ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
HARI KE TUJUH


Tujuh hari berlalu setelah penglihatanku malam itu. Aku tetap berharap semuanya hanya halusinasi semata apalagi hingga saat ini semua baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun. Atau mungkin sebenarnya ... aku sangat merindukan Tania Kakak ku.


Tapi dibalik semua pemikiran yang bermain dan berputar-putar di otakku. Aku melakukan penghitungan waktu dan hari secara tidak sengaja. Aku memberi tanda silang pada kalender di dalam kamarku dengan spidol merah. "Benar ... ini hari ketujuh." ucapku dengan suara samar-samar dan mungkin hanya aku sendiri yang bisa mendengarkannya.


Lusa adalah hati pertama pengenalan akademik. Aku sudah mempersiapkannya dengan baik kecuali sepatu kuliah. Aku belum membelinya.


Aku berdiri di depan cermin dan berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan membuka diri dan membaur dengan teman-teman yang lainnya. Apa susahnya Sarah? Toh selama ini sebenarnya kamu adalah gadis yang ceria." ujarku lalu tersenyum sendiri.


Aku keluar dari kamar untuk menyapa Ayah. Aku harap, Ayah bersedia menemani aku untuk mencari sepatu yang cocok untuk aku kenakan saat kuliah nanti. Aku juga ingin mengganti gaya rambutku. Aku ingin lebih terlihat rapi dan segar.


"Ayah ... apa Ayah sedang sibuk?" tanyaku sambil membuka pintu ruang kerja Ayah.


"Ayah masih mengerjakan proyek Ayah Nak. Ada apa?"


"Kalau Ayah tidak sibuk lagi, apa Ayah mau menemani aku ke toko sepatu dan salon?"


"Tentu saja. Beri Ayah waktu 45 menit ok."


"Baiklah yah ... aku nonton TV dulu ya yah."


"Iya .... "


Aku segera ke tuang TV dan menonton acara yang sama sekali aku tidak mengerti. Lebih baik acara komedi saja, aku ingin punya banyak tawa di hari-hari dalam hidupku ke depannya.


Aku sebenarnya sangat ingin tau, apakah di dunia ini ada orang atau gadis seusia ku yang jalan hidupnya seperti aku? Bukannya tidak iklas dengan segala ketentuan yang sudah Tuhan beri, hanya saja, ini terlalu menyakitkan.


Pukul 18.00 wib, hari pun mulai gelap. Aku memandang ke arah luar, dari dalam rumah melalui jendela yang berada di ruang tengah. Dari dalam sini, aku seperti melihat seseorang yang tidak aku kenali. Penasaran, aku bergerak perlahan mendekati jendela untuk mengetahuinya.


"Siapa sih magrib-magrib begini rela berdiri di luar dalam kondisi gelap seperti itu?" ucapku samar-samar sambil terus melangkah perlahan.


"Sarah ...." sapa Ayah dari jarak yang cukup jauh dari posisi tempat aku berdiri.


"Ayah ...."


"Apa yang kamu lakukan di sana?"


"Tadi seperti ada seseorang di luar sana yah." jawabku sembari menatap Ayah dan luar secara bergantian.


Ayah tampaknya sangat penasaran dengan ucapanku dan Iya ingin memastikan penglihatan ku. Sesampainya di dekat jendela, Ayah mengatakan padaku kalau itu hanya bayangan yang dihasilkan dari lampu luar saat sinarnya mengenai pohon kecil di samping rumah.


"Itu masuk akal yah. Aku harap semua baik-baik saja. Ada rasa kekhawatiran yang besar di dalam hatiku yah. Padahal, aku baru saja mulai merasakan ketenangan." ucapku dengan suara yang lirih.


"Jangan biarkan semua itu menguasai kamu Sarah. Lagipula mata tambahan mu sudah ditutup dan semua masalah kita sudah berakhir. Ayah ingin kamu fokus dengan kuliah kamu." ujar Ayah sambil memegang kedua bahuku untuk menguatkan aku.


"Aku mengerti yah ...."


"Baiklah ... sekarang ayo kita pergi mencari sepatu dan ke salon."


"Apa tidak makan dulu yah?"


"Kita makan di luar aja malam ini ya Sarah. Ayah ingin suasana yang berbeda."


Aku dan Ayah keluar dari rumah. Aku meminta untuk menggunakan sepeda motor kali ini, tapi Ayah tidak menyetujui ide ku karena malam, dan udara sangat sejuk. Lagi pula ini masih wajahnya magrib.


Biasanya aku tidak terlalu memperdulikan waktu magrib ataupun siang bolong, karena bagiku semua waktu itu sama saja. Tapi semenjak semua kejadian nyata yang aku alami, aku dapat menarik kesimpulan bahwa gaib ataupun makhluk halus itu memang ada. Selain itu, pengaturan waktu sebrang jalan terkuat mereka yaitu dikedua waktu itu (magrib dan siang bolong/tengah hari).


Ayah mengeluarkan mobil dan aku berjalan mendekati mobil Ayah. Tapi saat aku hendak membuka pintu depan mobil, aku merasa ada sesuatu atau seseorang yang menjambak rambutku cukup kuat hingga kepalaku tertarik ke belakang hingga aku hampir terjatuh.


"Ayah ...." ucapku setengah berteriak.


Ayah tampaknya mendengar suaraku dan segera mendekati aku. Dengan cepat Ayah membantu ku untuk berdiri dan bertanya, "Ada apa? Kamu kenapa Sarah?"


"Entahlah Ayah ... aku juga tidak tau apa yang terjadi padaku. Rasanya sesuatu menarik rambutku kuat sekali hingga aku terjatuh seperti ini Ayah." ucapku menjelaskan dan Ayah langsung membantu ku masuk ke dalam mobil.


Aku memperhatikan Ayah dari dalam. Aku melihat Ayah menatap sekeliling untuk memastikan apa yang terjadi padaku. Ayah juga tampak menghela nafas panjang sambil tertunduk.


"Ayah ... ayo pergi." ujarku sambil membuka kaca mobil.


"Iya .... " sahut Ayah dan segera masuk ke dalam mobil.


Kami mulai bergerak ke toko sepatu. Ayah bilang aku boleh memilih sepatu dengan harga dan model yang aku suka. Tanpa berlama-lama, aku segera memilih sepatu yang sesuai denganku.


Cukup lama melihat-lihat, pandangan ku terarah pada sebuah sepatu yang sederhana namun mewah menurutku. Sepatu yang berada di atas dan cukup sulit untuk aku jangkau.


Aku berusaha menggapainya dengan menjinjitkan kedua kakiku tapi aku hanya mampu menjatuhkan salah satu sepatunya saja. Aku berusaha menggapai satu sepatu bagian kiri tapi memang aku bukan gadis dengan postur tubuh tinggi jadi aku sangat kesulitan.


Tiba-tiba, sepasang tangan membantuku. Aku menatap laki-laki muda yang wajahnya tampak tidak asing bagiku. Tidak ... Dia hanya mirip saja. Aku pikir, Dia polisi yang sering aku lihat tapi ternyata aku salah.


"Makasih ...." ucapku sopan sambil menunduk.


"Sama-sama ...." ucapnya sambil menatap mataku dengan tatapan yang teduh. "Aku Rio ... kamu?" ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.


"Aku Sarah .... " sahut ku sambil tersenyum dan menjalin tangan dengannya.


"Senang berkenalan dengan kamu." ucap Rio dan aku hanya tersenyum sambil tertunduk.


Aku segera melepaskan tanganku dari tangan Rio. Tidak enak lama-lama bersentuhan dengan orang yang baru saja aku kenal. "Aku duluan ya ...." ucap Rio sembari meninggalkan aku.


Tiba-tiba, listrik padam dan suasana yang tadinya terang benderang menjadi gelap gulita. Aku terkejut dan merasa takut, rasanya aku sendiri berdiri di ruangan ini.


Lama kelamaan aku melihat ada cahaya remang-remang masuk melalui celah-celah pentilasi dan beberapa lubang kecil dari tembok. Saat aku merasa cukup banyak cahaya, tiba-tiba seseorang mucul dengan wajah yang sangat menyeramkan tepat di hadapanku, dengan matanya yang melotot dan dari matanya mengeluarkan banyak darah.


"Tidak ...." ucapku berteriak histeris.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘