ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KETEGANGAN


Mataku dan Rian masih fokus menyoroti peperangan yang terjadi. Ternyata Wiro tangguh sekali, bahkan dalam kondisi yang tidak memungkinkan pun ia tetap bisa bertarung bahkan melawan lebih dari 5 keblek.


"Tidak adil, 6 lawan 1," teriak Wiro yang suaranya terdengar jelas di telingaku, tapi tidak dengan Rian.


Selang beberapa menit, aku melihat 5 makhluk lainnya keluar dari keris yang merupakan wujud Wiro saat bertarung. Ada yang berbentuk laki-laki tinggi besar dengan tubuhnya yang berwarna hijau, ada yang menyerupai burung elang, ada yang seperti ular, ada yang tampak bagai peri cantik dan ada juga yang seperti manusia pengelana.


"Apa itu?" tanya Rian yang terkejut karena seolah-olah Wiro dapat membelah tubuhnya bak amoba.


"Soal itu, aku juga tidak tau." Aku melihat beberapa makhluk tersebut berperan layaknya pasukan menghadang musuh. Mereka terlihat sangat aktif dan kompak, saling membantu dan menjaga serta melindungi, saling berteriak jika ada sesuatu yang datang tiba-tiba di luar dari penglihatan mereka.


Salah satu makhluk besar berwarna hijau tampak sangat pemarah. Dia sepertinya tidak suka bermain-main, dengan cepat ia mengeluarkan api dari tangannya dan membakar 1 keblek hingga habis. Belum menggelepar musuhnya. ia tampak belum puas.


"Makhluk yang buas," ucap ku sambil memperhatikan gelagat makhluk tersebut.


Sementara makhluk yang menyerupai seorang wanita cantik dengan menggunakan kemben potongan dada rendah hingga memperlihatkan sebagian buah dadanya, hanya menghalau musuh dengan tongkat yang ia pegang.


Terlihat lebih lembut, tapi jika diperhatikan dari keblek yang tampak seperti baru saja dipotong lehernya, rasanya aku ingin menarik pikiranku kembali. Pikiran yang menganggap bahwa wanita itu berperang dengan lembut.


Wiro berteriak dari atas atap rumah ku dan ia mengatakan. "Sarah, yang ini bukan manusia. Dia memang lelembut. Aku binasakan saja ya?"


"Iya," teriak ku sambil menatap Wiro yang sudah merubah wujud sebagai manusia tengkorak yang gosong.


Tak lama, aku melihat kelompok Wiro langsung membentuk lingkaran dan mereka mengumpulkan para Keblek yang tersisa sekitar 4 ekor di dalam lingkaran, lalu mereka berputar-putar diantara keblek tersebut sehingga membentuk api dan membakar seluruh musuh mereka hingga tak bersisa.


Sementara Mbah Pecek masih menghadapi leak yang tampaknya keras kepala. Sepertinya Wiro benar, jika hanya untuk membinasakan saja tidak akan sulit bagi Mbak. Tapi ini tidak, bagaikan menarik racun dari lebah, aku ingin racunnya hilang dan lebahnya tetap hidup.


Selesai dengan pertarungannya, Wiro langsung menarik beberapa makhluk yang berasal dari dirinya ke dalam. Saat itu aku menyadari sesuatu, bahwa Wiro memang bukan makhluk sembarangan. Dia seperti seorang pangeran yang berbakat, tapi takdir mengatakan lain dan ia harus mati dengan cara yang mengenakan.


"Wiro, ambil posisiku!" kata Mbah Pecek seolah ingin melakukan sesuatu.


"Ngeh," sahut Wiro cepat tanpa pertanyaan.


Tiba-tiba aku melihat lingkaran tubuh Mbah Pecek yang semula melindungi rumahku, berputar searah hingga tubuh yang awalnya menyelimuti rumahku menghilang dan Wiro berada tepat di depan pagar rumahku dengan posisi berdiri tegak seperti pengawal kerajaan.


"Serahkan semuanya padaku," ucap Wiro sambil menghentakkan kaki kanannya sebanyak tiga kali ke bumi.


Mbah Pecek terlihat fokus menghadapi musuhnya tersebut. Iya menerjang dengan ekor, melilit dengan tubuh dan akhirnya ia menyemburkan bisanya yang sangat banyak. Ternyata jika Mbah Pecek hanya fokus melawan leak tanpa melindungi rumah, ia jauh lebih kuat dan cepat.


"Dia sudah jadi manusia seutuhnya, tapi saran ku. Jangan mencarinya! Karena sesungguhnya dia memang bukan golongan dari orang-orang yang baik," ucap Mbah Pecek sambil mengatur nafasnya yang tersengal.


Aku menatap Mbah Pecek yang tampak terluka di bagian wajahnya. Sebenarnya aku ingin sekali membantunya, tapi aku tidak tahu caranya.


"Baik Mbak. Aku akan mendengar perkataan darimu. Tapi jika boleh tahu, apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan dirimu? Maksud ku adakah cara agar aku bisa membantu mu?"


"Ada, tapi kamu tidak akan bisa melakukannya. Dan jika kamu melakukannya, bukan hanya aku yang sehat bahkan kuat 10 kali lipat, tapi juga parewangan mu yang lainnya," ucap Mbah Pecek yang berdiri di hadapan ku.


"Apa?" tanya ku sekali lagi karena aku memang sangat ingin membantu mereka. Apalagi aku tau persis bagaimana kondisi Datuk Belang, Kakek Singgih, Nenek Ratih, Wiro dan yang lainnya.


"Darah ayam cemani."


"Caranya?"


"Kamu harus menghisap darah ayam cemani langsung dari lehernya yang kamu tebas dengan tangan mu sendiri, Sarah." Setelah berkata seperti itu, Mbah Pecek langsung meninggalkan aku dalam kebingungan.


"Istighfar kamu, Sarah," ucap Rian sambil memegang bahuku. Rian juga mendengarkan ucapan Mbah Pecek dan dia mengatakan, "Itulah sebabnya mengapa mereka tidak mengatakan apapun padamu, Sarah. Mereka tidak membicarakan obatnya kepadamu, ya ... agar kamu tidak berpikir keras apalagi menangis seperti saat sekarang ini."


"Iya, kamu benar Rian."


Mbah Pecek kembali ke posisinya. Namun kali ini dia tidak sendiri, Wiro memutuskan untuk menemaninya sambil berjaga-jaga untuk kemungkinan lain. Mungkin saja setelah ini serangannya akan jauh lebih besar, banyak dan kuat.


Aku mendengar percakapan itu diantara Mbah Pecek dan Wiro. Saat itu aku berjanji di dalam hati. Jika memang ada serangan seperti ini lagi, bahkan lebih besar. Maka aku akan berdiri di barisan terdepan.


Aku segera menutup mata batin Rian dan memintanya untuk kembali ke dalam kamar menemani Feli. Sementara aku masih ingin disini bersama makhluk hitam pemberian Nenek Nawang Wulan.


Sambil berdiam di pendopo aku berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa memenuhi keinginan Nenek Nawang Wulan? Aku tau tujuan Nenek memberikan mereka semua kepadaku yaitu ingin aku membawa mereka pada kerajaan Allah.


Bersambung.


Aku nyoba buat crazy up hari ini ya. Jadi tunggu aja sampai malam karena aku ngetiknya satu-satu. Mohon bersabar aja karena keadaan ku yang seperti ini.


Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.