
Tak lama si Mbok datang dan langsung membantu kami membersihkan pecahan kaca yang berderai di lantai putih mengkilat tersebut. Kemudian ia membuatkan kami minuman hangat dan membawakan kami sekotak cemilan.
"Terima kasih sudah mengantarkan Si Non pulang ke rumah," ucapnya sambil menatap kami bertiga dengan pandangan lelah.
"Sama-sama Mbok. Tadi kebetulan Bu Marisa pingsan di dalam kelas dan kami berpikir untuk mengantarkannya pulang."
"Iya ...." sahutnya lirih dengan wajah yang tampak sangat bersedih.
"Eeemh ... ada apa Mbok?" ucapku memberanikan diri untuk mengetahui lebih banyak informasi mengenai Bu Marisa yang tampak jauh lebih tua dari pada umumnya.
"Mana tau kami bisa membantu," sambung Feli sambil memegang gelas putih yang terbuat dari keramik.
Si Mbok kembali memperhatikan kami satu persatu. Aku yakin, di dalam hatinya mesti mengatakan bahwa kami hanyalah anak kecil yang tidak tau apa-apa dan tidak bisa apa-apa.
"Saya ini adalah pengikut setia di keluarga ini. Dari dulu saya turut memperhatikan dan mengurus Non Marisa. Dia adalah perempuan yang sangat baik, lembut, periang, dan suka berbagi. Di wajahnya selalu terpancar cahaya dari senyuman yang indah," ujarnya seakan memperlihatkan perbedaan antara Bu Marisa yang sebenarnya dengan Bu Marisa yang kami lihat saat ini.
"Sekitar umur 20 tahun, Papa dan Mamanya meninggal dunia. Sejak saat itu, Marisa tinggal bersama saya, Paman dan juga Bibinya. Awalnya semua tampak harmonis dan baik-baik saja. Sampai suatu ketika, Paman dan Bibi Marisa ingin menjodohkan Marisa dengan anaknya.Tapi Marisa tidak bersedia karena dia sudah memiliki pilihan sendiri di dalam hidupnya."
"Paman dan Bibi Marisa sangat marah dan sejak saat itu, mereka meninggalkan rumah ini. Satu tahun setelah kejadian tersebut, Marisa memutuskan untuk menikah."
"Semuanya tampak sangat indah dan berjalan lancar, walaupun Paman dan Bibi tidak bersedia menjadi saksi di dalam pernikahan tersebut. Tapi, 5 bulan setelah pernikahan, cobaan mulai menghampiri," ujarnya sembari menghela nafas yang panjang.
"Cobaan apa Mbok?" tanya Feli yang terlihat sangat antusias.
"Tiba-tiba Marisa pingsan dan saat dibawa ke dokter, dokternya mengatakan bahwa Marisa sakit kangker rahim stadiun 4 dan harus segera dioperasi sesegera mungkin. Tanpa pikir panjang, suaminya pun menandatangani surat izin pengangkatan rahim tersebut."
"Astagfirullah hal azim .... " ucap kami serentak.
"Suasana bahagia di dalam rumah ini menjadi luka. Marisa tidak dapat menerima kenyataan pahit dan ia sangat takut suaminya meninggalkannya, tapi pada saat yang bersamaan Brian mengatakan bahwa dirinya akan selalu setia dan tidak akan mendua."
"Sikap suaminya ini ternyata mampu membuat kehidupan rumah tangga mereka menjadi lebih baik dan tenang. Setelah itu, mereka memutuskan untuk mengangkat seorang anak yang bernama Kanaya sekitar umur 5 tahun dari panti asuhan. Tadinya mereka mau mengangkat seorang bayi, tapi karena kondisi kesehatan Marisa belum benar-benar pulih makanya Brian memutuskan untuk mengambil Kanaya."
"Selama 2 tahun, setelah Kanaya berada di tengah-tengah keluarga ini, kehidupan Marissa semakin terlihat bahagia dan berwarna. Kanaya adalah anak yang sangat baik, bahkan ia selalu membantu Marisa untuk menjaga kesehatannya."
Aku, Feli, dan Rian tersenyum saat mendengarkan cerita Si Mbok. Beliau sangat ekspresif dalam menceritakan segala hal, tampaknya hatinya sangat penuh sehingga ia bercerita dengan sangat menggebu-gebu dan kami terus memperhatikan ceritanya dengan tawa dan kadang membungkam.
"Lalu sekarang di mana suaminya Bu Marisa dan Kanaya, Mbok? tanya Feli sambil tersenyum menatap ke arah si Mbok. Tapi tiba-tiba senyum si Mbok menghilang.
"Hari itu, tepat di hari ulang tahun Marisa, sekitar 1 bulan yang lalu. Suaminya memberikan ia kado kecil, sebuah kalung dengan liontin hati yang sangat cantik dan sampai saat ini selalu Marisa pakai di lehernya."
"Wah ... romantisnya .... " ujar Feli menghentikan cerita dari Mbok Yani. "Terus Mbok, apalagi yang terjadi?"
"Mungkin saat itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Marisa karena Paman dan Bibinya juga datang ke acara ulang tahunnya tersebut. Marisa menyambut mereka dengan pelukan hangat. Maklum saja, mereka sudah lama tidak bertemu. Ya kalau di hitung-hitung sekitar 3 tahun," jelas Mbok Yani.
"Terus, Mbok?" tanya Rian yang tampak penasaran.
"Sehari setelah acara ulang tahun tersebut, suami Non Marisa mengalami kecelakaan hebat hingga menghilangkan nyawanya."
"Innalillahi wa innalillahi rojiun .... " ucap kami serentak sambil menahan nafas yang sudah terasa berat.
Si mbok mulai menangis terisak-isak sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. "Saat melihat Non Marisa menangis dan terluka, saya lebih terluka lagi. Ya Allah gusti .... " ucapnya sambil setengah meraung.
"Selama Non Marisa sendiri tanpa suaminya, Brian. Kanaya lah yang menjadi cahaya penerang di dalam hatinya."
"Syukurlah .... " ucap ku sambil menarik air hidungku seolah ikut merasakan penderitan Bu Marisa.
"Tapi ... sekitar satu bulan yang lalu, Kanaya tiba-tiba menghilang. Kami sudah mencarinya kemana-mana, kami juga sudah melapor ke pihak yang berwenang, tapi sampai saat ini, belum juga ada kabar tentang Kanaya."
"Ya ampun .... "
"Dan sejak Kanaya menghilang, Non Marisa lebih dari seperti orang gila. Dia tidak pernah merapikan diri seperti biasanya. Jangankan ke salon, menggunakan bedak pun dia tidak ingin. Ada dua hal yang masih membuat Non Marisa bertahan yaitu harapannya untuk bertemu Kanaya dan pekerjaannya."
"Itu makanya Bu Marisa tetap melanjutkan tugasnya sebagai seorang pendidik?" tanya Rian dan Si Mbok mengganggukkan kepalanya.
"Semakin lama Non Marisa semakin berubah dan berbeda. Dia menjadi sosok yang tertutup, sinis, ketus, kasar, dan jahat. Bahkan si mbok seperti tidak mengenalnya," ujar si Mbok sambil memegang dadanya.
"Si Mbok sebenarnya sudah mengajak Non Marisa ke tempat-tempat pengajian dan mengajaknya bertemu orang-orang yang paham agama agar ia eling, sabar, iklas, tapi Non Marisa tidak bersedia. Si Mbok sudah ngak tau lagi harus apa?" ucapnya terus menyesali keadaan.
"Mbok, buatkan saya teh panas sekarang!" ucap Bu Marisa yang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan rambutnya yang kusut sehingga tampak sangat acak-acakan dan suara yang dingin sehingga siapapun yang mendengarkannya akan merinding.
"Baik, Non. Segera si Mbok buatkan."
"Kalian, sebaiknya pulang. Hampir magrib, makasih sudah mengantarkan saya pulang."
"Bu, sebentar!" ucapku sambil berdiri. "Aku juga pernah merasakan apa yang Ibu rasakan. Jika ibu bersedia, kami akan membantu Ibu melewati hari-hari yang berat," ucapku hampir menangis.
"Tau apa kalian tentang Saya?"
"Aku tidak tau banyak, Bu. Hanya saja, mungkin Ibu ingin tau sesuatu."
"Apa itu?" berkata sambil menatapku tajam.
"Kanaya .... " ucapku dengan suara yang seakan terbilas oleh udara.
Saat aku mengatakannya, tiba-tiba Bu Marisa menatapku dan dari matanya keluar bulir-bulir air mata yang sangat besar dan tampak bening. "Apa yang kamu tau tentang, Kanaya?"
"Jika Ibu mengizinkannya, aku dan teman-teman ku akan mengetahui banyak hal tentang Kanaya."
Air matanya kembali menetes. "Apa yang kalian inginkan? uang? atau apa yang harus saya lakukan? mengemis?" ucapnya tampak sangat geram dengan keadaan.
"Iklas ... jika Ibu sudah bisa, silahkan hubungi kami. Ini nomor HP Sarah dan Feli, Bu," ucapku lalu Bu Marisa terdiam sambil menatap kami keluar dari rumah megah miliknya.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘