
Aku berniat kembali ke sisi Ayah dan berencana akan memegang tangannya dengan kuat saat ini. Tapi saat aku melihat ke arah kanan (arah dimana Ayah tadi berdiri), ternyata Ayah sudah tidak ada. Sudah tidak ada siapa-siapa di sini.
"Ayaaaaaaaahhhh .... " teriakku sekuat tenaga.
Entah berapa lama aku terdiam memandangi sekeliling ku yang terasa semakin dingin, semakin sunyi, semakin mencekam. Sementara ada suara-suara tawa yang misterius dan terdengar sangat menusuk telinga hingga seluruh tubuhku bergetar (merinding).
"Hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi," tawa khas wanita berdaster putih yang masih tidak ingin kembali ke pangkuan Ilahi.
Tak lama, suara anak kecil tertawa sambil berlarian pun terdengar jelas di telingaku. "Ha ha ha ha ha ha ha ha .... "
Tak hanya itu, dari arah jendela ruang dapur, aku melihat seseorang sedang mengintip ke arah ku dengan menempelkan wajahnya pada kaca kotor dan berdebu. Matanya tampak teduh, walaupun wajahnya sangat menyeramkan dengan banyak luka bakar terutama di bagian pipi dan dahinya.
Aku sama sekali tidak mampu beranjak dari posisi pertama aku berdiri. rasanya seluruh tubuhku berat begitu juga dengan kedua kakiku mungkin karena sejak tadi aku terus berlari tanpa henti walaupun di dunia maya
Tak lama, aku mendengar suara sesuatu seperti diseret dengan perlahan. Ini sama persis seperti aku menyeret karung beras ukuran 20 kg. Penasaran dengan apa yang terjadi, aku langsung berlari ke arah sumber suara tersebut dengan kaki yang terasa sakit dan setengah pincang.
Sesampainya di ruang sumber suara berasal, aku seperti melihat sesuatu yang pernah aku aku temui sebelumnya. Saat aku memikirkannya, aku menjadi ingat dan ternyata rumah angker ini adalah rumah Mira dan keluarganya.
Aku sangat yakin dengan apa yang aku pikirkan karena di ruangan ini aku melihat jam dinding yang terbuat dari kayu yang tampak sama persis dengan penglihatan ku sesaat sebelum orang tua Mira menghabisi dirinya sendiri.
"Kenapa harus ikut campur?" Aku mendengar dengan jelas suara berbisik di telinga kiri ku. Seketika bulu-bulu kuduk ku kembali terangkat dengan sempurna.
Aku melirik ke arah kiri untuk mengintip sedikit wajahnya yang aku yakin dia adalah Mira. "Kenapa kamu harus menjadi seperti ini, Mira? aku tau kamu adalah gadis yang baik."
"Haaah ... apa yang kamu tau tentang kebaikan?" bertanya dengan suara yang berbeda. Kali ini suaranya terdengar basah, seram, dan berat, tidak seperti sebelumnya walaupun ia berkata dalam keadaan berbisik.
"Kebaikan adalah segala sesuatu yang tidak melanggar norma dan aturan," jawab ku dengan tubuh yang gemetaran.
"Terlalu naif, kamu hanya bocah bodoh yang tidak tau tentang rasa sakit," ucapnya dengan posisi yang berada di atas kepalaku (menempel di langit-langit kamar). Dia sangat cepat berpindah, ucapku tanpa suara.
"Allah memberikan kita cobaan dan ujian pasti karena satu alasan, yaitu kita mampu menghadapinya."
"Ha ha ha ha ha ha ha ... kamu tidak tau apa-apa."
"Aku tau banyak hal tentang kamu, aku tau bagaimana penderitaan dan rasa sakit mu. Aku tau rasa perih di hatimu karena terluka dan kehilangan. Aku sudah melihatnya dengan mataku sendiri. Sungguh cobaan yang berat, Mira. Tapi bukan berarti kamu harus menjadi iblis. Kamu yang saat ini, hanya menambah beban Ayah dan Ibumu saja."
"Diam!! Kamu tidak tau apa-apa. Kamu tidak tau apa-apa."
"Aku tau karena aku sudah melihat kehancuran mu, tapi semua itu adalah ujian dari Allah. Sadarlah! Kembalilah padaNya!!"
"Bocah ingusaaaaannn ... sok tau. Manusia memang selalu menganggap dirinya paling tau dan paling benar," ucap sesuatu yang berbagi jiwa dengan Mira.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku karena suara yang muncul kali ini adalah suara laki-laki.
"Aku adalah sesuatu yang akan mempermudah dirimu merasakan kesakitan yang sama dengan ku," ucapnya dengan suara yang basah, seperti di dalam mulutnya banyak sekali air.
Saat mendengarkan perkataan makhluk tersebut, aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Tapi aku bingung karena seakan aku hilang kendali, hilang pikiran bahkan hilang ilmu. Aku tidak mampu merasakan cahaya di dalam diriku. Ketakutan merajalela hingga melemahkan sisi positif di dalam diriku.
"Aaaaaaakkk ...." teriakan dari suara Ayah terdengar sangat kuat hingga membuat aku merasa bahwa Ayah dalam keadaan yang tersakiti.
"Apa yang kalian lakukan pada Ayahku? pengecut, hanya bisa bersembunyi di balik kegelapan. Jika kalian hebat, cobalah kalian bawa diri kalian untuk menantang matahari!!" teriakku sambil menggenggam kedua tanganku.
"Aaaaaakkkkkk .... " teriakan Ayah semakin kuat aku dengar, sehingga aku tau dimana asal suaranya.
Aku berlari melewati lorong yang gelap, lembab dan terasa basah. Rumah ini sangat besar, keluarga ini dulunya pasti kaya raya, ucapku tanpa suara sambil terus berlari. Tak lama, aku tiba di sebuah ruang yang tidak aku kenali dan sepertinya aku melihat seseorang di sudut ruangan tersebut.
"Ayah?" sapa ku sambil melangkah mendekati tubuh Ayah yang merengkuh di pojok ruangan, Ayah terdengar terus merintih. "Ayah kenapa?" tanyaku sambil memegang pundak kiri Ayah.
"Tidaaaak .... " teriak ku saat melihat pipi Ayah yang berlumuran darah. Aku bahkan hampir hilang kesadaran saat melihat kedua mata Ayah sudah hilang dan dari kedua lubang matanya mengalir darah segar yang sangat banyak. "Ayaaahh .... Ayah ...."
Saat wajah Ayah terangkat dan mengarah kepadaku, aku langsung memeluk Ayahku sangat erat sambil menangis hebat. Tapi pada saat yang bersamaan, sesuatu yang sangat cepat menarik tubuh Ayah ke atas langit-langit kamar.
"Ayah .... " teriakku sambil berdiri seolah bersiap untuk menangkap Ayah karena merasa bahwa Ayah akan sengaja di jatuhkan dari atas langit-langit kamar tersebut.
Saat berdiri di bawah dengan posisi tubuhku dan tubuh Ayah tegak lurus, aku dapat merasakan tetesan darah dari kedua matanya jatuh dan tumpah di wajahku. Aku semakin gemetaran dan pandangan mataku hanya tertuju pada Ayah yang sangat tinggi.
Semakin lama aku melihat Ayah, semakin aku merasa pusing. Saat aku lengah dan memegang kepalaku, tiba-tiba tubuh Ayah terjatuh dan aku tidak mampu untuk menangkap bagian kepala Ayah.
Braaak
Darah segar kembali muncrat dari mulut Ayah, seperti seorang dukun menyembur pasiennya dengan air.
Aku semakin tidak menentu dan bergerak cepat agar dapat menggapai tubuh Ayah. Tapi pada saat yang bersamaan, kaki Ayah kembali terseret keluar dari ruangan dan aku berusaha menahan tangan Ayah sehingga terjadi tarik-menarik diantara aku dan makhluk yang tidak aku ketahui.
Makhluk itu memang sangat kejam dan tampak sekali ingin menyiksa ku. Aku tidak mau kalah, aku berusaha memfokuskan tenagaku pada bagian tangan agar dapat mempertahankan Ayah supaya tetap bersama ku.
Namun saat aku yakin bisa menarik tubuh Ayah, tiba-tiba pintu ruangan tersebut tertutup dengan keras hingga menjepit kedua kaki Ayah dan beliau kembali meraung kesakitan. "Aaaaaaakkkkk .... "
"Ayah .... " teriak ku sambil menangis.
Aku terus berusaha menahan tangan Ayah hingga aku melihat pintu ruangan tersebut akan kembali tertutup dan menjepit kaki Ayah. Tidak ingin Ayah semakin terluka, aku melepaskan tangan ayah dari genggaman tanganku.
"Ayaaaaahhhh ... Ayah .... " teriak ku sambil berdiri dan mengejar Ayah.
Aku berlari lebih cepat kali ini, tidak ingin kalah dengan keadaan, aku kembali menangkap tubuh Ayah (bukan bagian tangan), dan kali ini aku mempertahankannya.
"Ayah ... ayo berdiri! Aku akan membawa Ayah keluar dari sini!" ucapku sambil menegakkan tubuh Ayah dengan keadaan kakinya yang pincang.
Aku melihat Ayah tidak lagi mampu untuk berjalan, tapi pada kenyataannya Ayah mempu bergerak cukup baik bahkan tubuh Ayah (lengan Ayah mampu mengarahkan tubuhku ke arah luar). Aku mengikuti arah gerak dari kedua kaki Ayah, tapi ini bukan mengarah keluar dari rumah angker ini, melainkan ke dalam.
"Ayah, ini bukan jalan keluar, tapi ke dalam rumah, Yah. Bahkan saat ini kita semakin masuk jauh ke dalam," ucapku sambil menatap mata Ayah yang sudah buta dan masih bergelimang darah segar.
"Ayah ... kita salah jalan?! Ikuti arah ku, Yah. Ayo!" ucapku dengan suara membentak.
Tubuh Ayah tiba-tiba terdiam, ini seperti patung manusia. Ucapku di dalam hati, tak lama, tubuh Ayah tertarik ke belakang dan lehernya terikat sehelai kain panjang, yang biasa digunakan untuk ibu-ibu menggendong bayinya dengan motif bunga berwarna coklat.
"Ayah ...." teriak ku dalam jarak yang cukup jauh dari Ayah, dan aku kembali berlari ke arah Ayah yang sudah tertarik ke atas (tergantung).
Aku melihat kedua kaki Ayah menggelepar- gelepar menahan kesakitan. Tidak ingin Ayahku mati dalam keadaan seperti ini, aku menyanggah kedua kaki Ayah dengan pundak ku.
Rasanya berat sekali, bahkan ini jauh lebih berat dari pada tubuh Ayah. Tapi aku terus berdiri agar terus dapat mempertahankan nyawa Ayah. Aku harus kuat, walaupun aku tidak tau sampai mana batas ku.
Bersambung ....
Para reader, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘