
Aku keluar lebih dulu dari dalam kamar. Hariku hancur dan rasanya tidak menentukan, tapi aku sudah berjanji kepada Nova untuk mengantarkannya pulang dan aku akan menunaikan janjiku.
"Bagaimana kondisi Feli, Rian?"
"Sedang diobati dan insyaAllah semua akan baik-baik saja."
"Rian, ada yang harus kita lakukan dan aku minta, tidak ada pertanyaan kali ini." Rian menatapku tajam dan ia berusaha menelaah arti dari ucapan ku. Walau begitu tampak bingung, Rian tetap mengiyakan perkataan ku.
"Kamu mau ikut, Fel?"
"Iya," sahut Feli yang tampaknya sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Nova yang sebenarnya. Saat ini Feli hanya tahu bahwa Nova adalah seorang gadis yang membutuhkan bantuan dari kami.
"Kalian ke mobil saja duluan, aku menyusul," ucap ku berusaha untuk berdamai dengan perasaan dan pikiranku.
"Baik, Sarah," kata Rian sambil merangkul Feli untuk ke mobil.
"Wangi banget, seger ...."
"Apa, Nek? jangan mengejek aku ya?!" ucap ku karena sadar bahwa aku belum sempat mandi sore ini.
Tak lama, Nova keluar dari kamar dengan memegang kedua tangannya sangat erat. Dia tampak sangat takut dan cemas. "Kamu sudah siap?" tanya ku dengan suara yang agak tenang. Ternyata dia yang dimaksud oleh Nenek, ucapku tanpa suara.
"Em .... " sahut Nova tanpa membuka mulut dan menganggukkan kepalanya. Kemudian aku menyemprotkan parfum sebanyak-banyaknya pada tubuh Nova.
Perjalanan di mulai. Sebelum aku keluar kamar tadi, Nenek Nawang Wulan sudah mengatakan agar aku mengenakan parfum yang banyak kepada Nova. Ini penting sekali agar aroma dasar tubuhnya tidak tercium garis gaib yang sedang mengincarnya.
"Kita melaju ke jalan anggrek 2, gang ketiga, rumah nomor 8."
"Perumahan elit dekat rumah sakit?" tanya Rian sambil menatapku dari kaca.
"Iya."
"Baik."
Sepanjang perjalanan sekitar 20 menit, Kami sama sekali tidak berbincang-bincang seperti biasanya. Suasana terasa sangat kaku dan tidak menyenangkan. Apalagi Feli tampak sangat kesakitan, walaupun ia berusaha menutupinya.
"Setelah ini, kamu harus ke rumah sakit Feli!"
"Tapi .... " jawab Feli sambil menegak kan kepalanya dan ia tampak ingin menyangkal perkataan dariku.
"Jangan membantah!!"
"Iya .... " Lalu tubuh dan lehernya kembali melemah serta menyandar di kursi mobil bagian depan.
"Rumahnya yang mana?" tanya Rian.
"Nomor 8 dan ini nomor 4," sahut ku saat melihat rumah mewah dengan cat dasar berwarna kuning.
"Itu ya rumahnya? yang ada tendanya? rame banget. Kalau tau mau ke acara hajatan, harusnya kan kita mandi dulu, Sarah."
"Rian?!"
"Ok ... sorry. Kita akan menepi."
Tak lama, sebelum mobil kami berhenti, seorang pria sekitar umur 45 tahun keluar dari dalam pagar hitam bermotif bunga. "Papa .... " ujar Nova dan saat itu Feli menatap ke arah yang sama dengan Nova.
Mobil berhenti agak jauh dari pagar tersebut, tapi Nova tampak sudah tidak sabar lagi dan aku langsung membuka pintu mobil sebelah kanan dari dalam.
"Kok lewat situ?" celetuk Rian.
"Ingat, tidak ada pertanyaan saat ini!"
"Iya," sahut Rian karena melihat sikap ketus dariku.
"Papa ... Papa ampuni Nova ya, Pa. Nova sudah banyak salah dan saat ini Nova siap menerima hukumannya. Nova hamil, Pa dan laki-laki itu tidak bersedia bertanggung jawab," ucap Nova sembari bersimpuh di hadapan Papanya. Tapi pada saat yang bersamaan, Papa menendang batu kerikil di hadapannya, sehingga tanpa sengaja tubuh Nova juga ikut terjatuh.
"Papa .... " teriak Nova sambil menangis hebat tapi Papa terus memutar tubuhnya dan kembali ke dalam rumah tersebut.
"Sarah, kenapa Papanya jahat sekali?" tanya Feli yang belum turun dari dalam mobil. "Apa dia nggak bisa lihat kalau anaknya sangat berantakan dan sedang tertekan?"
"Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat, Feli! Sebaiknya kita masuk ke dalam!"
"Iya ... aku juga ingin bicara sama Papanya karena sikapnya tidak benar. Itu bukan cara seorang Papa terhadap anaknya. Dia seperti ayahku," ucap Feli dengan bibir yang mulai bergetar dan mata yang merah.
Aku tau, Feli berusaha menahan air matanya dan seolah ia kembali terbayang pada sosok Ayah kandungnya yang selama ini begitu jahat bahkan tidak menginginkannya. Aku sangat mengerti hati Feli, tapi saat ini keadaannya berbeda dan aku belum bisa mengatakan apapun padanya.
"Ayo, Sarah!! Jangan diam aja!"
"Iya, baiklah."
Aku berjalan lebih cepat dan langsung mengangkat tubuh Nova serta menguatkannya. Aku mengatakan kepada Nova bahwa apa yang terjadi saat ini adalah buah dari perbuatannya dan ia harus sabar dan ikhlas menerima segalanya. Nova harus mengerti, bahwa apa yang terjadi saat ini sudah tidak bisa lagi dipungkiri dan diubah.
Feli dan Rian sudah tiba di hadapan ku dan aku menganggukkan kepalaku sebagai isyarat bahwa kami sudah siap untuk masuk.
Saat ini Nova berada di belakang tubuhku, begitu juga dengan Rian dan Feli.
"Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh .... " sahut semua orang yang menatap aku dan Feli tanpa penutup kepala.
"Maaf, permisi," ucapku dan Nova tampak sangat bingung, bahkan ia menatap semua mata yang berada di dalam rumahnya. "Maaf, kami temannya Nova," ucapku dengan suara yang lirih, ketika berada di ruang tengah (ruang keluarga).
Saat mendengar perkataan ku, tiba-tiba seorang wanita dengan kerudung putih di kepalanya berdiri, lalu menatapku dengan mata yang sembab dan merah. Tanpa bertanya, ia langsung memeluk tubuhku dengan erat dan menangis hebat. Saat ini aku bisa merasakan getaran yang kuat di seluruh tubuhnya.
"Nova ... Nova ... Nova ...." teriaknya sambil terus menangis dan menggigil. Tidak ada kata-kata lain, selain dari nama putrinya yang begitu ia cintai.
Saat itu aku juga mendengar Nova memanggil Mama nya dengan suara yang lembut dan Nova mengatakan kan, "Mama, Nova disini. Maafin Nova, Ma. Maafin Nova," ucap gadis belia tersebut sambil menarik air hidungnya dan melebarkan kedua tangannya. "Nova juga ingin dipeluk lagi seperti itu, Ma."
"Sabar ya, Bu .... " ucapku sambil menggosok-gosok punggung Mamanya Nova perlahan dan beliau terus menangis.
Sudah lebih dari lima menit, aku melepaskan pelukanku dari tubuh Mamanya Nova dan beliau mengarahkan matanya ke bawah. Saat itu, aku memberi jarak diantara tubuhku dan tubuh Mamanya Nova. Sehingga Nova dapat melihat jasadnya terbujur kaku diantara kerumunan banyak orang.
Mata Nova membesar, tangannya semakin gemetaran. Kali ini, sepertinya dia tidak sanggup untuk bergerak. "Tidaaak ... tidak mungkin ... tidak .... ya Allah ... ampun ... ampuni aku ya Allah ...." teriak Nova sambil meletakkan dan menempelkan dahinya di lantai yang sudah dialasi dengan ambal berwarna hijau toska.
Aku menangis hebat karena tidak tau dengan apa yang aku lihat saat ini. Ya Allah ... mengapa Engkau memperlihatkan hal seperti ini kepadaku? apa salahku ya Rob? rasanya sakit sekali.
Tak lama, Feli mengambil langkah dan berdiri sejajar denganku. Pada saat itu, Feli terlihat sangat terkejut hingga ia berteriak histeris bahkan nyaris pingsan. "Ya Allah .... " teriak Feli lalu ia terduduk tidak berdaya.
Beberapa orang membantu Feli dan mengangkatnya ke kamar Nova. Sementara Nova masih bersujud tidak bergerak di luar sana, tidak jauh dari jasadnya.
"Sarah .... "
"Ini minyak anginnya, Mbak," ucap seseorang yang tidak aku kenali.
"Terimakasih, Tante."
"Sebenarnya apa yang terjadi? jangan buat aku bingung. Aku nggak kenal gadis itu," tanya Rian yang juga ikut membantuku memasang minyak angin di tengkuk Feli.
Aku mulai menceritakan sejak awal pertemuan kami dengan Nova dan semua cerita Nova kepadaku. "Jadi, gadis itu tidak sadar? dia tidak tau kalau sebenarnya dia sudah tiada?"
"Iya," sahut ku.
"Tapi kapan kamu tau kalau Nova itu sebenarnya adalah roh?" tanya Feli kepadaku dengan tatapan penuh rasa penasaran.
"Sesaat sebelum kita ke sini. Saat itu, tanpa sengaja aku melihat kedua bola matanya yang putih. Itu adalah mata roh, bukan mata manusia, Feli."
"Allahu Akbar .... "
"Tapi bagaimana Feli juga bisa melihat dia, sementara aku tidak?"
"Itu kesalahanku, Rian. Awalnya saat di rumah Azura, aku memperlihatkan kenangan antara aku dan Azura ketika Iblis jahat itu masuk ke dalam tubuh Azura dan aku memotong lidahnya dengan tangan kiri ku yang sudah aku bacakan ayat suci Alquran dan itulah penyebab mengapa Azura tidak bisa berbicara saat ini. Tapi ternyata saat itu tanpa disengaja aku sudah membuka mata batin Feli."
"Ya Allah .... "
"Maafin aku ya, Fel. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya," ucapku sambil merapikan rambut Feli.
"Sudahlah ... aku nggak apa-apa, Sarah."
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Rian.
"Sesampainya di rumah nanti, aku akan mencari cara untuk menutup kembali mata batin Feli. Kemudian untuk urusan Nova, kita tidak bisa berbuat banyak. Hanya sebatas ini saja karena ia sudah menjalin kerjasama dengan iblis.
"Subhanallah .... " ujar Rian.
"Yang penting kita sudah menunaikan janji kita untuk mengantarkannya pulang dan dia sudah tau bahwa sebenarnya dia sudah tiada."
"Iya, tapi sebelum kita pulang, aku ingin mengetahui kebenaran tentang Nova dengan mataku sendiri. Apalagi tadi kamu bilang kan Sarah, kalau menurut keterangan dari Nova dia itu tidak mati saat gantung diri."
"Iya."
Feli berusaha berdiri dan menguatkan dirinya. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Nova dan pada saat itu, aku dan Feli masih melihat Nova menangis terguguh-guguh di dekat kaki Mama dan Papa serta jasadnya sendiri.
Aku dan Rian membacakan yasin dan tahlil untuk Nova, sementara Feli memegang tangan Nova dan mulai masuk ke dalam dunianya untuk mengetahui apa yang terjadi ketika Nova melakukan aksi bunuh diri.
Sekitar 25 menit berlalu, Feli langsung menciumi wajah Nova dan mengatakan, "Istirahatlah dengan tenang! Dunia ini bukan lagi tempatmu."
Setelah melihat Feli selesai dengan keinginannya, aku dan Rian pun meminta izin untuk pamit dan meminta kepada keluarga ini agar kuat menghadapi kepergian Nova.
Perbuatan yang tidak tanggung-tanggung. Nova sudah berbuat zina dan hamil, kemudian saat ini dia melakukan aksi bunuh diri. Dia mengakhiri hidupnya dan bayinya, ditambah lagi ia sudah melakukan perjanjian dengan iblis. Semua ini adalah dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah.
Terkadang kita lupa dan sulit sekali menjaga mulut kita saat berbicara dalam keadaan marah. Maka saat kita mengumpat, apalagi menyumpahi seseorang dengan perasaan yang sangat membenci. Ternyata tanpa kita sadari, iblis memanfaatkanya dan menjadikan diri kita bagian dari diri mereka. Maka dari itu dikatakan, mulutmu adalah harimau mu, yang jika tidak mampu kamu jaga, maka ia akan menerkam dirimu.
βSiapa yang bermain-main dengan umurnya, maka dia akan menyia-nyiakan hari-hari yang seharusnya dia gunakan untuk menanam kebaikan, meraup keimanan dan mengumpulkan pahala dari kehidupan. Salam, Tinta Emas."
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya π€.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca πππ.