
Kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Aku ingin luka Feli ditangani oleh ahlinya langsung karena berada di kepala. Walaupun begitu, sebenarnya aku khawatir karena rumah sakit bukanlah tempat yang indah untuk para manusia bermata 6.
Sambil menyandarkan kepala di kursi, aku terus berpikir harus apa? disisi lain aku sangat merasa bersalah pada Feli karena sudah membuka mata batinnya tanpa sengaja, tapi disisi lain aku tidak tau harus apa.
"Sayang, awas!!" teriak Feli memecah lamunanku.
"Apa?!" tanya Rian yang heran sambil menghentikan laju kendaraannya.
"Itu, ada yang berdiri di depan kita," sahut Feli.
"Itu bukan kaum kita Feli, istighfar kamu!" ucapku sambil memegang bahu kanan Feli yang duduk di kursi depan. Sebenarnya aku ingin Feli duduk di kursi belakang, tapi karena ia mabuk perjalanan jadi dia tidak bersedia duduk bersamaku.
"Iya kah?"
"Istigfar, Sayang!!" kata Rian sekali lagi agar Feli lebih tenang.
"Ayo jalan Rian!"
"Iya .... "
"Rian, dimana yang lainnya? kita mau ke rumah sakit ini?"
"Mungkin bersama Paman. Sudah beberapa hari ini pondok kedatangan tamu yang tidak diinginkan."
"Subhanallah ... semoga semua baik-baik saja."
"Aku masih bisa menutup mata batinnya sementara, tapi ndak bisa lama karena energi ku sudah terkuras habis. Aku sudah lama ndak makan, jadi seperti inilah keadaannya," ucap Nenek Nawang Wulan yang memang sudah tampak melemah saat selesai memberikan energi murni kepada Feli tadi.
"Terimakasih, Nek," ucapku dengan suara yang samar-samar dan hanya telingaku saja yang dapat mendengarkannya.
Tak lama, aku melihat Nenek Nawang Wulan menutupi kedua mata Feli dengan rambutnya yang panjang hitam dan pekat seperti sapu ijuk, sementara Feli sibuk mengosok-gosok kedua matanya dan selalu bilang pedih.
Makasih ya, Nek. Ucapku tanpa suara. Aku tau usaha Nenek berhasil, terbukti dari Feli yang tidak dapat melihat beberapa orang yang sedang main catur di tengah jalan raya atau gadis kecil dengan luka parah di bagian kepalanya hingga mengeluarkan lendir kental berwarna putih dari bagian kiri kepala yang sedang menggetuk jendela mobil, saat kami berhenti di lampu merah simpang empat.
Ya Allah ... siapa yang tau penderitaan ku? ini sesuatu yang sangat menyakitkan. Aku belajar dari kehidupan dan aku berusaha keras untuk menerima semua kenyataan. Kuatkan hamba ya Rob, ucapku sambil menahan getaran di bibirku dan menunduk.
"Sarah, apa semua dari mereka buruk rupa seperti itu? maksudku yang gaib."
"Tidak juga, apalagi yang dari kaum jin muslim. Biasanya mereka malah sangat tampan dan bersih. Tapak kakinya lebar, senyumnya menawan, matanya bersinar. pokoknya sangat berkharisma."
"Tapi yang dari iblis juga bisa begitu kan, Sarah? bahkan mereka bisa menyerupai pasangan kita (suami atau istri)."
"Betul ... betul banget. Makanya kita dianjurkan untuk membaca doa sebelum bersenggama, agar kita dijauhkan dari hal-hal keji dan tipu muslihat."
"Iya ya?" ujar Feli seakan baru menyadari sesuatu yang sangat penting namun sering dilalaikan oleh orang banyak (pasangan suami istri yang sah).
"Semoga kalian nggak lalai ya, Feli ... Rian!"
"InsyaAllah nggak akan lalai, Sarah."
"Amin ya Allah .... "
"Tapi aku belum lancar baca do'anya," ujar Feli sambil menatap langit-langit mobil.
"Itu tugasku yang akan membimbing mu, Feli," ucap Rian sambil memegang pipi kiri Feli dengan jari-jarinya dan saat itu aku tersenyum.
"Kita tiba .... " ucap ku sambil membuka pintu mobil.
"Aku .... "
"Jangan khawatir, Feli! Kamu sudah aman kok. Tenanglah ...!"
"Aku bingung sama kamu, Sarah. Kamu seperti punya dua otak sekarang."
"Ha ha ha ha ha ha ha .... "
Kami tiba di IGD, Feli dan Rian langsung masuk ke dalam. Sambil menunggu aku berpikir tentang Nova. Dia masih terlalu muda dan tidak stabil, tapi aku juga menyadari bahwa tidak semua hal di atas dunia ini bisa diselesaikan. Yang jelas, semua yang kita lakukan pasti harus dipertanggung jawabkan.
Tap ... tap ... tap ... tap ... tap
Saat sedang sendiri, tiba-tiba aku mendengar suara tapak kaki yang kuat namun terdengar sangat tipis hingga mampu menaikkan bulu-bulu di kuduk dan seputaran telingaku.
Aku memilih untuk terus menunduk karena aku punya firasat tidak baik tentang ini, namun mataku tetap dapat melihat tapak kaki berat tersebut. Dia berhenti tepat di hadapan ku, rasanya telingaku tebal begitu juga dengan kedua sisi pipiku. Apa yang ia inginkan dariku? tanyaku tanpa suara.
Tiba-tiba aku melihat darah hitam mengalir dari kedua kakinya hingga membenamkan bagian tapak sepatunya. Ini tidak baik, ucapku di dalam hati. Tak lama, sesuatu yang licin jatuh mengenai ujung-ujung kaki kiri ku. Warnanya hitam mengkilat, ini seperti lintah yang sudah memakan banyak darah.
Entah apa yang terjadi, namun yang jelas aku merasa tubuhku semakin terdorong jauh dan aku merasa sendiri, bahkan rasanya aku hampir hilang. Ini seperti tengah bermain ayunan yang dilempar sangat tinggi ke atas sehingga adrenalin ku naik dan turun tidak stabil.
"Assalamu'alaikum ... Sarah," ucap seseorang yang belum tampak oleh ku. Namun aku tidak dapat melihat dengan baik (kabur/seperti berkunang-kunang). "Assalamu'alaikum wahai anak cucu Adam .... " Tapi aku masih belum bisa menguasai tubuh dan pikiranku sehingga aku tidak mampu menjawab salam tersebut. "Assalamu'alaikum hamba Allah."
"Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh ... Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh ... Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh .... " ucap ku sambil menangis.
"Tenangkan dirimu!!"
"Apa yang terjadi, Mbah?"
"Begitulah iblis menggoda kamu, begitulah iblis ingin menguasai kamu, begitulah iblis menyisip di sedikit lubang di hatimu. Maka janganlah engkau melamun! Ingat, saat sakit, sedih, senang, sepi, rindu, terluka, merana, atau apapun itu, ingat saja kepada Allah...."
"Allahu Akbar .... "
"Allahu Akbar .... "
"Allahu Akbar ...." ucapku kali ini sambil menangis.
"Astagfirullah hal azim .... "
"Astagfirullah hal azim, aku lelah Mbah. Lelah sekali ... rasanya ingin tidur di pangkuan Ibuku atau Kakakku Tania."
"Sabar ... ujian mu sangatlah berat dan aku sangat bangga bisa berada di tengah-tengah anak cucu Adam yang hebat seperti kalian."
"Kapan ujian ku akan berakhir, Mbah?"
"Setelah kamu menghembuskan nafas terakhir, teruslah ikhtiar dan bersabar .... "
Aku menangis setelah mendengar ucapan Mbah Brahma. Rasanya ini akan semakin berat dan aku tidak boleh lengah. Ternyata jiwaku masih sangat lemah dan aku tidak sekuat itu. Tania ....
"Sarah, kenapa kamu?" tanya Rian yang sudah seperti saudara laki-laki bagiku, sambil duduk jongkok di hadapanku. "Hei, kenapa menangis? Feli baik-baik saja kok. Jangan merasa bersalah seperti itu! Sebentar lagi dia juga akan keluar."
"Iya .... " sahut ku sambil terus menghapus air mata dan menarik air hidungku.
"Ada apa ini?" tanya Feli yang keluar dari ruang IGD.
"Nggak tau," jawab Rian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak tau, tidak sempat lihat wajahnya."
"Ya sudah ... sebaiknya kita ke ruangan Ayah yuk! Aku sudah rindu Ayah," ucap Feli yang sangat tau apa yang nisa membuat aku bahagia.
Kami tiba di ruangan Ayah dan Feli langsung mengambil tangan Ayah lalu menciumnya. "Ayah, maaf aku baru sampai. Tadi ada sesuatu yang terjadi."
"Kamu baik-baik saja? kenapa kepalamu ini?"
"Panjang ceritanya, Yah."
"Yang penting kalian semua baik-baik saja kan?"
"Iya Yah," sahut ku dan Rian bersamaan.
"Sarah .... "
"Iya, Yah."
"Kemarilah!!"
"Iya, Yah .... "
"Semuanya pasti berat kan?"
"Eeeemh," sahut ku tanpa membuka mulut.
"Tapi Ayah yakin kamu bisa. Apalagi kamu tidak sendiri. Ada Ayah yang sanggup bertaruh nyawa untukmu, ada saudara-saudara mu dan Ayah yakin masih banyak yang lainnya, yang bersedia mendukung dan berkorban untuk kamu."
"Ayah, apa jalan yang aku ambil ini benar?"
"Tentu saja. Menolong, adalah perintah Allah. Kita hanya tinggal berdoa, agar semua yang kamu tolong diketuk hatinya agar kembali ke jalan yang benar."
"Aku mengerti Ayah."
"Ayah juga minta maaf padamu karena Ayah tidak mengajarkan kamu ilmu agama sejak kecil, bahkan Ayah membiarkan dan melepaskan kamu agar kamu jauh dari Ayah. Ayah sungguh merasa bersalah atas Tania. Itu sebabnya Ayah menitipkan kamu pada Paman dan Bibi."
"Kita sudah membahas itu Ayah dan aku rasa aku belum terlambat untuk belajar. Lagipula, bagiku Ayah adalah Ayah yang terbaik untukku."
"Untukku juga," ucap Feli yang berada di ujung ranjang Ayah.
"Hah ... jika kalian bersama-sama, kalian akan kuat. Yang satu melihat ke belakang dan menerawang ke depan. Sementara yang satunya lagi menjadi mata yang mampu menembus waktu dan diantara kalian ada Rian dan calon suamimu Sarah. Mereka akan melindungi dari sisi kiri dan kanan kalian. Dari atas ada Allah dan dari bawah ada Ayah yang akan menjadi pondasi untuk kalian berdua berpijak."
"Ayah .... "
"Ayah ikhlas asalkan itu jalan Allah."
"Dan kami akan menjadi pagar yang melindungi kalian semua," ucap Mbah Brahma dan kelima jin muslim lainnya.
Aku menangis sambil menahan bibirku. Aku tau semua ini terasa sangat asing dan aneh. Namun mungkin ini adalah jalanku. Semoga Allah meridhoi langkah kami. Kami akan membantu yang membutuhkan dengan ikhlas.
Belum habis air mataku, tiba-tiba keluar asap dari mata Feli. "Nenek .... " ucapku sambil menarik rambut penutup mata Feli dan aku segera meletakkannya di telingaku. Aku tidak tau ini benar atau tidak, yang jelas aku berusaha melakukannya tanpa petunjuk.
"Kami tidak bisa membantunya, bahkan jika kami membantu, kami malah akan membinasakannya."
"Nenek siapa, Sarah?" tanya Feli.
"Kamu belum bisa melihatnya karena beliau sedang beristirahat," ucapku lalu Feli melihat ke arah Mbah Brahma.
Aku menatap arah pandang Feli dan mengatakan kepadanya, "Mereka yang selalu bersama kita, Feli. Di hadapanmu namanya Mbah Brahma dan yang lainnya kamu bisa aku tanyakan sendiri."
Aku membawa tubuh Feli yang kaku seperti kayu untuk duduk di kursi sofa dan saat itu, ia mulai melakukan percakapan yang aneh karena ia terus menerus menanyakan tentang nama Mbah berbusana putih-putih tersebut.
"Ini sudah hampir 45 menit dan Feli selalu mengajukan pertanyaan yang sama."
"Dia sedang bingung Ayah."
"Iya .... "
"Sebaiknya Ayah tidur! Lusa Ayah sudah boleh pulang kan? besok pagi aku akan ke ruangan dokter."
"Iya, Nak."
Setelah satu jam berlalu, Ayah tampak terlelap tanpa beban. Aku mencium dahi Ayah sebagai tanda kasihku padanya. Aku harap Ayah akan segera pulih.
"Sebaiknya ajak dia tidur! Aku akan berusaha menutup mata batinnya," ujar Mbah Brahma setengah berbisik.
"Baik, Mbah."
"Feli ... ayo tidur! Jangan sampai kamu sakit, ingat luka di kepalamu itu!"
"Iya .... "
"Tidurlah ... kami akan menjagamu!"
"Iya, Mbah," sahut Feli dengan senyum yang lebar.
Aku dan Feli tidur di atas sofa dengan posisi miring, aku berada di dinding sofa dan Feli di ujung. Sementara Rian menggunakan jaketnya sebagai alas tidur di lantai. Aku memeluk pinggang hingga perut Feli, sementara Rian menghadap ke arah wajah Feli sembari memegang tangan kanan Feli.
"Rian, aku seperti ini. Bagaimana?"
"Aku akan menjagamu, selalu," ujar Rian lalu ia mencium punggung kedua tangan Feli.
"Aku sangat mencintai kamu. Dulu aku pikir, hidupku tidak ada artinya. Aku sendiri dan kesepian. Aku .... "
"Suuuuut .... " ucap Rian sambil menutup bibir Feli dengan jari telunjuk tangan kanannya. "Sekarang kamu punya semuanya, Sayang. Keluarga, saudara, suami, teman-teman di kampus. Kamu punya semua yang orang lain tidak punya."
"Rian .... " sahut Feli sambil menangis.
"Aku mencinta kamu, Feli."
"Aku juga mencintai kamu, Rian."
Di balik punggung Feli, aku hanya bisa tersenyum. Aku bahagia saat sahabatku bahagia. Aku akan menjaganya seperti dia menjagaku. Tania ... lihat aku Kak! Aku hebat bukan? ucapku sambil memejamkan mata ditemani setetes air mataku yang turun dari sudut mata kanan ku.
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.