
Aku menajamkan pandanganku dan terus menatap Bu Marisa tanpa henti, hingga sesuatu yang tidak aku ketahui membuat aku terkejut cukup kuat. "Astagfirullah hal azim," ucapku spontan ketika aku melihat sorot cahaya kecil dari dua sumber, seperti bola mata di balik rambut Bu Marisa.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Merisa sambil menatapku tajam.
"Maaf Bu, saya hanya terkejut."
"Baiklah ... tidak apa-apa. Jika ada masalah dengan saya, siapa pun diantara kalian, silahkan tinggalkan ruangan ini! atau kalian bisa lapor pada pihak kampus, agar saya tidak ditugaskan lagi di kelas ini," ucapnya dengan nada suara yang dingin dan tegas.
"Ya ampun ... dia seperti bom. Kamu ngak papa kan, Sarah? " tanya Dinda yang sedang mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Ya .... " jawabku sambil menganggukkan kepala dan tetap menatap punggung Bu Marisa.
Aku pernah melihat hati yang kehilangan seperti Bu Puji, tapi di dalam tatapan matanya masih ada banyak kehangatan dan cinta. Namun, wanita yang satu ini sangat berbeda. Ketika ia menatapku, aku merasa sedang berdiri sendirian ditengah negri salju tanpa mengenakan pakaian.
Proses perkuliahan dimulai. Tanpa memperhatikan orang lain, Bu Marisa terus menjelaskan tentang materi psikologi manusia. Sementara aku, aku terus memperhatikannya dan merasa bahwa apa yang ia tampilkan saat ini, sangat berbeda dengan sikap dan jiwa Bu Marisa yang sebenarnya.
Entah luka seperti apa yang sudah menggores hidupnya, sehingga ia menjadi beku bahkan membantu. Rupanya masih ada manusia di dunia ini yang jauh lebih menderita dari pada aku. Ucapku di dalam hati.
70 menit berlalu, Bu Marisa kembali membalik tubuhnya dan menatap semua mata yang hanya tertuju padanya. "Jika ada pertanyaan, kirim saja lewat e-mail! Minggu depan baru akan saya jawab bersama pembahasannya." Lalu beliau meninggalkan kelas tanpa mengucapkan salam atau kata penutup yang manis.
"Misterius!" ucapku tanpa sadar.
*****
1 minggu kemudian.
Dihari dan jam yang sama, aku kembali bertemu dengan Bu Marisa di dalam kelas. Tapi kali ini ada yang berbeda. Bu Marisa sebelumnya mampu menyembunyikan parasnya yang pucat dengan kecantikan alami dari dalam dirinya, tapi tidak kali ini. Ia benar-benar seperti mayat hidup.
Aku berusaha mengalihkan perhatianku padanya, tapi sesuatu terjadi. saat Marissa menghadap ke papan tulis, tiba-tiba aku melihat sesuatu terjatuh dari lehernya.
Aku berusaha melihatnya dengan sangat jelas dan detil. Itu seperti wajah seorang anak, tapi dalam kondisi terbalik. Lebih tepatnya lagi, kakinya mengalungi leher Bu Marisa sementara tangannya menjulur ke bawah (Menghadap ke arah tanah dengan punggung mereka yang bertemu/beradu).
Mata itu menatap tajam ke arah mataku. Tiba-tiba aku mendengar suara yang memelas dari suara kecil, "Tolong ...." ucapnya sambil meneteskan air mata darah yang banyak, sehingga membasahi rambutnya yang panjang dan bergelombang dan menetes di lantai ruang kelas (Berdasarkan penglihatanku).
Tidak tahan melihat rasa sakit seperti itu, tanpa aku sadari tubuhku berdiri dan berlari mendekati Bu Marisa. Dengan nafas yang terengah-engah, aku menyapa beliau dengan lembut. Maaf Bu .... " ucapku sambil melihat samping kanan tubuhnya.
"Saya belum selesai," ucapannya lalu Bu Marisa langsung menolehkan wajahnya kepadaku. Kemudian secara tiba-tiba ia terjatuh tidak sadarkan diri.
Aku yang sangat terkejut dan bingung, sama sekali tidak menangkap tubuh beliau saat terjatuh hingga kepalanya membentur lantai ruang kelas. Seketika teman-teman yang lain langsung berdiri dan mengangkat tubuh Bu Marisa dan membawanya ke ruang kesehatan.
"Sarah ada apa apa?" tanya Feli sambil memegang pundak kiri ku.
"Feli ada sesuatu yang tidak beres dan aku sangat yakin. Kita harus membantu dalam hal ini, tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Aku hanya dapat melihat pemandangan yang menyakitkan dari seseorang yang pasti memiliki hubungan erat dengan Bu Marisa," ujarku sembari melangkahkan kaki dengan cepat untuk mendampingi Bu Marisa.
"Kalau gitu, kamu minta izin kepada dosen lain untuk mengantar Bu Marisa pulang, sementara aku menemani Bu Marisa."
"Setuju Fel."
Aku langsung pergi ke ruang dosen dan meminta izin kepada dosen piket agar mengizinkan aku menemani serta mengantar Bu Marisa pulang, dibantu oleh Feli dan Rian. Saat itu, kami langsung mendapatkan izin tersebut.
Setelah mendengarkan perkataan dariku, Bu Marisa langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari ku. Tapi aku mengerti bahwa beliau setuju dengan ucapanku.
Dengan pedoman alamat yang diberikan Bu Marisa kepada kami, kami segera mengantarkan beliau ke rumahnya. Setibanya di sana, kami disambut oleh salah seorang asisten rumah tangga yang cukup tua. namanya Mbok Yani dan usianya sekitar 50 tahun.
"Ya ampun ... kamu kenapa, Non?" bertanya dengan suaranya yang lirih.
"Mbok, kita antar dulu Bu Marisa ke dalam kamarnya, lalu sebaiknya diberikan minuman hangat dan manis agar stamina nya kembali pulih," ujar Feli dengan tenang.
Setelah membaringkan Bu Marisa di atas ranjangnya, kami keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Aku sama sekali tidak ingin meninggalkannya saat ini. Entah mengapa, yang jelas aku merasa bahwa semua ini harus diselesaikan secepat mungkin.
Sambil menunggu si mbok mengurus Bu Marisa, aku membuka sebuah album yang tampak tersusun rapi di lemari tidak jauh dari kursi sofa di ruang tamu. Aku membuka halaman pertama dan yang aku lihat adalah wajah Bu Marisa yang tampak sangat cantik dengan riasan yang sederhana bersama seorang laki-laki dalam pose yang romantis dan manis.
Pada halaman ke-5, aku melihat Bu Marisa mengenakan pakaian kebaya putih didampingi oleh laki-laki yang sama seperti pada foto halaman pertama dengan jas berwarna hitam. di bawahnya terdapat keterangan yang menyatakan wedding.
Di dalam hatiku berkata, berarti ini adalah suami dari Bu Marisa.
Aku masih ingin melanjutkan tatapanku pada wajah asli Bu Marisa yang sangat amat cantik bagiku. Pada lembar ke 15 aku melihat Bu Marisa bergandengan tangan dengan seorang gadis kecil dan saat itu juga, tiba-tiba jantungku berdegup kencang seolah memberikan aku firasat buruk tentang gadis tersebut.
Dari setiap foto-foto yang aku lihat, aku dapat menyimpulkan bahwa Bu Marisa adalah seseorang yang sangat ekspresif dengan senyumnya yang menawan dan wajahnya yang teduh. Lalu bagaimana mungkin wanita yang tampak sempurna seperti ini bisa sangat mengerikan saat ini? aku bertanya di dalam hati sambil menghela nafas yang panjang.
Braaak
Tiba-tiba pas foto yang dikurung dalam bingkai berwarna kuning keemasan pada ukuran 10 R yang bertengger di dinding, jatuh dengan kacanya yang berderai.
"Astagfirullah hal azim .... " ucap kami bertiga bersamaan.
Aku dan Feli yang tidak enak hati karena takut dianggap berisik dan mengacau, langsung berdiri dan berniat untuk membersihkan pecahan kaca tersebut. Aku mengangkat foto yang terbalik dan ternyata ini adalah foto gadis kecil yang sama dengan di dalam album yang baru saja aku lihat. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? tanyaku di dalam hati tanpa suara.
"Sarah ... Sarah ... Sarah!" panggil Feli dan aku baru menyadarinya.
"Jangan melamun!" ucapnya mengingatkan aku tentang apa yang tidak boleh aku lakukan.
"Iya, Feli. Makasih."
Tak lama si mbok datang dan langsung membantu kami membersihkan pecahan kaca yang berderai di lantai putih mengkilat tersebut.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘