ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
SEBATAS TAU DAN INTERMEZZO


Kami tiba di pondok pukul 15.30 WIB. Sebelum berbincang dengan Paman, kami memilih untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah dipimpin oleh Kak Rio. Rasanya tenang dan damai sekali saat mendengar ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran yang sebenarnya merupakan ayat-ayat pendek saja.


Sudah terbayang oleh ku, bagaimana nanti ketika ia menjadi imam ku. Aku yakin, dia bukan hanya akan menjadi penyanyi yang handal, tapi juga imam yang hebat di dalam rumah kami nanti. Semoga Allah selalu menjaga hati kami dan menjodohkan kami hingga maut yang memisahkan.


Selesai dengan shalat berjamaah, aku melihat Mia jauh lebih tenang. Kami saling bersalaman dan Mia mengucapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian kami.


"Aku cuma mau bilang makasih banget buat kalian semuanya. Sekarang aku jauh lebih tenang dan merasa damai. Sejak seminggu yang lalu, hatiku benar-benar nggak karuan. Tapi setelah aku shalat bersama kalian, rasanya tenang sekali, ringan sekali. Tidak ada dendam, tidak ada kebencian," ucapnya lalu menangis.


"Sabar, Mia. Bawa istighfar!" ucap Kak Rio.


"Aku nggak tau kalau ternyata kalian open banget karena selama ini kalian kan jarang bergaul dan tertawa keras selama di dalam kelas."


"Kami sedang lelah, Mia," sahut Feli.


"Kami sedang istirahat," sambung ku.


"Di kampus?"


"Iya," jawab Rian.


"Oh .... " sahut Mia sambil menunduk dan berpikir. "Selain shalat, apalagi yang bisa membuat hati tenang dan damai? apakah shalat berjamaah lebih banyak manfaatnya? karena jujur, baru kali ini aku merasa tenang sekali setelah shalat."


"Biasanya kamu shalat gimana, Mia?" tanya Kak Rio dan kami mengambil posisi melingkar dengan jarak yang cukup jauh antara Kak Rio dan Rian.


"Sendiri aja, itu pun sering bolong-bolong. Selama ini Papa dan Mama sibuk sekali, pergi pagi-pagi sekali dan pulang saat larut. Apalagi akhir-akhir ini, aku sama sekali tidak merasa seperti seorang anak yang dianggap. Biasanya beberapa hari sebelum hari ulang tahun ku, Papa dan Mama pulang dan mereka tidak lupa. Tapi sekarang ... mereka malah berangkat ke luar negeri dan pulang minggu depan," curhat Mia dengan bahasa yang cukup jelas.


"Memangnya kapan kamu ulang tahun?" tanya Feli tampaknya sangat ingin tau.


"Besok," sahut Mia dengan suara yang lirih. Kemudian aku dan yang lainnya saling menatap, seolah kami mengerti mengapa Mia dilepaskan saat ini dan kapan makhluk tak kasat mata tersebut akan menghabisi Mia.


"Kalau begitu, malam ini kamu menginap di rumah kami saja, Mia," ucap ku.


"Atau kita menginap disini saja?" tanya Rian. "Agar lebih aman."


"Aman? memangnya kenapa?"


"Tidak ada apa-apa kok, Mia," sahut Feli sambil memegang pundak Mia.


"Apa ada yang aku tidak tau atau apa ada yang kalian sembunyikan dariku?"


"Tidak, Mia. Bukan begitu .... " sahut ku mulai bingung tentang apa yang harusnya aku katakan agar Mia tidak mengetahui kebenaran atas dirinya.


"Oh iya, aku ingin menjawab pertanyaan dari kamu tadi, Mia. Apa boleh?" ucap Kak Rio yang berusaha mengalihkan pikiran dan perhatian Mia.


"Iya, Kak. Aku ingin tau itu?"


"Begini Mia, dalam pelaksanaan sholat fardhu, Islam lebih menganjurkan untuk melakukannya secara berjamaah. Dari Ubay bin Ka’ab berkata: Rasulullah SAW. bersabda, ”Shalat seseorang dengan sesorang lainnya (berjamaah) lebih bersih dari shalat sendirian (munfarid). Dan shalatnya dengan dua orang lainnya lebih bersih daripada shalatnya bersama seorang lainnya. Dan lebih banyak (jumlahnya) maka lebih dicintai oleh Allah Ta’alaa.”


"Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda: Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada saat mereka shalat, kecuali Syaithan akan menguasainya. Berjama’ahlah kalian, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian, (HR. Abu Dawud)."


"Dalam riwayat lain, Rasulullah kembali menganjurkan untuk melakukan sholat berjamaah ketimbang sholat sendirian: Kembalilah kepada ahli kalian, lalu tegakkanlah shalat pada mereka, serta ajari dan perintahkan mereka (untuk shalat). Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika telah datang waktu shalat, hendaklah salah seorang kalian beradzan dan yang paling tua menjadi imam” (HR. Bukhari)


وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوٓا۟ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا۟ فَلْيَكُونُوا۟ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا۟ فَلْيُصَلُّوا۟ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا۟ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَٰحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَن تَضَعُوٓا۟ أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا۟ حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا


Artinya: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu].


"Kemudian pertanyaan yang kedua, apa saja obat hati? memang hati adalah poros kebahagiaan sekaligus sumber kebinasaannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ."


"Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh kalian terdapat segumpal daging; bila ia baik, maka akan baik seluruh badannya. Namun bila ia rusak, akan rusak pula semua tubuhnya. Ingatlah, itu adalah hati. [Muttafaq ‘alaih] Hadits tersebut menunjukkan bahwa baiknya amalan seorang hamba tergantung pada baiknya hati.Sebaliknya, rusaknya amalan seorang hamba adalah sesuai dengan rusaknya hati. Hati yang baik, itu adalah hati yang sehat selamat. Hanya hati seperti ini yang akan bermanfaat di sisi Allâh Azza wa Jalla."


"Dan obat hati yang terbaik adalah Al-Quran. Jadi bacalah dan resapi lah setiap arti dari dalam ayat-ayat Al-Qur'an tersebut."


"Begitu? tidak sulit. Hanya butuh waktu dan aku punya banyak waktu untuk bermain, tapi seperti tidak punya waktu untuk membaca Al-Quran," tugas Mia sambil menelan air liurnya.


"Kita semua disini sama, Mia. Aku juga baru belajar," ucap ku sambil memegang tangan kiri Mia.


"Aku juga baru belajar kok. Saat aku bertemu Sarah, Rian dan Kak Rio, aku baru sedikit paham dan sekarang kami sedang sama-sama belajar," sambung Feli.


"Benar itu, kita semua disini masih sama-sama belajar," sambung Kak Rio dan Rian.


"Assalamu'alaikum .... " ucap Paman sambil melipat kain sarungnya ke depan dan duduk bersama kami.


"Waalaikumsalam .... " sahut kami bersamaan.


"Seru sekali kedengarannya."


"Iya Paman, perkenalkan ... ini Mia teman kami satu kampus."


"Aku Mia, Paman," ucap Mia sembari melipat kedua tangan dan letakkan di depan dada.


"Panggil saja saya Paman! Sama seperti yang lainnya ya."


"Terimakasih, Paman."


"Sama-sama. Oh iya, tadi Rian menelpon dan menceritakan masalah di kampus. Bagaimana?" tanya Paman yang tidak mengetahui tentang Mia dan kondisi kampus.


"Ini yang Rian ceritakan tadi, Paman."


"Oh begitu, sebaiknya kalian makan siang dulu. Belum makan kan?" tanya Paman sambil menatap kami satu demi satu.


"Belum, Paman."


"Ini sudah sore, makanlah dulu."


"Iya, Paman," sahut Rian, Kak Rio dan Feli.


Mereka berempat langsung berdiri, sementara aku masih duduk bersama Paman dan saat Paman menanyakan kenapa aku tidak ikut makan? aku langsung menjawab jika aku masih dalam keadaan berpuasa.


"Kalau begitu, Mia harus dijaga dengan baik."


"Iya, Paman. Makanya kami mengajak Mia untuk bersama. Kemungkinan besar, aku akan membawa Mia pulang ke rumah dan aku yakin, Ayah tidak akan merasa keberatan."


"Iya ... Ayahmu itu punya hati yang lapang, Sarah."


"Makasih, Paman."


"Sebenarnya Paman sangat ingin kalian menghabiskan malam disini sambil berzikir dan dibantu teman-teman yang lain, tapi Paman sudah berjanji untuk menyelesaikan urusan bersama keluarga Pak Seno. Jadi .... "


"Tidak apa, Paman. Semoga urusannya cepat selesai jadi Paman juga bisa langsung membantu kami. Lagi pula tidak baik mengingkari janji, ditambah lagi keluarga Pak Seno merupakan donatur raksasa di pondok ini."


"Iya, Sarah."


"Dimana ruqiyah nya akan dilaksanakan, Paman?"


"Disini, Sarah. Makanya akan sulit jika kalian disini."


"Aku mengerti, Paman."


"Semoga Allah selalu bersama kita, melindungi kita dan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi roh fasik yang menyesatkan umat manusia ataupun jin yang ingin membutakan hati dan pikiran kita, amin .... "


"Amiiin .... "


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan, Sarah?"


"Sebenarnya ada, Paman. Tapi aku ragu karena keadaan kita rasanya belum tepat."


"Tidak apa, coba saja."


"Aku ingin Paman menjawab pertanyaan dari Nenek Nawang Wulan karena aku tidak mampu."


"Baiklah ... silahkan!?"


"Kondisinya sangat lemah, Paman."


"Jangan keluar! Disini panas baginya."


"Paman sungguh sangat fleksibel, aku salut. Di luar sana banyak sekali orang yang tinggi ilmu agamanya sehingga ia mencemooh dan merendahkan, bahkan memandang hina makhluk yang hitam atau manusia yang tidak taat dalam beribadah."


"Paman seperti ini karena memang di dalam al-quran sudah dikatakan bahwa jin itu memang ada, Sarah. Lagi pula tidak ada gunanya orang berilmu, tapi hanya menggunakan ilmunya untuk menyakiti orang lain. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling tinggi derajat dan ilmunya, tapi beliau sama sekali tidak pernah mencemooh ataupun menghina makhluk ciptaan Allah yang lainnya."


"MasyaAllah .... " ucap ku sambil menahan air mataku.


"Begini, Sarah. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan sumber rujukan utama membahas berbagai hal dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’an juga sarat dengan keterangan-keterangan ilmu pengetahuan. Salah satu pengetahuan yang diterangkan Al-Qur’an ialah makhluk halus, baik malaikat, jin, hingga setan. Ketiga makhluk tersebut ditulis oleh Pakar Tafsir Al-Qur’an Muhammad Quraish Shihab dalam ketiga bukunya tentang malaikat, jin, dan setan dalam Al-Qur’an. Kamu bisa baca, ada di atas meja Paman."


"Dalam buku tentang Malaikat, Quraish Shihab berupaya menerangkan bahwa hanya orang-orang istimewa lah yang dapat merasakan langsung kehadiran malaikat. Hal ini terjadi ketika Muhammad yang saat itu berumur 40 tahun merasakan kehadiran makhluk saat dirinya berkontemplasi di Gua Hira. Saat itu malaikat jibril menghampiri Muhammad dengan membawa wahyu pertama dari Allah."


"Kemudian tentang makhluk bernama jin, Quraish Shihab menjelaskan bahwa jin secara harfiah bermakna sesuatu yang tersembunyi. Makna tersebut menunjukkan bahwa jin merupakan makhluk halus. Sifat halusnya jin bisa menyerupai manusia secara fisik, namun manusia sendiri tidak bisa melihat jin secara kasat mata, kecuali diterangkan oleh Quraish Shibab yaitu, orang tersebut mempunyai kemuliaan dan keistimewaan."


"Kemuliaan dan keistimewaan?" ucap ku sekali lagi.


"Salah satu dasar pokok keimanan seorang Muslim ialah percaya pada hal-hal ghaib. Sesuatu yang ghaib ini merujuk pada sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indera, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan maupun oleh sebab-sebab lainnya."


"Perihal ghaib, Quraish Shihab menerangkan bahwa banyak hal ghaib bagi manusia serta beragam pula tingkat keghaibannya. Pertama, ada ghaib mutlak yang tidak dapat terungkap sama sekali karena hanya Allah yang mengetahuinya, contoh kematian."


"Iya, Paman. Itu adalah hak Allah."


"Kedua, ghaib relatif, sesuatu yang tidak diketahui seseorang tetapi bisa diketahui oleh orang lain, contoh ilmu pengetahuan, makhluk halus, dan lain-lain. Istilah jin dalam Al-Qur’an berarti yang tersembunyi dan tertutup."


"Quraish Shihab mengungkapkan sejumlah akar kata yang sama, di antaranya majnun (manusia yang tertutup akalnya), janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena ketertutupannya oleh perut ibu), al-junnah (perisai, karena ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindar dari kecaman dan sanksi), janan (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan serta pengetahuan)."


"Di lihat dari perspektif linguistik atau kebahasaan, bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk halus yang tersembunyi, karena tertutup. Tersembunyi dan tertutup ini bukan berarti sama sekali tidak terlihat karena ghaib nya relatif, sebagian orang bisa melihat jin karena keistimewaan yang dimilikinya, biasanya manusia yang dekat dengan Allah karena akhlak dan ilmunya."


"Paling tidak, ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan ini menyangkut hakikat jin. Pertama, memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Karena menurut pandangan ini yang membawa manusia pada hal-hal positif ialah malaikat, sedangkan jin dan setan sebaliknya. Pandangan ini juga menilai bahwa jin tidak memiliki wujud. Kedua, memahami jin sebagai virus dan kuman-kuman penyakit. Namun pandangan ini mengakui eksistensi jin. Ketiga, memahami jin sebagai jenis makhluk manusia liar yang belum berperadaban," jelas Paman panjang lebar


"Dari ketiga pandangan tersebut, sekilas bisa dipahami bahwa jin merupakan makhluk yang mewujud pada sesuatu. Namun, keberadaan jin sendiri diterangkan dalam Al-Qur’an bahwa, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56)."


"Jadi, karena diciptakan, tentu wujudnya ada. Perbedaannya ialah, manusia diciptakan dari unsur tanah, sedangkan jin diciptakan dari api. Menurut Quraish Shihab, iblis dalam Al-Qur’an diterangkan dari jenis jin. Namun demikian, iblis maupun setan mempunyai karakteristik tersendiri sehingga tidak semua makhluk jin adalah iblis atau setan."


"Bacalah buku itu, Sarah! karena kamu sering bersinggungan dengan mereka. Meskipun buku ini tidak terlalu tebal, tetapi cukup memahamkan kepada orang yang membacanya, perihal keterangan makhluk jin, termasuk soal tempat dan waktu yang disukai jin, bentuk jin, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya."


"Lalu, apa pentingnya manusia memahami makhluk halus secara umum, Paman?"


"Selain karena dorongan keimanan, terkait makhluk ghaib, jin dan makhluk halus lainnya juga menunjukkan kepada manusia bahwa mereka bukan makhluk satu-satunya di alam semesta. Wallahu’alam bisshowab."


"Baik, Paman. Aku mengerti."


"Kalau begitu, silahkan kita mulai saja diskusi bersama Nenek Nawang Wulan, Sarah."


"Baik, Paman."


Bersambung ....


NB:


Harap bersabar, sedang banyak gangguan. Jika bosan, tinggalkan saja novel ini. jika ditanya kenapa Sarah harus melalui banyak tragedi seperti ini? jawabannya hanya agar Sarah lebih kuat dan berpengalaman untuk menghadapi musuh terakhirnya.


Kapan tamat novel ini? jawabannya mungkin bulan depan. Tergantung, apakah saya mampu menyelesaikan bulan depan. Makasih untuk pembaca yang masih stay dan positif thinking 🙏.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.