh perempuan 


yang usianya tampak tidak terpaut terlalu jauh. Mereka berada di ruangan dengan jam dinding yang terbuat dari kayu dengan ukirannya yang khas.


Kemudian ada seorang anak laki - laki kirasan umur 15 tahun duduk di sampingnya. Mereka bertiga terlihat sangat menyedihkan, entah apa yang terjadi pada mereka semua dan aku terus memperhatikannya.


Tidak lama kemudian, muncul lah seorang gadis yang masih remaja (aku memandang dari samping sehingga wajahnya tidak jelas terlihat olehku). Gadis tersebut duduk di bawah lantai seperti posisi sungkeman di dekat laki - laki dan perempuan umur 45 tahunan tersebut. 


Entah apa yang terjadi kepada mereka? yang jelas, semuanya tampak berduka. Tangan gadis itu memegang tangan laki - laki tua tersebut sambil menangis, perutnya terlihat membesar seperti tengah hamil 7 bulan.


Aku bisa mendengarkan percakapan diantara mereka, walaupun jarak kami cukup jauh. "Ayah, maafkan aku ... aku sudah membuat Ayah dan Ibu malu," ucapnya sambil menangis tersedu - sedu.


Sang Ayah memegang kepala gadis tersebut sambil membelai rabutnya. "Tidak Nak, ini bukan kesalahanmu. Kamu anak yang baik dan pintar. Kamu selalu jadi kebanggan keluarga dan contoh untuk adikmu," ucap laki-laki tersebut yang ternyata adalah Ayah dari gadis tersebut, sambil meneteskan air mata dan suaranya terdengar bergetar.


"Ayah .... " sahut gadis tersebut sambil meletakkan kepalanya di kaki sang Ayah. "Ibu ... aku mohon, ampuni aku Bu .... "


"Ayahmu benar Nak, ini sama sekali bukan kesalahanmu. Kamu adalah korban kebiadapan manusia-manusia tidak beradab," ucapnya dengan penuh kebencian.


Disaat yang bersamaan, sang Adik merangkul Kakak perempuannya itu. Sungguh terlihat dari kejauhan luka yang teramat dalam dari keluarga itu, bahkan mereka menangis bersama sambil berpelukan.


Saat melihat kejadian itu, air mataku pun menetes. Benar-benar pemandangan yang sangat menyakitkan. Apa yang sebenarnya telah terjadi? aku bertanya di dalam hati.


Perlahan, aku berjalan ke samping kiri untuk kembali menyapa laki-laki paruh baya. Aku ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi setibanya aku di posisi 


laki-laki tadi, aku sudah tidak lagi menemukannya.


Aku kembali berputar-putar dan memandang sekelilingku. Aneh sekali, tidak ada siapapun disini dan suasananya kembali suram. Aku menundukkan kepalaku karena sudah lelah,


samar - samar aku mendengarkan suara rintihan tangisan yang riuh dari kejauhan. 


Aku berlari dengan sangat cepat, untuk menolongnya. Mungkin saja orang tersebut butuh bantuan ku. Tapi setibanya di sumber suara, aku kembali melihat Ayah gadis tadi tengah berdiri dan menangis meratap. Lalu aku berjalan untuk lebih mendekatinya.


Setibanya di hadapan laki-laki tersebut namun berjarak, aku terdiam dan terkejut. Saat itu aku melihat ia tengah berdiri menghadap tali tambang yang tinggi dan terdapat kursi di bawahnya.


Perasaanku sangat tidak baik saat melihat hal tersebut. Aku berteriak sekuat tenaga agar apa yang aku pikirkan tidak terjadi. "Tidaaaak ... jangaaaan .... " tapi sepertinya ia tidak mendengar jeritan ku.


Aku berusaha berlari dan mendekatinya untuk menggagalkan rencananya. Tapi semakin jauh aku berlari, penampakan tentang laki-laki tersebut juga semakin mundur dan menjauh dari diriku.


Tak lama, aku melihat bagaimana lelaki itu mengakhiri hidupnya. Aku melihat lelaki itu melangkahkan kaki kiri nya, kemudian ia melangkahkan kaki kiri dan kanannya dengan pandangan sangat kosong menatap lurus ke depan.


Tangannya mulai mengambil tali tambang yang sudah ia gantung dengan kuat di langit - langit kamar, lalu ia memasukkan kepalanya 


dan menarik serta mengunci tali tambang tersebut. Beberapa detik kemudian, ia mendorong dan menjatuhkan kursinya.


"Tidaaaaak .... " ucapku sambil menangis. Rasanya aku seperti melihat Ayahku sendiri yang tengah berada di atas sana dengan kakinya yang jauh dari lantai.


Aku melihat laki-laki itu tergantung, tak lama kemudian ia terdiam dan tak bernyawa. Matanya melotot dengan lidah yang terjulur panjang keluar. Wajah lelaki itu seolah-olah berhenti tepat di hadapanku. Dia sepertinya ingin memperlihatkan kepadaku, betapa sakitnya kematian yang ia alami dan aku menyaksikannya.


Aku terus menangis dan berlari mendekatinya, hingga akhirnya aku terjatuh dan tersungkur. "Ya Allah ... ya Allaaaah ... tidak ... tidak .... "


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘