ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TIPU DAYA


Suasana menjadi hening dan aku seperti tidak dapat merasakan hatiku. Ini bukan tentang diriku, melainkan Nenek Nawang Wulan. Dia tidak tau tentang apa yang biasa ia lakukan, ia tidak sadar dengan ilmu yang ia miliki. Tidak ada yang mengingatkan atau pun memberikan kebenaran berupa cahaya agama kepadanya.


"Sarah, kenapa lesu begitu?" tanya Mia yang tampak lebih bersemangat dan wajahnya sudah mulai memerah (tidak pucat lagi).


"Tidak apa-apa. Kalau sudah makan, ayo kita pulang! Kamu ikut ke rumah ku ya, Mia?"


"Iya, Sarah. Kalau gitu, aku panggil Feli dulu," ucap Mia, lalu ia kembali meninggalkan aku dan Paman yang masih duduk di pendopo utama.


"Paman, tentang buku itu."


"Iya.


"Aku akan meminjamnya nanti, ketika aku pulang dengan selamat."


"Amin ... Paman yakin, kita akan berkumpul lagi Sarah. Bahkan kita akan berdiskusi lagi dan kita akan belajar bersama."


"Amin. Paman, aku pamit ya dan makasih buat semuanya."


"Sama-sama, Sarah."


"Paman, kami pamit dulu ya. Nanti malam hati-hati Paman, sepertinya tidak mudah dan aku tidak bisa membantu," ucap Rian sembari mencium punggung tangan kanan Paman.


"Kamu sudah membantu Paman, Rian. Apa kamu tidak sadar itu? semua diantara kalian yang berjuang di jalan Allah, maka kalian sudah membantu Paman."


"Iya, Paman," sahut Feli dan Kak Rio bersamaan.


Kami pulang dan mereka semua di dalam mobil asik berbincang-bincang hangat, tapi aku hanya diam sembari menyandarkan punggung di kursi mobil. Aku pikir mereka tidak tau tentang keadaan ku, tapi disaat yang bersamaan Feli menyentuh dan menepuk-nepuk kecil bahu kanan ku dari belakang.


"Sarah, apa kamu sudah bilang sama Ayahmu kalau aku akan menginap di sana?"


"Tenang saja, rumah Sarah sekarang ini seperti panti asuhan," goda Feli memancing tawa kami.


"Iya, tenang saja," sahut ku agar Mia merasa nyaman.


"Sayang, mau buka sama apa?" tanya Kak Rio sambil menoleh ke belakang.


"Air putih hangat saja, Kak. Ada kurma juga di rumah, kemarin Feli dan Rian membelinya dalam jumlah banyak."


"Kalian pacaran?" tanya Mia heran sambil menatap ke arah ku dan Kak Rio secara bergantian. "Tapi kalian tidak pernah terlihat bersama. Bahkan maaf, aku juga menyukai Kak Rio sejak awal pengenalan kampus," ucap Mia yang berbicara jujur.


"Wah, ada pengagum rahasia Senior ternyata," ledek Rian dan itu membuat Mia tertawa cukup keras.


"Waduh ... untung aku belum terlalu suka ya. Tapi kalau dibiarkan lama-lama, sudah pasti aku akan jatuh cinta. Apalagi aku nggak tau kalau ternyata Kak Rio tidak jomblo loh."


"Ha ha ha ha ha ha ... ada-ada aja," kata Kak Rio sambil menatap Mia. "Aku akan segera menikahi Sarah jika aku sudah bekerja nanti. Mia, aku yakin kamu akan menemukan orang lain."


"Iya, Kak," sahut Mia sambil menahan bibirnya.


Setelah melakukan perjalanan sekitar 45 menit, kami tiba di rumah. Seperti biasanya, jika sudah mendengar suara mobil Rian atau Kak Rio, Ayah langsung bergegas untuk membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum ...."


"Waalaikumsalam. Kenapa pulangnya lama sekali? sudah hampir magrib," tanya Ayah sambil menghela nafas panjang. Tampak sekali dari matanya bahwa beliau sangat khawatir.


"Kami dari pondok Ayah, ada urusan sebentar," jawab Feli dan Mia tampak sangat bingung karena Ayah terlihat sangat dekat dengan Feli. Mungkin di dalam hati Mia bertanya, apakah aku dan Feli saudara?"


"Begitu. Bagaimana kabar Paman?"


"Paman sehat, tapi sepertinya lupa menitipkan salam untuk Ayah," jawab Rian dengan suara yang santun.


"Kalian semua bersaudara?"


"Iya," jawabku dan Feli bersamaan, lalu kami tertawa bersama.


"Ayah, perkenalkan. Ini Mia teman satu kelas di kampus. Kebetulan malam ini dia sendirian di rumahnya dan kami mengajaknya menginap disini. Boleh kan Yah?"


"Boleh ... boleh .... " sahut Ayah dengan senyumnya yang lebar. "Ayo, silahkan masuk!!"


"Terimakasih, Om."


"Mau ganti baju, Mia?"


"Tapi aku nggak bawa pakaian ganti, Feli."


"Ukuran badan kita kan sama. Ayo, mandi dulu."


"Iya."


"Sarah, sebaiknya kamu juga bersih-bersih karena sebentar lagi Azan."


"Iya, Yah."


"Kalian juga Rian, Rio."


"Iya, Yah."


"Oh iya, Yah. Malam ini, Rio minta izin untuk menginap disini."


"Tumben, ada apa? Ayah harap semuanya baik-baik saja." Melihat Ayah khawatir, Rian dan Kak Rio menjelaskan situasinya dan Ayah tampak paham dengan alasan Kak Rio. "Iya, baiklah ... semoga semuanya dalam lindungan Allah."


"Amin .... "


"Ayah ke kamar duluan."


"Iya, Yah."


*****


"Feli, aku baru tau kalau kalian itu saudaraan."


"Iya ... kita memang nggak bikin pengumuman, Mia," jawab Feli dan itu semua membuat aku tersenyum.


"Dan ... kaki Ayah kenapa?"


"Kecelakaan dan harus diamputasi."


"Oh ... iya."


"Sebaiknya kamu mandi duluan, Sarah. Supaya nggak terlambat berbuka nya."


"Iya, Sarah."


*****


Pukul 22.00 WIB. Aku sangat merasa lelah, aku mengatakan pada semuanya untuk segera tidur dan mereka menyetujuinya. Rasanya malam ini dingin dan membuai sehingga sangat nikmat untuk merenda bulu mata.


"Mia, jangan keluar dari kamar tanpa salah satu dari kami ya! Pokoknya jangan kemana-mana, di kamar aja. Toh Feli sudah menyiapkan makanan dan minuman. Kalau mau buang, di kamar juga sudah ada kamar mandi kan .... "


"Iya, Sarah."


"Feli, aku tidur duluan. Jangan lupa baca untuk pagar gaibnya," ucapku berbisik pada Feli.


"Iya, kamu juga."


"Em," sahut ku tanpa membuka mulut sambil memejamkan mataku, namun hatiku terus mengulang bacaan ayat-ayat Al-Quran yang tepat untuk tujuan kami (memagar rumah secara gaib).


Flasback


"Paman, bagaimana cara agar rumah kita terjaga?" tanya ku pada Paman saat beliau berkunjung ke rumah ini.


"Ramai orang yang bertanya apabila mereka memiliki rumah yang baru dibeli ataupun disewa, bagaimana jika mereka ingin melindungi rumah tersebut dari dimasuki makhluk halus ataupun dimasuki pencuri. Begini tata caranya, Sarah."


"Pertama, membaca surah al-Baqarah. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Muslim dan An-Nasa-I pernah meriwayatkan dari Suhail bin shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu menjadikan rumah kamu sebagai kuburan, sesungguhnya rumah yang di bacakan Surah Al Baqarah tidak akan dimasuki syaitan," jelas Paman dengan suara yang sangat lantang. Mungkin saat itu Paman juga sedang memagari rumah ini tanpa sepengetahuan dari kami.


"Berikutnya, ketika rumah, toko atau warung, gudang milik kita telah selesai dikunci, letakkan tapak tangan ke dinding atau pintu rumah lalu baca hal ini: mengucap dua kalimah syahadah (1 kali), salawat atas nabi (2 kali), ayat kursi (1 kali) dan baca ayat 9 dari Surah Yasin (1 kali)."


"Ayat 9 dari Surah Yasin?" tanya ku saat itu karena tidak hafal.


“Wa ja’alna mim baini aidihim saddaw wa min kholfihim saddan fa agsyaina hum fa hum laa yubsiruun."


"Maksud ayat tersebut apa, Paman?"


“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata), mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”


"Allahu Akbar," seru ku semakin menambah daftar kekaguman ku terhadap ayat-ayat suci Al-Quran. "Apa masih ada lagi, Paman?"


"Ketiga, perbanyak lah membaca al-Quran. Apabila kita selalu membaca Al-Quran di dalam rumah, maka jin dan syaitan juga akan lebih menjauhkan diri dari rumah kita yang selalu diperdengarkan dengan bacaan Al-Quran di dalamnya."


"Paham, Paman. InsyaAllah akan aku amalkan. Selalu saja ada ilmu yang bermanfaat bila berada bersama Paman."


*****


Back


"Feli, Sarah beruntung sekali ya."


"Kenapa bilang begitu?"


"Dia memiliki Ayah yang sangat perhatian dan kekasih yang setia serta hangat. Walaupun Kak Rio tidak menyentuhnya, tapi aku bisa melihat dari tatapan mata Kak Rio kepada Sarah. Aku jadi merasa iri," ucap Mia dan aku masih dapat mendengarkan perkataannya dengan baik.


"Amin ... semoga kita semua mendapatkan laki-laki yang baik ya, Mia."


"Iya, Feli. Semoga saja."


"Sebaiknya sekarang kita tidur! Sudah larut."


*****


Situasi


Pukul 23.00 WIB. Sarah dan Feli sudah mulai tertidur nyenyak, tapi tidak dengan Mia. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, yang jelas ia sangat gelisah dan merasa tidak bahagia. Tampak sekali dari raut di wajah dan juga gelagatnya.


Pukul 23.00 WIB. Tek tek tek tek tek tek tek tek tek. Terdengar suara ketukan kecil dari arah luar jendela kamar Sarah, tapi sangat memancing rasa keinginan tahuan Mia.


"Apa itu?" tanya Mia kepada dirinya sendiri dengan suara yang pelan, tapi ia masih baring tanpa bergerak sedikitpun.


"Meong .... "


"Ternyata hanya kucing," ucap Mia, lalu ia memiringkan tubuhnya agar bisa tertidur seperti yang lainnya.


Tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek. Suara itu semakin cepat, banyak dan kuat, hingga Mia merasa sangat terganggu dan berkeinginan untuk mengetahui asal dari suara tersebut.


Mia duduk di atas ranjang, kemudian berdiri dan berjalan mendekati jendela kamar. Ia menyingkap kain hordeng penutup jendela berwarna hijau toska dan menatap ke sekeliling pekarangan yang tampak terang dari dalam.


Dari dalam kamar, Mia melihat ada dua orang tengah berdiri cukup jauh dari pekarangan rumah Sarah. Penasaran, Mia menyipitkan kedua mata dan memfokuskan pandangannya.


"Papa ... Mama .... " ucap Mia sambil tersenyum bahagia saat melihat kedua orang tua yang ia sayangi berada di luar rumah Sarah, sedang membawakan sebuah kue tart ukuran besar berwarna coklat dengan dua batang lilin bertuliskan angka 19 di atasnya.


Mia melihat ke arah Sarah dan Feli yang tengah tertidur pulas. Tampak sekali bahwa kedua temannya tersebut sangat kelelahan. Oleh karenanya, Mia tidak ingin mengganggu, apalagi membangunkan Sarah ataupun Feli.


Tidak ingin Papa dan Mamanya menunggu lama, Mia langsung pergi keluar rumah dengan perasaan bahagia dan tanpa pikir panjang. Bahkan Mia melupakan pesan Sarah dan Feli terhadap dirinya untuk tidak meninggalkan kamar, apalagi rumah (keluar dari rumah).


Mia melangkah dengan sangat cepat, tanpa satu pun dari teman-temannya yang sadar. Ia membuka pintu utama rumah dan langsung berlari ke arah samping luar pagar minimalis rumah Sarah.


"Papa? Mama? kapan pulang? bukannya waktu ditelepon kemarin Papa dan Mama bilang akan pulang minggu depan? tadinya aku sangat sedih sekali karena Papa dan Mama lupa dengan hari ulang tahun ku. Tapi ternyata aku salah, kalian masih ingat dan aku sangat bahagia malam ini," ucap Mia dengan air mata yang cukup deras.


"Aku juga mau minta maaf karena Malam ini aku memilih untuk menginap dirumah temanku karena merasa kesepian di rumah. Padahal di rumah ada bibi dan juga satpam yang menjaga."


"Papa, Mama, aku minta maaf karena aku tidak meminta izin kepada kalian berdua. Aku harap Papa dan Mama tidak marah padaku kali ini dan aku berjanji, lain kali aku akan lebih menghargai Papa dan Mama," ucap Mia tanpa henti sambil tertunduk dan saat itu ia melihat Papa dan Mamanya hanya tersenyum sambil memegang kue ulang tahun ukuran jumbo.


Mia melangkah lebih cepat sehingga jarak diantara mereka sangat dekat. Mia menatap keduanya dengan pandangan bahagia. Tapi lama kelamaan, wajah Papa dan Mama yang tadinya tampak begitu familiar dan indah, secara perlahan berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan tidak dapat ia kenali.


Perlahan, Mia mudur dengan tubuh yang gemetaran dan hati yang penuh ketakutan. Saat ini, Mia menyadari kekeliruannya. "Ka-kalian bukan Papa dan juga Mamaku. Kalian .... " ucap Mia terbata-bata dan ia berusaha untuk berlari meninggalkan dua makhluk misterius yang sangat menyeramkan tersebut.


Baru saja Mia berbalik badan dan ingin berlari ke arah rumah Sarah, tiba-tiba di belakangnya sudah ada dua sosok makhluk yang awalnya Mia lihat ada di hadapannya. "Tolooong!!" teriak Mia sebelum wajahnya di tutup oleh tangan berukuran besar, panjang, lebar, dan terlihat hitam serta dekil (kotor).


Suara teriakan Mia terdengar oleh Kak Rio yang langsung bangun dan berlari ke arah sumber suara (luar rumah). Tapi pada saat yang bersamaan, Kak Rio sudah tidak lagi menemukan Mia.


"Astagfirullah hal azim ... aku terlambat," ucap Kak Rio sambil memperhatikan setiap bagian pekarangan rumah dan jalanan.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.