
Tidak seperti biasanya. Pagi ini terasa lebih bercahaya dan bersemangat. Aku bahkan tidak lagi melihat Feli terdiam dan lesu, malah tampaknya pagi ini Feli jauh lebih bersemangat daripada aku untuk berangkat ke kampus.
Berbeda dengan aku dan Feli, sepertinya Ayah masih ingin bersantai di atas ranjangnya. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu Ayah, tapi aku juga khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Oleh karena itu aku mengetuk pintu kamar ayah beberapa kali dan memanggilnya. Tidak lama, Ayah pun menyahut panggilan ku dan mengatakan bahwa Ayah belum ingin berangkat kerja hari ini.
"Kalian berdua berangkat ke kampus bersama siapa?" tanya Ayah sambil berjalan ke arah luar kamarnya.
"Kemarin Rian bilang, dia akan menjemput kami Yah. Makanya kami sudah bersiap-siap sejak tadi, terutama Feli Yah. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha," tawaku mengejek sahabatku yang tampak berbeda karena mengenakan make up nya yang lebih terlihat jelas daripada biasanya.
"Dasar usil, sok tau, dan sukanya hanya mengganggu saja," ujar Feli dengan wajah yang memerah.
"Rian, Kamu adalah sumber api di dalam kehidupan ku yang mampu membuat seluruh wajahku memerah, bahkan kamu mampu membakar semangat jiwa muda ku untuk berjuang hidup lebih baik. Rian, Kamu bagaikan angin lembut yang menyegarkan tubuhku di saat aku berdiri di bawah sinar matahari yang terik dan menyengat. Rian .... " ucapku dengan gaya pembaca puisi handal.
"Cukup cukup cukup! Semakin gila aja ya kamu Sarah. Nyebelin banget," ujar Feli yang semakin berusaha menjauhi dirinya dari diriku.
"Cie cie ... yang enggak mesti memakai blush on ke kampus karena pipinya udah merah," godaku tanpa henti.
"Ya ampun Sarah, kamu ini kenapa sih dan sejak kapan kamu jadi suka usil seperti ini sama aku? Nanti aku kasih tahu Kak Rio loh. Aku akan bilang, kalau kamu sudah berubah menjadi wanita yang reseh," ujar Feli yang berusaha cukup keras menghentikan olokan-olokan ku padanya.
"Oh Rian, Kapan kita akan jalan bersama dan saling bergandengan tangan?" ucapku terus-menerus menggoda Feli dan ia pun tampak kesal sambil melipat tangan di dekat dadanya dan membuang wajahnya dari pandanganku.
"Ada apa Sarah? Kenapa kamu memanggil namaku?" tanya Ryan yang ternyata sudah berada di pintu depan rumah dan mendengarkan perkataan dariku.
"Nah lho ... rasain," kata Feli dengn nada dan pandangan yang mengejek.
"Eeemh ... nggak apa-apa kok. Aku cuma mau tanya aja, kapan kamu dan Feli akan kencan bersama? Setidaknya kalau kalian jalan nonton bioskop, kan aku dapat tiket gratisan," ujarku terus melihat ke arah Feli dan Feli menggeleng- gelengkan kepalanya sekali lagi.
"Soal itu .... " Rian menggantung ucapannya.
"Jangan malu-malu Rian! Apa salahnya sih? Kita kan udah pada gede, jadi sebaiknya kita jalan-jalan refreshing sebelum ujian semester. Bagaimana?" tanya ku dengan wajah yang sumringah dan kali ini aku jauh lebih banyak bicara daripada sebelumnya.
Sebenarnya ini bukan karakter ku yang sesungguhnya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku sangat ingin banyak bicara dan bercanda serta tertawa. Apakah mungkin karena hidupku mulai berwarna dan aku benar-benar dapat merasakan bahwa cinta bisa mengubah warna-warna kelam di dalam hidupmu menjadi warna-warna yang mencolok dan menarik.
Selain itu, aku ingin Feli juga merasakan apa yang aku rasakan. Lagipula, menurutku Rian adalah laki-laki yang baik walaupun pendiam. Bukankah yang terpenting adalah mempunyai laki-laki yang baik? Tanyaku di dalam hati sambil melihat ke arah mereka berdua.
"Sebaiknya kita jalan sekarang yuk! Nanti kita telat lagi," tukas Rian sambil menahan ekspresi malunya.
Aku, Feli, dan Rian segera berjalan keluar menuju mobil Rian. Setibanya di dekat mobil Rian, aku melihat banyak hewan kecil sejenis serangga di atas mobil Rian. Aku menghentikan langkahku dan memastikan apa yang aku lihat. Tapi saat aku menyentuhnya, serangga-serangga tersebut tidak ada.
"Ada apa Sarah?"
"Kamu seperti klan Aburame."
"Apa itu artinya kamu adalah klan Uchiha, Sarah?"
"Hmmm .... "
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik?" tanya Feli yang sudah terlanjur besar kepala akibat olokan ku barusan.
"Tidak ada, hanya pembicaraan kecil," ujarku sambil menatap Rian dari jarak yang cukup jauh.
"Baiklah. Ayo kita berangkat ke kampus sekarang! " ujar Feli yang duduk di kursi depan.
*****
Setibanya di kampus, aku tidak lagi bisa banyak bicara. Bukan tanpa alasan, aku lebih memikirkan tentang apa yang baru saja aku lihat tentang Rian. Apakah Rian juga unik, sama seperti diriku dan Feli? Tanyaku tanpa suara.
Kami memulai pelajaran seperti biasanya. Aku berusaha untuk fokus tapi bagian diriku yang lain seolah mengganggu ku dengan banyak pertanyaan tentang Rian. Kepala terasa sakit dan tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang.
"Siapa itu?" tanyaku di dalam dengan suara berbisik dan aku yakin hanya aku sendiri yang mendengarkannya sambil terus memfokuskan penglihatanku.
Tidak, aku tidak salah lihat. Di samping Rian, memang ada sosok misterius yang tampak bertingkah selayaknya seorang penjaga atau bodyguard.
Selang 4 jam berlalu di dalam kelas, bel istirahat pun berbunyi. Rian langsung menyapa Feli dan sepertinya ia hendak mengajak Feli untuk duduk atau istirahat di tempat yang lebih nyaman dari pada sekedar ruang kelas.
"Seeeeth ... pusing sekali," ujarku sambil memegang dahi dengan jari-jari tangan kanan dan kiri ku. Kemudian aku memutuskan untuk menyandarkan kepalaku di atas meja.
"Sarah, kamu kenapa?" tanya Feli yang tampak khawatir.
"Kamu baik-baik aja kan Sarah?" tanya Rian sambil menundukkan kepalanya dan mengintip mataku dengan menyingkap rambut yang menutupi wajahku.
"Aku baik-baik saja. Kalian makan duluan aja, nanti aku menyusul," jawabku karena merasa sangat pusing dan mual.
"Baik. Kamu tetap disini saja ya. Nanti makanannya biar aku yang akan membawakannya ke sini," ucap Feli sambil menghapus keringat dingin di dahiku.
"Iya Fel."
Rian dan Feli meninggalkan aku sendirian di dalam kelas. Tak lama, rasa tidak nyaman di kepala ku hilang berangsur-angsur. Aku berniat untuk menyusu Feli dan Rian ke kantin tapi pada saat aku menegakkan tubuhku dalam posisi duduk di kursi, aku mendengar suara pulpen yang dimainkan dengan ibu jari.
Siapa? Tanyaku di dalam hati. Setahuku sudah tidak ada lagi teman-teman di dalam kelas ini. Penasaran, aku melihat ke arah kanan ku tepat pada sumber suara.
Dari perawakannya, aku sama sekali tidak mengenali sosok itu. Ia mengenakan baju berwarna biru tosca dan celana Levi's berwarna hitam dengan tas berwarna putih bermotif bunga tulip.
Jari-jari tangannya tampak lincah memainkan ujung pulpen untuk mengeluarkan mata pulpen berkali-kali. Tapi aku sama sekali tidak melihat ekspresi lain dari dirinya. Tubuhnya tegap kaku dan arah pandangnya hanya menuju satu titik, yaitu meja.
Aku sangat ingin menyapanya, tapi pada saat aku menggeser kursi tempat duduk dan hendak berjalan ke arahnya, tiba-tiba gadis itu menghilang secara misterius. Aku sangat terkejut karena awalnya aku tidak menyangka bahwa gadis itu adalah roh, bukan manusia.
Siapa gadis itu? Kenapa dia tiba-tiba muncul di hadapanku. Apa mungkin ia butuh pertolongan. Aku terus berkata-kata di dalam hati, sambil memperhatikan kursi di mana gadis itu duduk.
"Siapa kamu? Jangan ganggu aku! Jika butuh pertolongan, katakan saja! Tapi tolong, jangan menyiksa ku," ucapku lalu terdiam sambil memperhatikan sekitar ku.
"Siapa pun kamu, sekali lagi. Jangan ganggu aku! Jika butuh pertolongan, katakan saja! Tapi tolong, jangan menyiksa ku," ucapku sekali lagi tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda kehadiran gadis misterius tersebut.
Aku berdiri tegak sembari mengatur nafasku dan pada saat aku mencapai ketenangan, sekali lagi aku mendengar suara permainan ibu jari dengan pulpennya. Suara itu terdengar sangat dekat di telingaku.
Perlahan, aku menolehkan wajahku ke arah kursi tempat duduk ku semula. Ternyata dugaanku benar, gadis misterius itu duduk di kursi ku dengan aura yang suram dan menyeramkan.
Saat aku menatap ke arahnya, permainan ibu jari Gadis Misterius tersebut berhenti. pelahan ia mengangkat wajahnya nya sambil menatap ke arahku dengan pandangan benci. entah Dari mana asal kebenciannya tersebut yang jelas aku sama sekali tidak mengenalinya nya dan rasanya aku tidak pernah mencari masalah dengan gadis itu.
Tiba-tiba perasaanku menjadi sangat tidak enak, pikiran membawaku untuk segera pergi meninggalkan ruangan kelas. Tapi gerakan ku mampu terbaca baik oleh Gadis Misterius itu. Dengan sangat cepat, ia menggenggam tangan kiriku dan menariknya hingga posisi kami sangat berdekatan
"Pengganggu. Mati saja."
Walaupun suara gadis itu kurang jelas, tapi aku dapat mendengarkan ucapannya dengan baik dan aku yakin dengan kalimat yang baru saja ia katakan kepadaku.
Tak lama, ia menarik tanganku lebih keras lagi hingga wajahku aku sangat dekat dengan wajahnya, lalu dengan sangat cepat ia menancapkan pulpen yang ia pegang dan mainkan di dada kiriku.
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘