ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
DUA DUNIA SATU MATA


Pagi menyinari dunia, tapi itu bagi mereka yang hidup dengan ketenangan. Bagiku pagi hanya waktu beristirahat sejenak sebelum melewati malam berat yang panjang dan melelahkan.


Ada sesuatu yang kini tengah menguji hidupku, itulah yang aku rasakan. Sakit dan takut, dua kata yang menggambarkan perasaanku saat ini.


Bagiku pagi hanya sebatas sinar harapan, harapan untuk menenangkan diri, harapan untuk merenggangkan tubuhku, harapan untuk merilekskan otakku. Paman, Bibik, aku ingin pulang.


Saat sedang berbaring di ranjangku, aku mendengar suara ribut-ribut di luar. Aku segera bangun dari tempat tidur ku. Itu ayah yang sedang mengobrol dengan seseorang di telpon genggamnya.


Aku segera mendekati ayah, ingin tau sama siapa ayah mengobrol karena terlihat wajah ayah berbeda, wajahnya begitu tegang. Tapi pada saat ayah menyadari bahwa aku berada di dekatnya, ayah segera menutup telepon genggam miliknya.


"Telpon dari siapa yah? Kenapa Ayah tampak tegang dan tidak nyaman?" tanyaku sambil terus memperhatikan ayah.


"Ini dari anaknya si mbok."


"Memangnya kenapa yah? Apa si mbok sedang sakit?"


"Bukan nak, bukan begitu ...." ucap Ayah yang tampak menggantungkan perkataannya.


"Kita harus bergerak cepat, ini sudah terlalu lama. Jangan sampai terjadi apa apa ya yah." ujar Ibu sambil menangis dan memeluk Ayah.


"Ayah, Ibu, ada apa sebenarnya? Aku ini bukan anak kecil yang bisa dibodohi lagi."


"Begini ini Sarah, barusan anaknya si mbok nelpon dan menanyakan keadaan si mbok karena si mbok sudah tiga hari tiga malam tidak pulang." jelas Ayah.


"Tapi si Mbok juga nggak ada disini Sarah, itu masalahnya." sahut Ibu.


"Selama ini, si mbok nggak pernah begini nak." kata ayah menyambung perkataan Ibu.


"Tapi yah, aku beberapa malam ini sering bersama si Mbok. Aku bahkan tidur di temani si mbok, makan ditemani si mbok, bukannya aku pernah bilang sama Ayah waktu itu." ujarku tegas.


Ayah mengingat semua perkataan ku, tapi di rumah ini hanya aku sendiri yang pernah melihat si Mbok. "Begini saja nak, bagaimana kalau kamu ikut Ayah dan Ibu untuk mencari si mbok?"


"Iya yah, aku mau."


"Pertama-tama kita cari di sekeliling rumah ini dulu."


"Semoga si mbok baik-baik saja ya yah. " ungkap Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya Bu, semoga saja."


Kami semua mencari si Mbok di semua ruangan, dari halaman depan hingga belakang rumah. Kami juga bertanya pada para tetangga, tapi mereka bilang cukup lama tidak melihat si Mbok.


"Ayah, dimana Ibu?" tanyaku karena tidak melihat Ibu.


"Ayah tidak tau Sarah, yang jelas sedang mencari si Mbok, sama seperti kita nak." ucap Ayah.


Aaaaak, aaaak, aaaaaaak, aaaaaaaak,


aaaaaaak, aaaakkk... Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan raungan yang berat dan kuat.


Aku dan Ayah segera mencari arah suara tersebut, tampaknya suara teriakan itu berasal dari kamar si Mbok. Kamipun langsung berlari ke arahnya.


Setibanya di kamar si Mbok, kami melihat Ibu sudah dalam keadaan yang buruk. Mata ibu seperti terbalik dan bagian hitam mata Ibu sudah tidak terlihat lagi.


Bukan hanya itu, bahkan tangan dan kakinya kaku dan terdengar suara mengerang dari mulutnya. "Buuu, ibuuu .... " Tapi ayah menahan diri untuk mendekati Ibu.


"Iya Tuan, ada apa?"


"Cepat cari dan panggil orang pintar! Kenapa istriku ini? "


Aku yang tidak mengerti apa-apa hanya terdiam menyaksikan Ibu seperti itu. Aku dan ayah tidak mendekati Ibu, Ibu masih tergeletak di lantai dengan leher yang tegang mengangkat kepalanya terbalik sambil memperlihatkan wajahnya kepada aku dan Ayah.


Takut, aku memeluk tangan Ayah dengan erat.


"Ayah, aku takut sekali ...." ujarku sambil menyembunyikan wajahku di belakang tubuh Ayah.


"Apapun yang terjadi, tetaplah di sini bersama ayah Sarah!" kata Ayah sambil membalas genggaman tanganku. Selang 30 menit Pak Antok membawa orang pintar untuk memeriksa keadaan Ibu, Mbah Anwar namanya.


"Mbah, tolong istriku Mbah." ucap Ayah dengan suara yang panik.


Ayah berjalan mendekati Mbah Anwar berniat untuk membantunya, tapi mbah Anwar meminta Ayah tetap berdiri di tempat semula bersamaku.


Mbah Anwar sudah berada di dekat kepala Ibu, dengan membaca mantra-mantra yang tidak aku mengerti. Suara Mbah Anwar awalnya sangat pelan, tapi lama-kelama'an suara itu menjadi kuat bahkan sangat keras sehingga mulai menggangguku ketenangan telingaku.


Dari pintu aku, Ayah, dan Pak Antok melihat Ibu menggelepar-gelepar seperti ayam yang dipotong lehernya. Ibu seperti menahan rasa sakit karena siksaan sesuatu atau seseorang. Tapi si Mbah terus membacakan mantranya.


"Aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak,


aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak." teriakan Ibu terus terdengar tanpa henti.


Entah apa yang terjadi tapi tiba-tiba, dengan cepat Ibu yang mulanya berada di lantai, melayang ke atas langit-langit kamar. Tubuh Ibu berputar-putar dengan cepat.


Mbah Anwar terlihat melepaskan ikat pinggangnya dan menggerak-gerakannya ke atas dan kebawah, gerakan Mbah Anwar sangat cepat.


Ibu yang terlihat meraung kesakitan selalu melihat ke arah kami berdiri. Dengan suara serak, nada yang marah dan perkataan yang kurang jelas ibu mengatakan.


"Orang jahat sejatinya harus di musnahkan, darah di bayar dengan darah, jangan biarkan lagi kejahatan semena-mena, aku wis ra tahan, aku Yo wis ra-ta-haaaannnn (aku sudah tidak tahan)." Berteriak dengan suara yang kuat dan terbata-bata.


"Aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak, aaaaaaak." tiba-tiba darah segar keluar dari mulut Ibu.


Mbah Anwar terus membaca mantranya dengan cepat dan sangat kuat, tidak lama, sekitar 5 menit berlalu tubuh Ibu kembali terhempas ke lantai dan Ibu tidak lagi bergerak, hal itu membuat Ayah panik dan aku ketakutan.


Aku melihat Mbah Anwar terduduk lemas sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. Ayah berlari menuju ibu, mengangkat kepala ibu dan meletakkannya di lengan ayah sedangkan pak Antok berlari mengejar Mbah Anwar dan mempertanyakan keadaannya.


Ayah terlihat sangat menghawatirkan Ibu, iya menangis sambil mengusap keringat di kening Ibu, Ayah juga menghapus darah di sekeliling mulut Ibu.


Aku, sekarang berdiri di pintu kamar ini sendirian, mataku fokus melihat Ayah, Ibu, Mbah Anwar, dan Pak Antok.


Semakin lama aku memandangi mereka, semakin aku merasa mereka jauh, seolah ada jarak yang bergerak dan memisahkan antara aku dan mereka semuanya.


Tubuhku terasa dingin, lalu terasa panas, lalu dingin lagi hingga bulu-bulu tubuhku berdiri lalu panas lagi.


Nafasku terasa sesak, dari hidungku aku merasakan udara yang panas. Aku tidak bisa merasakan tubuhku dengan baik. "Ayah Ayahhhhh Ayaaaaaahhhhh .... " Aku terus berteriak kemudian aku merasa hilang.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘