ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
HARUS APA?


Setelah 3 hari berpikir keras, aku memutuskan untuk berjalan bersama makhluk yang ingin dan bersedia berdampingan denganku. Selebihnya, aku akan melepaskan mereka hanya karena satu alasan. Mereka yang bersamaku, mestinya tidak akan mudah dan selalu bahagia di dalam hidupnya.


Pagi ini, aku mengatakan kepada semuanya bahwa aku ingin sendiri saja nanti malam. Aku menceritakan kepada Ayah dan yang lainnya tentang keadaan dan apa yang ada pada diriku saat ini.


Tampaknya mereka semua mengerti dan mengatakan bahwa aku akan diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusan ini selama 3 jam. Sebenarnya aku tidak tau, waktu itu apakah cukup atau tidak bagiku. Tapi aku juga sangat mengerti kekhawatiran semuanya terhadap diriku.


"Assalamualaikum ...."


"Waalaikum salam ...." sapa kami semua kepada paman.


"Apa kabar, anak-anak ku?"


"Pamaaan ...."


"Paman sudah mendengar tentang semuanya." Paman berkata sambil tersenyum ringan ke arah ku. Aku tau, Beliau kesini karena sesuatu yang berat dan sangat ia risau kan.


Paman, ia selalu hadir saat aku membutuhkan teman bicara, walaupun aku tidak pernah memintanya. Rasanya, aku dan Paman memiliki ikatan batin yang sangat kuat dan aku sangat bersyukur karena memilikinya.


"Paman."


"Sarah," sahutnya sembari memegang bagian atas kepalaku yang sudah tertutup oleh hijab berwarna coklat muda.


"Paman terkejut tadi, rasanya kalau tidak paham, maka Paman akan salah rumah."


"Memangnya kenapa, Paman?" tanya Feli sambil menatap ke arah paman dengan wajahnya yang bingung.


"Kalau orang yang tidak peka, mungkin mereka akan baik-baik saja atau biasa-biasa saja. Tapi bagi Paman, cukup kesulitan. Pagarnya tebal dan berlapis ya?" tanya Paman kepadaku yang hanya tertunduk saat mendengar ucapan Paman.


"Aku ingin mengurus semua ini. Paman. Nanti malam akan aku selesaikan."


"Ini tidak mudah, Sarah. Jika kamu tidak kuat, maka kamu akan sakit menahun bahkan lumpuh," ucap Paman membungkam mulutku yang sebenarnya baru saja ingin menjawab perkataan Paman dengan mengatakan, apapun akan aku lakukan untuk kenyamanan semuanya.


"Kenapa bisa begitu? Saya pikir mereka tidak akan menyakiti Sarah," ucap Ayah yang tampak mulai cemas.


"Jika ada makhluk goib yang bergabung dengan manusia, maka tubuhnya akan bereaksi. Contoh, jika makhluk itu tipe pemarah dan ceroboh maka lambat laun pemiliknya juga akan memiliki sifat tersebut. Kecuali pemiliknya lebih kuat, maka makhluk tersebut yang akan mengikuti tabiat pemiliknya."


"Lalu? Apa masalahnya?" tanya Ayah kembali.


"Yang pertama, mereka baru saja bergabung dan sekarang mau dipisah. Penggabungan ini butuh energi besar bagi pemilik, begitu juga saat pemisahan. Sarah diberikan semua ini agar menjadi kuat dan lengkap, itu niat pertamanya (niat Nenek Nawang Wulan)."


"Jumlah mereka banyak dan mereka spesial. Intinya, mereka bukan makhluk sembarangan dan didapatkan berkat kerja keras. Jika diangkatan bersenjata, bisa dikatakan bahwa mereka rata-rata berpangkat jendral, bukan kopral ataupun hanya prajurit biasa."


Aku terdiam mendengar ucapan Paman yang berusaha berbicara lugas dan tegas. Itulah salah satu kelebihan Paman, dia memang seorang muslim yang hebat, tapi ia juga mampu memandang dunia dengan cara yang luar biasa. Dia tidak pernah mengatakan bahwa kalian kotor dan kafir, sangat berbeda dengan orang lain.


Sifat Paman yang sangat mengayomi inilah yang sekarang sedang aku contoh. Paman pernah bilang, bahwa semua ini adalah ciptaan Allah dan kita tidak pantas untuk menghujatnya kecuali ia benar-benar sesat dan tidak lagi dapat dibawa ke arah yang benar.


"Jadi apa yang seharusnya Sarah lakukan?" tanya Ayah dengan nafasnya yang sudah tidak teratur karena cemas.


"Tenanglah, Ayah ...." ucap Feli dan aku hanya terdiam. Ternyata semuanya tidak semudah itu dan aku memang masih sangat bodoh, tidak tau apa-apa.


"Tenanglah! Kita semua jangan merasa terjebak," kata Paman yang kemudian batuk sangat kuat hingga mengeluarkan darah segar.


"Pamaaan," teriak kami hampir bersamaan.


"Dia luka dalam," ucap Nenek Ratih yang keluar entah dari mana. "Aku ingin membantu, tapi aku ini ...." ucapnya menahan kalimatnya.


"Kenapa, Nek?"


"Aku kotor."


Paman tersenyum saat mendengar ucapan Nenek dan mengatakan bahwa, "Tidak ada makhluk ciptaan Allah yang kotor. Kotor itu hanya sebuah kiasan, bukan takdir. Bahkan binatang kecil yang makan dan hidup dari kotoran nan sangat menjijikkan pun merupakan ciptaan Allah yang penuh manfaat."


"Jika kamu tulus, maka energi ku dan energi mu akan bertemu lalu bersatu. Dari situ aku bisa membatu. Tapi jika sebaliknya, maka aku akan binasa."


"Jangan ambil resiko itu!" ucap Paman sambil memegang dadanya.


"Aku tidak melakukannya untukmu, tapi untuk Tuanku (Sarah). Dia lebih membutuhkan kamu dari pada aku."


"Nenek," ucap ku lirih. Sekali lagi, aku akan melihat pengorbanan makhluk yang dianggap kotor dan sesat.


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘