ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERTEMUAN


Ayah memanggilku berulang kali, aku pikir ini masih pagi ternyata ini sudah pukul 11.30 wib. Seluruh badanku terasa remuk, sakit, dan sepertinya berat sekali.


Tok tok tok tok tok tok tok tok


" Sarah ... saraaah .... "


" Iya yah .... "


" Bangun nak, sudah siang."


" Iya yah tunggu, badanku sakit semua Ayah."


" Apa Ayah boleh masuk?"


" Masuklah yah, tidak apa-apa."


" Kamu kenapa nak?" ucap Ayah sambil duduk di ranjang ku. "Sarah, ayah minta maaf ya nak, seharusnya sekarang ini adalah saat senang-senang buat mu. Ayah pun tadinya berharap liburan ini bisa lebih mendekatkan hubungan diantara kita semua." ucap Ayah sambil menjelang nafas panjang.


" Kita sudah lama berpisah Ayah sangat rindu padamu begitu juga dengan Ibu mu. Hhm .... tapi kenyataannya berbeda ya nak, kamu malah sangat tertekan. Sekali lagi, maafkan ayah Sarah." ucap Ayah dengan mata yang berkaca-kaca.


" Sudahlah yah, inikan musibah jadi semuanya tidak kita sangka-sangka, walaupun jujur, sebenarnya aku sangat sedih karena kehilangan si Mbok yah. Saat Ayah tidak di rumah dan Ibu tidak di samping ku, si Mbok lah yang selalu menemaniku yah." ucapku sambil meneteskan air mata.


" Iya nak, sabar ya karena kita semua kehilangan si Mbok."


" Bagaimana keadaan Ibu sekarang yah? apa sudah membaik?" ucapku sambil menghisap air hidung.


" Ibumu pagi tadi saat bangun wajahnya masih pucat tapi tetap keras kepala untuk masak, dan barusan ini masih di dapur karena Dila dan keluarganyakan mau mengunjungi kita hari ini dan Ibu juga masak banyak untuk mengirimkan ke rumah si Mbok, malam inikan mendo'a di rumah si Mbok.


" Kalau gitu aku harus bangun sekarang yah, aku harus bantu Ibu di dapur." Lalu aku bergerak dengan cepat dan semangat. Aku segera membersihkan diri dan membantu Ibu di dapur, bukan hanya aku, tapi Ayah juga.


"Baiklah yah kita bagi tugas saja, Ayah membersihkan rumah." Lalu pak Antok masuk. "Saya juga akan membantu tuan."


"Aku setuju." Dan aku membantu Ibu.


Kami pun mengerjakan tugas kami masing-masing. Rasanya hari ini suasana dan keadaan akan baik-baik saja dan semua akan kembali normal, berharap sambil tersenyum.


Aku bergegas ke dapur untuk menemui Ibu, Ibu terlihat gesit bergerak walaupun aku tau sebenarnya kondisi Ibu belum baik. "Ibu, aku datang untuk membantu."


"Yakin untuk membantu? bukan untuk mengganggu." ucap Ibu meledek ku.


" Sarah, sebaiknya kamu urus cake yang ada di dalam oven ya, tinggal tunggu matang saja."


" Baik Bu."


Ibu pergi meninggalkan dapur untuk mencari sesuatu, mungkin ada bahan masakan yang kurang. Aku fokus dengan oven ku, karena baru kali ini membuat kue, aku rajin mengintip-ngintipnya. Ha ha ha ha ha ha, ini terasa lucu bagiku.


Seeeet


" Ibu?" ucapku sambil melihat ke belakang. Perasaan seperti ada yang lewat, tapi kok ngak ada ya? Heran.


Tiba-tiba ibu datang, aku memandangnya dari kaca oven. Kenapa ibu terlihat sangat pucat dengan tatapan yang tidak memiliki arti? Ucapku di dalam hati.


Ibu terus bergerak ke arahku, terus mendekatiku tapi perasaanku menjadi tidak enak. Dia seperti bukan Ibu ku tapi wajah itu adalah wajah Ibu ku. Dari kaca oven, aku melihat tangan Ibu hampir menyentuh bahuku.


Traaank


Sendok sayur yang terbuat dari stanlis stily jatuh dari gantungannya dan pandanganku teralihkan ke sana. "Ternyata hanya sendok sayur yang jatuh." ucapku setengah berbisik. Saat aku kembali melihat ke kaca oven, Ibu sudah tidak ada lagi.


Belum hilang rasa bingungkan karena ibu yang tiba-tiba muncul kemudian tiba-tiba menghilang. Kemudian "Aduh .... " Kain lap di tanganku jatuh dan aku segera mengambilnya.


Saat aku menunduk, dari sisi kanan kakiku, aku melihat kaki yang lain sedang berdiri menghadap ke arah oven. Kaki tersebut tampak hitam dan kotor oleh debu serta berwarna pucat pasi.


Kaki siapa itu? Padahal tidak ada ibu di sini dan aku sangat yakin sekali, kalau tidak ada siapa-siapa di sini, ujarku di dalam hati.


Jantungku mulai berdegup kencang, nafas ku mulai tersesak seakan aku menyadari bahwa situasi ini tidak normal. Perlahan aku mengangkat tubuhku dan pandanganku, aku berniat untuk mengintip seseorang yang berada di samping ku melalui kaca oven, pikiran ku.


Tapi sayangnya, saat aku melihat ke kaca oven, tetap saja tidak ada siapapun, tapi perasaanku masih tidak enak dan tidak tenang.


Aku memutar wajahku dan melihat sekeliling ku. Penasaran, aku membuka setiap kain hordeng penutup kaca di dapur ini. Aku juga menyingkap semua pintu lemari dan pintu arah keluar ke gudang tua tapi tetap saja aku tidak menemukan siapa-siapa di sini.


Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan menyentuh pundak kananku dan hal. itu membuat aku berteriak. Aku berteriak memanggil ayahku dengan sekuat tenaga. Tidak perlu waktu yang lama, ayahku langsung tiba dan menghampiri aku.


" Sarah ... Ada apa nak?" Ayah melihatku kaku di depan oven dengan mata yang melotot. Sambil memegang kedua lenganku, Ayah menggoncang-goncang tubuhku perlahan dan memanggil-manggil namaku. "Sarah... Sarah ... saraaaah."


Ekspresi Ayah tampak sangat khawatir dan aku tidak ingin membuat Ayah seperti itu jadi aku memutuskan untuk menutupi penglihatan dan perasaanku.


" Iya ayah." ucapku sambil menatap Ayah dan berfikir apa yang sebaiknya aku katakan.


" Ada apa nak?" kata Ayah bertanya sekali lagi sembari memegang tanganku.


" Ayah, apa kue ini sudah matang?" aku tidak mengerti Ayah.


" Haduuuh, ya ampun Sarah. Ayah pikir ada apa? Jangan ulangi seperti itu lagi ya nak!" Ayah tampak menghela nafasnya. " Ayah pikir ada yang mengganggumu tadi."


" He he he he he, maafkan aku Ayah. " Maafkan aku Ayah karena sudah berbohong pada ayah.


" Ha ha ha ha ha ha, ini tampak cukup lucu. Sebaiknya kamu tanya ibumu Sarah, Ayah juga tidak mengerti tentang hal yang kamu tanyakan ini. Jangan terlalu banyak berharap dari Ayah untuk urusan yang satu ini Sarah." ucap Ayah sambil tertawa lepas.


Melihat Ayah tertawa seperti itu aku merasa lega. Untung saja aku tidak mengatakan apapun pada ayah, jika aku jujur pasti aku tidak akan bisa melihat tawa lepas Ayah seperti ini ini, ucapku di dalam hati.


Terkadang kita harus menutupi sesuatu atau berbohong untuk kebaikan orang-orang di sekeliling kita. Ternyata pendapat itu benar dan aku sudah membuktikannya.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Makasih 😘