ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
JALAN PERTEMUAN


"Abaikan kematian sampai saat terakhir; kemudian, ketika itu tidak bisa diabaikan lagi, minta diri disemprotkan penuh dengan morfin dan dikocok hingga koma. Apapun itu, yang penting aku tetap hidup. Hanya untuk memberi, bukan menyakiti. Feli, Tinta Emas."


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, mereka diberikan perasaan yang halus serta pikiran yang kuat untuk merasakan sesuatu (peka). Termasuk di dalamnya adalah potensi manusia untuk berfirasat, sesuatu yang kata sebahagian orang adalah fikiran tidak rasional. Akan tetapi, se-rasional apapun diri manusia, pasti pernah terlintas di hatinya suatu firasat atas sesuatu keadaan.


Naluri firasat mampu membuat manusia merasakan getaran kegelisahan hati orang lain, mampu merasakan kedatangan bahaya yang mengancam dirinya, mampu merasakan alur fikiran lawan bicaranya, dan mampu merasakan keadaan dimana orang lain membutuhkan atau memikirkan kita. Firasat mampu menjadi salah satu pegangan untuk bertindak, untuk melangkah dan untuk memilih.


Perasaan atau pendengaranku yang salah? Aku seperti mendengar suara Feli yang begitu jauh tapi terdengar sangat dekat di telingaku seperti berbisik. Suaranya begitu halus, tipis, dan tajam, sehingga membuat aku merinding. Feli, semoga kamu baik-baik saja, amin.


Dari teras rumah, aku memperhatikan setiap sudut halaman rumah karena bisa saja Feli berada di sana, tapi aku tidak menemukannya. 10 menit aku berdiri disini, tiba-tiba angin yang sangat dingin dan kuat menerpa tubuh dan wajahku seakan menyuruhku untuk mundur, seakan mendorongku untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.


Tiba-tiba aku terbayang ucapan Feli tadi kepadaku, "Selama belum ada kabar dariku, jangan sembarangan membuka pintu rumah kecuali jika yang mengetuk adalah Ayahmu dan Kak Rio. Paham? "


Hatiku kacau, perasaanku tidak karuan. Ini bukan hanya tentang rasa takut tapi juga rasa khawatir. Seakan-akan nyawaku akan melayang. Feli ... semoga kita semua selamat dan terus menjadi sahabat.


Aku masih berdiri di balik pintu dan menyandarkan tubuhku. Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan lembut dari luar pintu rumahku. Entah mengapa, bulu-bulu halus disekitar tubuhku berdiri dengan sendirinya, tanpa sebab.


Ini tidak seperti Ayah. Ucapku dengan suara yang tidak terdengar. Aku mencoba untuk mendengarkan kembali suara ketukan yang sekali lagi terasa sangat misterius di kedua telingaku.


Aku memutuskan untuk mencari tau siapa yang mengetuk pintu rumah dari ujung jendela. Ketika aku melakukannya, aku melihat sesuatu berdiri di depan pintu seperti sosok manusia dewasa menggunakan mantel hujan berwarna hitam.


"Siapa itu? " ucapku setengah berbisik.


Tak lama, aku melihat sorot lampu mobil dari luar pagar rumahku dan aku yakin bahwa itu adalah mobil Ayah. Tapi untuk meyakinkan diri, sebaiknya aku melihat apakah yang turun dari mobil benar-benar ayahku atau bukan?


"Ayah ... syukurlah Ayah sudah pulang. " ucapku dengan senyum dan merasa senang hati. Perasaanku belum benar-benar tenang, aku pun kembali melihat ke arah kiri yang aku yakin ada seseorang di sana, tapi ternyata sosok itu sudah tidak lagi ada di sana.


Aku terdiam hampir termenung, apa mungkin aku salah lihat atau saat ini memang orang tersebut lari karena takut pada Ayah? Aku terus bertanya di dalam hati hingga aku tidak sadar bahwa Ayah sudah berada di depan pintu sambil mengetuk dengan tempo yang cepat.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


"Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ...."


"I-iya Ayah .... sebentar. "


Aku membuka pintu rumah untuk Ayah, dan ketika Ayah masih berada di teras, aku memberanikan diri untuk keluar dan memperhatikan sekitarku. "Ada apa Sarah?" tanya Ayah yang heran dengan sikapku.


"Tadi rasanya aku melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu sesaat sebelum Ayah pulang. Tapi sekarang orang itu sudah tidak ada lagi. "


"Kamu yakin itu orang?" ujar Ayah sambil memegang kepalaku.


Ayah, ini memang terkesan membingungkan. Apa lagi karena sampai saat ini, aku sama sekali tidak mampu membedakan antara manusia dan roh. Mungkin aku ini terlalu bodoh ya Yah, atau mungkin terlalu takut untuk memahami dan mengamati.


"Sudah-sudah ... Ayah lelah, Ayah ingin beristirahat. "


"Apa Ayah tidak ingin makan dulu?" tanyaku sembari menutup dan mengunci pintu rumah dengan rapat.


"Sudah Ayah dan rasanya aku ingin segera tidur jika Ayah tidak ingin makan saat ini."


"Iya Sarah, istirahatlah terlebih dahulu bukannya besok kamu ada jam kuliah pagi?"


"Iya Ayah dan besok pagi aku minta Pak Antok saja yang mengantarkan aku ke kampus karena Kak Rio sedang sibuk mengurus keperluan KKN. "


"Boleh juga, lagi pula besok Ayah akan masuk siang. "


"Ya sudah, kalau gitu aku tidur duluan ya Yah, bay .... "


"Bay .... "


*****


Pagi menjelang, aku pun segera berangkat ke kampus untuk menemui Feli. Biasanya ukul 06.45 Wib, Feli sudah berada di dalam kelas karena dia tidak ingin ketinggalan satu mata kuliah pun. Itulah yang membuat aku yakin akan tekat dan kecintaannya terhadap belajar serta ilmu.


Turun dari mobil, aku bergegas menuju ke ruang kelas. Tapi cukup aneh bagiku karena Feli belum datang. Ini tidak seperti biasanya, ucapku di dalam hati sambil mengamati bangku Feli di deretan sudut kiri paling depan.


Jam perkuliahan pertama dimulai, tapi Feli belum juga tiba. Perasaanku mulai tidak tenang, ditambah lagi sejak tadi malam Feli belum memberikan aku kabar. Saat ini aku berencana untuk ke rumah Feli sepulang kuliah karena aku sangat khawatir padanya.


Jam kedua dimulai, beberapa Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) masuk ke dalam kelas dan menggumumkan bahwa ada 2 orang mahasiswa di kampus ini yang baru saja mengalami kecelakaan mobil tadi malam dan mereka berniat untuk mengumpulkan bantuan seikhlasnya dari seluruh mahasiswa mahasiswi yang ada untuk membantu mereka.


Para anggota BEM berencana akan menjenguk mahasiswa yang mengalami kecelakaan itu setelah pulang dari kampus nanti dan Kak Rio mengajakku untuk ke rumah sakit bersama. Tadinya aku ragu karena aku ingin menemui Feli, hanya saja firasat membimbingku untuk ikut ke rumah sakit untuk menjenguk mereka.


"Memangnya siapa yang kecelakaan Kak? " tanyaku penasaran.


"Linda dan Amora. " jawab Kak Rio singkat dan tampaknya ia sedang tidak ingin basa-basi kali ini.


"Iya kak, nanti sepulang kuliah Kakak kabari aku atau Kakak langsung saja menjemput ku di sini. "


"Iya Sarah. "


*****


Pukul 16.00 WIB, Kak Rio bersama enam orang rekannya sudah menunggu aku di depan pintu ruang kelas. sesaat setelah keluar dari dalam kelas Kak Rio memperkenalkan aku kepada mereka semua satu persatu dan Kak Rio mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya.


Saat Kak Rio mengatakan hal tersebut, rekan-rekannya yang lain tampak happy dan menggodanya. Aku pun tersenyum malu dan sering menundukkan kepalaku karena tidak menyangka Kak Rio akan melakukan hal ini dihadapan teman-temannya. Aku sangat malu tapi aku sangat bahagia karena Kak Rio mengakui keberadaan diriku di dalam hidupnya.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘