
Selesai dengan semua persiapan, aku langsung berbaring agak jauh dari Feli, sedangkan Rian berbaring tepat di sisi Feli sembari menggenggam tangan kanan Feli dengan erat.
"Komandan Arya, tolong jaga Ayahku!"
"Siap," ucapnya sambil berdiri tegak dengan bibir bergetar yang ia tahan.
*****
Aku memejamkan kedua mataku sembari terus melafazkan ayat-ayat suci Al-Quran yang aku ketahui. Rasanya jauuuuh sekali, ini perjalanan yang sangat jauh. Ucapku di dalam hati.
Tak lama, aku mendengar suara tetesan air dan saat aku membuka kedua mataku, aku melihat diriku dan Rian sudah berada di dalam terowongan gelap dengan sedikit cahaya, basah dan berair, serta lembab. Bukan hanya itu, bahkan tempat ini bau kencing tikus dan amis yang sangat menyesakkan dada.
Saat ini ini aku teringat sesuatu yaitu aku pernah melihat Feli di ujung kiri lorong dan aku sempat memanggil namanya dengan berteriak. Lalu ia melihat ke arahku, tapi tidak bisa menemukan ku.
"Rian, Feli ke arah sana. Ingat dia bersama gadis lainnya dan jangan sampai kamu salah sentuh!"
"Aku paham, Sarah."
"Satu lagi, Feli .... " Aku membisikan sesuatu kepada Rian dengan jarak yang tidak terlalu dekat tentang sesuatu mengenai Feli. Aku melakukannya karena menurut ku, bisa saja iblis itu sedang mendengarkan dan mengawasi kami saat ini.
"Baik."
"Kita berpisah di sini! Assalamu'alaikum ... Semoga Allah selalu melindungi kita semua, Rian."
"Waalaikum salam, amin ya Allah."
Saat ini, kami harus berpisah dan membagi diri. Jika kami bersama, kemungkinan berhasil sangat kecil. Tapi kalo begini, iblis itu akan memilih aku dan teman-teman yang lain bisa selamat. Selain itu, ini adalah pertarungan ku melawan diriku sendiri.
Punggung Rian sudah tidak lagi terlihat olehku. Ia menuju kiri lorong, berarti aku harus ke kanan. Siapa sangka takdir hidup ku jadi seperti ini, bahkan aku lupa pada diriku yang manja.
Entah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk menyusuri terowongan tanpa ujung ini. Rasanya sudah letih sekali, apa mungkin iblis itu memang sengaja menjebak ku dan ingin membuat aku lelah sebelum perang? siasat busuk. Ucapku tanpa suara.
Sesaat setelah aku bertanya pada diriku sendiri, tiba-tiba aku melihat bayangan keluarga kecil kami di sebuah layar. Ini seperti menonton TV ukuran sangat besar dan di sana aku melihat ada Ayah, Ibu, kak Tania, si Mbok dan diriku sendiri.
Saat menatap gambaran keluarga kecil kami yang penuh tawa, bibirku pun tersenyum. Apalagi saat melihat Tania meladeni keinginanku dengan sangat telaten. Ibu yang sangat penyayang. Ayah yang sangat perhatian dan si Mbok yang selalu menepuk kedua tangannya saat melihat Tania menari dengan kakinya yang lincah.
Belum puas senyumku, tiba-tiba aku melihat kembali kejadian saat Tante Rima membunuh Ibu. Aku melihat bagaimana Tante Rima menganiaya ibu, memukul, menginjak, menjambak dan membuang jasad Ibuku di tepi jurang. Sontak air mataku menetes dan rasa benci ku mencuat seiring dengan teriakan Ibuku.
"Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim .... " ucapku sambil mengatur nafas yang sudah tersengal. "Apa ini?" tanyaku dengan suara yang gamang.
Belum selesai tanyaku, aku kembali mendengar suara teriakan dan tangisan Kakakku Tania. Kali ini aku lemah, benar-benar lemah. Aku melihat bagaimana Tante Rima menyiksa kakakku sebelum ia menghabisinya.
Ternyata sebelum Tania menghembuskan nafas terakhirnya, Tante Rima terlebih dahulu menyiksa dengan memotong tangan mungilnya, lalu ia tertawa terbahak-bahak dan Tania sudah tidak lagi berteriak dan bergerak. Aku sangat membenci Tante Rima, aku sangat membencinya.
"Rimaaaaaaaaa!!" teriakku berdampingan dengan suara tawa dari mulut Tante Rima.
Tak lama, suara tawa tersebut terasa sangat dekat dan semakin nyata. Aku sadar dengan yang aku hadapi. Aku melihat Tante Rima berada tepat di hadapanku, saat itu semua emosiku bersatu dengan kebencian. Rasanya aku ingin menggigit dan mencabik-cabik tubuh Tante Rima dengan kuku dan gigiku hingga terkoyak dan darahnya berceceran di lantai, seperti yang telah ia lakukan pada tubuh mungil Tania.
Aku terus berlari mengejar tubuh Tante Rima yang terus tertawa puas dan mengejekku. "Aku akan membunuh muuuuu!!" teriakku seperti orang gila. Saat ini, aku terus berkelahi dengan hatiku yang hitam, aku tidak lagi mengingat apapun tentang Rian, Feli, Azura atau pun Ayah.
*****
Sisi Rian.
Rian terus menyusuri lorong dan saat ia lelah, ia melihat sosok yang sama persis seperti Feli. Rian menyapa gadis yang menangis tanpa henti tersebut dengan lembut.
"Feli ...?" Feli menatap Rian dan mengatakan bahwa ia sangat takut berada di tempat ini. "Ayo kita pergi dari sini! Kita tidak bisa berlama-lama lagi, waktu kita tidak banyak."
"Iya."
Rian menarik tangan Feli dan berniat mengajaknya untuk berlari ke arah dia datang, tapi Feli menahan tangan Rian dan meyakinkannya bahwa arah yang berlawanan dengan arah saat Rian datang adalah arah yang benar.
Melihat keyakinan di dalam cara bicara Feli, Rian pun menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki Feli yang berlari lebih cepat dari pada atlit lari. Sebenarnya Rian heran dengan apa yang ia rasakan dan dia lihat, tapi disisi lain Rian juga sangat yakin dengan Feli.
*****
Sisi Pak Ahmad.
"Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim .... " ucap Pak Ahmad dan menghentikan dzikir nya.
"Ada apa, Pak Ustadz?" tanya Komandan yang berdiri dan mendekati Paman Rian tersebut.
"Kenapa Rian semakin jauh?"
"Apa dia tersesat? atau ada hal buruk lainnya?"
"Ya Allah ... hanya pada Engkaulah kami memohon pertolongan dan perlindungan."
"Amin .... "
"Saya akan mencoba untuk mengiring perasaan Rian dengan ayat-ayat suci Al-Quran dan saya minta pada anda untuk menjaga kamar ini tetap aman dari gangguan siapapun, termasuk dokter."
"Saya mengerti."
Bersambung....
Maaf semuanya, saya baru pulih dari sakit. Makasih untuk semua yang sudah mampir dan mendoakan saya. Untuk menebus waktu yang terbuang, InsyaAllah hari ini saya akan crazy up ya.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘