
Mentari terbit laksana memberikan senyuman yang menarik diri untuk bangun dari keletihan yang memaksa diri ini tak bergerak. Memaksa untuk melihat masa depan yang tak akan datang tanpa ada sebuah gerakan. "Selamat pagi dunia, " ucapku dengan dagu yang menempel di lengan kanan yang aku lipat menjadi pengganti bantal tidurku.
Rasa malas dan lelah masih saja lebih kuat dari pada niatku untuk ceria dan tidak mengeluh pagi ini. "Hei, apa itu? " tanya Feli sambil menunjuk ujung bibirku yang meruncing dengan telunjuk dari tangan kanannya.
"Sudah bangun? " tanyaku sambil mengangkat daguku.
"Iya ... bagaimana ini? Rasanya luruh badanku seperti banyak kayunya."
"Sabar Feli. Kamu pasti sangat lelah berteman denganku ya? "
"Jangan mengada-ada Sarah. Ini adalah konsekuensi sebuah ikatan. Selalu saja ada kasih sayang dan pengorbanan di dalamnya. Jika kamu jadi aku, aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama Sarah "
"Iya Feli, aku akan melakukannya. "
"Yakin? "
"Tentu saja, tapi maaf untuk sesuatu. "
"Apa itu? "
"Alu pernah meragukanmu."
"Kapan? "
"Waktu kamu diam saat aku meminta bantuanmu. "
"Jangan salah menilai sesuatu hanya karena apa yang kamu lihat Sarah! Gunakan hatimu! Filing itu perlu."
"Maaf Feli. "
"Maaf, permisi. Mayatnya akan segera dikuburkan, " ucap salah satu petugas rumah sakit yang menghampiriku.
"Silahkan tanpa kami, " sahut Feli yang tampaknya masih curiga dengan mayat. Aneh.
"Baik, permisi. "
*****
"Feli, aku mau jenguk Ayah dulu sebentar ya. Bentaaar aja. "
"Iya ... jangan kemana-mana lagi. "
"Iya, mengerti. "
Aku melangkah meninggalkan Feli tapi pada saat yang bersamaan, aku melihat Kak Linda sudah sadarkan diri. Ya, mungkin karena Nenek sudah tidak ada lagi di atas kepalanya. Hemh, ternyata bisa seperti itu ya. Aku baru tau ternyata peyakit itu bukan hanya harus dilihat dari sisi mediasnya saja, tapi juga non medis.
Aku tiba di kamar perawatan Ayah. Menurutku, kondisi Ayah jauh lebih baik daripada pada Feli. "Sarah ... gimana kondisi kamu dan Feli? "
"Aku bai Yah, tapi Feli masih lemas dan belum bisa duduk nyaman. "
"Wajar saja, dia habis operasi besar Sarah."
"Iya Yah. Oh iya, sekarang penguburannya Tante Rima Ayah. "
"Iya, Ayah sudah tau dan Ayah sudah membayar petugas rumah sakit untuk mengurusnya. Ayah tidak ingin melihat wajahnya lagi. Dia sangat keterlaluan, walaupun Ayah juga cukup sedih saat mendengar dia tengah mengandung saat ini."
"Ayah ...."
"Dan ayah adalah orang yang sudah membunuhnya dan anak Ayah. "
"Itu tidak sengaja Ayah, Ayah hanya membela diri dan aku. Sama sekali tidak ada niat buruk. Jangan menyalahkan diri Ayah sendiri Yah. "
"Iya Nak, kamu benar. Ayah hanya terkejut dan merasa jahat. Bahkan sampai saat ini Ayah masih terbayang bagaiamana saat Ayah menancap perutnya dengan penuh amarah."
"Jangan diingat-ingat lagi Ayah. Itu sangat menyeramkan dan menakutkan. "
"Iya Sarah, Ayah pun merasa begitu. Aneh sekali rasanya, dua saudara kembar tapi sangat jauh sekali sifat dan tabiatnya, " ucap Ayah sambil menatap langit-langit kamar perawatan, mungkin Ayah terkenang akan ibuku.
"Apa Ayah merindukan ibu? "
"Sangat ... begitu juga dengan Tania. "
"Ayah, kata Tania kita harus ke rumah Pak Yusuf kalau keadaan kita semua sudah membaik. "
"Benarkah? " Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. "Apa ada hal lain yang tidak Ayah ketahui? "
"Aku juga tidak tau Ayah, tapi Feli juga sepertinya merasakan sesuatu yang mistik tapi ia belum mengatakannya kepadaku."
"Hemh .... "
"Sabar saja, kita juga akan segera tau Sarah. Yang penting kita harus hati-hati dan mawas diri. "
"Iya Yah, setuju. "
"Ayah benar-benar tidak menyangka kehidupan yang seperti ini hadir dalam kisah perjalanan Ayah. Semua ini di luar pemikiran manusia normal dan jika kita bercerita pada orang lain, kemungkinan besar kita tidak akan di dengarkan atau dinggap pembohong besar."
"Ayah benar. Ayah, Ayah harus kuat ya Yah. Aku butuh sekali Ayah dan aku tidak ingin sendirian. "
"Iya Sarah. "
Situasi Pemakaman.
Pukul 10.00 WIB. Seorang Ustad dan 2 orang petugas rumah sakit sudah mengubur Tante Rima dengan layak. Siap dengan tugasnya, mereka langsung meninggalkan kubur Tante Rima dengan menaburkan aneka bunga duka terlebih dahulu.
*****
Pukul 18.30.(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ
(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
(١x) لَا إِلَهَ إإِلَّاالله
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)
Hayya 'alashshalaah (2x)
Hayya 'alalfalaah. (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)"
Suara Azan magrib berkumandang. Aku yang merasa tenang dengan lantunan suara tersebut tidak dapat merasakan hal yang lainnya. Tapi berbeda dengan Feli, tiba-tiba ia gelisah hingga mengeluarkan keringat dingin dari wajah dan tangannya.
"Feli, kamu kenapa? " tanyaku yang melihat reaksi tubuh Feli yang aneh, sesaat setelah suara azan magrib menghilang.
"Memang selalu ada saja orang jahat di atas dunia ini Sarah dan yang harus kita lakukan adalah melawan, " ujar Feli sambil mengenggam tangannya erat.
"Maksud kamu Fel? "
"Dengar Sarah, mungkin selama ini kamu selalu bertanya, kenapa Tuhan memberikan kamu cobaan yang berat seperti ini? Aku juga bertanya seperti itu. Tapi sekarang aku sadar, ternyata semua yang kita miliki sekarang hanya untuk melindungi diri kita sendiri. Setelah itu baru orang lain."
"Aku semakin tidak mengerti. "
"Setelah aku sembuh, aku akan mengatakannya karena kamu memang harus tau Sarah. Lagipula ini sudah terjadi dan kita harus menghadapinya."
"Feli, kamu membuat aku takut dan khawatir tentang masa depan."
*****
Situasi di Pemakaman.
Sesaat setelah azan magrib berkumandang, terlihat seorang pria berdiri tepat di dekat kuburan Tante Rima. Ia memilih setiap bunga melati dan dimasukkan ke dalam kain putih persegi panjang (Sejenis kain kafan).
Bukan hanya itu, iya juga menyiramkan air tepat di atas tanah kuburan Tante Rima yang masih basah, lalu ia menggenggam tangan tersebut serta mengambil dan menyimpannya pada kain putih yang berbeda sebanyak tujuh genggam.
Saat hal itu terjadi, Feli merasakan getaran hebat yang membuat bulu kuduknya berdiri dan menimbulkan rasa cemas yang luar biasa. Apa yang akan terjadi? Siapa yang sudah memanfaatkan kematian orang lain untuk mencapai tujuan hidupnya?"
"Jangan lupa baca juga novel terbaru saya yang berjudul KETURUNAN KE 7 PLUS CINTA DAN DOSA. MAKASIH .... "
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘