
Dari suasana yang cukup mencekam dan menegangkan, kami langsung beranjak Pergi dan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah angker yang sudah kami rencanakan. Satu hal yang aku katakan kepada Ayah dan komandan, yaitu semua yang terjadi saat ini adalah buah dari perilaku terkutuk puluhan tahun yang lalu dan kita hanya bisa membantu, bukan memaksa karena semua ini terjadi juga atas izin Allah
Ayah bilang aku semakin dewasa karena keadaan dan masalah yang aku hadapi. Ayah juga cerita kalau dulu Ibu sangat sering melihat hal-hal mistis dan berteriak sambil berlari memeluk Ayah, tapi Ayah sama sekali tidak pernah menghiraukannya. Sekarang Ayah dapat melihat bagaimana wujud mereka, ternyata mereka yang sangat mengerikan.
Itu yang Ayah lihat baru berwujud setengah menyeramkan karena mereka berasal dari manusia awalnya. Coba jika Ayah melihat yang memang asli jin atau pun setan sejak mereka muncul di atas bumi ini, maka mungkin Ayah tidak akan bisa tidur dengan nyenyak selama tiga hari tiga malam. ucapku berusaha memberikan penjelasan kepada Ayah tentang apa yang selama ini aku lihat dan aku rasakan.
"Kita hampir tiba," ucap komandan sambil bergerak perlahan.
Saat aku sampai di hadapan rumah angker yang pernah aku lihat di dalam rekaman yang Azura dan Rido ambil, aku sudah dapat merasakan aura negatif yang menumpuk di dalamnya. Aku rasa bukan hanya Mira yang berada di dalam sana, tapi juga masih banyak makhluk lainnya yang memanfaatkan rumah tak berpenghuni dan terurus tersebut.
Sudah tidak sabar, tadinya aku sudah ingin langsung masuk ke dalam rumah tersebut dan membawa Feli pulang. Namun komandan menahan langkahku dan mengatakan bahwa sebaiknya kita menunggu Papanya Rido terlebih dahulu.
Sekitar 25 menit berdiri tanpa gangguan, kami melihat lampu sorot dari mobil dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Ternyata Papanya Rido datang sendirian dan saat ia turun, ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Seharusnya aku yang bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi?" ucapku menantang mata Papanya Rido karena aku sudah sangat merasa kesal dan marah akibat ulahnya 20 tahun yang lalu.
"Saya tidak akan mengerti jika kamu tidak memberikan saya penjelasan," jawabnya seakan ia sama sekali tidak merasakan bahwa semua tragedi yang terjadi saat ini adalah ulah Mira.
"Sarah, bicaralah yang sopan!" perintah Ayah. "Atau sebaiknya biar Ayah saja yang mengatakan kebenarannya."
Saat ini aku sangat merasa kesal sehingga aku tidak menjawab perkataan dari Ayah dan hanya diam sambil memalingkan wajahku sehingga mereka hanya dapat menatap punggungku. Dari jarak sekitar dua meter, aku mendengar percakapan diantara ketiga Ayah tersebut.
Tak lama, aku mendengar suara tangisan yang kuat dari Papanya Rido. Tampaknya ia baru menyadari tentang semua yang terjadi. Kasihan, dia sadar setelah dia kehilangan banyak, ucapku di dalam hati sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tak lama, aku mendengar suara teriakan yang sangat mencekam, seperti suara teriakan atas siksaan. Tapi bagaimana mungkin? siapa yang berteriak?
Saat aku menatap ke rumah tersebut, aku baru menyadari bahwa bukan aku saja yang mendengar suara teriakan histeris tersebut, tapi juga Ayah, Komandan, dan Papanya Rido.
"Itu seperti suara Rido," ucap Papanya.
Aku belum bereaksi karena aku yakin Rido berada di rumah sakit dalam keadaan koma dan aku juga tidak hafal suara Rido karena tidak pernah mendengarkannya secara langsung.
Saat sudah tenang, tanpa sengaja kami melihat seperti ada sesuatu yang bergerak di samping ke arah dalam rumah angker tersebut. Itu jelas terlihat seperti pocong yang diseret pada ujung kakinya, sehingga memperlihatkan bagian badan, kepala, wajah dan ikatan tali pocongnya.
"Astaga ... itu pocong!" ucap Papanya Rido dengan suara yang bergetar dan matanya yang melotot.
"Tapi ... pocongnya siapa?" tanya Komandan menatap ke arahku berharap mendapatkan jawaban.
Bingung dan tidak memiliki jawabannya, tapi aku merasa rumah itu akan mampu memberi jawaban nyata dari setiap pertanyaan. "Astagfirullah hal azim .... " ucap Ayah sambil menunjuk ke arah jendela di lantai dua.
"Ada apa, Yah?" tanya ku sambil memegang dada Ayah agar beliau tenang.
"Tadi di sana, ada .... " Tapi Ayah menggantung ucapannya.
Sementara aku melihat wajah Feli seperti sedang mengintip dari arah kaca jendela lantai bawah dan aku yakin kalau itu benar-benar Feli. "Feli ...." teriakku sambil berlari ke arahnya.
"Sarah, tunggu, Nak!" ucap Ayah sambil melingkarkan tangannya di perutku dan menarik tubuhku ke belakang dengan kuat.
"Sadar, Sarah!! Istigfar, Nak!! Istigfar ... coba lihat Sarah! Itu sumur, bukan jalanan biasa. Jika kamu masuk ke dalamnya kamu akan mati, Nak! Ayo istigfar!!" kata Ayah sambil membimbingku dan menangis.
Aku berusaha memfokuskan pandangan ku. Aku memperhatikan sekitar lebih dari teliti dan ternyata Ayah benar, itu sebuah sumur tua yang terlihat sangat dalam tanpa ada penghalang atau penutupnya, bahkan ukuran penghalang nya sangat rendah dari tanah.
Berarti iblis di dalam sana sudah bisa membaca hatiku. Mereka tau kelemahan ku adalah Feli dan mereka ingin membunuh ku dengan menyamar menjadi Feli. Siasat iblis memang tipis namun sambat membunuh. Ucapku tanpa suara.
"Sudah lebih tenang, Sarah?"
"Iya ... Ayah. Selain itu, aku merasa sudah cukup kuat dan mampu untuk masuk ke dalam sana."
Kami berempat masuk ke dalam rumah angker tersebut dengan Ayah dan Komandan berada di barisan paling depan, sementara aku berada di belakang Ayah bersama Papanya Rido. Saat ini aku memperhatikan ekspresi wajah Papanya Rido yang tampak bingung dan mungkin ia sangat menyesali diri tentang apa yang terjadi.
"Jangan lupa untuk menghujani tubuh kita semua dengan ayat-ayat suci Alquran dan bacalah dengan penuh keyakinan serta keserahan diri hanya kepada Allah," ucapku kepada semua orang tua yang berada di sekelilingku.
Saat kami mulai memasuki ruang utama, kami langsung disambut oleh aneka wewangian yang mistik dan beberapa penampakan dari sosok perempuan mengenakan baju putih dengan tawanya yang khas dan menusuk di telinga, bahkan rasanya mampu mengiris daun telinga yang mendengarkannya, tapi aku tahu itu bukan Mira.
Tak lama, terdengar suara kaki-kaki berlarian dari arah tangga. Seperti suara kaki kuda yang bergerak tanpa henti, tapi saat mata kami tertuju pada sumber suara tersebut, suaranya pun menghilang.
Aku menatap sekeliling guna memancing hati dan firasat ku tentang dimana Feli berada, tapi aku masih buta. Rasanya filling ku tumpul dan aku merasa bodoh, hingga aku kehilangan arah.
Saat tengah fokus memperhatikan setiap lorong, aku mendengar suara tetesan air yang berat dan liat. Ini seperti air liur yang mengandung banyak dahak di dalamnya.
Tak lama, kami melihat ke atas dan di sana sudah ada makhluk yang sangat menjijikkan dan mengerikan sedang menatap kami seolah ia sangat lapar dan dahaga. Dengan sangat cepat, ia bergerak turun dan menarik kepala Papanya Rido kemudian menariknya ke atas.
Kami berteriak sambil berusaha mempertahankan tubuh Papanya Rido dengan menahan dan kembali menarik bagian kakinya, tapi kami kalah kuat. Saat itu Papanya Rido dibawa pergi entah kemana.
Saat sudah tidak lagi melihat dimana Papa Rido, aku mendengar suara gemericik dari suara yang sama dari arah belakang. Pada saat itu, aku dan Ayah menyaksikan rambut Komandan ditarik/dijambak, kemudian ia diseret ke ruangan yang berbeda dengan Papanya Rido.
"Tidaaaak .... " teriakku sambil mengejar Komandan yang ditarik sangat cepat, namun pada saat yang bersamaan, pintu ruangan tersebut tertutup sehingga aku tidak mampu lagi mengejar tubuh Komandan Arya.
Aku menangis sambil memegang kepalaku sangat kuat. Aku bingung, tapi aku masih punya Ayah yang harus aku lindungi. Ucapku di dalam hati.
Aku berniat kembali ke sisi Ayah dan berencana akan memegang tangannya dengan kuat saat ini. Tapi saat aku melihat ke arah kanan (arah dimana Ayah tadi berdiri), ternyata Ayah sudah tidak ada. Sudah tidak ada siapa-siapa di sini.
"Ayaaaaaaaahhhh .... " teriakku sekuat tenaga.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘