
Suara tawa bahagia terus terdengar dan saling bersambut. Aku yang berdiri di tepat di pintu masuk, juga ikut memasang senyum terbaikku. Aku tau apa yang dirasakan Ayah karena aku baru saja merasakannya.
"Bisa bicara sebentar," ucap makhluk yang tidak aku kenali saat aku hampir masuk ke dalam rumah.
Aku menatap makhluk tersebut dengan seksama. Satu hal yang aku ketahui yaitu makhluk ini adalah teman, bukan lawan karena jika ia lawan dia pasti sudah bertempur dengan Mbah Pecek saat masuk kedalam wilayah ini.
Hatiku bergetar saat melihat makhluk yang tampak asing bagiku tersebut. Wujudnya seperti tengkorak tanpa daging dan kulit yang menyelimuti tulang belulang miliknya. Di dalam hati aku bertanya, apa yang terjadi pada makhluk tersebut?
Ya Allah, pertempuran seperti apa yang telah ia lewati? Bagaimana mungkin tampilan seperti ini bisa terjadi di alam sana? Aku terus membatin dan menatap tengkorak manusia yang utuh tersebut.
"Ayah, Feli dan Rian, aku mau ke pendopo sebentar. Ada yang ingin aku bahas di sana dan tolong, siapapun, jangan mengganggu ku!"
"Sarah?"
"Aku baik-baik saja, Ayah. Aku hanya harus tau, agar semuanya baik-baik saja. Aku harap, kalian menyisakan makan malam untukku."
"Kami akan menunggu kamu untuk makan malam, Sarah," sahut Feli sambil memegang perutnya.
"Baiklah," jawab ku sambil tersenyum. "Aku usahakan cepat, tapi jika sampai pukul 21.00 WIB, aku belum masuk, makanlah terlebih dahulu!"
"Iya."
"Feli, Rian, ada apa sebenarnya?" tanya Ayah dan saat itu, aku masih bisa mendengarkan perkataan dari Ayah, Feli dan Rian.
Dengan langkah langkah cepat, aku berjalan mengikuti makhluk berwujud tengkorak gosong tersebut. Ia duduk, aku pun duduk. Tidak ada ketakutan sedikit pun di dalam hatiku saat melihat makhluk tersebut. Apalagi, saat mataku tajam menatap ke arahnya, maka ia langsung tertunduk.
"Siapa kamu?" tanya ku sambil menatap tanpa henti.
"Aku Wira," ucapnya dengan nada suara yang rendah.
"Wira?" tanya ku dengan suara yang cukup kuat dan itu membuatnya tersenyum simpul. "Aku tidak mengenal nama itu dan aku tidak pernah mendengar suaru mu itu."
"Mungkin karena kondisiku seperti ini, jadi suaraku pun tidak se semangat sebelumnya."
Aku berusaha memutar memori di dalam otakku. Aku tidak ingin menjadiadi manusia yang sombong dan lalai. Rasanya, aku bisa membayangkan siapa makhluk ini sebenarnya.
"Kamu, qodam dari keris yang ia wariskan kepadaku. Apa aku salah?"
"Kamu memang peka, Sarah."
"Dan juga bodoh," sahut ku dengan nada kecewa dan mengejek diriku sendiri.
"Tidak. Keadaan dan zaman sudah berubah, jadi wajar saja. Ditambah lagi dengan arah ilmu yang berbeda dari putri Nawang Wulan. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, ia adalah manusia yang tertindas dan baik hati."
"Aku tau itu," jawab ku sambil tertunduk."
"Lalu bagaimana dengan nasibnya?"
"Entahlah, hanya Allah yang tau. Yang jelas, Allah berhak atas umatnya. Tapi pikiran bodoh ku berkata, jika tidak tau, maka tidak berdosa. Nenek Nawang Wulan kan memang tidak tau, mungkin saat itu beliau tidak pernah tersentuh oleh cahaya islam atau beliau memang tidak pernah bertemu dengan para wali."
"Aku mengerti maksudmu, Sarah."
"Hemh, apa yang ingin dibicarakan?" tanya ku yang kaku, tanpa memberi sapaan kepadanya karena aku tidak tau harus memanggilnya dengan sebutan apa.
"Aku ingin mengatakan tentang hal yang baru saja terjadi pada sahabatmu."
"Feli?"
"Iya, Pecek masih sangat sulit berkomunikasi denganmu jadi aku putuskan untuk keluar, sekedar memberikan mu gambaran tentang keadaan kehidupan yang luas ini."
"Hemmmh, dia masih memusuhiku?"
"Tidak, bukan begitu. Jika memusuhimu, pastinya dia tidak akan mau mengorbankan dirinya untuk melindungi kamu dan keluargamu. Bagi kami, tuan kami adalah sesuatu yang berharga dan nyawanya serta keselamatannya jauh lebih berharga dan penting daripada keselamatan kami. Bahkan kami rela binasa untuk menyelamatkan tuan kami dan orang-orang yang ia sayangi."
"Mungkin kami adalah makhluk yang paling setia. Jika kamu punya suami, bisa saja ia menghianati kamu, tapi tidak dengan kami."
"Hemh, silahkan katakan apa yang ingin dikatakan!"
"Tentang makhluk itu. Ada dua serangan yang muncul, itulah yang menyebabkan belang terluka parah. Dia menghadapi 3 makhluk sekaligus. Sementara mereka bukanlah makhluk yang biasa."
"Bisa diperjelas! Agar aku lebih mengerti."
"Iya, makanya aku memanggil mu. Semua itu karena mereka bisa saja kembali ke rumah itu."
"Kenapa begitu?"
"Karena dia sudah menandai tempat itu (rumah itu).
"Siapa yang bertandang ke dalam rumah?"
"Persis seperti dugaan mu, Sarah. Dia adalah leak."
"Tapi Datuk bilang ...."
"Semua ia lakukan agar kamu tidak khawatir dan dia memintaku untuk menjelaskan perihal makhluk tersebut beserta makhluk satunya lagi, setibanya kamu di rumah."
"Keblek? Aku baru mendengar nama itu," ucap ku dengan dahi yang menekuk.
"Iya, yang satunya lagi bernama keblek."
"Baiklah. Apa mereka?"
"Yang pertama, aku akan menjelaskan tentang Leak. Ilmu leak atau pangleyakan yang sangat populer sekaligus ditakuti orang terutama di masyarakat pedesaan itu sebenarnya ilmu mengubah bentuk tubuh," kata Wiro yang berbicara dengan tenang.
"Maksudnya?"
"Orang yang menguasai ilmu leak bisa berubah wujud menjadi sosok apa pun. Zaman dulu perubahan itu terbatas pada sosok binatang. Tapi sekarang bisa juga kendaraan macam truk, sedan, sepeda motor, atau sepeda."
"Aku pernah membaca sebuah buku dari orang hebat. Miguel Covarrubias seorang budayawan dan pengelana Meksiko awal abad ini. Dia pernah mengungkapkan dalam bukunya Island of Bali, manifestasi leak adalah manusia dalam perwujudan seksual yang kasar, muncul telanjang bulat dan memiliki organ seksual besar. Leak pun sering terbang keliling rumah dalam bentuk seram dan berwarna hitam."
Aku tidak mengerti apa maksud mu, Sarah. Yang aku jelaskan ini, sema dengan apa yang aku ketahui, aku lihat dan aku temui. Sepemahan ku, tidak semua leak berwujud seram, tua, dan perempuan. Leak juga bisa berwujud sebagai wanita yang cantik dan menggairahkan."
"Pernah pada suatu malam, tiga orang lelaki membawa pulang seekor ayam yang sepertinya tersesat di jalan. Setelah dipotong, dibersihkan, dan dibumbui, ayam itu disimpan untuk dimasak besok," tutur Wiro berusaha menjelaskan bagaimana cara kerja Leak.
"Lalu, apa ayam itu wujud Leak?" tanya ku mulai penasaran.
"Iya. Esok paginya mereka menemukan mayat lelaki yang tak dikenal persis di tempat ayam itu ditemukan. Seluruh isi perutnya hilang, namun di dalamnya penuh dengan bumbu."
"Astaghfirullah hal azim."
"Cerita lain, suatu ketika ada seekor macan kesasar masuk ke sebuah desa di pegunungan. Binatang buas itu akhirnya tewas dibunuh ramai-ramai oleh penduduk. Ketika penduduk mulai menguliti, mereka menemukan di antara kulit dan dagingnya, sebuah dompet dari daun kelapa berisi tembakau dan uang."
"Jadi, apa sebenarnya leak itu? Apa dia hantu atau roh penasaran? Atau jin?
"Mungkin ini akan mengejutkan dirimu. Leak itu adalah manusia."
"Tidak mungkin."
Bersambung.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca