ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
ISTIRAHAT


Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Biasanya hanya tentang diriku sendiri, tapi kali ini tentang makhluk lainnya. Aku tidak tau bagaimana Allah memandang semua ini? Yang aku tau, Nenek Nawang Wulan dan aku, sudah sama-sama berjuang dan memberikan yang terbaik.


Kami tiba di depan pagar, dari sini tampak pintu rumah sudah terbuka lebar. Padahal masih terbilang subuh dan langit pun masih gelap. Pikiranku langsung membawa tubuhku untuk berdiri dari sandaran mobil. Aku harap, tidak ada hal buruk apapun di dalam sana.


Aku melihat Feli, dia sama cemasnya dengan ku, tapi dia berusaha tetap tersenyum. Kami berdua memang selalu menjaga hati dan tidak ingin yang lainnya dalam keadaan panik. itulah kami, aku dan Feli.


"Ayo!" ajak Feli sambil merangkul tubuh ku yang tidak lagi berdaya.


"Kalian sudah pulang?" sapa Pak Antok yang menyambut kami saat sudah berada di depan pintu rumah.


"Sudah, Pak."


"Non Sarah, apa nggak sebaiknya si Non dibawa ke rumah sakit?" tanya Pak Antok karena melihat kondisi Sarah yang kacau sekali.


"Boleh, Pak. Tapi sebelumnya, aku ingin melihat Ayah terlebih dahulu."


"Iya, Non. Tuan ada di ruang shalat. Sejak tengah malam tadi sudah berada di sana. Subuh tadi selepas azan, Tuan memerintahkan kepada saya untuk membuka pintu rumah karena Non berdua akan pulang. Begitu kata Tuan tadi, Non."


Mendengar ucapan Pak Antok, Aku dan Feli langsung tersenyum. Sementara Kak Rio dan Rian juga ikut masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara, apalagi bertanya.


"Assalamu'alaikum, Ayah .... " sapa kami semua.


"Waalaikum salam .... "


"Kalian pulang dengan selamat," kata Ayah, kemudian beliau kembali melihat ke arah sajadah nya dan terlihat Ayah langsung melakukan sujud syukur.


"Alhamdulillah .... " kata Pak Antok sembari mengusap wajahnya. "Sebaiknya Aden dan Non semuanya membersihkan diri kemudian shalat. Setelah itu, baru saya antar ke rumah sakit."


"Iya, Pak," sahut kami semua karena setuju dengan ucapan Pak Antok.


Feli ikut bersama ku ke kamar ku, sementara Kak Rio ikut Rian ke kamar milik Rian dan Feli. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, kami langsung menunaikan kewajiban kami secara berjamaah.


Setelah usai, tanpa banyak bertanya, Ayah hanya menatap wajahku yang sudah babak belur. Air mata Ayah sepertinya jatuh ke dalam dan kami pun menutup mulut kami rapat-rapat.


"Bagaimana keadaan teman kalian itu?" tanya Ayah setelah 10 menit sembari menarik dan membuang nafasnya perlahan berkali-kali.


"Mia dan ke lima mahasiswa-mahasiswi lainnya selamat Ayah. Hanya ada satu yang sudah tiada," sahut Feli dengan cepat karena aku tidak sanggup berkata-kata banyak. Bahkan untuk shalat pun, aku hanya bisa dalam posisi duduk.


"Jadi, bukan hanya Mia yang ditargetkan menjadi korbannya?"


"Iya, Yah. Ada banyak."


"Astagfirullah hal azim .... " ujar Ayah sembari tertunduk seakan memahami keadaan dan alasan mengapa putri kesayangannya babak belur seperti saat sekarang ini. Bahkan terdiam kembali setelah beliau membayangkan seberapa beratnya makhluk-makhluk yang dihadapi Sarah serta yang lainnya, tanpa Ayah.


"Maaf, Tuan apa nggak sebaiknya Non Sarah kita bawa ke rumah sakit saja sekarang? kasihan Tuan, tampaknya Non Sarah sudah sangat lemah," kata Pak Anto memecah lamunan Ayah di hadapan kami.


"Iya, iya. Ayo kita berangkat sekarang!"


Kami semua berangkat ke rumah sakit dengan posisi duduk, aku dan Ayah berada di kursi tengah. Sedangkan Feli berada di kursi depan bersama Pak Antok, lalu Rian beserta Kak Rio di kursi paling belakang sekali.


Ayah menarik kepalaku dan mengarahkannya tepat di lengan kiri Ayah. Aku pun bersandar walaupun tahu mungkin Ayah juga merasa berat karena tubuhku yang mulai bertambah besar dari sebelumnya (terakhir aku bersandar di pun dah Ayah).


Sekitar 30 menit melakukan perjalanan, kami tiba di rumah sakit dan langsung masuk ruang IGD. Aku yang lemah langsung diberi tusukan halus di nadi kiri ku, melalui jarum infus dan Dokter bilang aku harus istirahat cukup lama di rumah sakit karena banyak kehilangan cairan tubuh sementara Feli, Rian dan Kak Rio bisa rawat jalan.


Matahari mulai mengeluarkan sinarnya yang berwarna merah kekuningan. Aku pun dibawa ke ruang perawatan VIP agar lebih nyaman. Tak lama datanglah seorang yang perawat yang mengantarkan sarapan untukku.


"Sarah, kamu kepengen makan apa?" tanya Rian sambil menatap wajahku dengan kedua tangan yang ia letakkan di belakang punggungnya.


"Nggak tahu ... sepertinya aku butuh yang manis dan lembut, tapi bukan lelembut."


"Ha ha ha ha jangan lagi, Sarah! Cukup. Aku bahkan sudah sulit untuk mengangkat wajahku," kata Rian Sambil tertawa lemah dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Bersama wanita-wanita aneh seperti kalian ini memang sebuah tantangan hidup yang luar biasa," kata Kak Rio yang tiba-tiba meletup dalam posisi duduk di ujung kaki Sarah, di atas ranjang perawatan.


"Ha ha ha ha," tawa Feli yang sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Kak Rio. Dia malah merasa bahwa dia dan aku sangat beruntung karena masih dapat merasakan cinta dalam keanehan diri kami. "Tapi sebenarnya nya Kak Rio masih punya kesempatan kok buat ninggalin kita," tukas Feli menantang Kak Rio.


"Heeemh, bagaimana ya?" keluh Kak Rio yang sepertinya sudah terlanjur cinta, tapi juga cemas dengan kehidupan kedepannya.


"Sepertinya Kak Rio sedang membayangkan, bagaimana nasib putra-putrinya nanti jika mereka bisa melihat, bahkan turun langsung ke lapangan seperti kalian berdua," kata Rian sambil menatap Kak Rio dengan senyum.


"Tidak, kalau soal itu aku sudah menyerahkannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memiliki segala rahasia dan jalan keluar atas semua masalah. Yang sedang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana jika suatu saat nanti jika ada perkara, tapi aku tidak mampu mendampingi kalian seperti sebelumnya."


"Ayah mengerti kecemasan mu Rio, tapi seperti yang kamu lihat. Ayah juga tidak mendampingi kalian tadi malam dalam pertarungan, tapi doa-doa Ayah, permintaan Ayah kepada Allah itu selalu mengiringi langkah anak-anak Ayah. Ayah mendampingi kalian semua dalam diam, dalam doa."


Ucapan Ayah sepertinya mengena di hati kak Rio dan ini bukanlah sekedar teori semata karena memang ia sendiri melihat kenyataan tentang bagaimana Allah menjaga hambanya melalui doa-doa yang tulus dari orang-orang yang menyayangi, terutama doa ikhlas dari orang tua.


Perbincangan hangat dan panjang terjadi diantara Ayah, Kak Rio, Rian, dan juga Feli. Sementara aku hanya terdiam mengumpulkan sedikit demi sedikit tenagaku, hingga tanpa terasa hari sudah memasuki waktu makan siang.


Situasi dan keadaan sudah diatur, Ayah bilang siang ini Feli dan Rian serta Kak Rio sebaiknya pulang. Apalagi Rian Ingin memasakkan sesuatu untuk Sarah yang diyakini bisa menaikkan gairah makan Sarah sehingga bisa cepat sembuh. Kemudian yang di rumah sakit siang ini adalah Ayah dan Pak Antok.


*****


Hari sudah sore menjelang magrib, Pak Antok di minta Ayah untuk membelikan bubur jagung kesukaan beliau. Kemudian Ayah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ketika Sarah sedang tertidur pulas.


*****


Tiba-tiba, tanpa angin dan badai. Ranjang tempat Sarah berbaring bergetar hebat bahkan bergerak maju mundur. Hal itu sangat mengganggu Sarah hingga ia terbangun. Tapi pada saat Sarah membuka kedua matanya, ranjang tersebut sama sekali tidak bergerak dan tidak ada siapapun di dalam ruang perawatan Sarah.


Siapa yang melakukannya? Tanya ku di dalam hati sambil memperhatikan seluruh ruangan. Namun aku sama sekali tidak dapat melihat siapapun. Aku berpikir, mungkin ini hanya rasa pusing hasil lelah ku saja dan tidak ada apa-apa.


Aku menghela nafas panjang, kemudian memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhku serta memejamkan kedua mataku. Tak sampai 10 menit aku merasakan ketenangan, tiba-tiba aku kembali tersentuh oleh sesuatu yang terasa halus, tapi sangat menyakitkan.


Seperti jari-jari yang sangat panjang dan berkuku tajam. kedua bagian tangan makhluk asing tersebut menutup wajahku hingga tersisa sedikit bagian pada mataku saja.


Yakin dengan perasaanku kali ini, aku langsung membuka kedokteran aku mataku lebar-lebar. Tapi sekali lagi, tidak ada siapapun di ruangan ini. Keringat dingin sudah mengalir disisi kiri dahi ku, tapi aku sangat lemah untuk berteriak. Tak lama, Ayah keluar dari kamar mandi dengan kedua tongkatnya dan langsung menuju ke arah ku.


"Ada apa, Sarah?" tanya Ayah dengan lembut dan aku hanya menggeleng-menggelengkan kepala ku. "Ya sudah, kalau gitu istirahat lagi! Tadi Ayah cuma ke kamar mandi sebentar."


Ayah menggosok-gosok lembut tangan Sarah yang terhubung dengan jarum infus dan sentuhan itu membuat Sarah merasa nyaman, hingga ia kembali merasakan kantuk dan tertidur.


Dari sisi lain, terlihat sosok gaib yang tampaknya sedang ingin bermain-main dengan perasaan takut dan nyawa seseorang. Makhluk itu terus menatap Sarah dari ujung ruangan, seakan menunggu waktu yang tepat untuk menerkam tubuh mungil gadis muda yang tampak polos tersebut.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.