
Terkadang, kita tersenyum lebar saat mengukur dan menilai tentang kebaikan apa saja yang sudah kita lakukan, tapi kita lupa meneteskan air mata untuk dosa-dosa yang sudah kita perbuat.
Bukan hanya masyarakat dari kalangan atas dan berilmu (pintar) bahkan dari kalangan terbawah juga sering sekali menganggap apa yang terjadi (kejadian tertentu), sebagai takhayul, halusinasi, bahkan pembohongan publik. Namun sayangnya, bagi beberapa orang (tertentu), mimpi buruk seperti ini adalah nyata.
Setelah mendengar ucapan tersebut, aku langsung menatap makhluk besar yang sudah bersiap untuk menumbuk tubuhku menjadi bagian dari campuran darah dan daging segar.
"Allahu Akbaaarrr .... " teriak ku penuh keyakinan sambil berlari ke arah musuhku.
Teriakan dan binar mata marah terlukis jelas di wajahnya. Bagi makhluk itu, mungkin aku adalah musuh bebuyutannya. Jadi wajar saja jika bukan hanya kebencian, tapi juga keinginan untuk menghabisi diriku sangat kuat.
Perang senjata terjadi, rasanya tubuhku sangat ringan sekali. Aku melompat dan berlari dengan sangat cepat, bahkan aku seperti dapat terangkat oleh angin.
Sebenarnya, aku sama sekali tidak tau dan tidak mampu untuk bertarung seperti ini. Namun entah dari mana asal semua ini? Aku seperti mengingat ulang acara kesayangan ku, kemudian aku mencoba gerakannya dan berhasil.
"Syaaas .... " ujar Nenek Nawang Wulan saat mengayunkan tongkat ke arah tubuh bagian belakang ku. "Jangan lengah! Musuh kamu berbeda, Sarah." Dan saat aku melihat ke belakang, sesuatu dengan wajahnya yang hancur, bergetar hebat kemudian berubah menjadi abu hitam yang terbang oleh angin.
"Terima kasih, Nenek," teriak ku sambil terus menyerang musuh besar ku yang sudah terluka berat. Tidak seperti yang lain, aku hanya menghadapi satu makhluk saja dan itu pun sudah membuat aku kualahan.
Ada satu yang mencuri perhatian ku, ketika mahkluk itu banyak mengalami luka, tubuhnya pun semakin lama semakin menyusut. Seperti balon udara yang banyak lubangnya. Walaupun ia sangat besar, tapi lama kelamaan tubuhnya mengecil, menciut dan bahkan saat ini hampir setara dengan tubuhku.
Melihat reaksi tersebut, semangat ku semakin terbakar. Aku semakin ingin berada di tengah-tengah pertempuran astral ini. Aku memegang keris dengan sangat kuat, namun pada saat aku hendak berancang-ancang untuk menghabisinya, tiba-tiba sesuatu menerjang tubuh mungil ku dari samping dan aku jatuh berguling-guling dengan rasa sakit yang luar biasa.
"Aaagggh .... " keluh ku sambil menatap ke depan. Kali ini aku berhadapan dengan makhluk yang menyerupai wujud srigala. Aku cepat bangkit, walaupun rasanya tubuhku sudah bengkok, tapi aku tetap kembali berdiri dan tidak tau harus apa selain bertarung.
"Saraaah ... ingatlah kunci yang pernah aku bisikkan kepadamu! Binasahkan dia!!" teriak Nenek Nawang Wulan dari jarak yang cukup jauh.
Aku mengerti maksud Nenek dan aku pernah menggunakannya satu kali dalam pertempuran beberapa bulan yang lalu. Saat itu, aku berhasil dan mampu membawa Feli dan Azura pulang dengan selamat. Kali ini aku juga yakin, bahwa aku akan mampu karena Allah bersama ku. Bahkan aku lebih kuat dari pada sebelumnya.
Aku segera berdiri sebelum makhluk menjijikkan itu menerkam dan mencabik serta meminum darah ku. Dia tampak sangat bersemangat, matanya sangat fokus menatap diriku dengan mulutnya yang penuh dengan air liur lekat dan sangat berbau amis.
"Aaauuukkk .... "
"Allaaah .... "
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
"Aku akan segera memakan mu dan memberikan sisa-sisa tubuhmu pada kawan ku. Ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Bismillahirrahmanirrahim ... qul a'ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad," ucap ku dengan penuh keyakinan tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Bismillahirahmanirrohim ... tabbat yadā abī lahabiw wa tabb, ma agna anhu maluhu wa ma kasab, sayasla naran zata lahab, wamra atuhu hamalatal hatab, fijidiha hablum mim masad."
"Aaakkk .... " teriaknya penuh di telingaku ketika ia sudah sangat dekat. Perang antara aku dan mereka kembali lagi, tapi kali ini ia tidak sendiri. Dibantu musuh pertama ku yang sudah sama besar dengan tubuhku, mereka menyerang bergantian dan terus menerus.
"Maju laaah ... aku tidak takut!!" teriak ku menyalin ucapan Nenek Nawang Wulan ketika dulu berperang menghadapi manusia dan jin dalam waktu yang bersamaan.
"Aaak ... aaakkk .... " teriak keduanya saling bersahutan.
Aku mengambil posisi jongkok dan ketika srigala tersebut sangat dekat, aku langsung berlari sangat kuat, lalu aku menarik dan menjambak bulu-bulu di lehernya yang sangat lebat dan panjang hingga wajahnya tertarik ke depan setengah menunduk hampir jatuh.
"Aaaauuukkk .... " teriaknya dan ia pun mulai kualahan.
Dengan cepat, aku segera menaiki punggungnya (menunggangi nya), kemudian langsung memutar kepalanya ke kiri dengan seluruh tenaga ku, dengan sangat kuat. Seketika makhluk mengerikan dan menjijikkan tersebut berakhir.
Aku tersungkur di ujung tembok, tapi tetap bisa bangkit lagi hanya karena satu alasan. Aku ingin berperang hingga tubuh ku benar-benar tidak dapat digerakkan lagi.
"Aaagggr," teriak musuh pertama ku yang berlari sangat kencang dengan memajukan kepala tanpa rambutnya yang mengkilat dan sepertinya ia berniat untuk menyundul tubuhku hingga hancur.
Aku berdiri tegak dan fokus hanya pada satu titik, yaitu dirinya. Ia sudah sangat dekat dan aku pun sudah mengangkat tinggi-tinggi keris ku, berniat untuk menancapkan nya di bagian mana saja. Tapi tiba-tiba angin kencang datang menyapaku bersama tumpukan dedaunan kering.
Semua hal itu membuat mataku perih dan sakit sehingga aku kehilangan konsentrasi dan lebih berefleks untuk mengucek kedua mataku yang rasanya kering serta perih luar biasa.
"Aaauuunggg .... " Terdengar suara aungan besar dari telinga kanan ke telinga kiri ku. Ternyata datuk sudah menghalau musuh pertamaku hingga tubuhnya terpental ke kiri. Tubuh nya terseret cukup jauh dan hal itu membuat dirinya terdiam untuk sementara waktu.
"Lebih berhati-hati lagi! Banyak sekali cara musuh untuk menghabisi mu."
"Terima kasih, maaf," ucapku dengan suara yang pelan karena sangat menyadari kebodohan ku. Tak lama, setelah melihat posisiku aman, Datuk kembali bergabung dengan yang lainnya.
"Aaagghh ... aku akan menghabis muuu manusia kecil! Aaakkk!!!"
"Aku juga akan menghabisi kamu, sebelum kamu menyesatkan kaum ku," ujar ku sambil menunjuk dirinya dengan ujung keris milik ku.
Dia kembali bangkit, aku kembali berlari. Dia marah dan terus berteriak, aku menyebut asma Allah dengan suara yang tenang, namun hati yang kuat. Pada saat yang bersamaan, kami saling beradu dan terus beradu.
Sekitar 10 menit berlalu dan aku sudah sangat merasa lelah, tiba-tiba aku mendengar suara dari dalam keris yang berada di tangan kanan ku. "Hujam tepat di leher bagian kirinya!"
"Apa?" tanya ku dengan nada suara kaget karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
"Hujam tepat di leher bagian kirinya!" jawab keris ku sekali lagi.
Aku menatap musuh ku dan selalu berusaha untuk membidik leher kirinya. Hingga ia kembali mengayunkan tinjunya dan aku melihat ada sedikit celah. Saat itu juga, aku langsung menancapkan dan menarik kerisnya dengan sangat kuat, tepat di leher kirinya.
"Wisnuuu .... " teriak makhluk setengah kuda saat melihat budak kesayangan nya sudah menjadi abu. Dia melihat ku dengan mata yang sangat merah. Tampaknya ia sangat marah dan membenciku.
Aku mengatur nafasku berulang-ulang kali agar dapat terjun pada peperangan yang lebih besar. Aku ingin sekali bertempur bersama mereka semua, terutama Nenek Nawang Wulan.
Aku harus semangat dan kuat, ucapku tanpa suara sembari bergerak ke arah Nenek Nawang Wulan. Tapi ... langkah kaki ku malah melambat, sepertinya ini sudah batas ku. Aku melihat ke arah kedua kaki yang sepertinya sudah tidak sanggup lagi ditumpangi. Ternyata, kedua lututnya sudah bergetar hebat, pantas saja aku sangat sulit bergerak.
"Aaah .... " teriak Nenek Nawang Wulan yang berhasil dijatuhkan oleh makhluk berkuda tersebut.
"Tidaaak .... " teriak ku sambil berlari hendak menghentikan laju senjata miliknya yang sudah diayunkan ke arah Nenek Nawang Wulan dengan tangan kanannya. "Allahu Akbar ... jadilah engkau anak panah yang sangat panas!!" perintah ku pada keris uang aku lempar tepat ke arah sudut (siku) tangan kanan makhluk berkuda tersebut.
Dust ...
Suara seperti letusan dan saat aku melihat ke arah keris yang aku lemparkan. Aku melihat sikut tangan kanan makhluk setengah kuda tersebut meledak dan kerisnya menciptakan lubang berwarna abu-abu.
"Aaagghhh .... " raungnya sambil mengangkat kedua kakinya secara bergantian dan memegang tangan kanan dengan tangan kirinya.
Saat itu, Nenek langsung berdiri dan memukul bagian kepala makhluk setengah kuda tersebut dengan sangat keras hingga seluruh tubuhnya terpental jauh. Aku berlari dengan cepat dan langsung menarik keris milikku yang tertancap di tembok.
"Aaagggh .... " teriak makhluk tersebut dan seketika angin berkumpul di dekatnya, kemudian ia menyerang Nenek Nawang Wulan dengan sangat cepat. Nenek Nawang Wulan terduduk tidak berdaya, tampaknya ia sudah tidak kuat lagi.
Wajar saja, Nenek sudah lama berdiam diri, tidak pernah makan atau pun menikmati sedikit aroma kemenyan. Ditambah lagi dengan mulutku yang sering menyebut nama Allah. Suara itu sangat menyiksanya, tapi ia tidak pernah meminta ku apalagi melarang ku untuk berhenti mengatakan, "Allahu Akbar."
Makhluk itu kembali melihat Nenek Nawang Wulan, sepertinya ia sudah menargetkan kehancuran Nenek saat ini. Tapi aku tidak tinggal diam, aku segera berlari dan mengayunkan keris ku pada kuda tersebut. "Allahu Akbaaar," teriak ku sembari mengayunkan keris tepat di tubuh kuda tersebut.
Ia terluka, tapi tidak mundur. Dia memang kuat dan wajar jika ia mengatakan bahwa dirinya adalah raja. Hanya saja, raja untuk istananya sendiri, bukan untuk istana Allah.
Tadinya aku sudah merasa cukup aman karena makhluk itu terluka, tapi tanpa ku duga, ia masih bisa melayangkan tendangan khas kuda yang sangat kuat ke arah dadaku. Nenek Nawang Wulan berlari dan menjadikan dirinya perisai bagi tubuhku. Hingga tendangan tersebut mendarat di dada Nenek dan ia terpental sangat jauh.
"Nenek .... " teriak ku saat melihat tubuhnya yang sudah retak berguling-guling di lantai. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana jika tendean seperti itu mengenai tubuhku. Mungkin aku akan luka dalam menahun, lalu mati.
Aku sangat marah kali ini, aku menghadapi makhluk setengah kuda tersebut sendirian. Aku dan dia terus beradu senjata dan teriakan. Aku sama sekali tidak lagi tau mana diantara kami yang terkena pukulan karena rasanya sama saja.
"Allah Akbar." Aku melayangkan keris tepat di perut kuda tersebut dan berhasil menyayat nya.
Tak lama terdengar suara dari kuda tersebut seolah memberikan perintah kepada makhluk lainnya untuk menyerang ku secara bersamaan. Sahutan dari mulut makhluk yang lainnya memenuhi ruangan dan itu memekakkan gendang telingaku.
"Mundur!!" perintah Nenek Nawang Wulan yang berusaha berdiri dengan bantuan tongkat miliknya pada semua parewangan nya. Pada saat yang bersamaan, makhluk seperti manusia menggendong tubuhku dan kami berdiri di belakang tubuh Nenek Nawang Wulan yang sudah gemetaran.
"***Dengar! Aku akan menggunakan ajian pelebur sukmo. Kalian, menjauh lah ...!"
"Putri*** .... "
"Hanya ini jalan satu-satunya. Kita kalah jumlah dan kekuatan. Jagalah dia dengan baik dan ikuti semua perkataannya!"
Aku sama sekali tidak mengerti arti perkataan Nenek Nawang Wulan tersebut. Yang aku tau, sepertinya ia ingin terus melindungi ku. Padahal kami baru saja berjumpa dan sebelumnya kami tidak pernah saling mengenal satu dengan yang lainnya.
Nenek Nawang Wulan maju cukup jauh dan ia merentangkan kedua tangannya ke atas sembari mengangkat tongkat miliknya dan membaca kalimat-kalimat yang tidak aku pahami arti dan ucapannya.
"Syyyaaasss .... " teriaknya sambil berlari dan tampak dari sini, ia mengurung makhluk lainnya bersama dirinya dengan kurungan gaib tanpa warna (bening). Kemudian muncul lah angin seperti topan yang berputar-putar sangat kuat dan cepat di atas kurungan berbentuk setengah lingkaran tersebut.
Proses itu sangat cepat terjadi dan disisi lain, makhluk setengah kuda tersebut berlari mendekati Nenek Nawang Wulan dan pada saat yang bersamaan, makhluk seperti manusia mengatakan sesuatu, "Energinya tidak cukup, aku akan membantunya. Yang lain, tetap disini!!"
Sambil berlari, ia mengatakan/membacakan sesuatu yang terdengar jelas di telingaku. Kemudian dari tubuhnya keluar cahaya yang sangat terang berwarna kuning kemerahan.
Suara raungan dari parewangan Nenek yang lainnya terdengar sangat kuat seolah mengiringi tindakan Nenek dan laki-laki seperti manusia tersebut. Namun lama kelamaan, suara itu terdengar seperti tangisan, bersamaan dengan jeritan luka dari dalam jiwa.
Laki-laki tersebut melompat sangat tinggi dan saat ia masuk ke dalam kurungan gaib yang hanya bisa di masuki oleh bagian dari diri Nenek Nawang Wulan. Terlihat kilauan dan jilatan api yang tampak membakar semua yang ada di dalamnya.
Suara teriakan dan raungan kesakitan terdengar di telingaku. Saat itu aku baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Nenek dan laki-laki itu, mengorbankan diri mereka untuk membinasakan musuh-musuhnya.
"Allahu Akbar .... " teriak Nenek Nawang Wulan dan saat itu aku melihat tubuhnya terpecah. Setelah melihat kejadian tersebut, aku baru tau mengapa makhluk hitam sangat takut dan benci dengan nama itu (Allah). Ternyata saat mereka mengatakan atau pun mendengarkannya, mereka akan terluka berat bahkan hancur.
Nenek Nawang Wulan pasti tau resikonya ketika ia berteriak memanggil nama sang Pencipta sembari memusnahkan musuh-musuhnya. Air mataku menetes, tak kala disuguhkan dengan kenyataan bahwa semua makhluk Allah sejatinya memang harus selalu menyebut nama-Nya, agar siksa api tidak mampu menghanguskan nya.
"Nenek .... " ucap ku sambil tertunduk, bahkan lutut ku terasa tidak lagi berdaya, hingga membuat aku tertekuk (terduduk) sambil melihat kobaran api besar di dalam sangkar bening tanpa sekat.
Tak lama, saat api tersebut mulai mereda. Sesuatu terpental sangat kuat dari dalam kurungan tersebut. Sebelumnya, aku seperti melihat laki-laki berwujud manusia itu mendorong dada Nenek ke luar.
Aku segera berlari dan mendekati tubuh wanita tua yang sering mempertanyakan, "Kenapa dari dulu aku tidak diberi tahu soal Allah? Dimana surga itu dan bagaimana caraku ke sana?
Perlahan, aku menyentuh tangannya yang sudah tampak gosong. Namun matanya masih bisa sedikit ia buka. "Nenek .... " sapa ku dengan lembut sambil menangis.
Nenek Nawang Wulan tidak menjawab sapaan dari bibirku. Tapi pada saat yang bersamaan, keluarlah air bening dari sudut matanya. Aku sangat terkejut saat itu, bagaimana bisa? Sementara selama ini jika air mata mereka yang tak kasi mata tumpah, warnanya adalah merah (darah).
"Nenek .... " panggil ku sekali lagi dan ia berusaha untuk mengatakan sesuatu dengan bibirnya yang bergetar.
Seolah tau apa yang diinginkan Nenek Nawang Wulan, sambil menangis aku mengucapkan sesuatu. "ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH."
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah," ucapku sembari menarik air hidungku dan terus menggenggam tangan kanan Nenek Nawang Wulan.
"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH," ucap ku sekali lagi dengan perlahan dan kali ini Nenek Nawang Wulan mengikutinya.
Setelah beliau mengucap dua kalimat syahadat, tubuhnya yang hitam legam akibat terbakar, hancur dan hilang ditiup angin yang ia kumpulkan untuk membinasakan makhluk seperti kuda, berikut dengan para budaknya. Disaat yang bersamaan, aku menangis hebat hingga tidak tau apa-apa lagi.
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.