ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TANGISAN AYAH


"Permisi ...." Dokter tampan sudah berdiri di pintu kamar ku. Dia melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri. Sang perawat menyambutnya dengan senyuman yang hangat.


Rupanya ayah sudah menyampaikan permintaanku kepada dokter yang bertanggung jawab atas kesehatanku, dan beliau tampaknya mengerti.


"Jika hasil pemeriksaan kesehatan kamu menunjukkan hal yang baik, maka saya akan mengizinkan kamu pergi tapi dengan satu syarat. " Ucap Dokter


"Apa itu dok? " Tanyaku dengan cepat


"Kamu harus di dampingi seorang perawat, nanti saya yang akan menunjukkan siapa orangnya dan tentu saja kamu harus mengikuti instruksi dari nya. Setelah urusan tersebut selesai, kamu harus kembali melakukan perawatan secara intensif di sini. "


"Baik Dok, aku setuju." Berbicara dengan semangat yang menggebu-gebu. Dokter tersebut pun memeriksa ku dan dia mengizinkan aku untuk pergi.


Aku segera membersihkan diri dan mengganti pakaian ku. Aku mendengar ayah menelpon polisi untuk membantu kami. Ayah bilang sudah terjadi kesepakatan antara Ayah dan pihak kepolisian jadi meraka akan membantu aku dan Ayah dalam urusanku hari ini.


Aku berjalan ke mobil bersama ayah dan seorang perawat yang tidak aku kenali sebelumnya dan aku memulai melangkah menuju tempat yang sudah aku katakan kepada ayah.


Di simpang perbatasan antara kota dan luar kota aku melihat dua mobil polisi dan truk derek sudah menunggu kami. Ibu, aku datang Bu, air mataku menetes dan aku segera menghapusnya.


Mobil kami berjalan di depan. "Ayah ... beberapa menit lagi kita tiba. Ayah ingatkan tempat itu?" Bertanya dengan tenang


"Iya Sarah. " Ayah menjawab dengan yakin


Tidak berapa lama kami berhenti di dekat pohon besar di mana aku dan ayah bertemu makhluk misterius dan aku melihat mobil ibu menabrak pohon besar tersebut.


Aku keluar dari mobil dengan kaki yang gemetaran, aku seperti melihat kembali apa yang aku lihat malam itu saat tidur dan bermimpi. Melihat langkahku yang gemetaran, seorang polisi senior memegang dan mengangkat lenganku.


"Kuatkan dirimu nak, bukankah kamu ingin menyelamatkan ibumu?" Menatap dan bertanya padaku.


Air mataku menetes, rasanya ini sudah sangat terlambat sekali, ibuku sudah mati ... aku berbicara di dalam hati.


Polisi tersebut terus menguatkan ku seolah-olah dia tau dan bisa membaca pikiran serta perasaanku. "Belum terlambat Sarah. " Ucapnya dengan lembut namun tegas.


Aku berusaha menegakkan kepalaku dan melangkahkan kakiku menjauh dari mobil Ayah. "Ayah ...." Air mataku menetes tidak tertahankan, ayah melihatku dengan mata yang sayup.


"Disana ...." Jari telunjuk ku menunjukkan arah dimana Tante Rima mendorong ibuku ke jurang beserta sebuah mobil.


Ayah dengan beberapa orang polisi mendekati jurang tersebut namun tidak melihat apapun. Polisi senior yang memegang tanganku memerintahkan anak buahnya untuk menyusuri kawasan tersebut dan mereka menuruni jurang dengan peralatan yang luar biasa canggih.


Tak lama, mobil derek yang berukuran besar menurunkan kail deretnya ke bawah dan beberapa saat kemudian menarik sesuatu yang berat dengan lambat.


Banyak orang berkumpul di pinggir jurang, panasaran dengan apa yang terjadi. Mereka semua adalah saksi jasad ibuku yang mungkin saja berhasil di temukan hari ini.


Pukul 10.30 wib, mobil deret berhasil mengangkat sebuah mobil berwarna putih ke atas jurang. Rasa tidak percaya, ayahku melihatku dengan mata yang terbuka lebar dan ayah menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dari jarak yang agak jauh, aku melihat mata ayah memerah menahan air matanya. Kemudian aku menunduk, karena merasa tidak sanggup menyaksikan semuanya.


Mobil putih sudah berada di atas jalanan rata, beberapa orang polisi mengambil sidik jari sebelum ayah menyentuh mobil tersebut.


Seorang polisi kepala memegang pundak ayah dan mengizinkan ayah membuka pintu kiri mobil putih tersebut.


Ayah membuka pintu kiri mobil dan berteriak histeris. "RINAaaaaaaaaaaaaa ...."


Aku yang berdiri tegak langsung terjatuh seperti berlutut, aku tau apa yang ayah lihat tapi aku tidak bisa membayangkannya.


Ayah terduduk sambil terus menangis, ayah tidak kuasa menahan rasa sakitnya. Aku yang melihat dari kejauhan tidak lagi bisa berkata apa-apa. Perawat memegang ke dua lenganku dan berusaha menahan tubuhku yang melemah. "Harus kuat Sarah, jangan lemah." Ucapnya


"Ibu ... ibu .... " Ujarku dengan nada lirih dan perlahan seperti berbisik.


Aku melihat beberapa orang meletakkan tulang belulang ibuku beserta pakaiannya di atas tandu. Ayahku masih tergeletak di aspal, ayah berusaha berdiri tapi sulit. Seorang polisi membantu ayah dan menguatkan hatinya.


Aku seperti melihat kembali tragedi malam itu dan aku tidak sanggup lagi, aku melihat ayah memeluk tulang belulang ibu, aku melihat ayah menciumi pakaian ibu, aku melihatnya seperti orang gila.


"Ayah .... " Sebenarnya aku ingin mendekati ayah dan memeluknya tapi perawat tidak mengizinkan aku lalu aku terpaksa menurutinya.


Seperti kesepakatan sebelumnya yang sudah dibuat, aku mengikuti dan menghargai larangan dari perawat tersebut. Aku hanya bisa melihat ayah menangis dan terjatuh sendiri dari kejauhan.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘