
Mungkin aku terlalu fokus menatap foto lawas yang berada tepat di tangan ku hingga aku sampai tuli pada sekitar ku. Ternyata sudah beberapa orang lalu lalang di hadapan ku dan menyapa tapi aku tidak tau. Ini adalah pandangan sederhana yang mengusik hati dan perasaan ku.
" Ehem, Non Sarah...." Suara itu menyapaku, kali ini aku menyadarinya.
" Iya Mbok." ucapku refleks.
Sambil tersenyum dan memandang. "Kangen si Mbok ya Non?"
" Eh Embak ... iya Mbak." sahutku sambil tersenyum malu.
" Sejak kapan Mbak Nia di situ? (mbak Nia adalah anak pertama dari si Mbok).
" Baru saja kok Non."
" Hmmm, iya Mbak." kataku sambil tersenyum. " Mbak Nia aku boleh tanya?" ucapku karena penasaran.
" Iya, boleh Non ...." ucapnya sembari mengangguk-anggukkan kepala.
" Apa sebelumnya Mbak Nia pernah main ke rumah ku? Eemmm, maksud ku untuk menjemput si Mbok atau apalah gitu?" Lalu Mbak Nia mengangguk-anggukkan kepalanya kembali.
Mbak Nia berdiri agak jauh di depan ku tapi suaranya begitu jelas di telinga ku. Namun tingkah kaku mbak Nia membuatku ragu untuk meneruskan pertanyaanku. Hanya saja aku ingin tau, aku ingin mengumpulkan petunjuk sendiri karena aku yakin, semua kejadian pasti ada alasannya.
" Mbak Nia pernah melihat anak gadis ini?" Tanganku menuju ke arah foto yang berada di tangan kiri ku dan Mbak Nia kali ini mengangguk-anggukkan kepalanya lagi tanpa melihat albumnya seolah sudah tau dan mengerti tentang pertanyaan ku.
" Siapa mbak? "
Dengan suara datar mbak Nia mengatakan dengan tegas bahwa itu adalah "Tania."
"Tania adalah gadis yang baik, cantik, pintar, dan ramah, dia selalu menyayangi adiknya. Kemanapun iya pergi, iya selalu menintin adik dan boneka kesayangan nya. Walau begitu, nasibnya kurang beruntung. Dia menjalani hari-hari yang berat untuk anak seusianya, ya tentu semua itu sangat berat."
Otakku mulai berputar, ada apa sebenarnya? Mbak Nia seolah tau banyak tentang Tania. Aku harus mencari tau tentang semuanya, aku terus bercakap-cakap di dalam hati saat sedang mengobrol dengan Mbak Nia.
"Walaupun begitu gadis kecil itu tetap tersenyum. Ada yang membuat aku kagum pada dirinya, kasih sayang terhadap adiknya sangat luar biasa." ujar Mbak Nia melanjutkan ceritanya.
" Tanpa banyak orang yang mengetahuinya. Tania bertahan dan berjuang sendiri hingga suatu hari, Tania menghilang dari rumah. Mungkin Tania pergi dari rumah karena tidak tahan lagi. "
" Rumah siapa mbak? Lalu apa yang terjadi pada Tania? Di mana orang tua Tania? Ppa ada yang menyakiti Tania? Dan siapa gadis satunya lagi yang di sebelah Tania Mbak?" Aku bertanya tanpa habisnya membuat Mbak Nia kesulitan untuk menjawab semua pertanyaan dariku.
Aku mendekati Mbak Nia, demi semua jawaban darinya. Aku memegang kedua tangan Mbak Nia sambil memohon. "Mbak tolong bilang sama aku ... Tania selalu muncul menghampiri aku dak itu membuat aku bingung dan ngak nyaman."
Saat aku memegang tangan Mbak Nia, di dalam hatiku berbicara, kenapa tangan Mbak Nia begitu dingin? Aku merasakan sesuatu yang aneh kemudian aku ingin melepaskan genggaman tanganku dari tangan Mbak Nia tapi aku mengurungkan niatku demi semua jawaban atas semua pertanyaan ku.
Mbak Nia terlihat akan membuka mulutnya, seperti ingin menjawab semua pertanyaan ku, karena itu aku mengambil keputusan untuk tetap memegang tangan mbak Nia. Tapi dari pintu depan muncul seseorang yang tidak aku kenali melintas membawa tikar ke dalam rumah untuk dibentangkan.
" Maaf dek numpang lewat ini mau di pasang di dalam soalnya." ucap seorang tetangga dan aku pun mengangguk.
Saat aku disapa oleh lelaki itu, wajah dan pandanganku mengarah ke luar rumah/halaman rumah, tanpa sengaja aku melihat pak Antok dan Mbak Nia sedang bercakap-cakap di sana.
Pak Antok terlihat memberikan amplop titipan Ayah ke pada Mbak Nia. "Apa, itu Mbak Nia? Kenapa Mbak Nia bisa berada disitu? Sejak kapan? Tanyaku di dalam hati.
Aku melihat ke arah depan ku, tempat tadi Mbak Nia berdiri tapi Mbak Nia sudah tidak ada lagi. Padahal aku yakin sekali kalau dari tadi aku sedang memegang tangan Mbak Nia, tapi Mbak Nia tidak ada di hadapanku lagi. "Bagaimana mungkin secepat itu?" gumamku.
Penasaran, aku pergi mendekati pak Antok sambil menatap tanpa henti ke arah Mbak Nia. " Kok Mbak Nia ada di sini? " bertanya sambil terus menatap Mbak Nia.
" Maaf Non Sarah, dari tadi memang Mbak disini sama pak Antok." sahutnya dan aku terus menatapnya tajam, ekspresi Mbak Nia tampak natural kali ini, pikirku.
" Iya Non Sarah, dari tadi juga Mbak Nia di sini sedang mengobrol sama saya dan baru saja saya menyerahkan titipan Ayahnya Non Sarah." ucap Pak Antok.
Aku heran, bingung, rasa tidak percaya. aku kembali melihat ke arah dalam rumah, dari sini tampak jelas tidak ada siapapun di ruang tamu itu. Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Aku kembali bertanya di dalam hati.
Aku belum tua, aku belum pikun, bahkan dinginnya tangan Mbak Nia masih terasa di jari-jari ku. Hal ini membuat aku termenung sejenak.
" Non, Non Sarah, ayo sebaiknya kita bergegas pulang. Soalnya sayakan tadi sudah dipesankan sama Tuan untuk segera pulang jika sudah selesai."
Cukup jauh bergerak, tapi aku hanya diam saja. Ternyata sikapku ini membuat Pak Antok heran. "Non, tadi pas berangkat bawel banget, sekarang kok sepi banget?" ucapnya.
" Pak, apa Bapak percaya kalau di dunia ini ada hantunya?" ujarku dengan nada yang dingin.
" Ya ampun Non .... " Pak Antok ngerem mendadak sepertinya kaget bukan kepalang dengan pertanyaanku barusan.
" Aku serius pak."
" Non, pamali ngomongin soal seperti ini di jalanan, kata orang tua ora elok (nggak baik)."
" Makanya Pak Antok cepat jawab saja!" ucapku sedikit memaksa karena sudah sangat bingung.
" Iya Non, iya saya percaya non." kata Pak Antok terlihat kengerian, merinding dan berkali-kali menaikkan kedua bahunya.
" Maaf Non, omongan ini kita lanjutkan besok saja ya, sebaiknya sekarang kita tenang dan pulang dulu. Soalnya saya kok rasanya agak ngeri-ngeri sedap gini ya Non. Ada rasa nggak nyaman gitu." ucapnya dan aku hanya diam.
Setibanya di rumah, aku langsung menemui Ayah dan Ibu sedangkan Pak Antok mengurus mobilnya. "Ayah, Ibu ...." sapaku saat mereka sedang berada di ruang tv.
" Syukurlah kamu sudah pulang nak? Gimana perjalanannya?"
" Aman yah." ujarku sambil melihat ke arah jam dinding pukul 18.15 wib.
" Aman gimana maksudnya? Memang kapan nggak amannya?" celetuk Ibu.
" Maksud Ayah tidak ada hambatan gitu bu."
Aku duduk ditengah-tengah antara Ayah dan Ibu. " Ayah, ibu, rasanya aku ingin kembali kecil lagi, tidak sanggup menjalani nanti malam dan esok pagi. Rasanya lelah sekali."
" Ha ha ha ha ha ha ha ha, ada-ada saja yah anakmu ini." ucap Ibu sambil tertawa.
" Galau kenapa ini? Apa ada yang sedang patah hati?"ucap Ayah mengolok ku.
" Hah, lelucon kuno, tidak lucu ayah." sahutku sambil mencubit lengan Ayah.
Ayo kita tenangkan hati, bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan kata Ayah. " Tidak mau yah lebih baik begini saja, duduk di rumah bersama Ayah dan Ibu."
" Ya sudah kalau masih malas dan capek." ujar Ayah.
" Kalau begitu Ibu siapkan makan malam dan kalian tetap disini ya." Lalu Ibu ke dapur meninggalkan aku dan Ayah.
" Iya bu ...." Saat Ibu sudah pergi ke dapur Ayah bertanya kepada ku.
" Sarah, apa tadi ada sesuatu yang mengganggumu?"
" Tidak yah." jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ayah aku senang sekali melihat Ayah sering di rumah sekarang ini, terutama saat malam hari. Karena kalau ada ayah di rumah sepertinya hantu-hantu di rumah ini tidak berani menggangguku."
" Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, jangan mengejek ayah yaaaaa!" Ayah tertawa terbahak-bahak.
" Ayah, tapi aku serius yah. "
" Iya-iya, baiklah." ujar Ayah sambil terus tertawa terpingkal-pingkal.
" Ayah, ini bukan lelucon ayah."
" Ayo makan semua sudah siap." Kata Ibu dan kami pun menyantap makan malam dengan cerita-cerita seadanya. Tidak lama, Pak Antok pun datang untuk pamit pulang ke rumahnya.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Makasih 😘