ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERANG 4


Suara tangis kuat terdengar dari dalam ruangan dimana Rian kehilangan Feli. Kali ini, ketiga mahasiswa yang lainnya pun ikut merasakan rasa sakit dan khawatir yang sama dengan Rian. Tidak, bukan hanya rasa sakit saja, melainkan rasa takut juga.


Tak lama, dari arah luar, terdengar suara kaki berlarian dengan sangat cepat. Rian menatap ke arah luar, sementara ia juga masih berpikir untuk menyusuri ruang gelap yang sebenarnya tidak ada di dalam sketsa kampus ini.


"Rian, kalian nggak papa?"


"Senior?! Apa itu benar-benar kamu?"


"Iya," sahut Kak Rio bersama Pak Handoyo. "Dimana Feli?" Lalu Rian menjawab hanya dengan memalingkan wajahnya ke arah dimana Feli di tarik dan hilang.


"Pak, bisa bawa teman-teman yang lainnya keluar? Aku akan membantu Rian."


"Tidak! Tugas utama kita adalah menyelamatkan mereka semua. Tidak ada satu pun diantara kita yang bisa menjamin keselamatan mereka. Jadi sebaiknya Senior mengawal mereka semua hingga keluar pintu gerbang utama."


"Aku mengerti. Pergilah terlebih dahulu. Aku akan segera menyusul."


"Hati-hati, Senior. Mereka tidak akan bersedia melepaskan mangsanya begitu saja."


"Aku mengerti."


Kak Rio dan Rian serta yang lainnya, berpisah di dalam ruangan tersebut. Dengan hanya berpasrah kepada Allah, namun terus berikhtiar, mereka memilih arah jalan yang berbeda (masing-masing) dan siap untuk menghadapi apapun halangan dan rintangan yang Allah berikan untuk menguji hati dan pikiran mereka.


Rian mulai mengejar Feli, walaupun dengan tapak kaki melambat karena ia merasa harus berhati-hati. Setelah masuk ke dalam ruangan asing, tiba-tiba mata Rian terbelalak karena menyaksikan dirinya sendiri seperti berada di dalam hutan lebat.


"Ya Allah ... dimana aku ini?" Rian terkejut bukan main karena melihat tubuhnya berdiri di atas kedua kaki yang sedang meniti di atas seutas tali tambang ukuran ibu jari, sementara di kiri dan kanannya adalah jurang yang terjal.


Rian melihat ke bawah, di sana penuh asap yang berhawa dingin. Entah dari mana asalnya semua ini, tapi sepertinya seseorang atau sesuatu yang misterius tidak ingin Rian melanjutkan perjalanan nya untuk menemukan Feli.


"Ya Allah, Dzat yang maha tinggi. Sesungguhnya mustahil bagiku melewati semua ini tanpa izin dan pertolongan dari-Mu. Dan tidak mungkin pikiran serta hatiku menjadi kuat, jika bukan karena sudah berjanji dihadapan-Mu, atas nama istriku ya Rob," tukas Rian sembari mengangkat kedua tangannya dan menitikkan air mata.


"Bismillahirrahmanirrahim .... " ucap Rian sambil mengambil ancang-ancang seperti seorang anak pramuka dewasa sedang melakukan pionering.


Ia meletakkan seluruh bagian tubuh di atas tali tersebut, kemudian ia mengangkat dan mengait kaki kanannya. Merasa siap, Rian mulai menarik tubuh dengan kedua tangan serentak dengan dorongan pada kakinya.


Setelah meniti tali tersebut sekitar 20 menutup, Rian mulai merasakan sesak yang luar biasa. Ia menangis karena mulai merasa tidak berdaya. Sementara ia baru meniti tali tersebut seperempat jalan.


Rian berhenti untuk mengatur nafasnya sambil menahan bibirnya yang bergetar. Ia hampir menangis dan merasa tersesat. Tapi saat semua itu melemahkan nya, tiba-tiba Rian mendengar suara yang sangat ia kenali bahkan hafal.


“Dialah Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai al-asmaul-husna (nama-nama yang baik) (QS. Thaha:8)." Rian mendengar suara Mamanya yang biasa ia dengar, ketika ia masih kecil. Kata-kata seperti ini sangat sering Rian dengar ketika Mamanya mengantar anak satu-satunya ini terlelap.


"Dari Abu Hurairah, ia berkata Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,


Sesungguhnya Allah SWT mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam syurga, (Riwayat Bukhari)."


"Mengamalkan asmaul husna sebagai amalan yang paling berharga. Mengagungkan nama Allah merupakan sebagai bentuk kecintaan kita kepada Pemilik Semesta ini. Mengamalkan Asmaul Husna juga memberikan kebaikan bagi hati kita akan memiliki kesempurnaan takut kepada Allah Ta’ala dan akan selalu menunaikan kewajibannya sebagai hamba atau ciptaan-Nya."


"*Syekh Shâlih al-Ja’fari, adalah sebagaimana Asma’ yang disebut. Disebutkan dalam kitab Khawwâsh Asmâ’ul-Husnâ Littadâwi wa Qadhâ il-Hâjât."


“Menyebut Asma’ul Husna bermanfaat bagi (urusan) dunia, agama, dan akhirat, dan zikirnya dinamakan kumpulan kebaikan-kebaikan, kunci-kunci keberkahan, dan singkapan kejelasan. Tidaklah kesulitan yang ditekuni dengan Asma’ul Husna melainkan Allah lapangkan kesulitannya, tidaklah hutang melainkan Allah tunaikan hutangnya, tidaklah kekalahan melainkan Allah akan menolongnya, tidak orang yang dizalimi melainkan Allah kembalikan kezalimannya, tidaklah orang yang sesat melainkan Allah beri petunjuk, tidaklah orang yag sakit melainkan Allah sembuhkan penyakitnya, tidaklah kegelapan hati melainkan Allah terangi hatinya dengan Asma’ul Husna.” (Muhammad bin Alwi al-Aidarus, Khawwâsh Asmâ` ul-Husnâ Littadâwi wa Qadhâ il-Hâjât, Dar el-Kutub, Shan’a, Cet. Ke-3 2011, Hal. 17).


"Ingatlah pada keutamaan asmaul husna. Diantaranya, doa dengan Asmaul Husna Akan dikabulkan Allah SWT. Allah berfirman,


“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, (QS. Al-A’raf: 180)."


"Sayang, perlu kita ketahui, keutamaan asmaul husna bukan sekedar mengetahui dan menyebut namaNya saja. Kita harus merenungkan, menghafalkan, dan mengamalkan isi kandungan yang terdapat di asmaul husna. Semoga kita bisa menjadi seorang muslim yang terbaik, yakni selamat dunia dan akhirat. Aamiin ... Cup (terdengar suara kecupan Mama yang hangat). Tidurlah kesayangan Mama. Kapan pun, dimana pun, Mama akan selalu berdo'a untuk kebaikan mu, walaupun kelak, kamu sudah dewasa*."


"Ma ... ma ... Allahu Akbar ... Allahu akbar ... Allahu Akbar." Rian kembali menegakkan kepalanya sambil terus merasakan hal yang sudah lama tidak ia rasakan yaitu suara Mamanya yang dulu selalu menghiasi telinga kanannya dengan bacaan Asmaul Husna.


"Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, ya Malik, ya Quddus, ya Salam, ya Mu'min, ya Muhaimin.


ya Aziz, ya Jabbar, ya Mutakabbir, ya Kholiq, ya Baari', ya Mushowwiru, ya Ghoffar, ya Qohhaar, ya Wahaab, ya Rozzaaq, ya Fattaah, ya 'Alim, ya Qabidh, ya Baasith, ya Khafidh, ya Rafi', ya Mu'izzu, ya Mudzillu, ya Samii', ya Bashiir, ya Hakam, ya 'Adl, ya Lathiif, ya Khabiir," ucap Rian menyenandungkan asmaul husna sambil terus bergerak ke depan.


"Ya Haliim, ya 'Adzim, ya Ghafuur, ya Syakuur, ya 'Aliyu, ya Kabiir, ya Hafidz, ya Muqiit, ya Hasiib, ya Jaliil, ya Kariim, ya Raqiib, ya Mujiib,


ya Wasi', ya Hakiim, ya Waduud, ya Majiid,


ya Baa'its, ya Syahiid, ya Haqq, ya Wakiil, ya Qawiy, ya Matiin, ya Walii, ya Hamiid, ya Muhshi, ya Mubdi' , ya Mu'iid, ya Muhyi, ya Mumiit, ya Hayyu, ya Qayyum."


"Ya Waajid, ya Maajid, ya Waahid, ya Ahad, Shamad, ya Qaadir, ya Muqtadir, ya Muqaddim, ya Muakhir, ya Awwal, ya Akhir, ya Dzaahir, ya Baathin, ya Waadii, ya Muta'alii, ya Birr, ya Tawwaab, ya Muntaqim, ya Afuw,


"Ya Allah ... berat sekali ujian ini." Belum selesai Rian berkeluh kesah, sesuatu berjatuhan cukup banyak di leher bagian belakang hingga pundak Rian.


Rian dapat merasakan sakit ketika ujung daun yang kering dan runcing tersebut mengenai bagian tengah tengkuknya. Sadar dengan yang baru saja terjadi, Rian membuka kedua matanya dan menatap sekitar. Saat itu ia sangat terkejut karena apa yang ia lihat tadi, tidak pernah ada.


Tubuh Rian berbaring di atas lantai kotor penuh dedaunan, tidak ada tali panjang ataupun jurang terjal. Tidak ada asap dan hawa dingin dari dasar tanah yang curam. "Ya Allah ... ternyata aku telah diperdaya. Astagfirullah hal azim .... " ucap Rian sambil berdiri dan kembali menatap terowongan kecil yang gelap.


Tidak ingin kehabisan waktu, Rian kembali berjalan dengan langkah cepat menuju jalan satu arah yang berada di hadapannya. Rian sangat hati-hati kali ini, tapi sayangnya, kaki kanan Rian tergelincir dan ia terjatuh, lalu pingsan.


*****


Sisi Feli.


"Aaah .... " keluh Feli sambil terus berjalan di dalam gelap dan hanya menggunakan tangannya sebagai penuntun jalan. Sementara kaki kanannya terasa sakit hingga jalannya setengah menyeret.


Cukup lama melewati gelap, tiba-tiba Feli melihat cahaya dari api yang keluar akibat susunan kayu bakar. Tidak mungkin ada orang disini, ujar Feli tanpa suara. Tapi ia tetap memilih terang daripada gelap.


Ketika langkahnya tiba di dekat api unggun kecil tersebut, ia tidak dapat melihat siapa pun. Tidak ingin berlama-lama di tempat asing, Feli kembali menyeret langkahnya ke arah kanan.


Semakin lama, ruangan itu semakin terang. Ketika Feli tiba di ujung jalan, ia melihat seorang wanita yang tampaknya sangat ia kenali mengenakan piama berwarna coklat muda.


"Ibu .... " sapa Feli yang sangat terkejut melihat wanita yang sudah sangat lama ia rindukan berada di hadapannya dalam wujud yang tidak berbeda dari 11 tahun yang lalu. "Ibuuu .... " teriak Feli setengah berlari hanya dengan menggunakan satu kakinya (kaki kiri), sementara kaki kanannya ia angkat agar tidak menghambat keinginannya untuk memeluk sang Ibu.


"Feli .... " sahut wanita tersebut sembari merentangkan kedua tangannya.


Saat ini, Feli berhasil menggapai tubuh wanita tinggi semampai berkulit kuning langsat tersebut. "Ibu ... Ibu dari mana saja? Aku rindu sekali, Bu," ucap Feli sambil terus menangis.


"Ibu masih disini, Feli. Menunggu kamu datang."


"Aku rindu sekali pada Ibu. Jangan meninggalkan aku lagi, Bu. Aku mohon .... " ucap Feli terus menangis sambil memeluk.


"Maaf Feli, kamu pasti sangat menderita selama ini."


"Ibu, aku ingin sekali selalu bersama Ibu. Apa yang harus aku lakukan agar Ibu bersedia untuk tetap disini, bersamaku?"


"Itu sangat sulit, Feli."


"Apapun akan aku lakukan, untuk Ibu."


"Di sana, ada seekor kambing yang memang sengaja Ibu sediakan. Ibu ingin sekali menikmatinya, tapi Ibu tidak sanggup menyembelih nya. Kamu tau kan Feli, Ibu sangat takut saat melihat darah?" ucap sang Ibu sambil memegang kedua bagian pipi Feli yang hangat.


"Dimana, Bu? Biar aku yang melakukannya."


"Di pagar ujung, tidak jauh dari api obor dari bambu."


"Baik, Bu. Akan aku lakukan apapun yang bisa membuat Ibu bahagia." Lalu Feli beranjak pergi menuju arah kambing yang akan disembelih oleh tangannya sendiri.


Feli sudah melihat kambing yang tampak sangat sehat tersebut. Tubuhnya besar dan itu membuat Feli tersenyum. Feli mulai menarik kambing berwarna coklat tersebut ke arah sang Ibu sebelum ia sembelih. "Ibu, apa ini kambingnya? Dimana Ibu mendapatkannya? kambing ini tampak sehat."


"Ha ha ha ha ha ha ha ... dia datang sendiri ke sini Feli. Mungkin ini memang waktunya Ibu menikmati makanan kesukaan Ibu."


"Ha ha ha ha ha ha," terdengar suara bahagia dari mulut Feli. "Ini sangat sehat dan segar, Bu," ujar Feli sekali lagi sambil menggosok-gosok wajah, leher dan punggung kambing tersebut.


Situasi:


Saat Feli menggosok wajah, leher, hingga punggung kambing tersebut. Sebenarnya Feli sedang melakukan hal itu kepada Rian dan sentuhan Feli membangunkan Rian dari pingsannya.


Dimata Feli, kambing itu adalah seekor kambing biasa. Namun kenyataannya, kambing tersebut adalah Rian. "Feli, Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Rian sambil menatap Feli yang tampak bahagia saat menyentuh dirinya. Tapi sayangnya, Feli hanya melihat dirinya seperti seekor kambing segar yang siap ia sembelih.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.