
Setelah shalat Jum'at berjamaah, para dosen, mahasiswa dan masyarakat yang hadir langsung dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan. Lelah, tapi tidak kami rasakan karena rasa bahagia ini jauh lebih besar.
Setelah tuntas melayani semuanya, kami para mahasiswi pun melaksanakan shalat Zuhur berjamaah. Satu per satu teman-teman wanita mulai meninggalkan aku untuk mengambil makan siang begitu juga dengan Mia dan di saat aku tinggal sendirian di dalam Mushala, sesuatu atau seseorang menyapaku dengan suara yang sangat lembut dan berwibawa.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatu."
"Boleh aku duduk?" tanya jin muslim laki-laki dengan sorban putih yang tampak berkilauan.
"Boleh."
"Terima kasih untuk segalanya. Aku tau, suatu saat nanti, akan ada anak cucu Adam yang akan mengembalikan cahaya di dalam mushola ini. Untuk itu aku tetap berada di tempat ini dan tidak meninggalkannya."
"Alhamdulillah, ini semua berkat kerjasama dari semua pihak."
"Hmmmh, kamu sangat rendah hati," pujinya. "Perjuangan mu sangat berat, kamu masih sangat muda, tapi cobaan yang bertubi-tubi serta keikhlasan, sudah menjadikan kamu pribadi yang tegar."
"Alhamdulillah ...."
"Aku tau, kamu sedang bingung hati saat ini. Tapi percayakan semuanya pada jiwamu. Hatimu itu akan membawamu dan juga mereka ke dalam cahaya Islam. Jangan menangis saat melihat mereka terluka! Itulah perjuangan yang sesungguhnya. Kami sama seperti manusia dan saat kami ingin menjadi seorang muslim yang taat, maka kami harus menghadapi api."
Aku tertunduk ketika mendengarkan ucapan dari jin yang tidak aku kenali tersebut. Sepertinya ia bisa membaca hatiku yang sebenarnya sangat tidak menentu karena memikirkan nasib para parewangan yang berada di dalam genggaman tanganku. Aku merasa bertanggung jawab atas mereka, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa?
"Untuk sia-sia kah Allah menciptakan kita? Menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan? Hanya untuk main-main saja kah Allah mempergilirkan siang dan malam? Menurunkan hujan? Menumbuhkan pepohonan dan mengalirkan sungai-sungai? Tanpa tujuan kah Allah mengaruniakan akal pikiran kepada manusia?"
Aku langsung menatap jin muslim tersebut dengan pandangan yang redup seolah aku memiliki tempat untuk berbagi cerita, walaupun kami baru saja saling menyapa dan saling tidak mengenal.
"***Satu kata saja, dengan satu tarikan nafas bagi manusia untuk mengucapkannya. Iya, guna menjawab sejumlah pertanyaan di atas. Yaitu: Al Ibaadah. Ya, semua itu Allah lakukan agar kita beribadah kepada-Nya. Dengan tegas Allah menyatakan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)
Allah pun menyindir kita dengan pertanyaan,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun [23]: 115)
Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata, “Firman Allah, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja)?” “Apakah kaling menyangka bahwa kalian diciptakan tanpa maksud, tujuan dan hikmah?” “Firman Allah, “bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” “Tidak dikembalikan ke negeri akhirat?” (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 5/500)
"Jika muncul dalam benak kita pertanyaan, “lalu, mengapa Allah memerintahkan kita untuk beribadah?” Alasan-alasan berikut mudah-mudahan semakin dapat meyakinkan kita mengapa kita harus beribadah kepada Sang Pencipta kita, Allah subhaanahu wa ta’aala. Karena Allah adalah Pencipta Kita dan Semesta serta Pemelihara Semuanya***."
"Oleh karena Allah satu-satunya Dzat yang menciptakan kita dan juga menciptakan semesta tempat hidup kita, maka kita harus beribadah kepada-Nya, mengabdi sebagai hamba dan bagian dari makhluk-Nya. Karena Allah menciptakan Kita dengan bentuk yang terbaik."
"Iya."
"Allah memuliakan manusia dengan akal pikiran, jadi gunakanlah itu semua untuk membawa mereka semua, guna menjadi sesuatu yang murni. Jika dibutuhkan, aku akan membantu mu. Namaku. Rajiman."
"Terimakasih."
"Satu lagi, setelah ini, akan ada musibah besar yang akan menimpamu, Sarah. Sekali lagi, kekuatan hati dan ketakwaan mu akan diuji. Ingat, ikhlas dan jangan putus asa! Serta tingkatkan ilmu mu."
"Maksudnya?"
"Assalamualaikum ...."
"Sarah, ini makan siang untuk mu," ucap Mia yang memecah pikiranku sambil menyodorkan sepiring nasi dengan aneka lauk pauk dan minuman segar.
"Alhamdulillah, kita dapat gratisan."
"Iya. He he he he."
"Ngomong-ngomong, di luar sana banyak orang-orang yang kurang beruntung ikut makan siang."
"Benarkah?"
"Iya."
"Ini semua akan menjadi berkah, Mia. Berkah untuk kita semua."
"Dan Kenzi, si nakal itu punya ide brilian. Dia akan meminta sumbangan seikhlasnya dari mahasiswa dan mahasiswi di kampus setiap hari Jum'at."
"Ternyata Kenzi sudah mulai ingin mengajak teman-teman bersedekah ya? Itu amal yang luar biasa besar pahalanya, Mia."
"Kita harus membantunya, Sarah."
"Tentu saja. Ayo kita makan dulu! Nanti nasinya nangis karena terlalu lama dicuekin."
"Ha ha ha ha ha, ada-ada aja kamu, Sarah. Ternyata kamu suka bercanda juga ya?"
*****
Pukul 14.00 WIB. Aku pulang dari kampus mengitari jalan yang melewati pinggiran sungai kota. Tiba-tiba pikiranku menjadi kalut mengingat pesan yang disampaikan oleh Mbah Radjiman kepadaku saat di mushola tadi.
Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini, aku menjadi khawatir dan bingung. Tapi dibalik semua itu, aku tetap merasa bersyukur karena sudah diingatkan agar aku tidak lalai dan bersantai-santai karena masih ada sesuatu yang berat di depan sana dan tengah menanti ku.
Otakku rasanya penuh dan ingin meledak, aku berhenti guna menenangkan diri sejenak, sembari melihat sungai kecil yang bersih yang berada di hadapanku. Sekitar 30 menit dalam kegelisahan, aku memperhatikan sekitar dan tiba-tiba aku melihat seseorang yang tidak asing bagiku.
"Mbah Siji," teriak ku saat melihat sosok itu bergerak ke atas langit.
"Siapa?" tanyanya dengan raut wajah yang ditekuk dari atas.
"Ngapain disitu, Mbah siji? Nanti terbakar matahari" tanya ku sekali lagi karena sangat penasaran dan khawatir.
"Siapa Siji? Dan jangan menghentikan langkahku!"
"Mau ngapain di atas sana?" teriakku sekuat tenaga, untung saja di sekeliling ku tidak ada orang lain.
"Tuanku akan segera menemui ajalnya dan aku ingin menunjukkan bakti terakhir ku kepadanya dengan mengumandangkan suara azan di langit," sahutnya berkata dengan sangat lantang dan jelas.
Aku terdiam sambil menundukkan kepalaku, lalu aku berpikir tentang ucapannya tersebut. Bagaimana mungkin Mbah Siji bisa melakukan semua ini? Ia naik ke atas langit lalu ingin mengumandangkan suara adzan? dia melakukan semuanya untuk tuannya yang akan segera meninggal dunia? Ucap ku tanpa suara sambil berpikir keras. Apakah ini yang dimaksud oleh Mbah Rajiman tadi? Karena kematian adalah cobaan terberat bagi manusia.
Tak lama aku kembali melihat ke atas langit dan ternyata Mbah Siji sudah tidak ada di sana. Aku mencoba mencerna perkataannya tersebut dan aku memegang seluruh tubuhku untuk memastikannya.
Apa mungkin aku akan segera meninggal dunia? Apa mungkin Allah akan mengambilku dengan cara seperti ini? Di tempat ini? Aku terus bertanya di dalam hatiku sambil terdiam terpaku seperti batu.
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.