ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TANDA LAHIR (Bagian 4)


Aku bangun dari tidur ku yang berat, ayah pergi hari ini. Aku menyadari sesuatu, selama di sini, aku tidak tau waktu, aku tidak mengerti keadaan, aku tidak sadar dalam bertindak. hidup ku seperti mimpi.


Saat aku mengatakannya, aku melihat tangan kananku dan rambut itu kembali dalam genggaman ku padahal tadi malam rasanya sudah aku buang ke lantai. Aku semakin bingung, bahkan aku merasa hampir gila.


Aku segera membersihkan diriku dan keluar dari kamar berharap masih bertemu dengan ayahku, tapi nampaknya aku terlambat, ayah sudah pergi.


Aku mencari ibu di kamarnya, tapi ibu tidak ada. Aku masuk ke ruang kerja ayah, aku melihat obat penenang di atas meja ayah, "ayah meninggalkan nya", gumamku.


Aku keluar dari ruang kerja ayah, aku ingin mencari pak Antok. Rasanya tubuhku lunglai, aku benar-benar merasa lelah dengan semua kenyataan selama hidup di rumah ini.


Dari dapur aku mendengar teriakan ibu, "Aaa


aaaaa ... aaaaaaa .... " Aku mengurungkan niatku untuk mencari pak Antok dan segera mendekati ibu.


"Ibu, ada apa bu? " Wajah ibu tampak ketakutan dan jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu menuju gudang tua, aku mendekati pintu itu tapi tidak ada apa-apa di sana.


"Kemari Bu ...." Aku mengajak dan membawa ibu untuk pergi ke kamarnya. "Jangan masak lagi Bu, biar aku beli saja nanti." Ucapku agar ibu bisa berbaring dengan tenang.


"Iya Sarah, terimakasih kak .... " Aku melihat wajah ibu tampak pucat. Saat berbaring, aku melihat ibu merenggangkan tubuhnya, dan aku menutup tubuh ibu dengan selimut.


Aku mencari pak Antok, untuk memintanya membeli lauk pauk untuk makan siang dan malam nanti. "Pak Antok ... pak ... paaak .... "


"Iya non, iya ... ada apa non Sarah? " Pak Antok berlari keluar dari arah gudang tua. Melihat asal arah munculnya pak anton membuat jantung ku berdesir, apa yang dilakukan pak Antok di sana? Tanyaku di dalam hati.


"Maaf non, mencari saya? " Tanya pak antok dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Iya ...." Dengan mata yang tajam melihat pak ke arah Antok.


"Ada yang bisa saya bantu non? " Bertanya dengan tenang


"Iya, pak Antok tolong ke warung ya, dan belikan lauk pauk untuk makan siang ini dan malam nanti, ibu sedang tidak enak badan jadi tidak masak hari ini.


" Baik non ...." Pak Antok bergegas pergi keluar dari rumah. Aku membalik tubuhku dan memandangi pak Antok mulai dari beranjak di dekat ku hingga menghilang dari pintu luar.


Aku kembali ke kamar ibu, aku mengajak ibu bercerita tentang apapun. Aku banyak bertanya tentang masa kecil ku dengan ibu tapi ibu banyak diam dan tidak menjawabnya, hanya tertawa kecil.


Pak Antok tampaknya sudah pulang dari warung lalu aku langsung keluar dan membereskan lauk pauk serta membawakan makanan untuk ibu. Malam ini aku berniat untuk tidur bersama ibu.


Sebelum aku masuk ke kamar ibu, Pak Antok mendekati dan meminta izin padaku untuk pulang ke rumahnya. Aku pun mengangguk dan mempersilahkan pak Antok pulang. sebenarnya aku ingin mempertanyakan tentang keberadaan pak Antok tadi siang, tapi ada rasa ragu di hatiku dan aku mengurungkan niatku.


Aku kembali masuk ke kamar ibu, "Sarah, apa malam ini kamu tidur disini bersama ibu?" Tanya ibu padaku dan aku menganggukkan kepalaku, "Terimakasih ya nak" Ucap ibu.


Ini sudah pukul 22.00 wib, ibu dan aku belum juga tidur. Aku kembali mengajak ibu bercerita, kali ini cerita tentang ayah. " Ibu, apa ibu sangat mencintai ayah? " Tanyaku dengan bodoh karena belum pernah merasakan jatuh cinta.


"Iya, tentu saja Sarah ... ibu bisa melakukan apapun untuk dapat hidup bersama dengan ayah mu."


"Waaaah, ibu terdengar romantis untuk ku. " Akupun tersenyum kecil saat mendengarkannya, " Aku belum pernah merasakan cinta yang seperti itu Bu. " Lanjut ku


"Mungkin suatu saat nanti kamu akan menemukannya Sarah. " Jawab ibu


"I - iya Bu, semoga ... dan aku lihat ayah juga sangat mencintai ibu. " Saat aku mengajak ibu bercerita tentang ayah, respon ibu sangat berbeda. Kali ini ibu bercerita sangat antusias, berbeda saat kami menceritakan tentang masa kecilku ataupun yang lainnya.


Baru kali ini ini aku melihat ibu begitu bersemangat untuk bercerita, matanya berbinar, bibirnya tersenyum saat mengatakan dan memperlihatkan rasa cinta nya. Dari hal itu aku sadar penuh ... kalau ibu sangat mencintai ayah.


Hari sudah larut malam, pukul 00.00 wib, ibu masih bersemangat untuk bercerita. "Ibu, aku sangat senang malam ini, mendengar semua cerita ibu dan ayah. "


"Iya Sarah, ibu juga makasih sama kamu ya nak untuk semuanya hari ini. " Sahut ibu manis.


"Ibu ibu, aku ke kamar mandi sebentar ya. "


"Iya." Jawab ibu.


Aku hanya pergi ke kamar mandi sebentar saja, tapi saat aku kembali ke kamar ibu, aku melihat kondisi ibu yang tadinya ceria berubah menjadi murung.


Ibu duduk di atas ranjangnya sambil menekuk kedua kakinya lalu tangannya memeluk erat kedua kakinya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya kedepan dan kebelakang.


Aku mensekati ibu dan langsung memeluk ibu dengan erat. " Ada apa Bu?" Tanyaku sambil merapikan rambutnya


Aku melihat ke arah yang sama dengan yang ibu lihat tapi aku tidak melihat apapun. "Ibu, ibu ... khawatir, aku memeluk ibu dengan erat.


" Pergi dari sini, tinggalkan aku sendiri !" Sembari mendorong ku.


Air mataku menetes, aku begitu sedih dan akupun meninggalkan ibu sendirian di kamarnya. Aku tidak tau apa salahku pada ibu, dan aku kembali ke kamar ku dengan hati yang sangat terluka, aku hanya duduk terdiam dan merenung di atas ranjang ku.


Sekitar setengah jam kemudian, aku mendengar teriakan ibu yang sangat kuat. Aku langsung berlari menuju kamar ibu, aku melihat ibu terdorong ke dinding. Tubuhnya seperti melekat pada dinding tersebut, seperti ada yang mendorong nya dengan sangat kuat.


Aku segera berlari menghampiri ibu, aku berusaha membantu dan menarik ibu dari dinding itu. Saat tubuh ibu mulai lepas, aku melihat tubuh ibu lunglai, darah menetes dari hidungnya, aku mengusap darah ibu dengan tanganku.


Aku memapah ibu ke tempat tidurnya, melihat ibu seperti ini hatiku sangat kacau, aku marah tapi tidak tau kepada siapa aku harus marah? "Ibu, ibu ... aku tidak akan meninggalkan ibu, ibu tidak bersuara tapi ibu menyandarkan kepalanya di atas pundak ku.


Suara ibu terdengar samar-samar tapi aku bisa mendengarkannya. "Jangan ganggu aku, pergi dari sini! " Suara ibu berulang-ulang hingga ibu tidur di pelukan ku.


Hari hampir subuh, aku tidak dapat memejamkan mataku. Otak ku berfikir keras, aku mengumpulkan keberanian ku, aku harus melakukan sesuatu, sesuatu untuk melindungi ibu, kadang terlintas di pikiranku untuk menelpon ayah tapi aku tidak boleh melakukan nya, ayah benar-benar sedang sibuk saat ini. apa yang harus aku lakukan?


Aku melihat arah jam dinding, tepat pukul 04.40 wib. Aku ingin menyiapkan makanan untuk ibu, agar ibu tidak lemah. Aku membaringkan ibu di atas ranjang dan meninggalkannya.


Tidak lama, aku hanya menyiapkan teh hangat dan dua buah roti potong dengan selai stroberi di atasnya, lalu aku kembali ke kamar ibu.


Heeeeeh, heeeeeeh, heeeeeeeeeehhhh ...


Saat aku sudah tiba di luar pintu kamar ibu, aku mendengar suara erangan, aku segera masuk dan melihat ibu tapi ibu tidak ada di ranjangnya.


Mataku melihat-lihat sekeliling, suara erangan itu munculnya dari atas lemari kamar ibu. Aku menolehkan kepala ku dan melihat ke arah lemari itu.


Aku sangat terkejut melihat ibu di atas sana tapi dengan wajah yang hampir tidak aku kenali, pakaiannya pakaian ibu tapi wajahnya sangat berbeda. Ibu seperti ingin menerkam ku, aku berlari dan tanpa sengaja aku menjatuhkan makanan yang ku bawakan untuk ibu.


Aku berlari dengan cepat , ibu terus mengejar ku. Sesekali aku melihat ke arah belakang, mulut ibu mengeluarkan lendir berwarna hitam, ibu mengejar ku dengan cepat, ibu seperti binatang, merangkak, merayap di lantai dengan cepat.


Aku tidak tau kemana aku harus pergi, dari arah luar aku mendengar suara pak Antok lalu aku berteriak meminta bantuannya. "Pak Antok, tolong ... tolong pak .... " Teriakku tanpa henti.


Pak antok segera masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci serap. Lalu pak Antok memegang tangan ku, "ada apa non?".


"Ibu pak, ibu .... " Sambil menunjuk ke arah Ibu.


Pak Antok melihat ke arah ibu dan ekspresinya sangat terkejut, "Nyonya .... "


Pak Antok berdiri di hadapan ku, dari belakang, aku melihat pak Antok membacakan sesuatu sambil memperlihatkan kalung yang iya kenakan ke arah ibu.


Di saat yang bersamaan ibu terlihat kesakitan dan meraung-raung. Aku menangis dan ketakutan. Aku tidak atau apa yang harus aku lakukan.


Pak Antok semakin maju mendekati ibu, ibu terlihat lebih kesakitan lagi dan ibu sama sekali tidak bisa bergerak. Kemudian Pak Antok membuka kalung yang ia pakai kemudian mengalungkannya di leher ibu.


Tidak lama, perlahan-lahan ibu menjadi tenang dan semakin tenang, wajah ibu kembali seperti semula, seperti ibu ku. Pak Antok mengangkat ibu dan meletakkan nya di ranjang kamar ibu. Kemudian aku menutup kaki ibu dan mengusap keringat di wajah ibu.


"Pak Antok, apa yang terjadi pada ibu?" Tanyaku sambil meneteskan air mata.


"Seperti nya ada roh halus yang mencoba mengambil alih tubuh nyonya. "


"Lalu kalung itu?"


"Itu kalung pemberian Mbah Anwar, berguna untuk melindungi diri dan menetralkan energi asing non." Pungkas pak Antok


"Pak, apakah boleh untuk sementara ini kalung itu di pinjam oleh ibu? Aku mohon pak, kasian ibu. "


"Iya non, nggak papa ... sebaiknya sekarang kita biarkan nyonya istirahat dulu dan non Sarah juga harus menenangkan diri. "


Pak Antok keluar dari kamar dan aku mengejarnya. " Pak, sebenarnya kejadian ini sudah sejak tadi malam pak, aku sendirian sangat ketakutan. Tolong ajak aku untuk bertemu dengan Mbah Anwar. Aku ingin tau tentang semuanya, siapa yang ingin menyakiti ibu? "


Pak Antok melihat ke arah ku dan iya tampak iba padaku. " Baik non Sarah ". Menyetujui permintaanku.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘