ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
DIA


Aku dan Feli memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Saat mobil sudah terparkir di halaman rumah, Feli dengan sigap berjalan ke belakang dan memeluk tubuh gadis berseragam putih abu-abu tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara Komandan Arya hanya diam dan melotot sambil memperhatikan perilaku Feli.


Aku ingin tau siapa gadis itu, tapi telepon ku terlanjur berdering dan ternyata dari Rian. Rian mengatakan bahwa aku harus segera ke rumah sakit jika urusanku sudah selesai. Aku mengiyakan perkataan Rian dan aku memintanya untuk segera pulang.


Sekali lagi, aku minta tolong pada komandan Arya untuk segera mengantarkan aku ke rumah sakit. "Feli, aku langsung ke rumah sakit ya, sebentar lagi Rian tiba kok. Nanti kalau urusanku sudah selesai, aku akan segera pulang." Aku mengirim chat kepada Feli karena tidak sempat berpamitan secara langsung.


"Ada apa, Sarah?" tanya Komandan Arya sambil menginjak gas mobilnya.


"Nggak tau, Ndan. Tapi mesti hal penting ...."


"Iya. Sarah, jika kamu butuh bantuan seperti apapun juga, segera hubungi saya ya."


"Iya, Ndan."


"Ternyata dunia ini sangat luas dan saya baru tau. Bertemu kamu adalah hal yang menghebohkan di dalam kehidupan saya. Kamu adalah anak yang kuat Sarah, begitu juga dengan Feli."


"Dulu aku sangat penakut dan manja, Ndan. Tapi Ayah dan Tania selalu memberikan aku semangat dan kekuatan. Aku beruntung memiliki mereka. Tapi urusan Azura kali ini sangat menguras emosiku dan rasanya aku ingin menutup diri untuk hal apapun untuk beberapa waktu."


Setelah melalui perjalanan sekitar 20 menit, kami tiba di rumah sakit dan komandan Arya langsung meminta izin kepada ku untuk segera pulang dan aku pun mengiyakannya.


Kali ini, pikiranku hanya fokus kepada Ayah. Jujur saja, aku sangat khawatir dengan apa yang kira-kira akan diutarakan oleh pihak rumah sakit berhubungan dengan kesehatan Ayah.


*****


Sisi Feli


"Kamu duduk dulu ya," ucap Feli pada gadis berambut lurus panjang berwarna hitam tersebut.


Feli sangat khawatir padanya, untuk memberikan gadis yang tidak dikenal tersebut ketenangan, Feli pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat.


Feli mulai menghidupkan kompor dan meletakkan ceret air di atasnya. "Setelah ini, aku akan memintanya untuk membersihkan diri dan shalat magrib berjamaah denganku," ucap Feli sambil menuangkan gula dan sebuah teh celup di dalam cangkir keramik berwarna putih.


Tiba-tiba, saat Feli tengah asik mempersiapkan teh hangatnya, ia merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Awalnya Feli berpikir gadis itulah yang berada di sana, tapi saat Feli membalik tubuhnya, Feli sama sekali tidak menemukan siapapun.


"Oh, hanya perasaanku saja," ucap Feli sembari mematikan kompor karena airnya sudah matang.


Tapi pada saat Feli hendak menuangkan air ke dalam gelas, tanpa angin dan hujan, tiba-tiba gelas tersebut lenyap dari atas rak keramik tidak jauh dari kompor. Feli sangat merasa heran karena ia yakin bahwa gelas tersebut berada di dekatnya, bahkan baru saja ia sentuh.


Bingung, Feli kembali meletakkan ceret air panas di atas kompor dan ia mencari di mana gelas yang sudah terisi gula dan teh celup tersebut. Feli mencari di sekitar rak piring, rak gelas, meja di dekat dispenser, bahkan hingga ke bawah kolong tempat pencucian piring. Tapi Feli tidak juga menemukan gelas tersebut.


Merasa lelah dan kesal, Feli memutuskan untuk mengambil gelas baru di atas rak dan ia kembali ke dekat Sisi kompor untuk melanjutkan membuat teh untuk gadis tersebut. Namun pada saat ia sudah tiba di dekat kompor, ia kembali menemukan gelas pertama tidak jauh dari tempat semestinya dan hal tersebut membuat Feli sangat bingung hingga ia menahan dahi dengan tangan kanannya sambil berpikir keras.


"Kok bisa ada di sana? bukannya yang tadi itu hilang," ucap Feli sambil menyipitkan kedua matanya dan menyentuh gelas yang sudah terisi gula dan teh tersebut.


Tak lama, pada saat Feli memegang gelas putih tersebut, tiba-tiba dari atas menetes beberapa bulir darah pada ujung bagian gelas hingga menetes turun ke dasar gelas dan mengubah warna gula yang putih menjadi merah.


Tangan Feli gemetar hebat, dia terus memperhatikan jumlah darah yang selalu bertambah di dalam gelas tersebut hingga ke tengah bagian, bahkan hampir penuh. Karena merasa bingung, Feli memutuskan untuk melihat ke atas yang merupakan sumber asal daerah tersebut.


"Aaaaak ...." teriak Feli saat melihat seseorang yang tidak jelas wajahnya karena tertutup rambut, sedang tergantung dengan seutas tapi tepat di lehernya. Sementara darah segar terus mengalir dari ujung-ujung kedua kaki sosok misterius tersebut.


"Aaaaaaaaakkk .... " Feli mundur dengan sangat cepat hingga tubuhnya menabrak pintu dapur yang sudah terkunci dengan sendirinya.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Feli dalam melihat sosok misterius secara langsung dan itu membuat terkejut bagi jiwanya. Tidak bisa keluar dari dapur dan ia juga tidak sanggup menatap sosok misterius tersebut, Feli memutuskan untuk terus berteriak sambil duduk dan menyandarkan tubuhnya di pintu.


(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ


(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ


(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ


(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ


(١x) لَا إِلَهَ إإِلَّاالله


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)"


"Allaaaaaaah ... Allahu Akbar .... " ucap Feli sambil terus menangis dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ


Latin: A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim


Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk


"Bismillah hi rohmanirrohim .... "


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ


Latin: qul a'ụżu birabbin-nās. Maikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās. Minal-jinnati wan-nās.


Artinya: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia."


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.