
Aku, Feli, dan Rian sekarang sudah semester dua. Tapi sayangnya, nilai IPK ku dan Feli tidak terlalu baik, hanya 3,02. Namun kami berdua sudah membuat janji, semester depan angkanya akan jauh lebih baik.
"Sarah, kamu sudah lihat ngak dosen killer kita yang baru? namanya Ibu Marisa. Wajahnya sih cantik, tapi ekspresinya itu loh nyeremin. Ditambah lagi dengan bentuk tubuhnya yang membungkuk hingga mengenakan tongkat, menjadikan dia seperti tukang sihir," ucap Dinda teman satu ruang kelas denganku, setengah berbisik.
"Emang kamu lihat dimana?"
"Ruang dosen, Sarah. Makanya sesekali jalan! Jangan di dalam kelas terus. Kalau ngak salah ni ya, siang nanti dia bakalan masuk di kelas kita ini."
"Yakin?"
"Iya ... orangnya nurut aku sih sebenarnya masih muda, tapi ntahlah ... kok kayak orang tua renta begitu ya?" ujarnya dengan ekspresi heran sambil menyanggahkan dagunya di atas meja yang sudah dialasi dengan kedua tangannya.
Setelah mendengar perkataan dari Dinda, aku pun menjadi penasaran. Apa yang terjadi padanya ya? atau mungkin penilaian Dinda yang tidak tepat? soalnya, anak ini kan mulutnya asal nyeplos aja. Ucapku tanpa suara.
"Ngapain melongo gitu?" tanya Feli yang datang menghampiriku dengan cappucino dingin dan lumpia hangat.
"Ngak papa, apa kita bakalan ada dosen baru?" tanyaku pada Feli.
"Katanya sih gitu, tapi aku belum lihat. Kenapa memangnya? ada yang salah?"
"Ngak ada sih, tapi entah kenapa tiba-tiba hatiku terhubung saat mendengar cerita dari Dinda."
"Memangnya dia cerita apa? kok jadi serius gitu?"
"Cerita tentang dosen baru itu. Kalau aku simak dengan baik, aku seperti pernah melihat keadaan seorang wanita sekitar umur 35 tahun dengan kondisi persis sama dengan yang diceritakan Dinda. Hanya saja ... aku lupa waktu, tempat dan situasinya," ucapku sambil menelan liur yang berat.
"Kalau menurutmu penting, Aku akan segera mencari tahunya," ujar Feli sambil menatapku. "Bagaimana?" bertanya sekali lagi. "Mumpung belum habis waktu istirahat kita saat ini."
"Apa kamu tidak keberatan?" tanyaku sambil membalas tatapan matanya yang penuh semangat.
"Sarah, aku kenal banget sama kamu. Firasatmu itu sangat bagus, bukan hanya itu, pendengaranmu juga sangat tajam. Jadi aku yakin, jika kamu mengatakan bahwa aku perlu mencari tahu tentang semua, maka aku akan melakukannya."
"Feli, pernahkah kamu berpikir bahwa apa yang Allah berikan kepada kita saat ini, bisa saja jalan untuk menolong orang lain. Bagaimana menurutmu?"
"Tumben pertanyaannya seperti itu?
"Sebenarnya aku sudah terpikir soal ini sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya saja disatu sisi, aku juga merasa bahwa hidup yang tenang itu sangat penting dan bisa membuat kita bahagia. Tapi, di sisi lain aku sering mendengar suara tangisan ataupun keluhan dari mereka yang sudah tiada, namun jiwanya masih tetap di bumi. Entah ... mengapa tiba-tiba aku teringat kepada Tania dan aku teringat bagaimana menderitanya."
"Sarah dengar! Kamu dan aku adalah satu. Jadi kalau menurut kamu kita harus melakukan hal seperti itu, maka aku akan mendukungmu. Tapi dengan catatan. Berdasarkan pengalaman, kita berdua hampir mati beberapa kali karena urusan gaib. Jadi sebaiknya sebelum kita memutuskan hal sebesar ini, kita mesti mendiskusikannya kepada Ayah dan yang tidak kalah pentingnya, kita harus belajar bagaimana mengatasi permasalahan yang akan kita hadapi."
"Kamu sekarang cerewet sekali, Feli. Lalu, belajar sama siapa?"
"Oke, kita akan bicarakan nanti setelah pulang dari kampus. Bagaimana?"
"Setuju," sahut Feli. "Hah ... ya ampun. Kenapa ya akhir-akhir ini aku merasa bahwa aku menjadi perempuan yang sangat bersemangat? tidak seperti biasanya dan ini terasa aneh bagiku," ujar Feli sambil meninggalkan bangku belajar ku.
Jam istirahat sudah berakhir, kami masuk pada jam kuliah ke tiga dan setelah ini sang dosen killer akan masuk ke ruangan ini. Aku sangat penasaran, apa hubungannya kondisi dosen tersebut denganku. Apakah ada jiwa yang tersesat atau ada jiwa yang murni dan membutuhkan bantuanku? aku terus bertanya di dalam hati.
*****
Jam ketiga sudah berakhir, waktunya sang dosen killer masuk ke dalam kelas untuk memberikan materi perkuliahan tentang psikologi manusia.
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok
(Terdengar suara ketukan pintu yang keras hingga membungkam mulut kami semua). Lalu, Tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap tap (Disambung dengan suara tapak kaki beralaskan sepatu dengan hack tinggi, diiringi dengan suara ketukan dari tongkat kayu berwarna hitam).
Pandangannya lurus ke depan (Meja dosen). Aku memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh, mulai dari kaki hingga ujung kepalanya. Ternyata Dinda benar, ucapku tanpa suara. Seketika Feli memalingkan wajahnya dan melihat ke arahku. Kami saling berpandangan, tapi aku menggelengkan kepalaku padanya, sebagai tanda agar dia tidak melakukan apapun.
Jika diperhatikan, Bu Marisa terlihat sangat kaku, namun memang tidak dapat dipungkiri bahwa dia adalah wanita yang cantik. Aku dapat melihat hal tersebut dengan jelas. Walaupun beliau tidak menggunakan make up seperti dosen lainnya dan beliau juga tidak menata rambutnya (Dibiarkan tergerai), tapi pesonanya masih kuat terpancar.
Selain itu, aku juga sangat yakin sekali bahwa Bu Marisa adalah dosen yang memiliki prestasi yang sangat bagus, makanya walaupun penampilannya aneh dan tampak misterius, dia tetap bertugas.
Bu Marisa menatap tajam ke arah kami, lalu ia menyapa dengan suara yang dingin. "Selamat siang, nama saya Marisa. Saya tidak suka main-main dan dipermainkan saat waktunya belajar," ujarnya datar dan kaku. Sepertinya dia tidak punya kehangatan di dalam hidupnya, bahkan ia tampak seperti mayat hidup.
"Siang, Bu," jawab teman-teman satu ruangan yang tiba-tiba sama kakunya dengan Bu Marisa.
Satu hal yang menarik perhatianku sejak tadi, yaitu pundak Bu Marisa yang terlihat bungkuk dan membengkak. Apa beliau sedang sakit keras? tanyaku di dalam hati sambil terus memperhatikan dirinya.
Aku menajamkan pandanganku dan terus menatap Bu Marisa tanpa henti, hingga sesuatu yang tidak aku ketahui membuat aku terkejut cukup kuat. "Astagfirullah hal azim," ucapku spontan ketika aku melihat sorot cahaya kecil dari dua sumber, seperti bola mata di balik rambut Bu Marisa.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘