
Aku memegang HP milik Ayah dengan kedua tanganku, tapi sudah sepuluh menit berlalu aku belum juga mampu menulis apapun. Seluruh jari-jari tanganku bergetar hebat, bahkan tanpa aku sadari air mataku menetes dengan rapi.
"Sarah .... " sapa Ayah sambil memegang kedua tanganku. "Kamu harus kuat, Nak! Kamu tidak mau ada korban lagi kan?" tanya Ayah yang hanya bisa melihat sebatas perutku. "Apa yang membuatmu seperti ini?"
"Aku memikirkan Feli, Yah. Aku tidak menemukan dia," jawabku dengan bulir-bulir air mata yang semakin banyak.
"Sabar! Untuk itu kamu harus menyelesaikan semuanya kan, Sarah?"
"Aku mengerti, Ayah."
"Kenapa kamu tidak menelpon yang lainnya sekarang?"
"Ayah, aku sudah tau tentang apa yang aku hadapi. Ayah pikir, aku rela yang lain ikut merasakan penderitaannya, Yah?"
"Ayah mengerti maksud kamu Sarah, tapi mereka itukan sahabat kamu dan Feli. Ayah yakin mereka akan sangat marah kalau kamu tidak memberitahu mereka tentang semua ini."
"Baik, Yah. kalau aku sudah patah arang, aku akan menghubungi mereka."
"Heeeemh .... " keluh Ayah tanpa membuka mulutnya.
"Pesannya sudah aku kirim kepada Komandan, Yah. Semoga beliau membacanya dalam waktu dekat. Sekarang kita juga harus bersiap-siap untuk pulang. Ayah bisa kan aku tinggal sendiri?"
"Iya ... jangan pikirkan Ayah."
"Ayah harus berjanji untuk selalu tenang dan memenuhi hati Ayah dengan kekuatan dan kalam Ilahi. Jangan sampai kosong Yah!"
"Ayah mengerti, Sarah."
Kami mulai melakukan perjalanan pulang. Sambil menatap semuanya, aku berpikir tentang apa yang akan terjadi nanti dan apa yang harus aku lakukan? aku bingung dan khawatir. Tania, aku harus apa?
"Kak, makasih untuk semuanya," ujar Rido memecah pikiranku yang berat.
"Sama-sama dan sebaiknya jangan kosong!"
"Iya, Kak Sarah."
"Memang berat, apalagi kamu sudah tau tentang semua kebenarannya. Tapi kamu harus ikhlas seperti Ibumu, agar iblis tidak memanfaatkan dirimu! Ibumu adalah contoh yang hebat bukan?"
"Iya."
"Teruslah bersabar! Walaupun sakit."
"Aku sudah melihat semuanya dan rasanya berat sekali. Namun aku akan belajar tentang agama setelah ini. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat, setidaknya untuk keluargaku."
"Bagus ... aku juga mengawalinya dalam keadaan bodoh dan tidak tau apa-apa."
Kami melakukan percakapan kecil dan aku harap Rido benar-benar bisa sembuh total seperti sediakala. Aku yakin Papanya akan berusaha keras untuk itu. Manusia memang tempatnya khilaf dan dosa, tapi selagi ia mau berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, maka Allah akan memberikan pengampunan serta jalan keluar atas masalahnya. Aku yakin itu.
*****
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam, kami tiba di rumah sakit. Ini tepat tengah hari dan aku memutuskan untuk menenangkan diri sejenak di sebuah mesjid yang berada di lingkungan rumah sakit.
Setelah dari mesjid, aku langsung ke ruangan Feli. Setibanya di sana, aku melihat sahabatku itu dalam keadaan yang sangat pucat, bahkan bibirnya tidak berwarna lagi. Aku mencium dahi Feli dan saat itu tanpa terasa air mataku menetas.
"Feli, aku lelah sekali. Bagaimana dengan kamu? apa yang kamu lakukan sekarang?" tanyaku sambil memeluk dada hingga leher Feli.
Aku memejamkan mataku sambil terus membiarkan bibirku menempel pada kulit Feli yang halus. Tiba-tiba aku seperti berada di lorong hitam dengan sedikit cahaya. Dari ujung lorong, aku melihat Feli berlarian sambil menarik tangan seseorang dengan pakaiannya yang sudah basah karena keringat.
Feli terus berlari tanpa henti begitu juga dengan seseorang yang bersamanya. "Feliiiii!!" teriakku tanpa sadar dengan suara yang sangat kuat.
Aku tidak bisa bergerak, tubuhku seakan hanya membantu di ujung lorong yang tampak becek dan banyak air. Tak lama saat Feli dan Azura kembali berlari, aku melihat sebuah bayangan hitam mengejar mereka dengan sangat cepat.
Ya Allah, Feli. Ternyata ia juga sedang berjuang. Jika yang bersama Feli adalah jiwa murni Azura, berarti yang berada di dalam tubuh Azura adalah ...? Belum lama berpikir, tiba-tiba aku terbangun akibat seorang suster yang masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk.
Suster tersebut melangkah lambat ke arah kami. Aku pikir ia akan melakukan pemeriksaan terhadap Feli, ternyata aku salah. "Jiwa mereka terperangkap, hanya kamu yang bisa menyelamatkan mereka. Jangan lalai dan lamban dalam urusanmu! Mereka tidak lagi mampu bertahan lebih dari 1x24 jam."
Setelah Suster tersebut berbicara, jendela kamar perawatan Feli tiba-tiba tertutup sangat kuat tanpa dorongan angin, hingga pandanganku teralihkan pada jendela tersebut. Kaget, aku memegang dada dengan tangan kiri ku. Tak lama, aku kembali menatap Suster tersebut, tapi saat yang bersamaan, dia sudah tidak lagi berada di hadapanku. Cepat sekali perginya, bagaimana mungkin? tanyaku di dalam hati.
"Jangan-jangan dia bukan manusia?" ucapku dengan suara berbisik sambil berdiri dan memperhatikan sekeliling ku.
Aku berusaha mengingat pesannya dan aku menyadari sesuatu, bahwa aku harus cepat dan aku tidak mampu bekerja sendiri. "Aku harus menghubungi Rian, jika tidak ... mungkin aku akan terlambat."
Aku menelpon Rian dan ia mengangkatnya dengan cepat. Belum sempat ia bertanya, aku langsung menceritakan segalanya dan aku mengatakan kalau aku butuh bantuannya saat ini. Bukan Rian jika tidak sigap dalam urusan Feli. Tak perlu pertimbangan, Rian langsung mengatakan bahwa ia akan terbang saat ini juga."
*****
Tak lama, Komandan datang menghampiriku dengan wajahnya yang pucat. Ia tampak lelah dan ketakutan. "Sarah ... Azura."
"Ayo!" jawabku sambil berjalan sangat cepat seakan tau apa yang terjadi tanpa melihatnya.
*****
Kami tiba di rumah mewah milik keluarga Azura setelah melakukan perjalanan kurang lebih 25 menit. Semua berkumpul di ruangan tengah lantai bawah sambil memegang kedua tangan mereka sangat kuat. Bahkan banyak diantara mereka yang menangis dan tampak ketakutan.
Saat aku tiba, keluarga besar ini tampaknya kaget karena melihat yang di jemput dan yang datang adalah anak kecil yang dianggap masih ingusan. Aku dapat melihat dari tatapan keluarga besar mereka, bahkan aku mendengarkan ejekan dari beberapa orang tua yang duduk di sofa besar berwarna coklat muda.
Aku berusaha mengabaikan semuanya, apalagi saat Mamanya Azura mendekatiku sambil memelukku dengan tubuhnya yang bergetar. Aku tau, aku tidak perlu memperdulikan cemo'ohan seperti itu. Aku hanya harus menolong Feli dan Azura. Ucapku di dalam hati.
"Dimana?" tanyaku pada Mamanya Azura tanpa membalas pelukan wanita paruh baya itu.
"Ayo!!" sahutnya diikuti dengan Komandan, suami, dan keluarga besar lainnya sekitar 10 orang.
Kami menaiki anak tangga dengan cepat dan saat berada di depan pintu kamar Azura, jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang. Aku yakin, yang berada di dalam sana, bukanlah hal yang baik dan menarik, ucapku di dalam hati.
Dengan sigap, Papanya Azura membuka gembok pintunya, lalu mendorong pintu kamar tersebut. Komandan masuk dan menghidupkan lampu di dalam kamarnya. Saat terang, aku dapat melihat sosok Azura berada di pojok kamar dalam posisi jongkok menghadap ke dinding.
Dengan fisiknya yang tampak aneh karena kulitnya yang putih jadi kusam dan urat-urat berwarna biru terlihat sangat jelas seperti hendak keluar dari kulit tipisnya. Kemudian rambut yang tadinya lurus panjang menjadi kusut dan terangkat ke atas sehingga terlihat sangat pendek.
Aku masih bergetar, sehingga kedua kakiku belum bisa aku angkat untuk mendekati Azura. Tapi Komandan Arya adalah paman yang sangat menyayangi keponakannya dan saat itu, ialah yang terlebih dahulu mendekati Azura.
"Sayang .... " sapa Komandan Arya, tapi Azura tidak bergeming sedikit pun dan ia masih terus duduk jongkok sambil menikmati sesuatu yang terdengar sangat renyah dan liat, terdengar dari suara gigitan dan kecapan lidahnya yang sangat nikmat.
"Azura .... " ucap Komandan Arya sekali lagi sambil memegang pundak Azura, tapi pada saat yang bersamaan, saat Azura membalik wajahnya, Komandan Arya berteriak stabil mundur dengan langkah yang sangat cepat.
"Aaaaaaaakkkkh ... tidak mungkin."
Aku dan yang lainnya melihat dengan sangat jelas, jika di tangan kiri Azura terdapat hewan yang sangat menjijikkan (tikus) tanpa kepala. Sementara mulut Azura penuh dengan darah segar.
Bersambung ....
Bagi pembaca yang suka dengan cerita ringan/teen. Silahkan mampir ke novel dengan judul AISY.
Selain itu, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘