ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEMBALI


Seingat ku, aku masih berdiri di sisi tubuh Mira yang tergeletak dan bergelimang darah. Ada rasa sakit yang teramat dalam hingga membuatku menahan nafas yang sudah terasa sesak.


Dari kejauhan, aku mendengar suara riuh memanggil-manggil namaku. Suara Ayah paling kuat dan hal itu mengembalikan penglihatan ku pada masa sekarang.


Aku membuka kedua mataku yang tadinya terasa berat dan lengket. "Dia sudah sadar, dia mulai sadar, iya iya ... dia sudah membuka matanya." Aku mendengarkan suara tersebut dengan jelas di telingaku.


Ramai sekali, ucapku di dalam hati. Banyak sekali yang mengelilingiku, ada apa ini? aku ingin sekali bertanya, tapi mulutku sulit untuk digerakkan. Dengan mata yang melirik sekitar, aku dapat melihat beberapa orang berkumpul termasuk Komandan.


Aku memandangi wajah yang banyak dan tampak khawatir melihat ke arahku, terutama Ayah. "Sarah, ayo di minum!" ujar Ayah dan aku pun melakukannya.


"Ayah, apa yang terjadi?" tanya ku dengan suara yang serak dan kering.


"Seharusnya Ayah yang bertanya, kamu kenapa, Nak? Ayah sangat khawatir. Tadi satu kamu menjenguk Feli, tiba-tiba kamu kejang-kejang seperti seseorang yang memiliki riwayat epilepsi," jelas Ayah sambil menguras wajahku.


"Ayah, Feli sangat membutuhkan ku."


"Kenapa? apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku akan menjelaskannya setelah aku berhasil membawa Feli kembali."


"Tapi ... bukannya Feli ada di ruang IGD sedang terbaring?"


"Hanya raganya, tapi jiwanya masih tertinggal. Aku yakin, aku melihat Feli di sana."


Ayah tampak semakin bingung dan ia menatapku tajam seakan berpikir bahwa apa yang aku katakan saat ini adalah kata-kata yang tidak memiliki arti karena aku juga baru saja sadar dari kehilangan jiwaku.


"Ayah, dengar! Ini bukan perkara yang sederhana, ini adalah dendam kesumat."


"Dendam kesumat?" Ayah mengulang ucapan ku.


"Nyawa dibayar dengan nyawa, Yah."


"Tapi apa kesalahan anak-anak itu?"


Belum tuntas perkataan ku, Komandan menerima telepon dan keluar dari ruangan. Aku berusaha untuk duduk dan terus meminum air yang Ayah berikan. Kebetulan aku memang sangat haus sekali karena habis berlari- lari ke sana kemari, berpetualang mengikuti sebuah kebenaran dari masa lalu.


Tak lama, Komandan datang kembali ke dalam ruangan dimana aku dibaringkan. Ia mengatakan bahwa Azura tidak ada di dalam kamarnya dengan raut wajah yang tampak sangat cemas.


"Apa anda yakin, Ndan?" tanya Ayah seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan.


"Iya. Walaupun sangat terasa aneh dan janggal. Mengingat pintu dan jendela kamar Azura selalu ditutup bahkan dikunci dari luar. Dan sekarang ini, saat Mamanya tau dia tidak di dalam kamarnya, pintu kamarnya juga masih tergembok dari luar.


Semua mata tampak bingung dan khawatir, lalu aku memecah keheningan dengan mengatakan, "Tolong antar aku ke rumah Rido sekarang!"


"Baiklah ...." sahut Komandan.


Tak lama, ayah mendatangi perawat dan mengobrol tentang sesuatu yang tidak aku pahami. Aku hanya menatap dari kejauhan dan saat Ayah datang kembali ke sisi ku, beliau mengatakan bahwa kami bisa pergi sekarang.


Aku langsung menurunkan kedua kakiku dari ranjang, tapi saat aku berdiri, rasanya kakiku sakit sekali. Aku berusaha memaksanya, namun yang terjadi adalah semua kakiku gemetar hebat.


"Sarah ... kamu ngak apa-apa, Nak?" sapa Ayah sambil memegang kedua lengan tanganku.


Aku menganggukkan kepalaku dan mengatakan, "Ayah, bantu aku! Aku tidak punya banyak waktu," berkata sambil menangis karena mengingat Feli masih tertinggal di masa lalu karena ia masih ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku.


Seandainya tadi, orang-orang tidak memanggil dan membangunkan aku, pasti tidak begini jadinya. Aku bisa pulang bersama Feli, teriakku di dalam hati dengan rasa takut yang lebih besar dari pada sebelumnya.


Feli masih hidup dan dia tidak akan mampu bertahan di dunia sana lebih dari 24 jam. Aku sangat yakin, jika dia sudah terbiasa dengan kemampuan barunya, dia pasti bisa kembali sendiri tanpa bantuan dariku.


"Sarah .... " Aku mendengar suara Feli dari kejauhan. Suara itu sangat tipis dan halus, saat suara tersebut menyapa telingaku, aku langsung merasa kuat dan aku juga tau harus berbuat apa.


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 25 menit, kami tiba di rumah Rido. Tapi kami hanya bertemu dengan asisten rumah tangganya. Kata Mang Darwin, Papanya Rido pergi.


"Iya, tadi beliau ke rumah sakit bersama kami. Hanya saja, saat mendengar Azura menghilang, ia pergi keluar. Mungkin sebaiknya saya telepon dulu dia," ucap komandan pada asisten rumah tangga tersebut sambil menelepon Papanya Rido.


"Silahkan masuk dulu, Tuan."


Setibanya di dalam rumah mewah tersebut, aku langsung terbayang semua kejadian dan peristiwa yang terjadi pada Mama dan Rido. Tampilan itu terlihat nyata bagiku, sampai- sampai dari kedua tanganku keluar keringat dingin.


"Maaf, Mang Darwin. Apa boleh saya ke kamar Rido?"


"Saya akan menemani Sarah sambil menelpon Papanya Rido. Ini masih belum tersambung," ucap Komandan yang memang sudah dikenal oleh asisten rumah tangga tersebut.


"Silahkan, Tuan."


Setelah mendapatkan izin, aku langsung berlari ke arah kamar Rido. Ini pertama kalinya aku kesini, tapi itu menurut mereka yang tidak tau apa yang sudah aku alami selama beberapa jam terakhir ini.


"Dari mana kamu tau arah kamarnya Rido, Sarah?" tanya Komandan yang terus mengikuti lari kecil dari kedua kakiku yang memang sudah sangat melemah.


"Aku sudah pernah kesini, Ndan," jawabku dan beliau tampak bingung karena sebelumnya aku sama sekali tidak mengenal Rido, jadi mana mungkin aku pernah masuk ke dalam rumah ini. Tapi sayangnya kata tidak mungkin hanya berlaku pada manusia, tidak bagi Allah.


Aku membuka pintu kamar Rido, saat itu aku melihat sosok Feli yang tampilan rohnya berbeda dengan manusia yang sudah tiada. Dia duduk jongkok di pojok ruangan, dia pasti terjebak dan ketakutan. Ucapku di dalam hati.


"Feli ...? apa itu kamu?" tanyaku untuk lebih yakin dengan penglihatan ku.


"Sarah ... Sarah, ayo ikuti aku!" ucap Feli yang berlari cepat melewati pintu. Disaat yang sama, aku langsung mengejar Feli. Oh ternyata jika roh dari manusia yang masih hidup normal, tidak mampu menembus sesuatu seperti pintu ataupun tembok. Ucapku tanpa suara, pantas saja Feli terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Aku kembali berlari ke bawah bersama Komandan, tapi kali ini langkah kakiku sangat cepat. Tidak seperti sebelumnya karena langkah Feli juga sangat cepat dan aku tidak mau kehilangan jejak.


Aku melihat Feli masuk ke dalam kamar Mama. Sebenarnya ada rasa segan yang besar jika aku harus masuk ke dalam sana, tapi Komandan yang sudah mengerti aku, langsung meminta izin kepada Mang Darwin dan mengatakan ini situasi genting, sehingga kami diizinkan untuk masuk.


Mang Darwin menemani kami dan bersama-sama masuk ke dalam kamar tersebut. Awalnya tidak ada apa-apa di kamar ini, hingga ada bayangan yang aku yakini adalah Feli menjatuhkan sebuah cover ukuran besar dari atas lemari kayu berwarna hitam mengkilat.


Braaak


Semua terkejut hingga mundur beberapa langkah dari cover tersebut. Namun tidak denganku, aku yakin ada sesuatu di dalamnya.


Aku segera membuka cover tersebut dan saat yang bersamaan, aku melihat banyak sekali lembaran surat keterangan kesehatan dari rumah sakit. Di sana tertera bahwa Mamanya Rido dalam kondisi sakit keras dan saat itu aku merasa ada keganjilan.


Tak lama, aku merasa Feli ada di hadapanku saat ini, rohnya seperti kumpulan air dan saat mataku bertemu dengan matanya, aku melihat sesuatu dan aku tau dimana Azura.


"Aku tau dimana Azura dan tolong bawa aku ke tempat dimana Rido serta teman-temannya berulah!"


"Kamu yakin, Sarah?"


"Kali ini aku tidak punya pilihan, Ayah."


"Kenapa? kamu bisa mundur. Ayah tidak akan memaksamu. Ayah baru sadar kalau semua ini bukanlah urusan yang ringan. Sebaiknya kamu mundur, Nak."


"Tidak bisa, Yah. Karena Feli ada di sana."


"Apa maksud kamu, Sarah?"


"Roh Feli ada di sana Ayah," sahut ku sambil menahan tangis dan ketakutan ku. "Aku yakin, Feli ada di sana," tegas ku sekali lagi.


"Baiklah ... ayo kita pergi sekarang!"


"Iya."


Kami meninggalkan rumah Rido menuju rumah angker tersebut. Sebenarnya apa hubungan rumah itu dengan semua peristiwa ini? tanyaku sambil berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus aku lakukan.


Tak lama, suara HP Komandan berbunyi. Ternyata dari Papanya Rido. Selanjutnya Komandan mengatakan bahwa kami akan ke rumah angker tersebut saat ini. Aku sudah terlalu bingung sehingga aku tidak bisa lagi mendengarkan banyak percakapan diantara mereka.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘