ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
DISKUSI GAIB


Aku tau satu hal, menurut firasat ku yang lemah ini. Nanti malam akan terjadi badai sekali lagi. Namun entah mengapa, aku merasa bahwa aku akan hilang. Sebenernya aku sama sekali tidak tau, tentang mengapa aku harus perduli dengan semua yang terjadi di sekeliling ku.


Seperti Mia, apa salahnya jika aku dan teman-teman membiarkan dia begitu saja? toh dia bukan siapa-siapa. Tapi sebagai manusia, hatiku terpanggil. Aku teringat bagaimana diriku yang dulu, begitu bodoh dan hanya mampu menangis di sudut kamar dengan tubuh yang gemetaran.


Aku hanya ingin menjadi bermanfaat. Soal anggapan orang lain yang mengatakan bahwa aku sesat karena memiliki mata ini, aku ikhlas. Karena aku yakin, sesungguhnya Allah Maha Penilai Tangguh atas apa yang terjadi dan apa yang aku perbuat saat ini.


Allah Maha Gaib, aku percaya Allah melihat ku dari semua sudut. Sehingga aku tidak perlu kecewa akan anggapan dari orang lain yang mengatakan hal-hal buruk tentang penglihatan ku.


"Sarah, kenapa diam? apa ada yang mengganggu hati dan pikiranmu?"


"Paman, bisa kita mulai? aku ingin membayar janjiku pada Nenek Nawang Wulan."


"Baik, ayo pindah ke sudut sana," ujar Paman sambil menunjuk ke arah sudut pendopo yang lebih teduh.


"Baik, Paman."


Setelah mengatur posisi duduk dengan baik, aku mulai berbicara di dalam hati, agar Nenek Nawang Wulan bisa berinteraksi langsung dengan Paman.


"Namaku, Nawang Wulan. Aku ndak ngerti dengan semuanya. Padahal dulu aku yang paling sakti dan selalu mengatakan bahwa aku yang paling tau tentang segalanya," ucap Nenek yang duduk di samping kanan ku dengan nada suara yang datar, namun terdengar sangat merendah.


"Tentang apa ini?" tanya Paman.


"Allah. Di zaman ku dulu, aku ndak pernah dengar nama itu."


"Allah itu menurut agama Islam adalah Zat yang paling tinggi dan sempurna. Ia yang menciptakan langit, bumi, serta isinya. Allah itu hanya satu, tidak beranak dan juga tidak di beranak kan."


Aku melihat Nenek Nawang Wulan cukup bingung dengan konsep ini. Mungkin di dalam hatinya bertanya, lalu dari mana asal Allah? tapi ia menutup rapat mulutnya karena tidak ingin salah dalam menyimpulkan sesuatu.


"Lalu apa benar kalau semua yang kita lakukan akan dinilai oleh Allah? lalu kita akan mendapat ganjaran atau pun hadiah atas perbuatan kita? aku tidak mengerti soal ini. Dulu, jika kita lemah, maka kita akan mati."


"Benar. Oleh karenanya agama mengajarkan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Mana perbuatan yang dapat diampuni oleh Allah dan mana yang tidak."


"Apa Allah punya ini?" tanya Nenek Nawang Wulan sembari memperlihatkan dan menegakkan tongkat sakti miliknya yang berwarna putih bersih dengan ujungnya yang dihiasi banyak batu permata berwarna-warni yang tampak berkilauan. "Aku mendapatkan ini dari tapa brata, selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum bahkan aku tidak tidur."


"Apa hebatnya tongkat sihir itu?" tanya Paman dengan suara yang tenang dan datar.


"Aku bisa membunuh seseorang dari jarak jauh dengan tongkat ini. Aku bisa mengirimkan tuju atau bola api hanya dengan meniup tongkat ini. Aku bisa menjatuhkan musuh-musuh ku dalam jumlah banyak hanya dengan mengayunkan tongkat ini. Dan aku bisa pergi kemana pun aku mau hanya dengan menunggangi tongkat ini."


"Allah pernah memberikan keistimewaan berupa tongkat kepada salah satu Nabi-Nya yang bernama Musa. Dan dengan tongkat tersebut, Nabi Musa mampu membelah lautan," jawab Paman tegas.


"Lautan?"


"Iya, lautan. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Allah hanya tinggal memberikan perintah kepada gunung, maka gunung akan bergetar dan menimbulkan bencana gempa bumi bahkan semburan lahar merah yang sangat panas dan dapat memusnahkan apa saja yang menyentuhnya."


"Gunung?"


"Allah dapat memerintahkan laut untuk menggulung dan membersihkan apa saja yang ada di hadapannya, hingga semua menjadi rata antara manusia, rumah, gedung yang menjulang dan pepohonan yang tampak kokoh."


"Laut?"


"Allah dapat memerintahkan angin untuk berhembus kencang dan mengangkat apa saja yang ada di muka bumi ini kemudian memutar-mutar nya, lalu menghempaskan nya lagi ke bumi."


"Angin?"


"Allah dapat memerintahkan tanah untuk tergelincir ke bawah dalam bongkahan besar atau membuat lubang raksasa yang dapat menelan siapapun, menelan apapun yang ada di atasnya."


Aku melihat wajah Nenek Nawang Wulan seakan berlari kesana-kemari berusaha membayangkan semua yang diucapkan oleh Paman dengan penuh perasaan dan penghayatan.


"Bahkan tiba masanya nanti, saat kiamat terjadi, dunia yang indah ini akan hancur dan tidak ada satupun makhluk-Nya yang akan selamat. Semuanya akan lebur menjadi satu, gunung, laut, tanah, angin, manusia, gedung-gedung, pepohonan, hewan, semua akan terbang seperti anai-anai. Semua akan hancur tidak tersisa."


"Cukup ... cukup," ucap Nenek sambil menurunkan tongkat kebanggaannya dengan tangan yang gemetaran. Kemudian ia terdiam kembali.


"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"


"Seperti apa surga dan neraka?"


"Pertanyaan yang bagus, gambaran surga dan neraka ya?" ucap Paman sekali lagi dan tiba-tiba ia menatap ke arah langit, lalu ia meneteskan air matanya yang bening.


"Digambarkan dalam berbagai hadist dan ayat-ayat suci Al-Quran bahwa surga adalah tempat yang indah, yang disiapkan bagi orang-orang yang beriman. Di dalam surga ini, digambarkan bahwa seseorang akan dapat menikmati berbagai kenikmatan yang bahkan tidak perlu diminta. Allah akan memberikan apapun yang diinginkan oleh orang tersebut," kata Paman sambil tersenyum.


"Dikatakan juga bahwa surga memiliki delapan pintu yang berbeda-beda. Dan setiap pintu memiliki gambaran tersendiri. Seseorang akan masuk melalui pintu yang sesuai dengan amal perbuatan semasa hidupnya."


"Kemudian surga juga ada tingkatannya. Di dalam Al Quran Surat Toha ayat 75, dijelaskan bahwa barang siapa yang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan amalan saleh, maka mereka itulah orang yang memperoleh tingkatan-tingkatan yang tinggi (mulia)."


"Selanjutnya, dalam suatu hadist riawayat Bukhari dijelaskan bahwa Surga itu memiliki 100 tingkatan, dipersiapkan oleh Allah untuk para Mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua surga yang berdekatan sejauh jarak langit dan bumi. Dan jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus karena itulah surga yang paling tengah dan paling tinggi yang di atasnya terdapat Arsy milik Ar–Rahman. Darinya pula (Firdaus) bercabang sungai-sungai surga."


"Aku tidak mengerti .... " ucap Nenek Nawang Wulan sambil menghela nafas panjang. "Bagaimana mereka hidup dan memenuhi kebutuhannya?"


"Makanan dan minuman penghuni surga ya? Bagi penghuni surga akan diberikan makanan sesuai apa yang dinginkan oleh umat tersebut, sedangkan minumannya adalah air kafur yang merupakan mata air di dalam surga."


"Jadi semua sudah disiapkan? enak sekali."


"Neraka digambarkan sebagai suatu tempat yang memberikan siksaan bagi penghuninya. Di tempat ini, amalan-amalan buruk yang telah dilakukan akan diperlihatkan dan akan dibalas. Siksaan di dalam neraka tersebut akan berulang hingga dosa yang dilakukan telah bersih dari umat tersebut."


"Di dalam Al Quran digambarkan bahwa pintu neraka ada 7 macam yang merupakan pintu untuk masing-masing golongan orang yang berdosa. Di dalamnya juga terdapat siksaan yang berbeda-beda sesuai dengan dosa yang telah diperbuat oleh golongan tersebut."


"Sedangkan panasnya api neraka digambarkan memiliki panas 70 kali lipat jika dibandingan dengan panasnya api yang ada di dunia. Seperti dalam hadist riwayat Bukhari dan muslim yang menjelaskan bahwa api kalian ini, yang dinyalakan oleh anak Adam, hanyalah satu bagian dari 70 bagian nyala api neraka Jahannam."


"Apa itu benar?"


"Kemudian makanan dan minuman bagi penghuni neraka. Qur’an Surat Al Ghasiyan ayat 6 -7 menyatakan bahwa, Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. Sedangkan minumanya, penghuni neraka akan mendapatkan air nanah dan air mendidih yang akan memotong ususnya."


"Apa itu benar? apa itu benar, Sarah?" tanya Nenek Nawang Wulan berkali-kali dan kami hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Nenek," ucap ku lirih.


"Aku harus apa? aku ingin bertaubat. Sebenarnya, apa syarat untuk bertaubat?"


"Syarat taubat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertaubat adalah: 1. Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi. 2. Menyesali dosa yang telah dilakukan sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali," jawab Paman.


"Apalagi? katakan padaku!?"


"3. Tidak terus menerus dalam berbuat dosa. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf. 4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat. Dan yang kelima .... "


"Apa? aku ingin mengetahuinya dan menyegerakan niat ku untuk bertaubat," ujar Nenek dengan sangat antusias.


"5. Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, maka taubat tersebut tidak lagi diterima. Inilah syarat taubat yang biasa disebutkan oleh para ulama."


Setelah mendengar syarat terakhir yang dijelaskan Paman, Nenek Nawang Wulan terdiam dan tertunduk. Ia sama sekali tidak menangis, tapi aku dapat merasakan luka hatinya yang teramat dalam.


"Tapi kenapa sejak dulu tidak diberitahu? sekarang aku sudah tiada, semua sudah terlambat. Aku sudah terlambat, Sarah. Kita tidak akan dapat bertemu lagi." Lalu Nenek terdiam, begitu juga denganku dan Paman. "Niat baik ku tidak ada gunanya lagi saat ini."


"Hanya Allah yang Maha Tahu, kami hanya manusia yang diberikan sedikit ilmu oleh Allah," jawab Paman.


"Lalu bagaimana dengan makhluk yang bukan manusia seperti diriku ini? apa mereka masih punya kesempatan untuk bertaubat?" tanya Nenek setelah terdiam sekitar 10 menit.


"Allah berfirman, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. ad-Dzariyat: 56)."


"Mereka juga ada yang muslim dan ada yang kafir. Ada yang baik dan ada yang jahat. Allah berfirman, "Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam." (QS. al-Jin: 14 15).


"Di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ada kejadian jin yang dulu kafir, kemudian masuk islam. Lalu mereka menjadi dai, mengajak kawan-kawannya sesama jin untuk ikut masuk islam. Allah berfirman,"


"Ingatlah ketika Kami arahkan serombongan jin kepadamu untuk mendengarkan Alquran. Tatkala mereka menghadiri pembacaan Alquran lalu mereka berkata: "Diamlah kalian untuk mendengarkannya". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." (QS. al-Ahqaf: 29).


"Setelah mereka masuk islam, mereka mengajak jin yang lain untuk masuk islam. Mereka mengatakan, bahwa Alquran yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ajarannya sama dengan kitab yang diturunkan kepada Musa alaihis salam."


"Berarti mereka masih bisa bertaubat. Terima kasih untuk semuanya. Sakit, tapi sama sekali tidak ada lagi penyesalan bagiku untuk semua ini. Dengan hanya sempat menyebut nama-Nya saja (Allah), aku sudah merasa bahagia dan lega. Sarah, terima kasih." Lalu Nenek Nawang Wulan tidak lagi terlihat.


"Bagaimana Allah memandang semua ini, Paman?" tanya ku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Serahkan semuanya hanya kepada Allah, Sarah. Semua makhluk ciptaan Allah adalah hak-Nya. Terserah Allah mau melakukan apa ... ikhlaskan semuanya!"


"Aku mengerti, Paman."


"Apa ada lagi, Sarah?"


"Paman, adakah ayat yang sangat kuat untuk menghancurkan makhluk tak kasat mata dengan aura yang begitu kuat?"


"Paman sudah pernah mengajarkan kamu, Sarah. Semua ada di dalam susunan ayat-ayat ruqiyah."


"Baik, Paman. Aku paham."


"Itu bukan hanya soal ayat-ayatnya saja, Sarah. Namun juga keyakinan hatimu, kekuatan hatimu, ketangguhan iman mu. Saat semuanya sudah terasa penuh di dalam sini," ucap Paman sambil menunjuk ke arah tengah dadanya. "Keluarkan lah! Lemparkan lah! Hempaskan lah tepat ke arah mereka ...!!"


"Iya, Paman .... "


"Jadikan, ambil, lalu kumpulkan angin yang berada di sekitar kamu, kemudian bentuklah seperti jarum yang panjang serta tajam. Jadikan itu sebagai senjata mu, walau tak tampak, Sarah! InsyaAllah kamu tidak berjuang sendiri."


"Iya, Paman ... aku yakin sekali. Karena selama ini, aku memang tidak pernah berjuang sendiri."


"Semoga kita semua dapat melewati malam ini dengan baik sehingga esok pagi kita semua masih dapat melihat indahnya sinar matahari pagi, Sarah."


"Amin ... Amin ... Amin ya Robbal alamin."


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.