
Waktu terus bergulir, sepertinya matahari dan bulan yang beraksi bergantian tidak lelah dan terus melakukan aktivitasnya. Sabda langit yang mengagumkan, iya ... itulah alam yang selalu patuh dan memenuhi jadwal dari sang Pencipta.
Kepatuhan alam semesta terhadap ketentuan Allah SWT bukan karena keterpaksaan, tetapi betul-betul suka rela seperti diterangkan Allah SWT dalam surah Fussilat ayat 11 yang artinya,
"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata keadanya dan kepada bumi:'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. 'Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati." (QS Fussilat [41]: 11).
Dengan tunduk dan patuhnya alam semesta pada aturan-aturan dan hukum Allah SWT, maka alam selalu bertingkah laku sesuai dengan aturan dan hukum tersebut. Selain itu, tingkah laku alam juga bersifat tetap.
Itu semua adalah alam, beda lagi dengan manusia. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna karena memiliki akal pikiran, tapi ternyata akal pikiran manusia itu jugalah yang menjadi momok menakutkan bagi mereka semua, jika mereka hidup tanpa ada ilmu dan kepatuhan baik kepada Allah maupun sesama manusia yang dianggap pantas untuk dicontoh dan didengarkan (seperti orangtua, guru dan orang yang dituakan).
Malam tadi, sekitar pukul 19.00 WIB, kami kedatangan tamu spesial. Beliau adalah komandan yang selalu membantu kami dalam setiap kasus gaib sehingga kami menyambut kedatangannya dengan sangat antusias.
Bukan tanpa alasan, karena kepercayaan beliau kepada kamilah sehingga urusan kami lebih mudah. Mana ada polisi yang langsung bergerak dengan cepat jika hanya mendengarkan laporan abstrak. Namun beliau bersedia melakukannya sejak kejadian aku menemukan tulang belulang ibu, tengkorak Tania dan Suster Isabella.
Flashback
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok. "Assalamu'alaikum .... "
"Waalaikumsalam .... " jawab Ayah yang sedang makan malam bersamaku dan Feli.
Tadinya aku yang ingin berdiri dan membukakan pintu, tapi kata Ayah biar Ayah saja yang melakukannya. Kemudian Ayah meminta kami untuk menghabiskan makan malam kami yang ala kadarnya ini.
"Baik, Yah," sahut ku dan Feli bersamaan seperti saudara kembar yang tidak mirip sama sekali.
"Sarah, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kamu jangan marah dan salah paham ya!"
"Baiklah ... apa Fel?"
"Aku menyayangi Ayahmu lebih dari pada aku menyayangi Ayahku sendiri. Bagaiamana tuh?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Menurutmu?"
"Wajar saja, Bukan kah Ayah juga sudah menganggap kamu seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan saat aku membeli sesuatu, kamu juga dibelikan Ayah kan? "
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Kenapa tertawa?"
"Ya, aku sendiri terkadang merasa aneh karena Ayah sering membelikan kita pakaian yang serupa."
"Hemh ... kalau soal itu aku no comen."
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha," tawa ku yang membalas tawa Feli karena kami merasa sering diperlakukan seperti anak kecil oleh Ayah.
Satu bulan hidup dengan ketenangan membuat kami merasakan hal yang sama seperti gadis-gadis pada umumnya. Feli bilang, rasanya menyenangkan dan dia sangat bersyukur.
"Oh iya, apa kabar Rian, Fel?"
"Belum ada kabar, mungkin dia masih asik berkumpul dengan Papa dan Mamanya. Aku ini apalah Sarah, hanya ampas rengginang."
"Ha ha ha ha ha ha ha, jangan kecewa begitu! Mungkin memang sedang sibuk. Semoga dia baik-baik saja dan tidak selingkuh," ucapku menggoda Feli.
"Iiihhh ... dasar nyebelin."
"Ha ha ha ha ha ha ha ... kepikiran tuh dia nya," ejek ku sekali lagi. "Pasti setelah ini dia mulai menggambar untuk membuktikan perkataanku," sambung ku lalu kembali menertawakan Feli.
"Kamu sudah ketularan penyakit Rian dan Kak Rio. Makanya jaga jarak aman! Supaya ngak ikut gila," ucap Feli sambil meruncingkan muncung nya.
Melihat sikap Feli seperti itu, aku malah semakin menertawakan dirinya. Saat ini Feli tampak kesal hingga ia terlihat malas untuk menghabiskan nasi yang masih cukup banyak di dalam piringnya.
"Nyebelin," tambahnya dengan kedua pipi yang tampak gembung.
"Ngak ada apa-apa, Yah."
"Ini, Yah. Sarah nakal. Sejak tadi dia selalu mengejek dan mengolok ku."
"Ha ha ha ha ha ha ha, dasar anak Ayah," ejek ku pada Feli.
"Kalian ini sudah pada dewasa, tapi masih saja bersikap kekanak-kanakan begitu."
Sebenarnya aku masih ingin tertawa, tapi aku menahannya. "Siapa yang datang, Yah?"
"Komandan."
"Apa? aku tidak mencuri, Yah," ucapku. bingung.
"Rasanya aku juga tidak berbuat salah," tambah Feli.
"Ayo segera habiskan makan malam kalian! Beliau mencari kalian berdua," ucap Ayah sambil menghela nafasnya yang panjang. "Komandan kesini dengan menanggalkan pakaian seragamnya."
Tiba-tiba candaan menjadi ketegangan. Firasat ku mulai tidak enak, ada apa? tanyaku di dalam hati sembari menatap Feli yang juga tampak menekuk dahinya.
Tanpa banyak bertanya kembali, aku dan Feli segera menghabiskan makan malam kami dan bergerak menuju ruang tamu. Saat tiba di ujung ruangan, aku melihat ada 5 orang berusia jauh di atas kami tengah duduk dengan wajah yang memelas.
"Ndan," sapaku kepada komandan yang duduk di kursi paling ujung lalu ia berdiri, menyalami aku dan Feli. Tak lama, yang lainnya ikut memperkenalkan diri. Intinya, mereka adalah saudara kandung dari Komandan Aris.
"Ini Sarah dan yang disana berambut pendek, namanya Feli," ucap Komandan memperkenalkan kami kepada keluarganya.
"Duduk, Nak," ucap Ayah sambil memberikan tempat di kursi yang sama dengan dirinya, kepadaku dan Feli.
"Ada apa, Ndan?" tanyaku mulai penasaran.
"Begini, Sarah. Sekitar 2 minggu yang lalu, saat liburan. Keponakan saya, anak adik saya yang ini," berkata sambil menunjuk ke arah adik perempuannya. "Melakukan perjalanan liburan dengan teman-temannya. Tapi, bukannya liburan dan kesenangan yang mereka dapatkan, malah tragedi yang menewaskan 6 orang dari 8 orang yang berangkat."
"Innalillahi wA innalillahi raji'un," ucapku dan Feli bersamaan.
"Salah satu yang selamat adalah Rido dan saat ini, ia di rawat di ruang ICU dalam keadaan sadar, tapi tidak dapat berbicara karena setengah lidahnya putus dan tulang belakangnya patah. Rido mengalami kejadian buruk setelah berhasil pulang dengan selamat."
"Jadi maksud Komandan, dia sakit seperti ini saat setelah sampai di rumah?"
"Benar sekali, Sarah," sahut laki-laki separuh baya. "Saya adalah Ayahnya. " Selain Rido, saya juga kehilangan istri saya, ia meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan," ucapnya sambil menangis hebat.
Aku dan Feli saling menatap dan masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Lalu, siapa satu orang lagi? dan bagaimana keadaannya?"
"Namanya Azura dan dia adalah keponakan saya. Sampai saat ini, Azura dalam kondisi baik dan sadar, tapi kami merasa dia sangat berbeda dan berubah terutama dalam sikap."
"Mohon diperjelas!" ucap Feli.
"Dia jadi sering menyendiri, berbicara kasar, terkadang bicara sendiri, tertawa sendiri, suka menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Untuk itu keluarga mengurungnya di dalam kamar," jawab Mamanya Azura sambil menangis.
"Apa yang harus saya lakukan, Sarah?" tanya Komandan dengan wajahnya yang tampak cemas.
Aku dan Feli saling menatap. Kami tau ini bukanlah hal yang wajar, tapi kami baru saja merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Lagipula kasus ini terdengar berat karena seperti ada sesuatu yang terselubung. Jika memang ini ulah makhluk jahat, pastinya dia bukan makhluk sembarangan.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘