
1 minggu setelah pertemuan ku dengan Mbah siji yang ternyata adalah makhluk yang berbeda. Entahlah, aku jadi bingung sendiri. Namun yang penting tidak ada masalah dan semuanya berjalan dengan baik serta lancar. Iya, tidak ada masalah maupun kendala di dalam keluarga ku ini.
Selain itu, Feli dan Rian pun sudah pindah ke rumah mereka karena Papa dan Mama Rian bersedia untuk menemani mereka. Tampaknya orangtua Rian lebih memilih menunggu menjadi kakek dan nenek daripada tinggal di tempat yang berbeda dengan calon cucunya.
Walau Feli dan Rian tidak lagi tinggal bersama dengan kami, tapi mereka sangat sering berkunjung dan hal itu membuat Ayah bahagia.
Saat mereka pergi dari rumah, Ayah memberikan banyak nasehat kepada Feli dan juga Ryan. Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa harus memberikan nasehat begitu banyak dan detil, padahal Feli dan Rian selalu saja pulang ke rumah ini minimal 3 hari sekali.
Dasar Ayah, gumamku tanpa suara saat mengintip kedua sahabatku yang hanya bisa mengunci mulut sambil menundukkan kepala mereka.
Malam harinya, suasana terasa sangat tenang sejuk dan lenggang. Aku yang bosan tanpa teman bicara seusiaku berniat untuk menghabiskan malam minggu kali ini dengan menonton acara TV kesayangan ku, tentunya setelah aku memijat tangan ayah dan yakin bahwa beliau sudah tertidur dengan pulas.
Pukul 22.00 WIB. Dering telepon dan pesan yang kutunggu belum juga menampakan wujudnya. Kali ini aku cukup kesal dengan Kak Rio karena sudah satu minggu ia sama sekali tidak menghubungiku. Tapi aku berusaha untuk mengerti agar semua menjadi baik-baik saja.
Sambil menyeruput teh hangat di depan TV, aku mendengar suara Mbak Pecek memanggil Wiro dan Mbah Siji. Cara bicaranya sangat berbeda dan aku tahu jika hal seperti ini terjadi maka ada seseorang ataupun sesuatu yang dicurigai oleh Mbah Pecek.
Apa mungkin ada yang sedang mengawasi atau berniat buruk terhadap rumah ini. Tanya ku di dalam hati sambil berpikir.
Tidak ingin penasaran sendiri, aku mengintip ke arah ketiganya dari jendela depan rumah. Tangan kanan memegang gelas teh hangat, sementara tangan kiri menyibak kain gorden berwarna coklat tua.
"Aku merasakannya sejak tiga hari ini, dia selalu mengawasi kita," kata Mbah Pecek sambil berdesis seperti siap menelan musuhnya.
"Ojo, jangan dulu!" kata Mbah Siji menepis keinginan Mbah Pecek. "Belum tentu mengarah kepada kita."
"Bener itu," sambung Wiro. "Kalau memang jahat ataupun mau menyerang, ngapain dia sembunyi di bawah pohon rindang dan gelap seperti itu? Harusnya dia langsung menyerang saja."
"Iya, aku tahu. Itu memang bukan gaya makhluk seperti itu. Tapi bisa saja kalau dia sengaja menunggu kita lengah. Sayang sekali, kita tidak akan pernah lengah," ucap Mbah Pecek dengan gaya sombong seperti biasa.
"Iro ini," sahut Mbah Siji.
"Iya, to?"
"Iyo, uwes lah! Biar aku yang ke sana dan menanyakan maksud serta tujuannya."
"Jangan gegabah, Iro!" jawab Mbah Pecek.
Khawatir karena aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku memutuskan untuk keluar dan berdiri di atas pendopo kesayangan ku. Jika dia menyerang Mbah Siji, aku siap membakarnya hingga hangus dan menjadi abu. Ucap Ku tanpa suara.
Aku sudah membacakan ayat kursi di dalam hatiku, rasanya tinggal di lemparkan saja kepada musuhku. Uh, dadaku tiba-tiba terasa sakit lagi dan ini membuatku meringis.
Tidak ingin lengah, aku terus menatap tajam ke arah makhluk yang bersembunyi di bawah batang yang rindang. Mbah Siji sudah cukup dekat berdiri dan dari sini, mereka tampak saling berhadapan.
Aku mendengarkan semuanya dengan jelas dan sepertinya Mbah Siji dan sosok itu saling mengenal. Tapi mengapa Mbah Siji hanya diam dan berdiri seperti patung di sana? Pertanyaan mulai membanjiri pikiranku.
"Rambet ku .... " ucapnya sekali dengan suara yang semKin lirih seperti ada sesuatu yang penuh mengisi hati dan kantong matanya.
"Wisnu?"
"Rambet ku."
"Wisnu," sahut Mbah Siji dengan tubuhnya yang bergerak dan tampak sangat bahagia. Seperti baru saja mendapat ayam cemani ribuan ekor.
Pemandangan yang tiba-tiba membuat air mataku menetes tanpa alasan. Dari nada suara keduanya, aku dapat mendengar perasaan dan kerinduan yang teramat dalam. Seperti sesuatu yang tidak pernah mungkin akan terjadi, tetapi saat ini terjadi.
"Wiro, apa artinya rambet itu?" tanya ku yang memang tidak tahu artinya sama sekali dan disaat yang bersamaan, aku masih melihat Mbah Siji dan sosok misterius tersebut memanggilnya dengan sebutan yang sama berulang-ulang kali.
"Rambet itu artinya Kakak kesayangan."
"Apa? Berarti yang di sana itu, adiknya Mbah Siji?"
"Iya," sahut Wiro. "Dan entah berapa ratus tahun mereka tidak berjumpa karena Mbah Siji bersama kami saja sudah sekitar tiga ratusan tahun lebih," sahutnya lirih.
"Lalu mengapa mereka hanya bersikap seperti itu? Maksud ku kenapa tidak saling memeluk?" tanya ku karena tiba-tiba aku teringat Tania dan aku juga pernah merasakan rindu yang teramat dalam pada Kakak ku dan saat itu aku hanya dapat melihat tanpa bisa memeluk.
"Karena adiknya Mbah Siji tampak begitu bersih."
"Maksudnya?"
"Dia terlihat seperti orang-orang hebat dan berilmu agama tinggi. Bahkan wujudnya pun sudah jauh berbeda dengan Siji. Hanya wajahnya saja yang sangat serupa."
"Tapi apa salahnya?"
"Siji pasti merasa malu dan tidak ingin mengotori kulit bersih adik yang sangat ia sayangi," sambung Mbah Pecek.
Tiba-tiba bulir-bulir air mataku menetes. Hatiku sangat sakit, apakah hal ini juga yang Mbah Siji rasakan? Tanya ku tanpa suara sembari memegang dadaku.
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.