ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PENYELESAIAN 3


Suara hewan-hewan kecil di dalam tanah semakin menambah cengkaman malam pada hati kami. Siapalah kami yang hanya tiga tumpukan daging hidup yang mengandalkan filling, tanpa ilmu penyambung.


"Kita sudah tiba!" ucap Feli saat kami semua sudah berada di depan rumah papan beratap jerami.


"Yakin?"


"Sangat."


"Hati-hati, Rian!" kataku saat melihat Rian sudah di pada posisi siap mendobrak pintu kayu rumah tersebut.


"Bismillahirrahmanirrahim .... "


Braaaak ....


Pintu tersebut terbuka hanya dalam satu dobrakan saja.


"Kaliaaaaaaaannnnnn!!" teriak laki-laki dari dalam rumahnya. Laki-laki tersebut mengenakan baju garis-garis panjang dan bercelana hitam dengan topi berekor di belakang kepalanya.


Dia duduk di belakang meja yang penuh asap dari sisa bakaran arang dan kemenyan. Bukan hanya itu, di belakangnya juga terdapat rak berwarna hitam dan disana tergeletak berbagai jenis bunga dan boneka teluh dengan foto Bu Marisa dibagian wajahnya.


Aku menatap laki-laki tersebut tajam, rasanya aku ingin merobek dan mengeluarkan biji matanya. Tapi pada saat kami ingin mendekatinya, ia mengeluarkan samurai panjang. Astagfirullah hal azim ... kami lupa melengkapi diri dengan senjata tajam. Kami memang belum berpengalaman, ucapku di dalam hati.


Disisi lain, Bu Marisa terpaku melihat sosok lainnya yang sudah berdiri jauh di belakang tubuh orang pintar tersebut (di pojok ruangan).


"Kenapa kamu tega sekali padaku, Tiara? bukankah kamu adalah sahabatku?" ucap Bu Marisa sambil menatap dengan matanya yang basah.


"Tiara?" ucapku lirih. Bukannya dia yang baru saja diceritakan oleh Bu Marisa tadi? tanyaku di dalam hati.


"Tiara, jawab akuuuu!!" teriak Bu Marisa yang sepertinya tidak percaya dengan apa yang baru ia lihat. "Kenapa, Tiara? Apa kurangnya aku padamu? bahkan apa yang aku pakai, itu juga yang kamu pakai," kata Bu Marisa sambil menangis dan terduduk lemas. Tampak sekali beliau tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Karena kamu selalu lebih unggul dari pada diriku. Kamu memiliki seorang suami yang sangat mencintai kamu, kehidupanmu sangat bahagia, belum lagi karirmu yang selalu gemilang dan kamu selalu hidup bergelimang harta. Sementara aku, aku hanya menjadi pesuruh mu," ucapnya sambil terus berteriak, seolah membalas perkataan Bu Marisa kepadanya.


"Jadi ini alasanmu, sampai kamu meninggalkan aku bahkan ingin membunuhku? Tiara, bagiku kamu adalah sahabat terbaik di dalam hidupku."


"Pembohongan!!"


"Tidak .... "


"Aku selalu melakukan semua yang kamu inginkan, Marisa. Aku selalu berada di bawah kakimu!" teriaknya. "Dan aku sudah sangat muak!!" sambungnya sambil menangis.


"Tapi aku sama sekali tidak pernah menganggapmu seperti itu. Aku percaya padamu, makanya aku selalu mengandalkan kamu. Asal kamu tau, aku selalu mencari kamu setelah hari ulang tahun ku. Tiara, apa kamu tau, Brian sudah tiada. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan besar."


"Ha ha ha ha ha ha ha ... bahkan aku yang sudah memotong rem mobilnya hingga blong."


"Apa?"


"Bukan hanya itu, saat kamu tidak di rumah, aku meminta Mbok Yani untuk membelikan sesuatu untukku dan Kanaya .... "


"Apa maksud kamu, Tiara?" ujar Bu Marisa sambil berusaha berdiri dan mantap geram ke arah sahabatnya tersebut. Sepertinya memang ada maksud terselubung dari ucapannya.


Flashback


"Mbok, tolong belikan aku rendang di rumah makan padang tidak jauh dari sini ya! Aku ingin makan siang disini. Aku ingin menghibur Marisa sambil mengobrol banyak dengannya," ucap Tiara.


"Iya, Non ... pastinya Non Marisa akan senang sekali karena ada Non Tiara disini."


"Iya Mbok, santai saja jalannya, tidak perlu terburu-buru."


"Iya, Non." Lalu Mbok Yani pergi meninggalkan rumah atas permintaan Tiara.


Tak lama, setelah Mbok Yani meninggalkan rumah, Tiara mulai menanam jimat yang tadi sempat Sarah bakar di tepi tembok dapur yang ditutup dengan rak piring.


Itu adalah jimat pelebur sokmo. Keinginan Tiara hanya satu, membalas sakit hati nya yang tidak beralasan. Selain itu, Tiara ingin Bu Marisa mati secara perlahan.


Siap dengan aksinya, Tiara memasukkan sesuatu di dalam makanan yang sudah Mbok Yani siapkan di atas meja makan. Saat hal itu terjadi, Kanaya pulang dari sekolah dan melihat semua tindakan Tiara tersebut.


"Tante sedang apa? ngapain?" tanya Kanaya yang berwajah lugu.


Tiara menatap Kanaya sangat tajam dan ia tidak ingin rencananya gagal. Oleh karena itu, Tiara membawa dan menyekap Kanaya di dalam apartemen yang selama ini Bu Marisa bayar dengan uang pribadinya.


Sejak awal Tiara memaksa Kanaya dengan menarik tangannya sangat kuat hingga masuk ke dalam mobil. Awalnya, Tiara tidak berniat untuk menghabisi Kanaya. Hanya saja, Tiara tiba- tiba ingat, bahwa Kanaya adalah satu-satunya sumber kehidupan Bu Marisa dan Ia ingin melihat Bu Marisa menderita.


Dengan tatapan tajam, Tiara melihat Kanaya dan memutuskan untuk menghabisinya. Seperti manusia tanpa hati, Tiara terus memukuli Kanaya hingga nyawa berpisah dari raga Kanaya.


Back


"Tidak mungkin ... tidak mungkin ... tidak mungkin," ucap Bu Marisa seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar langsung dari mulut Tiara.


"Dia pasti sudah tidak waras," bisik Feli dengan tubuh yang hampir lengket denganku.


"Asal kamu tau, Marisa. Aku selalu membuntuti dan melihat kamu dari kejauhan. Dengan teropong pintar milikku, aku bisa menatap wajahmu yang pucat, serta rambutmu yang kusut."


"Tiara .... "


"Sebenarnya aku ingin menghilangkan Mbok Yani, tapi sebelum aku melakukannya, aku malah ketahuan. Aaaaaggh ... tidak seru."


"Kamu jahat sekali, Tiara."


"Denger-denger! Aku sudah membayangkan bagaimana wajahmu itu saat melihat Mbok Yani terbujur kaku. Lalu saat kamu semakin lemah, aku akan semakin mudah mengirimkankan kamu teluh. Perlahan, tubuh kamu akan hancur dari dalam dan ... dan ... lama-lama kamu akan mati, atau meminta kematian," ucapnya sangat bersemangat.


Dari sini aku dapat melihat Bu Marisa sudah tidak sanggup lagi mendengarkan ucapan sahabatnya tersebut. Tanpa memikirkan apa pun, ia langsung berlari ke arah Tiara dan menabrak tubuh orang pintar serta menarik rambutnya sangat kuat hingga ia menjauhi orang pintar yang berada di dihadapannya.


"Aaaaaakkk ... iblis kamu Tiaraaaa .... " ucap Bu Marisa sangat marah. Saat itu, Feli berusaha melerai Bu Marisa, tapi sejujurnya aku tidak tau, Feli saat itu melerai atau ikut mengeroyok Tiara.


Sementara orang pintar tersebut maju menjauhi mejanya dan mulai mengayunkan samurai yang berada di tangannya pada ku dan Rian secara bergantian.


Kami berusaha menghindar dan mengelak dengan sekuat tenaga. Untuk memisahkan orang pintar tersebut dengan pedangnya, Rian melempari beberapa barang yang bisa ia jangkau ke arah wajah orang pintar tersebut.


Saat aku dan Rian sibuk dengan orang pintar, Feli dan Bu Marisa sebut dengan Tiara, aku juga melihat makhluk putih-putih yang selalu mengiringi langkah kami ikut bertarung dengan makhluk beraneka jenis dan bentuknya yang keluar berdasarkan perintah tuannya (orang pintar).


Fokusku terpecah, aku melihat sinar dan api di seluruh ruangan yang hanya beberapa petak saja. Aku hampir kehilangan arah pandangan dan pikiranku.


Seperti berada di dalam peperangan besar, aku melihat ke kiri dan ke kanan, bahkan sesekali aku memutar-mutar tubuhku. Rasanya mataku perih sekali, kepalaku pusing dan saat aku melihat ke arah orang pintar tersebut tanpa disengaja, ternyata dia sudah berada tepat di hadapanku.


Ia mengayunkan pedangnya seperti ingin menebas dan membelah tubuhku dari atas kepala hingga ke bawah. Tapi saat ia mengayunkan pedangnya sangat tinggi, ia terdiam dengan mata yang melotot dan bibir yang mengeluarkan darah segar.


Dor


Terdengar suara senapan dari pintu masuk.


Pandanganku fokus dan hanya tertuju padanya. Tak lama, pedang tersebut jatuh dengan sendirinya dan melukai ujung kaki kanannya.


Tubuh orang pintar tersebut seakan terdorong ke belakang dan ia terjatuh dengan sendirinya. Entah mimpi ataukah nyata? yang jelas tiba-tiba aku melihat suasana yang tadinya gaduh serta kacau, tiba-tiba tenang dan aku tidak lagi melihat banyak iblis bertebaran di dalam rumah ini.


"Sarah ... kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Ayah sambil memeluk tubuhku sangat erat.


"Tolong Rian dan bantu dia, Yah," ucapku sambil melihat ke arah Rian yang terluka cukup parah di bagian perutnya.


"Tenang saja ... bantuan sudah datang," sahut Ayah sambil terus memelukku.


"Ayah ... maafkan aku."


"Sudahlah ... sudah, Sarah. Semuanya sudah terjadi. Yang penting kamu baik-baik saja," ucapan Ayah membesarkan hatiku. "Kamu baik-baik saja, Feli?"


"Iya, Yah," sahut Feli sambil memeluk sambil menahan darah yang mengalir deras di daerah perut Rian.


"Sayang, kamu ngak apa-apa?"


"Iya, Feli. Aku ngak apa-apa."


Aku tersenyum melihat sahabatku masih bernafas hingga detik ini, kemudian Bu Marisa masih memegang tangan Tiara ke belakang, lalu polisi langsung menyeret Tiara ke luar tanpa memperdulikan luka yang Tiara derita.


"Dia sudah membunuh suami dan anak saya, Pak Polisi," ucap Bu Marisa sambil terus menangis. "Saya ingin dia dihukum matiiii," sambungnya yang tampak masih sangat geram.


"Bu Marisa .... " ucapku lirih saat melihat tubuhnya bergerak kesana kemari tidak tentu, seperti terkena gempa berkekuatan sangat besar. "Ayah tunggu sebentar!" kataku sambil melepaskan pelukan Ayah dari tubuhku, lalu aku berlari ke arah Bu Marisa dan menyanggah tubuhnya yang hampir jatuh kemudian memeluknya dengan erat.


"Ya Allaaaaaaaaahhh .... " teriaknya saat berada di dalam pelukanku.


"Sabar Bu, sabar, istighfar Bu .... " ujarku sambil menangis. Aku seperti dapat merasakan luka di dalam hatinya. Lalu Bu Marisa menangis di dalam pelukanku sejadi-jadinya.


Ya Allah ... sungguh besar cobaan yang Engkau berikan kepada hambaMu ini ya Allah. Apakah ada kebaikan di dalamnya? Atau mungkin Engkau punya rencana baru lebih indah untuk Bu Marisa? tanyaku di dalam hati sambil terus menahan tubuh Bu Marisa dengan memeluknya. Seandainya aku boleh memohon, cukupkan lah semua penderitaannya Ya Allah.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘