ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
BAKAT


Mereka semua tampak menyatukan energi mereka yang masih tersisa. Raungan dan teriakan terdengar memenuhi ruangan. Mereka semua tampak setengah mati memperjuangkan sesuatu yang berharga untukku yaitu Paman dan ilmunya yang bermanfaat.


"Mamaaakkk ...." teriak bocah kecil dengan matanya yang penuh dengar air bening, sementara bibirnya bergetar dan seakan jatuh ke bawah menahan perasaannya.


Nenek Ratih membuka matanya lebar-lebar, entah apa yang ia pikirkan. Mungkin saja ia ingin puas menatap wajah kecil yang tampak bersedih tersebut.


Terakhir, asap hitam yang keluar dari tubuh Paman sudah mulai bersih dan memutih seperti awan yang melindungi bumi dari sengatan matahari. Saat itu, Nenek Ratih tampak sangat lelah, tapi tubuhnya bertahan walau hanya sebagian (kepala hingga perut).


"Mamak," ucap bocah tersebut lirih sambil berlari ke arah Nenek Ratih, begitu juga dengan Mbah Siji.


Mbak Siji meletakkan kepala Nenek Ratih tepat di sudut tengah sikutnya. Sementara bocah tersebut terus menangis sembari memegang tangan kiri Nenek Ratih yang tersenyum sempurna.


Satu hal yang aku pahami, walaupun mereka jin, tapi mereka saling menyayangi dan menghargai. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuh Nenek Ratih kecuali Mbah Siji, itu artinya Mbah Siji adalah pasangan dari Nenek Ratih dan bocah perempuan tersebut adalah buah cinta mereka.


"Anak hebat, sudah berani maju ...." ucap Nenek Ratih dengan suara yang sangat halus dan lembut khas seorang ibu.


"Mamak ... Mamak ...." ucap bocah tersebut mengulang perkataannya.


Aku memperhatikan bocah itu, ternyata ia baru saja dilahirkan, mungkin baru satu atau dua bulan yang lalu. Makanya ia baru bisa berbicara sepatah dua patah kata, tapi dia sangat mengerti situasi yang tengah ia hadapi.


"Terimakasih ...." ucap Paman yang langsung duduk tanpa rasa sakit sedikitpun seraya menatap Nenek Ratih.


"Nduk ...." ucap Nenek Ratih sambil berusaha mengangkat tangan kirinya untuk menyisir rambut putrinya dengan tangannya sendiri, namun ia tidak mampu. Seketika tangan yang baru saja hampir akan menyentuh rambut bocah tersebut terjatuh.


"Neneeekkk ... tidak. Nenek ... banguuun!!" perintahku dengan wajah dan tubuh yang gemetaran.


"Mamak."


Bersambung.


Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin para readers ku. Semoga lebaran tahun ini kita semua kembali fitrah dan selamat dalam menghadapi musibah virus ini.


Aku juga mohon maaf karena sampai akhir bulan ini hanya bisa up sedikit-sedikit karena memang belum kuat untuk duduk lama. Kemarin aku nulis sampe 1000 kata (panjang), tapi hilang karena berbagai masalah. Jadi sekarang aku putuskan untuk nulis semampuku hingga benar-benar pulih dan bisa seperti sediakala.


Selain itu, aku juga berusaha untuk up berkali-kali karena memang episodenya pendek. Semoga pembaca semuanya tetap bisa menikmati segalanya, amin.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘