
Aku yang bingung dengan kejadian tersebut, langsung berlari menuju ke arah kamar Rido entah untuk apa. Yang jelas aku sangat ingin berteriak dan mengatakan padanya bahwa Mamanya sudah tidak berdaya bahkan mungkin sudah tiada. Dia harus cepat jika ingin Mamanya selamat.
Tanpa aku sadari, kejadian di depan mataku saat ini sebenarnya hanyalah bagian dari sebuah kenangan yang sudah berlalu. Tiba-tiba aku teringat ucapan Papanya Rido yang mengatakan bahwa istrinya meninggal dunia saat di rumahku sebelum perjalanan kami menuju ke rumah sakit.
Sementara aku yang sudah berdiri tidak jauh dari Rido di dalam kamarnya, melihat bahwa ia masih mencari-cari kunci serap pintu kamarnya di beberapa laci lemari dan meja belajarnya.
KREEEEEEAAAAK ....
Namun tiba - tiba pintu kamarnya terbuka secara misteri setelah terkunci dengan sendirinya. Tanpa memperdulikan apapun, Rido langsung berlari keluar dari kamarnya menuju kamar Mama.
Rido membuka pintu kamar Mama yang tertutup dan melihat kamar tersebut sudah berantakan tidak seperti biasanya. Bantal-bantal berserakan di lantai, selimut terlihat kusut tapi ia tidak menemukan Mamanya.
Tak lama, Rido keluar dari kamar Mamanya. Dari arah pintu kamar Mama, samar-samar Rido melihat pantulan cahaya seperti bayangan yang terlihat di tembok. Bayangan itu tampak seperti boneka besar yang sedang tergantung dan bergerak kesana-kemari seolah-olah baru saja di gerakkan dan di mainkan oleh pemiliknya.
Rido memalingkan wajahnya dan melihat ke arah dapur dengan langkahnya yang lambat, namun saat ia melihat sebuah kebenaran tentang Mamanya, ia sangat terkejut. Rido melihat kenyataan bahwa Mamanya sudah tergantung dan kaku di atas sana.
Seperti orang gila, Rido berteriak dan berlari memeluk kedua kaki Mamanya sambil
menangis dan kembali berteriak histeris. "Mama ... Mama ... ya ampun Mama .... "
Apa yang terjadi pada Rido dan tayangan kenyataan ini membuat aku tidak kuat lagi untuk berdiri. Aku terduduk dalam posisi jongkok tidak jauh dari tubuh Mama dan Rido, sembari menutup mulut dengan tanganku.
Aku melihat Rido ingin menurunkan jasad Mamanya yang tergantung tersebut, tapi ia merasakan ada seseorang tengah berdiri dan menunggunya di balakang.
Rido memutar tubuhnya dan benar saja wanita misterius itu sudah berdiri tepat di belakangnya, bahkan wajah Ridi saat menghadap ke belakang hampir bersentuhan dengan wajah wanita misterius tersebut.
"Aaaak ... aaaaak ... aaaaaakkk."
Jantung Rido tampaknya kembali berpacu dengan cepat, sama seperti ku dan dengan refleks tubuh Rido mundur beberapa langkah menjauhi wanita misterius tersebut.
Terlihat sangat jelas di mata Rido yang masih besah, sebuah ketakutan yang besar dan tampaknya Rido sangat yakin jika iblis wanita inilah yang sudah menghabisi nyawa Mamanya.
Saat mata mereka saling bertemu, wanita itu tersenyum simpul ke arah Rido. "Sekarang giliranmu," berbicara sambil membesarkan ke dua bola matanya.
Menyadari ancamannya, Rido berlari dengan cepat ke arah kuar. Tapi terlihat kursi di depan televisi bergerak sendiri dan menghantam kaki Rido sehingga ia terjatuh. Rido berusaha untuk kembali berdiri, namun dari arah belakang Rido kembali di terjang dengan vas bunga dan mengenai kepala belakangnya dan ia langsung tersungkur.
Rido berusaha untuk berdiri dan menyandarkan punggungnya di tembok sambil menatap iblis wanita tersebut dengan tatapan keberanian sambil mengatakan sesuatu, "Sebelum kamu menghabisiku seperti kamu menghabisi Mamaku, aku ingin tau siapa kamu? dan apa salahku padamu. Setelah itu, aku iklas mati di tanganmu."
Mendengar perkataan Rido, wanita itu mendekatkan wajahnya dan menempelkannya di dahi Rido. Tidak ingin melewatkan informasi sekecil apapun, aku juga segera menyatukan dahiku pada mereka berdua. Sehingga kami seperti orang yang terjebak dalam cinta segitiga sama sisi (ya elah ... nulis apa sih aku? pake cinta segitiga segala. Intermezo ya para readers, nanti terlalu takut berbahaya bagi kalian😘).
Setelah kami menyatukan dahi, seakan-akan aku dan Rido bisa melihat segalanya (masa lalu) dengan sangat jelas.
Aku dan Rido melihat seorang gadis muda keluar dari pagar kampusnya (melihat dari belakang dan hanya tampak punggung gadis tersebut). Itu kampus yang sama dengan kampus di mana aku dan teman - temanku kuliah, fakultas kedokteran. Saat itu cukup larut, wanita muda tersebut berjalan sendirian.
Setelah cukup jauh dari kampus, tiba - tiba langkahnya berhenti. Disana tampak lima orang pemuda mencegatnya di jalanan sepi. Mereka menggodanya, bahkan ada juga yang memegang tangannya, tapi wanita itu menolak dan menepis sentuhan tersebut. Sementara aku dan Rido hanya bisa melihatnya dari dimensi yang lain.
Dua orang pria menarik tangannya, dia terus melawan, satu orang lagi menarik tasnya. Karena wanita tersebut terus melawan dan berteriak, mereka menutup tangannya dengan baju jaket dan menggendongnya dari jalanan. Kami terus mengikuti langkah mereka yang ternyata membawa gadis tersebut ke semak-semak agak jauh dari jalan besar.
Dalam posisi mulut tertutup, wanita itu terus melawan dengan memberi tendangan dan pukulan. Tapi dia hanya sendiri, dia sendirian tanpa pertolongan dan pemandangan itu membuat aku menangis kembali.
Aku melihat wanita itu di tampar berkali-kali, di pukul berkali-kali dan di tendang berkali-kali. Air matanya bercucuran hingga membasahi jaket yang di pakai untuk menutupi mulut hingga lebih dari setengah wajahnya.
Saat itu, aku melihat Rido berteriak dan berusaha menghentikan kejahatan kelamin yang tengah mereka lakukan. Rido terus berteriak tanpa henti dari jarak yang cukup jauh. "Jangan ... jangan ... jangan ... jangan ...." Tapi Rido hanya bisa berteriak bahkan ia tampak menangis.
Wanita itu sudah tampak lemah, namun dalam kondisi sadar. Tak lama, pakaiannya di lepas paksa satu persatu. Dia terus mencoba melawan, tapi pukulan dari gadis itu tidak sekeras awalnya.
Saat mereka sudah puas, mereka meninggalkan gadis tersebut, tapi salah satu dari mereka berbalik dan memakaikan kembali pakain gadis tersebut. Sementara
empat yang lainnya hanya melihat dan menertawakan lelaki yang kembali memakaikan pakaian kepada gadis tersebut.
Laki-laki yang memakaikan pakaian pada gadis tersebut tampak menunduk, dia sepertinya sangat menyesali kejadian tersebut, tapi semuanya sudah terjadi.
Rido tampak sangat marah dan berlari ke arah mereka. Pada saat itulah Rido dapat melihat dengan jelas wajah para pelaku yang salah satunya adalah Ayah Bagas (korban pertama). Karena Rido dan Bagas sangat akrab, makanya Rido sangat hafal betul dengan wajah Ayahnya Bagas.
"Ya ampun, ternyata .... " ucap Rido sambil berjalan mundur dan tanpa disadari, ia menabrak seseorang yang terduduk di dekat tubuh gadis malang itu hingga tubuh Rido terjungkal. Rido berusaha cepat berdiri dan disaat yang bersamaan, Rido menangkap wajah Papanya sendiri.
"Papa .... " ucap Rido sambil memegang wajahnya dengan kuat. "Tidak mungkiiiin .... " teriak Rido yang terdengar sangat marah dengan keadaan dari sebuah kejahatan di masa lalu.
Sesaat setelah itu, semua pelaku tersebut meninggalkan gadis korban rudapaksa di semak-semak dalam keadaan tidak berdaya. Tak lama, aku mendengar suara tangisan dan rintihan dari gadis tersebut, aku duduk dan memperhatikannya, dia masih hidup. Ucapku tanpa suara.
Gadis itu bergerak dan berusaha membuka jaket yang menutupi mulutnya. Dari kepalanya terlihat darah yang mengalir, begitu juga dari hidungnya. Aku semakin menangis melihat penderitaannya seolah - olah aku juga ikut merasakannya. Begitu juga dengan Rido yang duduk jongkok tidak jauh dari gadis tersebut tanpa bisa melakukan hal apapun.
Aku ingin membantunya, tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Beberapa detik kemudian, aku merasa seakan tubuhku terseret ke masa depan dan di hadapanku sudah menunggu maut untuk Rido.
Sebenarnya aku cukup bingung karena saat kejadian tersebut, aku masih melihat si gadis masih bernyawa. Lalu bagaimana saat ini dia menjadi roh bercampur iblis? aku bertanya di dalam hati sambil menatap ke arah wanita misterius tersebut.
Aku dan Rido sudah tau apa yang terjadi padanya. Saat ini tampak sekali rasa takut di dalam mata Rido hilang berganti dengan rasa kasihan. Rido terus menatap wajah mengerikan yang wanita misterius itu perlihatkan ke padanya. "Maafkan aku ... aku tidak tau .... " ucap Rido saat berada di dalam cengkraman wanita misterius tersebut.
Wanita misterius tersebut sepertinya tidak bersedia mendengarkan Rido, dia tampak sangat membencinya, tapi aku bisa memahaminya, begitu juga dengan Rido. Oleh karena itu, Rido tidak lagi berusaha untuk lari atau pun melawannya.
Rido hanya menerima setiap pukulan dan rasa sakit yang wanita itu berikan kepadanya. Rido tidak berlari ... Rido tidak melawannya, bahkan Rido berusaha untuk tersenyum dan
menahan rasa sakitnya.
Wanita misterius tersebut terus melempar Rido kesana - kemari, kemudian melempar Rido dangan benda - benda yang ada di sekitarnya. Rido sepertinya tidak tau lagi, apa yang mengalir di wajah dan tubuhnya,
itu keringat, air mata atau darah? dan Rido terus memperhatikan wanita tersebut.
Terakhir kali, sepertinya ini pukulan terakhir dari wanita yang sudah dipengaruhi iblis tersebut karena tampaknya Rido sudah tidak sanggup lagi. Wanita itu melemparkan Rido ke atas meja kaca dan punggungnya terdengar suara seperti remuk dan nafasnya mulai sesak.
Saat Rido sudah tidak berdaya, wanita itu kembali mengangkat tubuhnya dan menegakkannya. Rido sudah tidak lagi bisa bergerak, hanya mata yang dan bibirnya
yang masih bisa bermain.
Rido terus menatap wanita itu tanpa kebencian, saat wanita tersebut balim menatap Rido dengan tangan yang hampir mencengkram lehernya. Untuk terakhir kalinya Rido membuka kembali mulutnya.
"Maafkan aku, aku tidak tau, dan aku sangat menyesal."
Seketika wanita tersebut melepakan Rido dan menjatuhkannya di lantai, Rido mengangkat lehernya untuk memandang wajah wanita tersebut, sekali lagi.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘