
3 hari kemudian.
Aku dan Ayah masih berada di rumah sakit. Dokter bilang, Ayah baru bisa pulang setelah melewati 7 hari perawatan dan tidak menunjukkan adanya infeksi. Berarti lusa Ayah akan pulang dan beliau sedang berpikir hebat tentang Feli kali ini.
Semalam Ayah mengatakan padaku bahwa beliau ingin Feli tetap tinggal di rumah dan itu artinya, sesekali Rian juga akan berkunjung dan menginap di rumah kami. Untuk itu, Ayah ingin menyiapkan sebuah kamar untuk mereka berdua dan Ayah memintaku untuk mengatur semuanya dengan baik.
Selain itu, pak Antok juga menghubungi Ayah dan setelah melihat keadaan Ayah kemarin, Pak Anto memutuskan untuk tinggal bersama kami. Begitu juga dengan keluarganya dan mereka akan menempati kamar si Mbok.
Sudah terbayang olehku bahwa rumah kami yang tadinya sepi menjadi sangat ramai, mengingat Pak Anton memiliki anak, berarti jumlah kami menjadi 8 orang di dalam rumah itu. Sementara untuk urusan pekerjaan, Papanya Indah mengatakan bahwa Ayah tetap bisa bekerja karena mereka membutuhkan otak dan juga etos kerja Ayah bukan kaki Ayah.
Sebenarnya aku sangat ingin membantu mengurangi beban Ayah dengan mengambil pekerjaan paruh waktu, tapi Ayah memintaku untuk tetap fokus di dalam dunia pendidikan. Ayah ingin agar aku bisa mendapatkan nilai yang baik sehingga bisa memiliki pekerjaan yang layak.
Sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba aku mendengar suara panggilan dari seseorang yang hampir aku lupakan, yaitu Nenek Nawang Wulan. Suaranya sangat khas sehingga aku bisa yakin bahwa itu adalah panggilan dari dirinya dan aku pun memutuskan untuk kembali ke bagian sisi belakang rumah sakit guna menemuinya serta memenuhi janjiku padanya.
"Ayah, aku izin sebentar ya. Ada yang ingin aku beli keluar."
"Iya, pergilah. Ayah nggak papa kok."
Setelah mendapat izin dari Ayah, aku langsung menuju ke tempat Nenek Nawang Wulan dan ketika aku tiba di sana, aku langsung menatap tubuh beliau yang tidak lagi besar dan tinggi hingga menyentuh langit-langit ruang rumah sakit.
Ketika mata kami bertemu, Aku mengingat sesuatu yang sudah menyelamatkan nyawaku dan juga para sahabatku. Yaitu kunci dari pemusnahan makhluk fasik yang ingin mengambil alih diriku dan hidupku.
Flashback
Pada saat aku terdesak dan hampir mati, aku teringat ucapan Nenek Nawang Wulan. Di dalam kertersudutan, aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk melakukan perlawanan akhir pada iblis yang hampir mengambil alih tubuhku.
"Ayoooo, Sarah!!" teriak Tania dan saat yang bersamaan, aku menggenggam kedua tanganku sangat kuat dan aku memajukan wajahku hingga hidungku menempel pada hidung iblis tersebut.
Aku memegang kepala iblis jahanam itu dengan sangat erat, kemudian memutar nya ke arah kiri. Seketika, tubuh iblis tersebut bergetar dan hilang keseimbangan hingga jatuh ke lantai tanpa aliran air dan dalam waktu singkat tubuhnya berubah menjadi abu hitam.
"Allahu Akbar .... " ucapku sambil terduduk di lantai dengan pakaian dan tubuh yang basah serta bau.
"Ha ha ha ha ha ha ha ... itu baru adikku, Sarah. Ha ha ha ha ha ha." Lalu suara Tania menghilang seiring dengan tetesan air mataku.
Back
"Assalamualaikum, Nek," sapa ku dengan senyum yang manis.
"Aku harus jawab apa?"
"Waalaikum salam, Sarah. Begitu, Nek."
"Alaikum Salam. Waalaikum salam ... Sarah."
"Bagus .... "
"Aku senang kamu pulang dengan utuh."
"Eeeem, kunci yang Nenek berikan kepadaku berhasil dan aku ingin mengucapkan rasa terima kasih terhadap Nenek."
"Tidak, itu tidak perlu karena aku melakukannya untuk diriku sendiri. Aku merasa kamu dapat membawa aku ke tempat yang lebih bersih daripada tempat ini."
"Apa Nenek yakin dengan semua kesakitan nya? karena ini tidak mudah. Apalagi aku juga masih belajar dan pastinya masih banyak kekurangan dan kesalahan yang akan aku perbuat. Mungkin itu akan menyakitimu, Nek."
"Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya kan? Nduk."
"Nenek benar, tapi sebelumnya aku ingin tahu siapa sebenarnya nenek Nawang Wulan?"
"Namaku Nawang Wulan, aku ini berasal dari manusia. Dulu, lama sekali. Aku termasuk jejeran orang sakti dan tidak tahu dengan apa yang kamu sebut Allah itu karena aku mendapatkan ilmu dan kekuatan dari semedi serta melakukan beberapa tahapan ritual di dalam ilmu kanuragan maupun ilmu jiwa tingkat tinggi," sahutnya.
"1 hal yang mesti kamu tahu, aku ndak sendiri. Di belakang ku, masih banyak makhluk lain yang setia kepadaku dan mereka merupakan abdi ku selama aku masih menjadi manusia dan mereka bukan makhluk sembarangan," jelasnya.
"Aku kurang mengerti, Nek," sahut ku sambil duduk berhadapan dengannya.
"Aku mendapatkan mereka dari mutih 40 hari ditambah semedi 100 hari. Semasa hidup, aku tidak mengenal laki-laki sehingga aku tidak memiliki keturunan karena di zaman itu aku lebih mementingkan untuk menolong orang lain, hingga akhirnya aku melupakan diriku sendiri," sambungnya.
Aku tersenyum saat mendengarkan ucapan Nenek Nawang Wulan yang mengatakan bahwa semasa hidupnya beliau sangat sering dan suka membantu orang lain. Itu artinya Nenek memiliki hati yang baik, walaupun sekarang keadaannya sangat buruk dan tampak kotor.
Semoga amal ibadahnya selama masih hidup (semasa hidup) diperhitungkan dan itu bisa menjadi alasan Allah untuk membilas dosa-dosanya, amin. Ucapku tanpa suara.
"Kalau begitu kita akan memulainya dari awal dan aku tidak bisa melakukannya sendiri karena aku juga masih sangat bodoh serta tidak tahu tentang agama yang dalam. Untuk itu setelah Ayahku pulang kerumah, kita akan bertemu dengan seseorang yang memahami tentang ilmu agama, namanya Pak Ahmad."
"Apapun itu Nduk, sesakit apapun itu, aku mau."
"Tapi .... " ucapku sambil menggaruk pipi kanan ku.
"Gimana caranya aku bisa membawa, Nenek ya?"
"Ha ha ha ha ha ha ha ... tak kira kamu tau e. Dasar bocah. Ha ha ha ha ha ha ha, ndak nyangka ... tuanku bocah bodoh," ejeknya sambil terus tertawa, tapi disaat yang bersamaan aku tidak melihat akal bulus di dalam matanya.
"Mau gimana lagi, Nek?"
"Kamu sekarang memang masih cetek, tapi aku yakin kamu akan cepat pintar dan berkembang karena kamu punya hati yang bersih dan teguh pendirian. Itu seperti aku dulu, pantang mundur sebelum musuh ku hancur."
"Kalau aku boleh tau, apa yang membuat Nenek yakin dan ingin bersamaku?"
"Saat aku melihat kamu, aku seperti melihat diriku sendiri ketika aku masih muda."
"Begitu .... "
"Aku akan masuk ke dalam anting-anting emas yang kamu kenakan."
"Caranya?"
"Itu urusanku."
"Iya," ucapku memberi izin kepada nenek Nawang Wulan dan tiba-tiba aku sudah tidak lagi melihat sosoknya di hadapanku, saat aku menarik nafas dan memejamkan mataku..
Selesai dengan urusanku bersama Nenek Nawang Wulan, aku kembali ke arah kamar perawatan Ayah. Sepanjang jalan aku merasa bahwa wajahku sangat berat dan aku mengatakan kepada Nenek Nawang Wulan dengan suara yang kecil, "Ternyata Nenek berat juga ya." Lalu aku mendengar suara nenek Nawang Wulan tertawa terbahak-bahak.
*****
Setibanya di kamar perawatan Ayah, aku melihat Feli dan Rian sudah berada di sana. wajah Feli tampak merah merona dan aku tahu sepertinya mereka berdua sudah melakukan sesuatu yang keramat seperti ritual suami istri.
Sebenarnya aku sangat ingin menggoda keduanya, tapi Feli sudah terlanjur malu dan itu membuat aku menahan diri. Ditambah lagi Ayah yang sudah lebih terlebih dahulu menggoda keduanya sehingga aku merasa tidak perlu untuk menambahkan perona pipi di wajah sahabatku tersebut.
"Apa senyum-senyum?" tanya Feli sambil menatap kearah ku dengan matanya yang besar.
"Enggaaak .... "
"Jangan menggodaku! Cukup Ayah saja!!"
"Baiklah .... " sahut ku sambil menahan senyum.
"Tuuuuh kaaaan ... iiiiiihhh. Senyumnya itu lhoooo," ujar Felly sambil berjalan ke arahku dan mencubit kedua pipiku cukup keras sehingga diantara kami tampak seperti anak kecil yang sedang bergelut karena aku juga melawan dan membalas perbuatan Feli terhadap diriku. Saat melihat aku dan Feli bersikap kekanak-kanakan, ayah dan Rian pun tertawa terbahak-bahak.
Saat sedang asyik tertawa, tiba-tiba kami mendengar suara salam dari komandan Arya. Kami mempersilahkan beliau masuk dan menghentikan candaan kami, lalu beliau menyapa Ayah dan mengucapkan rasa Terima kasih untuk penyelamatan yang sudah terjadi, sekaligus meminta maaf atas tragedi yang menimpa Ayah.
"Jika berkenan, saya ingin Feli dan Sarah bertemu dengan Azura karena sampai saat ini dia masih syok dan tidak mengatakan apapun. Saya sudah mendatangkan Rido, tapi Azura masih diam tanpa kata."
"Baik, kami akan segera kesana," ucap ku karena khawatir.
"Terimakasih banyak."
"Rian, kamu bisa jaga Ayah sebentar?"
"Tentu saja, pergilah!"
Kami bertiga langsung menuju kediaman Azura dan berharap mendapatkan sesuatu untuk membantunya. Setibanya di rumah mewah tersebut, kami disambut dengan cara yang berbeda. Kali ini seluruh keluarga tersebut sangat ramah dan tidak lagi memandang remeh.
"Kalian mau datang? Terima kasih banyak," ucap Mama Azura yang terlanjur menangis sembari memeluk kami berdua secara bergantian.
"Tentu saja, Bu."
"Mari ke kamar Azura!" ucapnya sambil mengiringi langkah kami ke kamar Azura, diiringi langkah kaki keluarga yang lain.
"Azura .... " sapa Mama dengan suara yang lembut dan terdengar sangat sedih. Saat ini kami melihat Azura terpaku menatap jendela kamar dengan wajahnya yang pucat.
Saat mata Azura menatap aku dan Feli, air matanya tumpah. Feli yang merasa sudah banyak berjuang dengan Azura langsung berlari ke arahnya dan memberikan pelukan hangat seperti seorang kakak kepada adiknya. Sementara aku masih berdiri tidak jauh dari pintu dan aku seperti memahami sesuatu.
Ini juga kesalahan ku, ucapku tanpa suara.
bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.