ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
AIR MATA


Aku dan Ayah tiba di rumah sakit lebih awal dan kami menunggu Kak Rio di depan parkiran. Ternyata Dia hanya datang seorang diri atau mungkin memang Ayah yang lupa untuk memberitahukan bahwa Dia sebaiknya datang bersama kedua orang tuanya.


Seusai memarkirkan kendaraannya, Kak Rio langsung menyapaku dan Ayah. Tampaknya Kak Rio sangat heran dengan sikap Ayah yang tiba-tiba meneleponnya dan meminta kepadanya untuk datang ke rumah sakit ini.


Aku juga melihat kekhawatiran di dalam matanya saat Dia menatapku dan bertanya, "Ada apa Om? Sarah nggak papa kan? Atau harus diperiksa lebih lanjut? " ucapnya tanpa henti.


"Sarah nggak papa kok Rio, hanya saja ada hal penting yang harus segera kita urus dan selesaikan. Untuk itu, Om butuh bantuan kamu dan ketenangan kamu. "


"Baik Om, walaupun Rio bingung dengan keadaan ini tapi Rio akan berusaha untuk mendengarkan dan menerima apa yang hendak Om dan Sarah sampaikan kepada Rio."


"Bagus. Tapi dimana kedua orang tua kamu? Om juga berharap mereka berada di sini karena ini adalah hal yang sangat penting dan Om tidak mau terjadi kesalah pahaman diantara kita. "


"Sebentar Om, biar Rio telpon terlebih dahulu."


"Ok ... dan sebaiknya kita tunggu disini. " ucap Ayah dengan wajah yang panik dan bingung.


Sekitar 35 menit berlalu, kedua orang tua Kak Rio datang ke rumah sakit dan menanyakan kepada Ayah tentang "Ada apa atau apa kesalahan yang sudah Rio lakukan?" Ayah belum sempat menjawab pertanyaan dari Papanya Kak Rio tapi beliau langsung menekan Kak Rio dan berkata, "Jangan buat Papa dan Mama tambah stres Rio ...!"


"Begini Pak, Bu. Ada yang harus saya sampaikan. Tapi sebelumnya, saya mohon kepada Bapak dan Ibu untuk mendengarkannya dengan jelas dan tenang karena saya tidak ingin terjadi kesalah pahaman disini dan saya juga tidak ingin disalahkan atas perbuatan yang tidak saya lakukan. "


"Baik, silahkan .... " ucap Papa Kak Rio sambil merangkul Mamanya dengan kuat.


"Sekitar 1 bulan yang lalu terjadi tragedi di dalam keluarga saya. Tantenya anak saya ini berniat buruk terhadap Dia dan ingin membunuhnya. Pada saat itu saya langsung melakukan perjalanan, sekitar waktu magrib dari luar kota menuju ke rumah."


"Ya ampun Om .... " ucap Kak Rio.


"Di malam yang sama saat saya sedang melakukan perjalanan, saya melihat kejadian tabrak lari dan korbannya tergeletak tidak sadarkan diri. Awalnya Saya ragu untuk menolong. Tapi karena sesuatu hal, akhirnya saya terdorong untuk membantu dan membawa korban ke rumah sakit ini. "


"Apa hubungannya dengan keluarga kami sehingga Anda mengumpulkan kami semuanya di rumah sakit ini? " tanya Papa Kak Rio dengan wajah yang tegang dan bibir yang bergetar.


"Ini anak saya Sarah. Dia sensitif akan hal-hal yang berbau mistis atau hal-hal halus lainnya." Seketika semua mata keluarga Kak Rio tertuju kepadaku dan menatapku seakan aku makhluk aneh dari negeri antah berantah dan itu membuat aku tertunduk.


"Sarah .... " ucapku lalu terdiam.


"Dari kemarin anak saya ini merasakan aura yang berbeda di sekitarnya dan sempat melihat sebuah tangkapan tentang masa lalu yang berhubungan dengan saya dan seorang wanita yang diprediksi adalah Kakaknya Rio. Untuk itu saya mengajak semua keluarga besar anda berkumpul di sini guna memastikan kebenarannya. Karena pada saat kejadian itu, saya membawa korban ke rumah sakit ini tanpa mengetahui identitasnya. "


"Pa, gimana ini Pa? Gimana? "ucap Mama sambil meneteskan air mata.


"Sebaiknya kita segera masuk ke dalam." ucap Ayah yang sudah tidak tega melihat keadaan Mama nya Kak Rio yang tampak sudah sangat lemah hampir tidak berdaya.


"Ayo mari .... " sahut Papa Kak Rio yang tampak sudah tidak sabar lagi.


Ayah membawa kami ke resepsionis untuk mengatakan keperluannya dan bagaimana cara untuk mengetahui tentang korban tabrak lari yang terjadi sekitar 40 hari yang lalu.


Mendengar keperluan kami, pihak rumah sakit sangat antusias dan langsung bergerak cepat untuk membantu. Tak lama, seorang dokter paruh baya menghampiri kami dan mengatakan bahwa beliau adalah dokter yang bertanggung jawab atas tindakan yang diberikan kepada korban saat itu.


"Selamat malam, saya Dokter Tedi dan Saya adalah dokter jaga yang memberi tindakan kepada pasien malam itu. "


"Ya ... tentu saja. Anda adalah orang yang menolong pasien dan saat itu saya sempat mengatakan kepada anda bahwa pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya dan selamat. Tidak lama Anda langsung pergi meninggalkan pasien setelah membayar uang administrasi untuknya. "


"Waktu itu saya harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawa putri saya, dan setelah itu saya sangat lupa dengan kejadian korban tabrak lari yang sudah saya bawa ke rumah sakit ini. Itu karena saya juga sakit dan saya mengurus putri saya ini yang sempat di operasi serta koma beberapa hari di rumah sakit Kasih Ibu. Sekarang saya bersama keluarga ingin mencari tahu tentang wanita tersebut. "


"Baik Pak, kami akan membantu semaksimal mungkin dan sekarang karyawan yang lain sedang mencari berkas tentang wanita tersebut. Silakan menunggu...! "


"Kenapa tidak langsung saja mengantarkan kami ke ruang perawatan Pasien Dok? Itu lebih baik untuk keluarganya. "


"Begini Pak. Sebenarnya malam itu pasien sudah melewati masa kritisnya dan selamat. Pasien juga bisa bertahan selama 2 hari dan selalu memperlihatkan peningkatan stamina ke arah stabil. Tapi tiba-tiba pasien mengalami kontraksi dan membuat jantungnya menjadi tidak stabil. Kami berusaha untuk menolong keduanya tapi ternyata Tuhan berkata lain dan kami tidak mampu menyelamatkan nyawa pasien. " ujar dokter dengan suara yang lirik.


"Tidak ... tidak mungkin, tidak mungkin, ini pasti salah." ujar Mama Kak Rio sambil menangis hampir terduduk tidak mampu berdiri kembali.


"Sabar ya bu ... kita masih mencari berkasnya untuk mengetahui laporan terakhir tentang dimana jasadnya disimpan. " ujar sang Dokter agar suasana menjadi tenang.


"Perlu waktu berapa lama Dokter? " tanya Kak Rio yang mulai sudah tidak sabar lagi.


"Begini, karena ini waktunya malam hari jadi karyawan khusus yang mengurus tentang berkas sudah pulang. Makanya gerakan karyawan yang saya utus agak lama karena bukan ahlinya. Jadi kami mohon untuk bersabar ...!" ucap Ketua Administrasi rumah sakit yang berdiri di samping dokter.


Aku melihat Kak Rio, Ayah dan Papanya sudah mondar-mandir di dalam ruangan tidak terkendali. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dimana malam itu aku pernah mengikuti langkah kaki Kak Rani ke sebuah ruangan dan ternyata itu adalah kamar mayat.


"Sepertinya aku tahu di mana Kak Rani." ucap ku sontak membuat semuanya terdiam dan menatapku.


"Dimana? " tanya semua orang yang berada di ruangan tersebut.


Tanpa pikir panjang, aku segera melangkah cepat meninggalkan ruangan administrasi dan berjalan menyusuri lorong, tepat dimana Kak Rani pernah membimbingku. Entah mengapa? Yang jelas, aku sangat merasa yakin dengan apa yang aku pikirkan dan lakukan saat ini.


Aku masuk ke dalam ruangan dengan langkah lambat dan berusaha mengingat semua kejadian malam itu, di mana Kak Rani duduk di atas sebuah peti membelakangi ku, lalu tiba-tiba ia berdiri di depan banyak kotak seperti loker dan bertuliskan angka 0990.


Aku berjalan mendekati kotak tersebut dan aku menyentuhnya. Dengan yakin aku mengatakan, "Di sini ...." ucapku lirih dengan tangan yang bergetar hebat.


"Periksa ...! " Perintah Kepala kepada perawat dan petugas yang segera datang menyusul kami saat tahu kami hendak menuju ke kamar mayat.


Tidak sanggup melihatnya. Aku mundur beberapa langkah hingga Ayahku memegang kedua bahu dan aku memeluk tubuh Ayahku dengan erat, sambil menatap punggung keluarga Kak Rani yang sudah berkumpul di depan loker jenazah yang akan dibuka.


Ketika loker itu ditarik perlahan, aku dapat melihat ujung kedua kaki Kak Rani yang tampak sangat putih dan kaku. Semakin panjang dibuka, semakin memperlihatkan sisi tubuhnya yang lain dan aku menutup mataku dengan kedua tanganku.


Tak lama aku mendengar suara teriakan tangisan histeris dari Mama Kak Rio, disusul oleh Papanya. Dari situ, aku sangat yakin bahwa jenazah yang ada di dalam loker mayat itu adalah Kak Rani.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘