ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
SALING MENJAGA HATI


Kami tiba di rumah sakit dengan membawa kotak makanan cukup banyak. Ini seperti persiapan mau pergi perang, tapi kami melakukannya dengan suka cita. Bahkan aku melihat Bu Marisa tertawa lebar saat bercanda gurau bersama kami.


Di matanya seperti muncul cahaya harapan untuk menapaki hidup yang berat dan penuh tantangan. Saat aku menatap Bu Marisa, aku seperti melihat diriku sendiri saat aku mengetahui kebenaran tentang kehidupanku. Tania, apa kamu melihatku? aku kembali sukses mewujudkan keinginanmu kali ini.


Kami tiba di kamar perawatan Rian saat ini. Kami saling menyapa dan menanyakan kabar. "Ternyata Bu Marisa sangat cantik ya?" ucap Rian saat melihat sosok Bu Marisa yang selama ini bungkuk menjadi tegap. Wajah yang pucat dan gelap menjadi glowing bercahaya.


"Kamu ini, ada-ada saja," jawab Bu Marisa tampak malu-malu.


"Ha ha ha ha ha ha ... benaran, Bu. Seandainya tadi ibu datang sendiri kesini, kemungkinan besar saya tidak akan mengenali Ibu. Teruslah seperti itu, Bu. Aku yakin, mulai besok semua yang di kampus akan pangling dan terus menatap ke arah Ibu," celoteh Rian tanpa henti.


"Terimakasih ya, Nak. Ibu berhutang budi pada kalian semua."


"Sama-sama, Bu," ucap kami saling bersahutan.


"Bagaimana kondisi perut kamu, Rian?"


"Aman, Bu. Kalau cuma perut, masih ngak apa-apa. Asal jangan yang di bawahnya aja, nanti Feli nangis."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha," tawaku dan Kak Rio agak keras. Sementara Feli memilih untuk diam sambil menjelek Rian.


"Jadi kamu dan Feli pacaran?"


"Iya, Bu .... " sahut ku dan Kak Rio lebih semangat.


"Owwwh ... kamu juga pacaran sama Rio?"


"Iya, Bu .... " sahut Feli dan Rian sambil menyatukan tangannya.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... masa muda yang indah. Dulu ibu juga pacaran sama almarhum suami ibu dan saat itu kami selalu tertawa ceria seperti kalian ini."


"Apa saja yang Ibu lakukan?" tanya Feli.


"Zaman kami dulu, sudah bisa ketemu aja sudah senang banget rasanya. Kami juga sering nonton bioskop dengan memegang pop corn di tangan kiri dan kopi milo dingin ditangan kanan."


"Terus apa lagi, Bu."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... kalau mau pegangan tangan, ya harus cepat-cepat ngabisin pop corn atau minumannya."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... mesti gitu ya, Bu?" sahut Kak Rio sambil tertawa geli.


"Ada-ada saja," tambah Rian.


"Mau gimana lagi? bisa pegangan tangan aja rasanya sudah romantis banget. Terus kalau dia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Ibu, rasanya jantung Ibu mau copot," ucap Bu Marisa dengan matanya yang berbinar-binar dan kami semua kembali tertawa.


"Wah ... kalau Feli dideketin langsung nyambar, Bu. Kalau dikasih dikit, dia langsung ngambek," ucap Rian yang kali ini berbohong.


"Sembarangan, mana ada. Dasar usil kamu, emangnya kapan kamu pernah cium aku? ngak ada tuh, ngak pernah," sahut Feli dan mereka berdebat hebat. Sementara kami tetus tertawa karena tau betul siapa diantara mereka yang sedang berbohong dan sengaja menggoda.


"Itu waktu kemarin di bawah meja dapur, bukannya aku mencium kamu, Feli?"


"Mana ada, berarti kamu melakukannya dengan tikus piaraan Sarah. Gila kamu Sayang, tikus juga dihajar."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... kalian ini. Ada-ada saja, apa memang benar seperti itu?" tanya Bu Marisa yang tampak penasaran sekali saat ini.


"Rian usil thu, Bu," ucap Kak Rio lalu Rian tertawa keras hingga terbatuk-batuk.


*****


"Bu, kapan kita ketempat Mbok Yani?"


"Sebentar lagi saja Sarah, tunggu Rian sudah tidur," ucap Bu Marisa sepertinya tidak tega untuk meninggalkan Rian.


"Baiklah kalau begitu, Bu."


Pukul 14.00 WIB, saat Rian sudah lelap, aku kembali menanyakan hal yang sama kepada Bu Marisa dan ia pun mengatakan, "Sekarang."


Aku dan Kak Rio pergi bersama Bu Marisa ke kamar perawatan Mbok Yani, sementara Feli kami tugaskan untuk menjaga Rian. Semua rencana berjalan dengan sempurna dan kami sering melihat senyum dan tawa dari Bu Marisa.


Jarak antara kamar Mbok Yani dan Rian tidak terlalu jauh, dengan menenteng buah-buahan kesukaan si Mbok, kami berjalan dengan cepat ke arah kamarnya.


Kak Rio masuk terlebih dahulu dengan mengucapkan salam dan di sambut oleh Mbok Yani yang masih terkapar di atas ranjang. Mungkin Mbok Yani baru merasakan sakitnya yang laur biasa saat ini.


"Non Marisa, gimana keadaannya?"


"Saya baik, Mbok. Mbok sendiri gimana kondisinya?"


"Baik, Non. Ngak usah khawatir ya!'


"Syukurlah kalau begitu, Mbok."


"Bagaimana urusannya, Non?"


"Semua berjalan lancar, Mbok. Tiara mungkin akan dipenjara seumur hidup. sementara Kanaya, anak ku itu sudah aku makamkan dengan layak. Nanti malam rencananya kami akan mengadakan doa yasin dan tahlil di panti asuhan tempat saya mengambil Kanaya."


"Yang sabar ya, Non. Masih ada si Mbok."


"Iya, Mbok. Makasih. Tapi Ngomong-ngomong, apa yang terjadi pada telinga si Mbok? sampai-sampai daun telinganya hilang begitu?" tanya Bu Marisa yang tampaknya baru sadar akan kondisi si Mbok.


"Oh ini ya, Non. Malam itu si Mbok kebingungan dan buru-buru. Jadi waktu mau masuk ke kamar, telinganya nyangkut jadi lepas Non."


"Emang nyangkut dimana, Mbok? kok mudah banget lepasnya? saya jadi heran."


"Nganu, Non. Eee .... "


"Malam itu waktu Ibu diserang telah, Kaca-kaca di jendela pada pecah, Bu jadinya mengenai Mbok Yani," ucap Kak Rio berusaha membantu Mbok Yani untuk menutupi kebenaran yang terjadi.


Satu hal yang aku sadari, bahwa Mbok Yani benar-benar menyayangi Bu Marisa hingga ia menahan diri agar tidak menceritakan bahwa yang sudah melepaskan telinganya adalah Bu Marisa.


Aku yakin sekali bahwa kasih sayang Mbok Yani yang tulus akan mampu membantu Bu Marisa melewati hari-harinya yang suram. Dari ujung ranjang, aku selalu memperhatikan Mbok Yani dan seketika aku teringat si Mbok ku. Alfatihah untuk Si Mbok, Ibu dan Kak Tania. Ucapku tanpa suara.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘