ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TENANG


Air matanya kembali menetes. "Apa yang kalian inginkan? uang? atau apa yang harus saya lakukan? mengemis?" ucapnya tampak sangat geram dengan keadaan.


"Iklas ... jika Ibu sudah bisa, silahkan hubungi kami. Ini nomor HP Sarah dan Feli, Bu," ucapku lalu Bu Marisa terdiam sambil menatap kami keluar dari rumah megah miliknya.


"Tunggu!!" ucap Bu Marisa sambil berlari ke arah kami bertiga, ketika kami baru saja memegang pagar putih pelindung rumah tersebut. "Satu hal lagi, kenapa kalian ingin membantu saya? saya butuh jawaban!" ucapnya dengan tatapan curiga kepada Kami bertiga, tapi aku berusaha untuk tenang.


"Ini semua bukan karena ataupun tentang Ibu, tapi tentang hal lain yang orang lain tidak ketahui. Kami bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa orang lain rasakan, terutama tentang penderitaan dan kesakitan."


"Kalau begitu, tunjukkan kepada saya! Penderitaan dan kesakitan seperti apa yang kalian lihat dan ketahui?"


"Tentu saja, tapi setelah Ibu bisa iklas. Kami permisi," ucapku sembari meninggalkan Bu Marisa yang kacau dan perasaannya yang penuh kebingungan.


Sebelum benar-benar meninggalkan Bu Marisa, sekali lagi aku memutar tubuhku dan menatapnya. Dari sini (Luar pagar), tampak kakinya gemetaran saat melangkah. Mungkin karena menahan perih di hatinya sekaligus menahan berat di tubuhnya yang memang sudah melemah, setelah semua cobaan yang bertubi-tubi seakan tak pernah ada habisnya.


*****


Kami meninggalkan rumah Bu Marisa dan langsung kembali ke rumah. Aku tidak tau harus berkata apa saat ini, rasanya seluruh tubuhku melemah melihat penderitaan orang lain.


"Sarah, apa kamu yakin dengan semuanya?" tanya Feli sambil memegang tangan kanan ku.


"Besok, saat kamu melihat segalanya, kamu akan tau Feli. Mungkin kamu akan merasakan hal yang sama denganku."


"Sebenarnya aku ingin tau sekarang juga!"


"Jangan! Ini berat. Beda dengan kisah lainnya yang pernah kita jalani Feli."


"Heeeemh ... ada chat nih!" kata Rian berusaha menetralkan segalanya.


"Dari siapa? kok semangat banget?" tanya Feli


"Katanya sih dari manusia yang tak dianggap."


"Ha?" ujar Feli kaget.


"Sarah, lihat HP kamu! Ada yang sudah merengek ini," kata Rian sambil menahan senyumnya.


"Siapa sih?" ucapku sedikit bete.


"Sarah, seharusnya kamu itu meluangkan sedikit waktu kamu buat dia! Dia juga butuh kamu banget lho," ucap Feli dengan gayanya yang sok dewasa.


"Kak Rio? tapi memang dia nya kok yang sibuk. Bukan aku, lagi pula dari kemarin dia sama sekali ngak chat aku," sahut ku terus menggerutu.


"Itulah maksud Feli, Sarah. Kalau dia ngak ngubungin kamu, harusnya kamu yang ngubungin dia. Cinta itu saling, Sarah."


"Kalian pada sok dewasa ya. Ntar cepat tua kayak Bu Marisa baru tau rasa kalian berdua."


"Heeemh ... sumpah seperti itu tidak akan berhasil. Ayo buka HPnya!"


"Iya iya ... bawel," ujarku sambil membuka HP dan melihat chat yang ternyata dari Kak Rio. "Kak Rio di rumah, ayo segera pulang."


"Baiklah .... " sahut Rian dan aku kembali menyandarkan tubuhku di bangku belakang, sambil melihat ke arah jendela dan menikmati pemandangan malam yang bercahaya.


*****


Kami tiba di rumah dan Kak Rio masih berdiri di teras rumah. Dia tampak lelah, ia terus menyandarkan tubuhnya di tembok teras sambil menatap lampu luar rumahku yang memang otomatis hidup di malam hari.


"Kak," sapaku lalu disambut dengan senyumannya yang khas.


"Iya ... dari mana aja?" bertanya dengan matanya yang teduh.


"Tadi Bu Marisa pingsan di dalam kelas, Kak. Makanya kita antar pulang dan ngobrol dulu sebentar. Setelah kondisinya membaik, baru kami pulang," sahut Feli.


"Iya, ngak papa. yang penting kalian semua dalam kondisi aman dan baik-baik saja."


"Ayo masuk, Kak!" ucapku dan kami masuk ke dalam rumah bersamaan.


"Waaaah ... kebetulan banget Kak, aku lapar sekali."


"Feli ... itu khusu buat Sarah. Apa kamu ngak lihat kalau kotaknya berwarna merah muda," goda Rian.


"Ha ha ha ha ha ha ha ... kamu ada ada saja ya Rian. Itu kotak emang sudah begitu dari sananya," jawab Kak Rio sambil tertawa cukup banyak dan tawanya itu bisa menghapus perasaan tidak enak di dalam hatiku. Apa ini yang nanya cinta? tanya ku di dalam hati.


"Kalian tunggu disini ya! Aku mau buat minuman hangat dulu," ujar Feli.


"Aku kopi ya, Feli," ucap Rian.


"Ok. Kak Rio?"


"Sama dengan Sarah aja, biar satu rasa."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... cie cie ... biar satu rasa ya?" ucap Feli dan Rian sekali lagi, tapi kali ini sambil tertawa dengan ekspresi menggoda. "Jadi ... kamu mau minum apa, Sarah?"


"Jus Wipol."


"What? ha ha ha ha ha ha ha ... pada konslet ya?" ujar Feli dan Rian sekali lagi. Sementara Kak Rio semakin tertawa karena keadaan.


"Ayo Feli, aku bantu kamu!"


"Iiiiihhhh ... tumben Rian genit," ucapku.


"Lagi pengen nempel. Jangan ganggu ya!"


"Yang lama ya!!" sahut Kak Rio dan aku segera mencubit pinggangnya.


"Jangan nakal, Kakak!" ucapku.


"Aku juga ingin berdua-duaan saja denganmu, Sarah. Hemmh ... kapan ya kita bisa pacaran atau nonton bareng gitu? doble date juga ngak papa."


"Setelah urusan Bu Marisa selesai ya, Kak."


"Memang urusannya penting?"


"Penting banget, Kak. Hanya saja aku ngak bisa menyimpulkan dengan baik karena masih belum mengumpulkan petunjuk yang banyak."


"Harusnya kamu jadi detektif, Sayang."


"Ha ha ha ha ha ha ha ... bagaimana dengan detektif cinta?" tanyaku sambil mendekatkan wajahku pada wajah Kak Rio. Aku hanya ingin dia tau, kalau aku juga sangat merindukannya dan selalu ingin bermesraan dengannya.


"Apa boleh?" tanya Kak Rio.


"Apa mereka sedang mengintip?" tanyaku karena posisi duduk Kak Rio lebih bisa mengawasi dua pasang mata yang berada di dapur tersebut.


"Aman!" sahutnya cepat sambil tersenyum kecil. "Bisa kita mulai?"


"Tentu saja," jawabku sambil tersenyum dan merasa cukup lucu karena rasanya begitu ribet dan sulit. Padahal hanya ingin berci*man kecil.


"5 menit ya! Apapun yang terjadi, jangan dilepas!" ucap Kak Rio.


"Baiklah .... " Aku dan Kak Rio saling menikmati bibir kami yang lembut, berselimut nafas yang hangat. Rasanya ... sangat luar biasa.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘