
Aku tidak ingin istirahat sebelum menemukan petunjuk tentang Tania, Walau hanya sedikit petunjuk saja malam ini untuk membuatku tenang. Alu berpikir harus apa dan bagaimana? Aku ingin Tania tenang seperti si Mbok dan Ibu.
Cukup lama berfikir, aku malah merasa ada yang aneh dan janggal. Kenapa ibu dan si mbok tidak memberi tahu ku soal Tania dan sampai saat ini pun, kenapa Tania tidak lagi mendatangiku dalam bentuk bayangan seperti sebelumnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Tania sudah tenang?
Dalam bingung, aku mengingat sesuatu yang mungkin saja bisa membantuku. Aku berjalan perlahan ke arah gudang tua. Disana aku pernah merasakan kehadiran Tania yang cukup kuat dan disana jugalah asal suara-suara yang kerap kali memanggil-manggil namaku dengan bunyi yang lirih.
Aku memulai langkahku tanpa sedikitpun keraguan dan ketakutan. Aku membuka pintu gudang tua dan masuk ke dalamnya. "Tania ... Tania ... Tania .... " ujarku dengan tenang.
Aku berputar-putar di dalam ruangan yang tidak cukup besar tersebut. Aku menyentuh tiap bagian tembok dimana Tania pernah menempelkan darahnya sembari memeluk dan menjagamu saat itu.
"Tania ... aku mencarimu. Aku sudah baik-baik saja. Akupun ingin kamu tenang bersama Ibu dan Si mbok. Jangan membuat aku takut dan bersedih ...! "
Hampir 60 menit aku berdiri di ruangan ini tapi belum juga ada tanda-tanda Tania. Aku lelah tapi tidak ingin menyerah. Aku membaringkan tubuhku di atas lantai kotor penuh debu dan bau yang menyengat di hidungku tapi ... seperti tak punya pilihan, aku terus menikmatinya dan tetap di sini.
Saat mataku mulai terlena, aku merasakan sentuhan di kaki kananku. Sangat dingin, tidak seperti tangan. Ini apa? Kenapa sangat berbeda pada saat aku bersama Tania? Aku segera membuka mataku dan duduk melihat ke arah kakiku tapi aku tidak menemukan apapun.
Saat aku menatap ke arah pintu, dari luar aku melihat Tania tertunduk dan berjalan menjauhi gudang tua. Aku segera bangun dan mengikutinya. Sebenarnya aku sangat ingin mendekati Tania hanya saja, tiba-tiba aku tidak kuasa menahan getaran di seluruh tubuhku akibat rasa takut yang luar biasa.
Dengan menjaga jarak, aku terus mengikuti langkah kaki Tania. Tania berjalan ke arah kamarku. "Tania tunggu ...! Aku tidak sedang ingin tidur. " ucapku memberanikan diri berkomunikasi dengannya karena aku berfikir Tania menyuruh ku masuk ke dalam kamar untuk tidur.
Tania tidak menjawab perkataan dari ku. Iya terus melangkah masuk ke dalam kamar dan aku tetap mengikutinya. Aku berdiri tepat dipintu masuk kamar ku. Lalu Tania berdiri di dekat ranjang dan berbaring di atasnya.
"Apa kamu tidak mengerti Tania? Aku tidak ingin tidur. Aku mau kamu bisa tenang. Dimana ragamu? Siapa yang sudah menyakitimu? Jika kamu menyayangi aku. Tunjukkan padaku!! "
Tania mengarahkan pandangannya padaku. "Kamu belum cukup kuat Adik ku .... " ucap Tania dengan suara yang terdengar menggema di telingaku dan suara itu seakan menusuk hingga ke dalam tulang-tulang ku.
Aku melihat ke arah diriku sendiri. Aku menatap kakiku yang bergerak sendiri. Kakiku bergetar hebat hingga tanpa terasa aku mengeluarkan pipis seperti seorang bayi. Ada sesuatu yang aku rasakan saat melihat wajah Tania yang menatapku dengan matanya yang putih. Tania memang sudah tiada. Ucapku di dalam hati.
"Tania ... kamu sudah banyak membantu dan menjagaku. Tolong tunjukkan padaku, dimana tubuhmu? Aku mohon? " ucapku dengan bibir yang bergetar hebat.
"Lihat aku ...!! " ucap Tania mendebarkan jantungku.
Aku menatap saudara ku itu sesuai dengan perintahnya. Saat mata kami bertemu, aku melihat tubuhnya terbenam. Semakin lama ... tubuh itu semakin masuk ke dalam ranjang milikku, seperti terhisap lumpur hidup.
Kali ini, Tania tidak lagi terlihat. Tubuh itu benar-benar terhisap habis oleh ranjang yang berada di dalam kamarku. Aku bingung dan heran.
Aku berjalan agak cepat dan menghampiri ranjang ku. Aku menyentuh tiap sudutnya, dari ujung ke ujung jari tanganku berkelana untuk melihat dan menyentuh Tania tapi dia benar-benar menghilang.
Sadar celanaku basah. Aku segera menggantinya dengan yang baru. Pukul 03.45 wib. Aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku di tempat Tania berbaring.
Saat aku mulai terlelap. Aku merasakan gerakan yang cepat seperti gelombang dari ranjang ku. Terkadang rasanya seperti guncangan gempa yang kuat dan kencang. Sesekali aku merasa seperti berada di atas kapal besar yang akan karam dan tenggelam.
Aku memegang kedua sisi ranjang dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Kali ini, aku menikmati setiap ketakutan yang aku rasakan. "Tania ... Tania ... Taniaaaa .... " ujarku berteriak hingga mengeluarkan tetesan air liur dari mulut ku, seakan tau bahwa yang aku rasakan saat ini ada hubungannya dengan Tania.
Guncangannya berhenti saat aku hampir tidak sadarkan diri. Disaat yang sama, aku merasakan ada seseorang yang membuka mataku lebar-lebar dengan kedua tangannya.
Saat itulah, aku melihat sesuatu di dalam kotak berplastik hitam, ditanam di dalam ranjang ku.
Tubuhku merasakan sakit yang luar biasa. Mulai dari kepala, tangan, hingga ujung kakiku. Saat itu, aku melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan pakaian serba hitam duduk membelakangiku dan mengeluarkan suara nyanyian bahagia bahkan tawa sembari membuka jahitan sudut ranjang ku.
Aku segera berdiri dan menjauhi wanita misterius tersebut. Tapi karena ingin tau apa yang Iya lakukan, aku terus memperhatikannya. Selesai membuka cukup besar ranjang ku, wanita tersebut memasukkan kotak segi empat ukuran kecil kedalamnya dan menjahit ranjang ku kembali.
Siap dengan pekerjaannya, wanita tersebut tampak bahagia. Dia menari dan berputar-putar seperti anak-anak yang bermain bersama teman-temannya di tengah hujan.
Wanita tersebut mengangkat wajahnya dan menyingkap rambutnya, saat itu aku menyadari bahwa wanita tersebut adalah Tante Rima dan aku yakin ... Tania ada hubungannya dengan kotak tersebut.
Aku sangat geram dan ingin menjambak rambutnya kemudian menghempaskan kepalanya di dinding. Tapi saat aku menyentuh rambutnya, tante Rima menghilang. Ternyata ini hanya gambaran mataku saja.
Aku segera berlari ke kamar Ayah dan membangunkannya. Aku juga membangunkan Pak Antok. Aku mengatakan pada mereka kalau aku tau dimana Tania. Dengan cepat, Ayah dan Pak Antok bangun dan mengikuti langkahku.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘