ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PENJELASAN


"Ayah ... Ayah ... Ayah ... Ayah ... ayaaaaaahh. "


"Sarah ... Sarah, bangun nak ...! ya Tuhan ... Dokter tolong anak saya. " Teriak Ayah


"Ayaaaaaahhhhhhhh." Aku terduduk dengan nafas yang terengah-engah, aku seperti bangun dari mimpi buruk ku.


Aku memandangi sekeliling ku, ada ayah di samping kananku. "Ayah, ayaaaaaahhhh .... "


Aku memeluk ayah dan menangis sangat hebat, begitu juga dengan Ayah.


Ayah juga menangis dan memelukku dengan erat dan air matanya mengalir seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan kesayangannya yang telah lama hilang dan dicari selama bertahun-tahun.


"Saraaaaahh... saraaaaahh ... anak ayah .... "


Ayah terus menangis dan tidak melepaskan pelukannya.


"Bapak, tolong geser sedikit ." Dengan nada lembut dan para petugas medis seolah tidak ingin mengganggu momen bahagia antara ayah dan anak. " Pak, kami harus segera memeriksa keadaan anak bapak." ujar dokter sambil menepuk-nepuk pundak Ayah ku.


Ayah menggeser tubuhnya dan mensejajarkan diri denganku, lalu ayah menahan kepalaku untuk terus bersandar di pundaknya. Ayah seakan-akan tidak ingin jauh dariku.


Dalam posisi ini sebenarnya dokter sangat kesulitan untuk memeriksaku tapi Ayah tidak ingin melepaskan pelukannya dariku. "Kamu hampir tiada Sarah ... ayah hampir kehilangan kamu ...." Air mata Ayah kembali bercucuran. Mendengar ucapan Ayah, aku pun tidak kuasa menahan tangisanku, bahkan salah satu perawat ikut menangis melihat aku dan ayah.


Jika besok siang keadaan Sarah membaik, sarah boleh dipindahkan ke ruang perawatan ya sus ! dan para perawat pun mengiyakan perkataan dokter tersebut, kemudian dokter dan perawat meninggalkan aku dan ayah.


"Ayah, dimana Tante Rima? Bagaimana keadaannya?" Mendengarkan pertanyaan dariku, Ayah langsung tersenyum. Kamu memang seperti Ibu mu nak ... aku tidak mengerti maksud Ayah, tapi aku merasa senang dengan perkataan itu.


Tidak lama, pak Antok masuk ke ruangan ICU sambil membawakan beberapa dokumen. Saya sudah mengurusnya tuan, ini laporan nya tapi tuan diminta untuk datang ke kantor polisi untuk membuat laporan tertulis secara langsung.


Mata Pak Antok beralih ke padaku. "Non ... sudah enakan? kemarin tuan seperti orang gila, apalagi saat non Sarah koma, saya berusaha menenangkan nya tapi tidak bisa, tuan terus menangis non. " Ucap pak Ahok hingga membuat aku terus memandangi ayah dan mengucapkan terimakasih kepadanya.


"Sarah, dengan berat hati ayah harus meninggalkan kamu untuk pergi ke kantor polisi, ayah tidak tahan lagi ingin memenjarakannya."


"Sebenarnya Ayah ingin membunuhnya tapi bayangan Ibu mu selalu berada di mata ayah dan pada saat ayah ingin menghabisinya ayah melihat ibumu di mata Ayah nak ... Ayah tidak bisa melakukannya."


"Pak Antok, tolong temani Sarah dulu, biar saya sendirian saja ke kantor polisinya".


"Iya, baik tuan." Ucap pak Antok. Pak Antok duduk di bawah kakiku sambil memijat telapak kakiku dengan lembut. " Pak Antok, terimakasih untuk saat ini pak dan terimakasih juga untuk kemarin.


"Sama-sama Non Sarah, saya ini orang susah Non. Dulu saya ini kerjanya hanya serabutan tapi ayah non Sarah menjadikan saya sopirnya dan itupun tuan yang membayarkan kursus mengemudi untuk saya. Sekarang hidup saya dan keluarga jauh lebih baik. Saya sangat berhutang Budi sama tuan Non." aku tersenyum simpul.


"Jujur Non, sebenarnya saya tidak tau apa yang terjadi di dalam keluarga tuan, saya hanya bisa sedikit memahami. Semoga setelah ini kedepannya semua lebih baik ya Non, kasian Tuan .... " ujarnya.


"Amiiin pak terima kasih atas doanya. " Aku pun tersenyum. "Oh iya, apa saya boleh bertanya tentang sesuatu pak? " Kemudian pak Antok mengangguk pasti.


"Waktu itu saya pernah melihat bapak diam-diam keluar dari arah gudang tua saat Tante Rima ketakutan. Kalau boleh tau apa yang bapak lakukan di sana?"


Mata pak Antok melihat ke atas sepertinya sedang mengingat kejadian itu. "Oooooooh yang siang itu Non ya? itu saya diperintahkan Tuan untuk memasang besi di sumur sebelah gudang tua itu, tempat si mbok ditemukan." Memberi penjelasan.


Kenangan ku langsung berputar, aku ingat malam sebelumnya aku mendengar suara pukulan benda keras terdengar di sekitar gudang tua lalu aku mengikutinya dan aku melihat Ayah saat itu sedang memukul-mukul sesuatu tapi karena aku curiga dengan Ayah. Malam itu aku tidak mempertanyakannya malah meninggalkannya begitu saja.


"Malam sebelumnya juga aku pernah melihat Ayah di sana sambil memukul-mukul benda keras tapi aku tidak bertanya pak, aku hawatir ayahku sedang sakit atau depresi berat makanya bersikap aneh." Mengeluarkan isi hatiku pada pak Antok.


"Depresi gimana Non? selama ini saya melihat sikap tuan wajar-wajar saja. Kalau capek saat kerja memang sering tertidur di sembarang tempat, ngak mesti di kamar.


"Aku melihat obat penenang dosis tinggi pak di kamar Ayah, di ruang kerja, bahkan di dalam tas Ayah."


"Non, apa yang botolnya hitam itu?" Bertanya seakan mengerti maksudku dan aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Iya pak benar. " Jawabku


"Walah kalau itu obatnya nyonya ... maaf ya Non maksudnya saya itu obatnya Bu Rima. Jadi begini Non, dulu Tuan pernah cerita katanya sikap Nyonya berubah-ubah bahkan sulit untuk Tuan mengenalinya. Hal itu terjadi sejak kehilangan Non Tania."


"Jadi Tuan berfikir kalau Bu Rima itu depresi berat sehingga mengganggu saraf dan kejiwaannya, dari situ lah tuan sering membawa Bu Rima ke rumah sakit jiwa, tiap Minggu malah non."


"Setau saya itu terapi terus, saya saja nggak habis pikir, ini tuan sayang sekali ya sama istrinya sampai-sampai kondisi seperti ini tuan tidak meninggalkannya dan malah terus mengobati nya. Tapi ternyata malah begini cerita yang sebenarnya Non. Apa ngak sakit banget Non hatinya Tuan itu? " Pak Antok mengusap matanya


Aku kembali mengingat saat ayah dan ibu sering pergi meninggalkan aku di rumah tanpa kabar, bahkan si mbok pun tidak tau kemana mereka pergi. Ternyata ayah membawa Tante Rima berobat ke rumah sakit jiwa. Akku merunduk sambil menahan bibir ku agar tidak lagi menangis.


Begitu besar rasa kasih sayang Ayah pada ibuku, seandainya ibu tau ... ibu pasti sangat bahagia. Apa ibu sekarang bahagia di sana? ibu ... gumamku.


"Lalu subuh itu bagaiman ceritanya pak Antok bisa datang ke rumah? padahal belom waktunya bapak datang. Kan jam kerja bapak dimulai jam 06.00 wib."


"Lah itu gini Non, saya malam itu pulang langsung istirahat hp tak cas non jadi saya nggak pegang hp. Ternyata tuan nelpon saya berkali-kali. Ya malam itu sekitar jam 11.00 wib dan saya baru tau sudah jam 03.40 wib."


"Saya telpon Tuan balik tapi tidak di angkat, padahal Tuan bilang mau pulangnya besok malamnya jadi karena khawatir saya langsung datang saja ke rumah ternyata keadaannya begitu Non. Saya bingung sekali."


"Saya kan pegang kunci serapnya jadi saya langsung masuk saja ke rumah karena saya beberapa kali mendengar jeritan non Sarah dan Tuan. Saya juga mendengar nyonya seperti orang kesurupan, maaf maksud saya Bu Rima non."


"Pas buka pintu jantung saya nggak karuan non, lihat non Sarah di dekat pintu sudah berlumuran darah, lihat tuan sudah remuk mukanya, lihat Bu Rima juga mandi darah. Ini ada apa pikir saya? "


Tapi Tuan memerintahkan saya untuk memegang dan menyekap itu Bu Rima, ya dengan bingung dan berat hati saya lakukan Non. Setelah itu tuan langsung membawa non Sarah ke rumah sakit tapi sebelumnya tuan sudah menelpon polisi."


"Nah... saya di suruh nunggu polisi datang sambil mengikat kaki dan tangan Bu Rima. Saya heran sekali non, setelah urusan di kantor polisi kelar saya langsung kemari dan tuan menceritakan cukup banyak hal kepada saya. Saya mulai mengerti non, rasanya tidak percaya tapi ini semua sudah terjadi non... sabar ya."


"Tuan juga bercerita bagaimana tuan bisa pulang malam itu non Sarah." Mataku membesar, itu yang sangat ingin aku ketahui.


apa Pak? Kenapa? Dan bagaimana?" Bertanya karena sangat penasaran.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘