
Saat Tante Rima mencekik ku, rasanya aku sudah tidak tahan lagi, tapi tiba-tiba Tante Rima melepaskan tangannya dari leherku. Dia mundur beberapa langkah kemudian menangis tersedu-sedu.
"Bukan ini yang aku inginkan ... aku tidak ingin menyakiti apalagi membunuh, aku hanya ingin di cintai dan mencintai." ucapnya sambil menahan diri dengan air matanya mengalir deras.
Melihat Tante Rima begitu, hatiku jadi tersentuh seolah aku melihat penyesalan di dalam dirinya. Dia terus mundur menjauhiku. Dia terus menangis sambil menunduk.
Rasanya aku ingin mendekatinya tapi kemudian tiba-tiba, Tante Rima mengangkat wajahnya, ekspresi wajahnya pun sekejap berubah. Dia kembali tersenyum dan tertawa dengan keras.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Sarah ...
Sarah, aku tidak ingin membunuhmu.
Tidak tidak maksudnya, aku tidak ingin membunuhmu dengan cara seperti itu."
"Aku ingin ... ya, yang aku inginkan adalah merobek-robek tubuhmu seperti kamu merobek-robek masa depanku bersama Ardy. Gara-gara kamu aku harus seperti ini di depan suamiku tercinta. Aku ingin memotong-
motong tubuhmu seperti kamu memotong-
motong perasaan bahagiaku."
Aku berlari ke arah dapur, di sana ada Ayah, aku berusaha membangunkan Ayah tapi Ayah tidak juga bangun, aku tidak tau harus apa?. Aku berlari entah kemana, Tante Rima mengejar ku sambil berceloteh dan mengatakan hal-hal yang membuat aku semakin takut.
"Sarah Saaaraaaahhh, Bagaimana ya? Aku tidak ingin memasukkan kamu ke dalam sumur Sarah karena itu terlalu mudah. Aku ingin melihat matamu yg ketakutan dan kesakitan saat aku mulai memotong-motong tubuhmu, sudah lama aku tidak mendengar teriakan seperti itu Sarah." ucapannya menggila.
"Saraaahh Saraaaaahh ... jangan pergi anak nakal! mau bersembunyi dimana kamu? Aku Ibu mu nak ... aku bisa menemukan kamu di manapun kamu berada."
"Sarah .... "
Ting ... Ting ... Ting ... Ting ....
Suara pisau yang dibawa oleh Tante Rima dan mengenai beberapa bagian rumah yang terbuat dari besi.
Aku gemetaran, mulut, tangan dan kakiku semua bergetar. Rasanya malam ini aku akan mati, tidak ada yang bisa menyelamatkan aku lagi. Tapi saat aku cukup lama bersembunyi, aku tidak lagi mendengar suara Tante Rima, lalu aku keluar dari tempat persembunyian ku dan kembali melihat ayah tapi ayah sudah tidak ada di tempat semula. Aku sama sekali tidak tau Ayah dimana?
Saat aku dalam kebingungan yang besar, aku mendengarkan suara-suara yang memanggil namaku dari arah hudang tua. Hatiku seolah terikat dengan sesuatu, ada pemikiran yang muncul di otakku.
Mungkin kali ini aku harus bekerjasama dengan yang tidak terlihat, jika benar mereka selama ini menyayangi aku dan ingin melindungi aku dari Tante Rima pasti jalan pikiran ku ini adalah jalan keluarnya.
Aku menguatkan hati dan pikiran ku untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya aku rasa tidak mungkin aku lakukan. Tapi mungkin ini adalah caranya, demi keselamatan Ayah dan keselamatanku. Aku yakin, Tante Rima pasti membawa Ayah. Aku harus melakukannya!! Harus.
"Ibu ... si Mbok ... tolong bantu aku ...." Berbicara lirih sambil menangis dan berdiri.
Aku bergerak lambat menuju ruang tengah rumahku. Aku melihat sekeliling dengan sangat waspada. Saat aku di dapur, aku melihat besi panjang yang di bawa Ayah tadi, aku mengambil besi itu dan meletakkannya di tangan kananku lalu aku sembunyikan di belakang ku.
Takut, tidaaaaak. Aku tidak takut ... aku sudah dewasa, aku punya kekuatan, dan aku anak yang pintar. Ucapku tanpa suara sambil menelan liur ku yang berat.
Hatiku mengatakan kalau Tante Rima dan Ayah ada di kamarnya, pintu kamar Ayah tampak terbuka. Ternyata dugaanku benar, mereka ada di sana.
Ayah terbaring di lantai, kepalanya di alas dengan bantal. Aku melihat Tante Rima membersihkan darah dari wajah dan lengan Ayah, sesekali Tante Rima mencium kening dan pipi Ayah. Melihatnya aku tau kalau Tante Rima sangat mencintai Ayah, tapi ... dengan cara yang salah.
Tante Rima tampak fokus dengan Ayah, aku beralih pandang ke pintu luar, aku harus membuka pintunya ... tapi di mana kuncinya?
Aku memegang dan menggoyang-goyangkan pintunya, mungkin hal itu di sadari oleh Tante Rima. "Mau kemana kamu? " ucapnya bertanya dengan suara yang dingin.
"A - aku harus keluar dari sini. " menjawab dengan suara yang terbata-bata.
"Siapa yang mengizinkan kamu sayang?"
"Kenapa Tante melakukan ini padaku? Apa salahku?"
Tante rima menunduk sambil tersenyum.
"Kesalahan kamu adalah kamu lahir dari rahim Rina bukan rahim ku."
"Tentu saja, mana ada manusia yang bersedia lahir dari rahim iblis." ucapku tidak terkontrol.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... kamu memancing emosi ku Sarah. "
"Tapi aku tidak berbohong dan aku yakin Ayah ku juga tidak akan sudi hidup bersama wanita iblis seperti kamu."
Tante Rima terlihat sangat marah, Dia menggenggam tangannya dengan erat. Dia mulai mengangkat pisaunya dan aku sudah siap berperang kali ini.
Beberapa kali Tante Rima mengayunkan pisaunya tapi tidak mengenaiku, mungkin Dia sudah sangat lelah. Aku berhasil memukul lengannya dengan besi panjang milik Ayah ku, tapi sepertinya aku kalah pengalaman dalam membunuh dan kegilaan ku belum mencapai puncaknya seperti Tante Rima.
Saat Tante Rima merasakan sakit, Dia malah tampak menggila, Dia menabrakkan dirinya ke tubuh ku yang mungil. Aku terhimpit oleh tubuhnya dan pintu luar. Saat ini, aku terjepit dan terdesak. Tante Rima mulai mencekik ku tapi aku mengingat sesuatu tentang Ibu ku.
Lalu aku merubah arah tanganku, aku memegang dan memutuskan kalung yang dipakai Tante Rima sebagai pelindung dari makhluk astral yang di berikan oleh Mbah Anwar.
Ini sulit ... kalungnya memang begitu kuat, tapi aku terus menariknya. Tante Rima memegang dan mencengkeram tanganku, kuku-kukunya mulai menembus tanganku. Darah mulai mengalir dari tanganku, itu yang aku lihat.
Tante Rima berteriak dengan kencang seperti sedang menambahkan kekuatan di dalam dirinya. Tante Rima mencengkram ku lebih kuat, mencengkeram ku lebih dalam. Pandangan ku mulai kabur, mulai tak bisa melihat dengan baik namun. "Saraaaah .... "
Aku mendengar suara itu, suara yang biasa memanggil namaku, suara itu seperti memberi aku kesadaran atas diriku. Dengan semampuku aku menarik kalung dari leher Tante Rima dengan kekuatan penuh.
Sesaat setelah kalung itu lepas dari leher Tante Rima, aku melihat tubuhnya seperti terpental ke belakang. Seperti ada yang menendangnya dengan keras. Aku memegang leherku yang terasa sangat sakit. aku terduduk dan menyandar di pintu rumahku.
Aku melihat Tante Rima berusaha berdiri, Iya memandangi aku sepertinya sudah tidak tahan lagi ingin memakan ku tapi saat Dia ingin melangkah untuk mendekati aku, tubuhnya terpental lagi dan kali ini seperti tertancap di dinding.
Semakin lama, tubuhnya semakin tinggi hingga kepalanya menyentuh langit-langit ruang tamu. Tante Rima berteriak histeris.
"Lepaskan aku ...! Lepaskaaaaannnn...!!"
Aku melihat Tante Rima terjatuh ke lantai, dengan posisi terlentang, nafasnya tampak tersengal-sengal. Tapi Dia masih bisa menggerakkan jari-jari tangannya, mulut dan matanya terbuka tapi Dia seperti tidak bisa bangkit.
Aku mendekatinya, aku melihat Tante Rima dari dekat tapi di saat yang bersamaan juga Tante Rima bangun kemudian duduk dan kembali memegang leherku.
Aku berteriak cukup keras. "Aaaa aaaa aaaa. "
Tak lama kemudian, Tante Rima melepaskan tangannya dari leherku dan dia tampak menjauh. "Rina... tidak, tidak mungkin ... kamu sudah mati, kamu sudah mati Rina, kamu sudah mati." ucapnya sambil menunjuk ke arahku.
Aku melihat ke belakang tapi tidak ada Ibu di sini, bagaimana Tante Rima bisa melihat Ibu ku? dimana Ibu ku? Aku terus memandangi kiri dan kananku, aku ingin melihat Ibu ku. "Ibu ... Ibu .... " ucapku dengan air mata menetes tidak henti-hentinya.
Tante Rima terus mundur saat melihat ku, Dia berusaha berdiri dan berlari, tampak kakinya menyeret, dia pergi ke arah dapur. Aku juga berusaha berdiri untuk mendekati dan menyadarkan Ayah sambil terus melihat sekeliling ku mungkin saja aku bisa melihat Ibu, tapi aku belum bisa melihatnya.
Saat baru sampai di depan pintu kamar, aku kembali mendengarkan teriakan dari Tante Rima. "Jangan dekati aku! Jangan ... awas kamu Mbok, awas. Jauhi aku ... sialan kalian semua." Teriak Tante Rima
Aku sangat kebingungan, aku melanjutkan langkahku ke sisi Ayah. Aku juga melepaskan kalung pemberian Mbah Anwar karena aku ingin melihat Ibu ku.
Aku tiba di dekat Ayah. "Ayah ... ayah ... ayah ...." Lalu aku mengambil air di gelas yang ada di kamar Ayah dan aku menyiramkannya ke wajah Ayah.
Ayah mulai sadar dan bangun. "Sarah, Sarah. kamu tidak apa apa nak?" tanya Ayah
"Aku baik-baik saja yah. " Ayah memegang tanganku sambil berusaha untuk bangun.
Dari arah luar Tante Rima terus menjerit seperti orang gila dan ketakutan. "Sarah... itu suara .... " Tidak melanjutkan ucapannya karena ragu.
"Iya Ayah, dan dia bukan Ibu ku." Ayah memelukku sambil menangis terguguh-
guguh. " Ayo kita pergi dari sini yah." ucapku sambil memapah Ayah keluar dari kamar.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Ayah penasaran.
"Jangan pikirkan Dia Ayah."
Aku dan ayath berdiri dan berjalan sampai pintu luar, ayah meraba kantungnya tapi tidak menemukan kunci pintu ini. Ayah tampak panik. "Sarah ... kuncinya tidak ada di sini nak." ucap Ayah.
"Non .... " Itu suara si Mbok. Aku melihat si Mbok berdiri di sisi tembok dan aku melihatnya dengan jelas. Aku menatap si Mbok dengan rasa yang tidak nyaman tapi ternyata si Mbok ingin memperlihatkan kunci pintunya kepada ku.
Aku meninggalkan Ayah dan berlari mengambil kuncinya, setelah aku mendapatkan kuncinya aku langsung membuka pintu luar tapi tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa pada kepalaku.
Aku memegang kepalaku dan melihat ke belakang, ternyata Tante Rima mengejar ku dan memukulku dengan vas bunga.
Aku melihat darah mengalir di sisi mataku, pandanganku mulai berkunang-kunang dan
Ayah berteriak sembari memelukku.
Ayah tampak sangat marah, Dia mendorong Tante Rima dan memukulnya berkali-kali tapi aku hanya bisa melihatnya. Tante Rima terjatuh, mulutnya mengeluarkan cukup banyak darah. Lalu pukulan Ayah dihentikan oleh Pak Antok. Pak Antok datang tepat pada waktunya, jika tidak, mungkin Tante Rima akan mati dan Ayah di penjara.
Aku sudah tidak dapat melihat lagi dengan baik. Pandanganku sudah kabur tapi sebelum pandanganku benar-benar memudar, aku seperti melihat Ibu ku tengah berdiri di hadapanku. "Ibu ...." ucapku lirih
Bersambung...
Bagaimana kelanjutannya?
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘