
Pukul 20.30 wib kami pulang ke rumah, disepanjang jalan otak ku selalu berfikir tentang perkataan Indah. Bagaimana jika yang dikatakan Indah adalah hal yang benar? Apa aku dalam bahaya? Tapi bagaimana mungkin bisa jika aku berada di dalam pelukan keluargaku.
Walaupun mereka bilang itu hanya permainan, tapi bagaimana Indah bisa tahu tentang keadaan dan perasaanku? Bagaimana Indah tau tentang hal-hal yang aku rasakan? Aku berusaha tenang dan tidak khawatir.
Ayah memperhatikan aku dari kaca mobilnya, melihat wajahku yang kusut Ayah mengatakan sesuatu padaku, "Jangan tidak bahagia Sarah!" Mendengar perkataan Ayah, aku langsung tersenyum.
"Aku hanya lelah Ayah ...." jawabku untuk menepis kekhawatiran Ayah.
"Nanti setelah sampai di rumah, kamu langsung istirahat ya nak!" ucap Ayah sambil terus memandangi aku dari kaca depan mobil.
"Satu lagi Sarah, jangan lupa membersihkan diri dan mengganti pakaianmu ya nak." ucap ibu memperingati aku.
"Memangnya kenapa begitu bu?" ucapku bertanya dengan penasaran
"Pamali nak, apalagi kita sudah dari perjalanan agak jauh dan malam hari. Jadi, kita harus tetap membersihkan diri walaupun kita berada di dalam mobil." jelas Ibu.
"Pamali? " ujarku mengulangi perkataan Ibu.
"Kata orang tua zaman dulu, nanti takutnya ada yang lengket. " ucap Ibu mempertegas padaku dan aku hanya mengerutkan kening karena berfikir dan masih belum mengerti.
"Iya Bu ... baiklah. "
Kami tiba di rumah pukul 22.15 wib, saat masuk ke halaman rumah pandangan ku langsung tertuju ke arah jendela kamarku tapi tidak ada siapa-siapa disana, kamipun masuk ke dalam rumah. Aku cenderung murung setelah mendengarkan penerawangan Indah.
"Sarah, apa kamu ingin menonton ataupun mengobrol dulu sebelum tidur?" tanya ayah kepadaku.
"Tidak yah, aku hanya ingin segera tidur." sahut ku lesu sambil berjalan menuju ke kamarku.
Ibu memotong perkataan ayah, "Jangan terlalu menghawatirkan Sarah yah, dia sudah dewasa." ucap Ibu sambil memegang dan menarik tangan ayah. "Ayo ayah juga istirahat! Besok harus ke kantor kan yah?"
Setibanya di kamar aku mengingat pesan Ibu ku tadi, tapi rasa malas lebih kuat aku rasakan dari pada pesan Ibu. Dengan yakin aku pun langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang.
Sambil menatap kosong mengarah ke langit-langit kamar aku berusaha memahami perkataan Indah yang terus menerus berputar-putar di otakku. Pusing, aku tidak bisa menerjemahkannya dengan tepat.
"Haaaaaaah .... " keluhku karena merasa bingung. Ini sudah larut malam, tapi mataku tidak mau terpejam, padahal aku sangat lelah. Bukankah seharusnya aku dapat tertidur dengan cepat dan lelap malam ini.
Aku membalik tubuhku berharap bisa mendapatkan rasa kantuk sebagai alasan untuk aku segera tidur. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang bergerak di belakang ku.
Seeeet ....
Bayangan melintas di belakang punggungku. Aku bisa merasakannya kemudian aku segera membalikkan tubuhku.
Aku ingin tau siapa? Tapi tidak ada siapa-siapa lalu aku duduk dan menundukkan kepalaku sejenak. Tidak ada pikiran buruk atau pun aneh tapi sesuatu terjadi lagi.
Tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek .... Seperti suara angin yang merenggangkan pintu kamarku.
Aku bergegas berdiri dan berlari mengunci pintu kamar. Kemudian untuk beberapa saat aku berdiri di depan pintu kamar, entah kenapa perasaanku mulai tidak enak.
dug dug dug dug dug dug dug dug, suara jantungku terasa kuat lebih dari biasanya.
Aku kembali berjalan mendekati ranjangku dan aku kembali duduk di atasnya, tidak berapa lama pandanganku teralihkan kembali pada pintu kamarku.
Ketek ketek ketek ketek ketek ketek ketek ....
Suara pegangan pintu kamar yang bergerak sendiri dengan cepat, sepertinya ada sesuatu yang ingin masuk dan menyakitiku.
Tiba-tibaaaku teringat pesan Ibu, akupun langsung membersihkan diri dan mengganti pakaianku. Aku berniat untuk tidur dan kembali ke ranjang ku.
Ya ampun, ini sudah pukul 00.20 wib. "Ya ... ini sudah tengah malam." gumamku. Dengan perasaan yang tidak menentu, aku mulai berusaha untuk menutup mataku.
Gledek gledek gledek gledek gledek gledek gledek gledek gledek gledek ....
Seperti suara tapak kaki kuda tengah berlari kencang di atas atap kamar ku, akupun segera bangun kembali sambil terus menatapi langit-langit kamarku.
Di dalam hatiku berkata, "Apa yang salah dengan rumah ini? Mengapa seolah-olah rumah ini tidak menyukaiku? Tidak menerima kehadiranku?"
Air mataku mengalir karena rasa takut dan bingung. Tiba-tiba, mulutku bergetar dan bergerak dengan sendirinya. Aku tidak bisa mengontrol mulutku.
Dalam keadaan sadar bibirku mengatakan sesuatu yang aku sendiri tidak mengetahui artinya "............." Aku benar-benar tidak dapat mengontrol mulutku.
Semakin lama suara yang dikeluarkan oleh mulutku semakin cepat dan tidak jelas, keadaan ini diiringi dengan suara tapak kaki kuda dan gemuruh dari langit-langit kamarku.
Semakin kuat suara itu, semakin kuat pula gerakan mulutku hingga seluruh kepalaku ikut bergerak dan bergetar hebat. Keringat mengucur hebat seperti keran air yang bocor.
Aku merasa pusing, aku sudah tidak tahan lagi, ucapku di dalam hati. Air mataku terus menetes, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku? Seluruh tubuh ku tidak dapat aku kendalikan dengan baik.
Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menghentikan gerakan mulut dan juga kepalaku. "Aaaak ... aaak ... aaak ... aaak ... aaak ... aaaakkk .... "
Tampaknya teriakku menghentikan gerakan mulutku dan dengan cepat semua suara-suara dari atas langit-langit kamar ku yang tadinya bergemuruh, hilang dan lenyap.
Aku terduduk dan menangis sekuat-kuatnya tapi Ayah dan Ibu tidak mendengar suara tangisanku. Aku melihat diriku sendiri, hampir seluruh tubuhku basah dengan keringat. Setelah itu, suara yang mengganggu dan gerakan mulutku, lenyap.
Selesai dengan semua insiden ini, seluruh tubuhku bergetar. Kini suasana berisik berubah menjadi sangat hening, bahkan sangat tenang hingga kesunyian mendominasi suasana.
Aku menelungkupkan tubuhku berharap dapat menetralisir semua perasaan takut yang begitu besar. Dengan tubuh yang masih gemetaran, aku menutup mataku dan berusaha untuk tidur.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘