ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERTOLONGAN YANG TERLAMBAT


Ayah sangat marah dan kalap kali ini, tanpa memikirkan rasa sakit dan luka yang ia derita, Ayah tetap mengejar Tante Rima dan menancapkan pisau tepat di perutnya sekali lagi hingga ia terdorong ke dinding dan tampak sekarat.


"Aku sedang hamil Mas ... aku sedang hamil anak kamu," ucap Tante Rima dengan suara setengah berbisik sambil menatap mata Ayah.


"Tidak mungkin ... tidak mungkin, " kata Ayah dengan berjuta rasa di hatinya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia, Sarah .... " Lalu suara Tante Rima menghilang.


"Tidak mungkin .... " ucap Ayah sekali lagi dengan tangan yang gemetaran dan bersimbah darah.


Ayah mendorong tubuh Tante Rima jauh ke belakang hingga iya tergeletak. Aku ingin memastikan bahwa Tante Rima tidak akan bergerak untuk yang ketiga kalinya, lalu kembali menyerang kami. Aku berdiri tepat di lengan kirinya dan aku melihat mata Tante Rima yang terbuka dengan mulut yang bersimbah darah.


Satu hal yang bisa aku lihat dari kedua bola mata itu yaitu kebencian. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang membuat Tante Rima begitu benci padaku. Bukankah seharusnya aku yang pantas membenci dirinya karena dia yang sudah menghabisi nyawa Ibuku dan orang-orang yang selama ini menyayangi aku.


Kenapa aku merasa dunia dan keadaan ini sangat aneh? Seseorang yang harusnya marah tapi tidak boleh marah, seseorang yang harusnya membenci tapi tidak bisa membenci, dan seseorang yang harusnya dihukum tidak bersedia dihukum.


Tak lama pintu rumah kami terbuka oleh banyak orang yang menumpuk di depan pintu, mereka masuk secara bersamaan dan saat aku melihat mereka, aku tahu mereka datang untuk menolong bukan untuk menyakiti kami. Tapi sayang, para polisi itu terlambat dan Tante Rima sudah tidak bernyawa dengan perutnya yang terisi nyawa.


Aku duduk jongkok dan berniat untuk menutup kedua mata Tante Rima karena dengan posisi dan keadaan mata seperti ini membuat aku takut dan tidak nyaman. Tapi pada saat aku ingin melakukannya, Feli berteriak cukup keras dan menghentikan gerakan tanganku yang hampir menyentuh wajah Tante Rima.


"Jangan, jangan sentuh dia!! Biarkan orang lain yang mengurusnya! " ujar Feli tampak dapat merasakan sesuatu yang tidak dapat aku rasakan.


Aku tidak mengerti apa maksud Feli, yang jelas selama ini apa yang ia katakan adalah untuk kebaikanku dan dia sama sekali tidak pernah berniat buruk dan ingin menjerumuskan aku.


Aku mengurungkan niatku dan berjalan agak cepat menuju ke arah Feli. Aku mengangkat tubuh Feli untuk membawanya ke rumah sakit. Begitu juga dengan Ayah yang dibantu oleh seorang polisi muda sembari menahan luka tusukan tepat di perut Ayahku.


Aku melihat Ayah menangis dan merintih kesakitan. Akhirnya, air mata Ayah tampak menetes cukup banyak tapi setelah aku pikirkan sekali lagi sepertinya bukan luka itu yang membuat Ayah menangis tapi ucapan terakhir dari mulut dan terima yang mengatakan bahwa ia sedang hamil anak Ayah.


Aku tidak tahu bagaimana perasaan Ayahku saat ini tapi yang jelas, Ayah tidak sengaja melakukannya. Ayah sama sekali tidak sengaja dan tidak berniat untuk membunuh anak kandungnya, itupun jika Tante Rima tidak berbohong untuk yang kesekian kalinya.


*****


"Sarah, tetap bersamaku atau Ayah! Yang jelas, jika kamu mendengar suara-suara yang memanggil namamu tapi suara itu tidak kamu kenali, jangan menyahutnya! Jangan mengikutinya! Jangan memperdulikannya. Paham? "


"Iya Fel, paham. "


"Jangan bersikap bodoh! "


"Baik Fel, aku mengerti. "


Aku mengikuti arah ranjangnya Feli (Ruang ICU). Aku memilih hal itu karena luka Feli jauh lebih berat dibandingkan dengan Ayah. Selain itu, Ayah juga meminta agar aku mendampingi Feli.


*****


Setelah Feli tertidur, sekitar pukul 03.00 WIB. Alu merasa ada sesuatu atau seseorang yang mengawasiku. Aku merasa ada mata yang selalu tertuju padaku. Entah rasa apa ini, yang jelas aku mulai cemas.


Aku menarik kursi lebih dekat dengan Feli. Sepertinya Feli mengerti, bahkan saat tidur pun ia menjagaku. Feli memegang tangan kanan ku dengan tangan kirinya. Erat sekali, hingga aku merasa nyaman.


Aku memutuskan untuk memejamkan mata, tapi tiba-tiba aku teringat pada kotak kecil berwarna hitam yang berisi roh Kak Tania kecil. Rasanya aku ingin pulang ke rumah untuk mengamankannya tapi aku tidak boleh jauh-jauh dari Feli.


Aku hanya bisa berdo'a, semoga Tuhan menyelamatkan kakakku. Aku membaringkan kepalaku tidak jauh dari pundak Feli, aku sangat lelah dan ingin lelap. Semoga semuanya akan baik-baik saja.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. " Aku mendengar suara gelak tawa Tania kecil. Ia tampak bahagia berlari sambil melompat, terkadang ia mengangkat salah satu kakinya secara bergantian.


"Ayo Sarah, Kita bermain yang puas! " ucap Tania dengan suara khas anak-anak miliknya.


"Tania, kenapa tidak membawa aku pergi? " tanyaku sambil meneteskan air mata.


"Belum waktunya, kamu masih dibutuhkan orang banyak. Kamu akan menjadi manusia yang bermanfaat. " ujar Tania dengan tata bahaga bijak bak orang tua yang tengah menasehati anaknya.


"Aku takut untuk hidup. Mataku ini ... Tania, bagiku ini terlalu menakutkan. "


Tania kecil menghentikan larinya dan ia menatapku penuh cinta. "Apa aku ini menakutkan untuk mu? "


"Kecuali kamu Tania. "


"Bagaimana dengan Ibu? Eeeem ... Si Mbok?"


"Iya ... kecuali kalian semua. "


"Dengar Sarah, kita tidak bisa menentukan takdir kita. Yang harus kita lakukan adalah bersyukur dan menjalankan hidup dengan sebaik mungkin. "


"Tania .... "


"Jadilah orang yang berguna. Jangan selalu mengeluh! "


"Tania .... "


"Apa? "


"Aku ingin kamu tenang, Kak. "


"Aku sudah terikat janji Sarah. Aku bilang, aku akan menjagamu hingga aku mati. "


"Tapi ini sudah cukup Tania. Bahkan sangat cukup bagiku."


"Ini akan sulit, tapi aku akan mencobanya. "


"Itu lebih baik. "


"Setelah semuanya sehat, pergilah ke rumah Pak Yusuf ya Sarah! "


"Kenapa? "


"Pergi saja, penting. "


"Baiklah ...."


"Sekarang, kemarilah .... " Tania duduk dan menarik bahuku. Ia meletakkan kepalaku di kedua pahanya. Aku sangat merasa tenang, kemudian Tania membelai rambutku hingga aku merasa sangat mengantuk.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘