
Banyak orang lalu lalang di ruangan yang sempit ini. Diantara mereka, para polisi berseragam dan ada beberapa diantaranya yang aku kembali wajahnya.
Saat mereka mengurus jasad orang pintar yang sudah tergeletak di lantai, beberapa dari mereka menatap ke arahku secara bergantian. Mungkin bagi mereka aku adalah gadis yang aneh.
"Sarah, dari sini kemana?"
"Komandan, anda juga disini?" ucapku saat melihat sosok yang biasa memegang kepalaku disaat keadaan seperti ini, walaupun beliau bukan ayahku.
"Kita ke tempat korbannya, Pak," ucapku sambil tertunduk. Sementara Bu Marisa langsung menangis, seolah tau apa yang aku maksud.
"Apa Ibu masih kuat?"
"Iya, Sarah. Kita harus menyelesaikan semua ini, bukan?"
"Iya, Bu."
"Ibu duduk disini sebentar ya!" Lalu aku berjalan ke arah Rian dan menanyakan kondisinya.
"Rian, gimana?"
"Aku masih dalam keadaan baik, tenanglah .... "
"Ayah ... Ayah ... sebaiknya Ayah menemani Feli dan Rian ke rumah sakit ya. Lagian aku disini ngak sendiri. Aku kurang percaya jika orang lain yang mengurus Feli dan Rian," ucapku sambil memelas kepada Ayah.
"Baiklah ... tapi kamu janji .... "
Belum selesai perkataan Ayah, aku sudah menjawabnya. "Iya Ayah ... aku janji.''
"Heeeemh ... baiklah kalau begitu," kata Ayah sambil menghela nafas yang panjang. Ayah terlihat lelah dan hatinya tampak penuh. Beliau seperti seorang Ayah yang sangat mencemaskan anaknya yang nakal. "Ayo Rian, Om bantu kamu berdiri! Pelan-pelan saja!"
"Iya, Om. Terimakasih."
"Sarah, hati-hati ya .... " ucap Rian.
"Sarah, dari sini aku serahkan semuanya kepadamu."
"Iya Feli, jaga dan urus Rian baik-baik ya!"
"Tentu saja, tenanglah ...!"
Aku melepaskan mereka pergi hingga punggung mereka tidak lagi terlihat olehku. Saat aku membalik badan, aku melihat para polisi bekerja dengan cepat (sapu ranjau).
Mereka membereskan semua benda-benda pusaka dan alat bukti sehingga ruangan yang dibatasi oleh dinding ini bersih (kosong melompong).
"Kita sudah selesai disini, Sarah."
"Iya, Komandan."
"Bisa kita lanjutkan perjalannya?"
"Baik," sahut ku sambil menganggukkan kepala.
"Bu, apa sudah siap?" tanyaku mulai cemas karena bagian inilah yang paling sensitif dan sebenarnya aku juga tidak tau apa yang terjadi pada Kanaya karena aku belum sempat membuka gambar yang diberikan Feli pada bagian akhir.
"Apa yang terjadi?" tanya Bu Marisa berusaha menutupi kenyataan pahit yang sudah berada di depan matanya.
"Takdir Ilahi, Bu dan aku juga tidak tau. Tapi apapun itu, kita harus menghadapinya. Ibu tidak sendiri," ucapku berusaha menguatkannya yang sudah tampak sudah tidak berdaya.
"Ibu datang, Aya .... " ucapnya dengan meneteskan air mata yang besar dan berat.
*****
"Pak, kami sudah siap."
"Baiklah .... "
"Kita ke apartemen Tiara ya, Bu."
Kami berjalan ke halaman depan dan memasuki mobil berwarna hitam milik Komandan. Sementara Tiara berada di dalam mobil putih dengan tangannya yang terperangkap ke belakang dan dikunci dengan borgol.
Dia tampak dijaga ketat karena menurut Komandan, apa yang sudah ia lakukan di atas nalar manusia. Apalagi jika apa yang akan terjadi nanti sesuai dengan ekspektasi Komandan.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... selamat menikmati pertunjukan!!" tawa dan teriak Tiara dari dalam mobil dan ternyata hal itu memancing emosi Bu Marisa sehingga beliau berlari ke arah Tiara dan menghujaninya dengan pukulan menggunakan sikut kiri tepat di wajahnya berkali-kali.
Dari hidung dan mulut Tiara terlihat banyak mengeluarkan darah dan aku juga memperhatikan bahwa beberapa gigi bagian depan miliknya lepas, akibat pukulan keras dari Bu Marisa. Ternyata hal itu membuat Tiara bungkam dan tidak sanggup untuk membuka mulutnya sekali lagi untuk mentertawakan dan mengejek Bu Marisa.
Sementara para polisi disekitar Tiara terlihat berusaha melerai pukulan dari Bu Marisa dan mereka semua juga berusaha untuk menyabarkannya.
"Rasanya ingin sekali aku membunuhmu, tapi tidak. Kamu lebih pantas disiksa daripada dibunuh. Nikmatilah hidupmu, Tiara sahabatku," ucap Bu Marisa lalu meninggalkan Tiara begitu saja menuju ke arahku dan kami mulai bergerak ke apartemen Tiara.
*****
Sepanjang perjalanan, aku melihat Bu Marisa menggenggam melepas menggenggam lalu melepas kembali kedua tangannya dengan kuat. Aku tahu bagaimana perasaannya dan aku memegang tangan Bu Marisa yang terasa sangat dingin dan basah.
"Kita hampir tiba, apartemennya yang memiliki lahan parkiran luas di sebelah kanan ya Pak," ujar Bu Marisa dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Siap."
Turun, lalu kami melangkah kecil ke arah kamar Tiara yang berada di lantai atas. 2 orang polisi lainnya mengurus izin kepada pihak pengurus apartemen, sedangkan kami menunnggu sambil melangkah perlahan.
"Hidup ini seperti apa ya?" tanya Bu Marisa sambil melangkah kecil bersamaku.
"Mungkin seperti angin, Bu."
"Iyakah?"
"Ya. Kadang berhembus sangat perlahan dan terasa sangat menyejukkan."
"Seperti angin sepoi-sepoi."
"Iya, Bu. Apalagi bila datangnya di saat terik matahari dan dahaga. Rasanya nikmat sekali."
"Ha ha ha ah ha ha ha ... kamu benar, Sarah. Ternyata kamu sangat pandai."
"Heeeemmh ... tapi terkadang datang dengan kejam hingga mampu memporak-porandakan apapun yang dihadapannya."
"Seperti angin topan dan ****** beliung."
"Iya, Bu."
"Apa alasan kalian membantu saya? bukankah saya terlihat kejam?" tanya Bu Marisa sambil menatap ke arah jalan terowongan yang lurus dengan matanya yang basah.
"Untuk itu aku belum tau jawabannya, Bu. Maaf .... "
"Tidak perlu meminta maaf! Sarah, terimakasih ya."
"Sama-sama, Bu."
Kami sudah berada di depan Apartemen Tiara. Bukan hanya kami, tapi polisi yang mengurus izin juga sudah menyusul bersama pengurus apartemen. Jika dihitung-hitung, kami semua berjumlah 15 orang dan dengan jumlah ini aku rasa bisa meramaikan ruangan dan membuat suasana tidak terlalu menyedihkan.
"Izinkan saya yang membukanya," ucap pengurus apartemen ke pada Bu Marisa.
"Silahkan."
Pintu pun terbuka, pandangan kami jauh ke dalam. Penyisiran di mulai dan Bu Marisa tampak memegang-megang beberapa bagian apartemen seperti sedang membayangkan kisah dan kenangan manisnya bersama Tiara.
Saat itu aku melihat Bu Marisa menghela nafas panjang. Aku tau, ini pasti sangat berat baginya. Bukankah dihianati sahabat sama seperti dihianati diri sendiri? tanyaku tanpa suara.
"Ndan, pakaiannya," ucap salah seorang petugas yang mengenakan sarung tangan plastik sembari memegang pakaian Kanaya.
Perkataan dari petugas tersebut sontak membuat Bu Marisa menatap pilu ke arahnya. Ia berjalan dengan cepat, tapi tidak seimbang sehingga kaki kanan mengandung kaki kirinya dan ia terjatuh di lantai.
Sambil terisak dan menangis, Bu Marisa berusaha bangkit seolah sedang mengejar Kanaya. "Aya .... " ucapnya lirih dan ia melanjutkan langkahnya. "Apa boleh saya pegang?" bertanya sambil menatap ke arah komandan.
"Kanaya ...." ucapnya lirih sambil mencium dan memeluk pakaian seragam milik Kanaya.
"Subhanallah ...." ucapku sambil menutup mulut dengan tanganku.
"Bagaimana?" tanya Komandan pada setiap orang yang menyusuri lekuk apartemen mewah tersebut.
"Negatif," jawab mereka.
"Pasti masih ada ruang yang belum disentuh," jawabku sangat yakin. Lalu mereka semua saling menatap satu dengan yang lainnya dan menganggukkan kepala.
Seorang petugas berjalan ke dapur dan tidak lama ia mengatakan, " Disini!"
Kami segera bergerak ke arah dapur dan aku langsung mendekati tubuh Bu Marisa yang terasa panas. "Ya Allaaaaaaaahhhh .... " teriak Bu Marisa dengan seluruh tubuhnya yang gemetar hebat.
Saat pintu kulkas dibuka, kami melihat tubuh Kanaya berada di dalam kulkas bagian freezer dengan posisi yang sudah terlipat-lipat di dalam plastik bening dan wajah yang menghadap ke arah depan seperti menatap kami dalam posisi matanya yang tertutup.
"Kanayaaaaa ... Kanayaaaaa .... " teriak Bu Marisa tanpa henti (berulang-ulang) saat menatap putrinya yang sudah membeku seperti salju.
"Sabar Bu ... istigfar ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim .... " ucapku sambil memeluk dan memegang dada Bu Marisa yang sudah terduduk di atas lantai putih bercorak garis merah muda sembari menangis histeris.
"Kanaya ... Kanaya ... Kanaya .... " ucapnya terus berteriak seolah tidak mampu ditawar.
Semua ini memang sangat menyakitkan. Tau dari mana? saat aku menemukan Tania dan hanya dapat memegang tengkoraknya dengan beberapa helai rambut yang masih menempel di kepalanya. Subhanallah ... jeritku di dalam hati sambil terus memeluk erat tubuh Bu Marisa.
Tak hanya Bu Marisa, tapi semua orang yang menyaksikan kejadian ini juga meneteskan air mata, seolah ikut larut dalam kesakitan Bu Marisa dan mereka seperti ikut mengutuk perbuatan iblis berwujud manusia tersebut.
"Ayo kita keluarkan!" ucap Komandan dengan suara yang lemah seperti tidak berdaya.
"Siap," sahut yang lain dengan suara yang lirih.
*****
Tubuh Kanaya sudah diturunkan dari freezer dan Bu Marisa diizinkan untuk menyentuhnya saat ini. "Sampai hati kamu Tiara, dia tidak bersalah ... dia tidak berdosaaaa .... " teriaknya terus memeluk tubuh Kanaya yang masih berada di dalam plastik bening di atas lantai.
"Sabar Bu, istighfar .... " Hanya itulah kata yang mampu aku ucapkan.
"Jangan tinggalkan Ibu Kanaya! Jangan, Nak!! Ibu mohon ...!!" ucap Bu Marisa terus meratap. "Kanaya ... Aya .... " ucapnya lirih.
"Ibu ... Ibu ... apa Ibu baik-baik saja?" ucap Kanaya samar-samar terdengar di telingaku.
"Kanaya? Kanaya?" panggil ku sambil melihat ke seluruh ruangan.
Bu Marisa menatapku dan mendengarkan ucapanku yang memanggilnya nama terbaik di dalam hidupnya. "Sarah, dimana Kanaya?" tanya Bu Marisa. "Saraaah ... Sarah. Dimana Kanaya?" tanyanya sekali lagi sambil menarik-natik tanganku. Sementara mataku terus mencari-cari arah sumber suara tersebut tanpa mampu menjawab pertanyaan dari Bu Marisa.
"Ada apa, Sarah?" tanya Komandan sambil memegang pundak kanan ku.
"Aku seperti mendengar suara, Kanaya. Pak, bisa kalian mundur semuanya ke belakang?"
"Kanaya itu anak kecil, mungkin dia takut dengan polisi," jawabku menerka-nerka.
"Oh, baiklah ... mundur!" Perintah Komandan pada semuanya dan mereka semua menepi di sudut ruangan hingga tubuh mereka menempel di tembok.
"Kanaya .... " panggil ku dengan suara yang lembut.
Tak lama, lampu di apartemen mati dan hidup dengan cepat berkali-kali, lalu mati total. Tiba-tiba lampu kembali hidup dengan sendirinya dan saat itu, aku melihat sosok Kanaya dengan pakaian seragam sekolah dan beberapa luka lebam di wajahnya, sudah duduk di hadapan kami.
"Ka-kanaya?" tanyaku lalu ia tersenyum.
"Apa? dimana Kanaya?"
"Tepat berada di hadapan Ibu."
Bu Marisa meluruskan wajahnya. Aku memberi jarak antara tubuhku dan tubuh Bu Marisa, kemudian aku berusaha menjadi perantara yang baik bagi keduanya.
"Kanaya," ucap Bu Marisa dengan tatapan mata yang kosong karena memang tidak dapat melihat sosok yang diinginkannya.
"Ibu."
"Ibu," ucapku mengulang perkataan Kanaya, lalu Bu Marisa melihat ke arahku, kemudian kembali meluruskan pandangannya. Tampak sekali wajah yang bingung pada Bu Marisa.
"Kanaya," panggilnya sekali lagi.
"Ibu."
"Ibu," ucapku.
"Kanaya, maafkan Ibu," ucapnya sambil menangis dan menunduk.
"Ibu harus tetap hidup dan semangat ya!"
"Ibu harus tetap hidup dan semangat ya!" ucapku.
"Kenapa?" bertanya seolah sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup.
"Karena aku suka nafas, Ibu."
"Karena aku suka nafas, Ibu," kataku mengucapkan kalimat yang sama seperti Kanaya.
Seketika Bu Marisa menangis hebat saat mendengarkan kalimat dari mulutku itu. Sepertinya itu adalah kalimat cinta yang biasa mereka ucapkan sebagai tanda hubungan kasih sayang yang erat diantara keduanya.
Flasback
"Ibu, hari ini tidak ke kampus?" tanya Kanaya kecil sambil menggantung di tubuh Bu Marisa yang baru bangun tidur karena sedang sakit.
"Tidak. Bagaiamana Ibu bisa pergi disaat anak Ibu sedang sakit."
"Horeeee ...."
"Senang sekali? rasanya sangat aneh. Kenapa orang sakit bisa sebahagi ini ya?"
"Karena aku akan selalu bersama Ibu sepanjang hari," jawab Kanaya dengan lugu.
"Jadi begitu?"
"Iya, Bu. Ayo peluk aku!" ucap Kanaya yang wajahnya berada sangat dekat dengan Bu Marisa.
"Manjanya ... kenapa kamu sangat suka berada di bawah hidung Ibu, Kanaya?"
"Karena aku suka nafas Ibu."
Back
"Ibu ingat Kanaya, Ibu ingat kata-kata kamu itu Sayang, Ibu ingat Nak," ujar Bu Marisa semakin kuat menangis hingga tubuhnya tertunduk ke bawah dan wajahnya mencium jasad Kanaya yang berada di tengah-tengah antara Bu Marisa dan Kanaya.
"Aku sayang, Ibu. Aku suka nafas Ibu," ucap Kanaya sekali lagi, lalu ia menghilang dengan senyumnya yang cemerlang.
"Aku sayang, Ibu. Aku suka nafas Ibu," ucapku menirukan suara dan gaya Kanaya sebelum ia benar-benar menghilang. Lalu Bu Marisa memelukku sangat erat dengan tangan kirinya yang mengusap-usap tubuh Kanaya yang sangat dingin.
"Ya Allah ... tolong jaga, Kanaya ku ... seperti ia selalu menjagaku hingga akhir hayatnya," ucap Bu Marisa yang terlihat sudah memahami segalanya.
"Syukurlah ... alhamdulillah ... iklaskan segalanya, Bu! Iklaskan!"
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘