ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TERKESIMA


Hari ini adalah hari ketiga waktu istirahat yang diberikan pihak rumah sakit untukku, dan besok aku harus segera ke kampus untuk melanjutkan kegiatan pengenalan kampus yang telah tertunda selama tiga hari terakhir ini. Aku berharap besok dapat menjadi hari baik bagiku tanpa kendala, masalah, ataupun gangguan.


Pukul 10.00 Wib. Aku melihat sebuah mobil yang aku kenali masuk ke dalam pagar rumah dan berjalan mendekati halaman rumahku. Apa mungkin? Tanyaku di dalam hati sambil terus menatap mobil tersebut sembari mengerenyitkan kedua ujung alis mataku.


Ternyata yang aku pikirkan benar aku melihat Kak Rio melangkah dengan tenang ke dalam rumahku. Jujur saja, Dia adalah tamu keduaku selain Dila dan Indah semenjak aku pindah ke rumah ini. Miris bukan? Tapi inilah kenyataan yang aku hadapi.


Aku keluar dari kamar dan menghampiri Kak Rio yang tampak sudah rapi dengan baju kaos putih berlapis jaket kulit berwarna coklat dan celana panjang berwarna senada dengan warna jaket yang ia kenakan sore ini. Selain tampak rapi ia juga tampak lebih tampan dan rupawan.


Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku jadi terkesima melihat Kak Rio hari ini yang tampak tampil berbeda dengan hari-hari biasanya? Aku masih mengingat jelas bagaimana rambutnya begitu kusut, matanya sayup, dan pakaiannya hanya itu-itu saja.


"Hai, apa kabar? Apa aku boleh masuk? "


"Ya, silahkan Kak .... "


"Mau ketemu sama ayah? " tanyaku sambil menatap matanya yang lebih berbinar hari ini.


"Iya ... sekalian ketemu kamu juga Sarah. Bolehkan? Maksudku, nggak ada yang marah kan? Eh ... maksud aku pacar atau siapa gitu?"


"Ha Ha ha ha ha ha ha ha. " Aku tertawa sambil menutup mulut dengan tanganku. "Aku nggak punya pacar Kak, lagian siapa sih yang mau sama cewek aneh kayak aku? " ucapku sambil tersenyum dan meninggalkannya ke dapur untuk membuatkan teh hangat.


Aku menyajikan Kak Rio teh hangat dan roti kering yang baru saja aku beli tadi pagi bersama Ayah di minimarket terdekat. "Makasih ya Sarah, ngak enak aku jadi ngerepotin kamu. "


"Ngak kok Kak, aku juga senang ada yang bertamu dan mengunjungi ku. Sebentar ya Kak, aku panggil Ayah dulu biar asik ngobrolnya."


"Iya Sarah .... "


Tak lama, aku dan Ayah keluar bersama untuk menemui Kak Rio. Mereka berdua tampak sangat akrab dan cocok. Saat mereka berbicara bersama aku bisa melihat wajah Ayah tampak ceria. Begitu juga dengan Kak Rio, walaupun yang mereka bicarakan adalah materi yang sederhana.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, tempatnya di kursi samping sebelah Kak Rio duduk. Aku selalu menatap dan memperhatikan mata serta bibirnya yang tersenyum indah. Dia tampak lebih menarik hari ini. Ucapku terus menerus di dalam hati.


"Om, besok biar Rio aja yang jemput Sarah ke sini dan mengantarnya ke kampus, plus membawanya pulang kembali. Soalnya Sarah kan tidak terlalu paham wilayah sini dan belum punya teman. Jadi Rio rasa, lebih tepat jika Rio yang mengantar dan menjemput Sarah untuk beberapa hari ke depan. Itu pun jika Om dan Sarah tidak keberatan. "


"Kalau Om sih tidak masalah, tergantung Sarahnya saja dan kamu bisa bertanya langsung kepada Sarah sekarang kan? " ucap Ayah sambil menatap Kak Rio dengan cara yang berbeda.


"Bagaimana Sarah? Apa kamu keberatan? "


"Apa Kakak yakin kalau aku nggak akan ngerepotin Kak Rio? Aku ngak enak hati loh Kak. " tanyaku sembari menggigit bibir bawahku perlahan.


"Apa Kakak dan keluarga tidak berusaha mencari suaminya Kak Maharani? Maaf kak, maksudku, walau bagaimana pun, Dia kan Ayah dari Sinar dan Dia berhak tahu atas apa yang terjadi dengan Kak Maharani dan Sinar. "


"Papa akan mengurusnya. Tenang saja .... "


"Baik Kak, aku mengerti. "


"Ok kalau gitu Rio pamit dulu ya Om, Sarah, soalnya nanti malam ada acara pengajian untuk Kak Maharani di Panti Asuhan. Oh iya, Papa juga berpesan jika Om dan Sarah tidak sedang sibuk, silahkan datang ke acara 7 harinya Kak Maharani. "


"Iya Rio, tentu saja. Titip salam ya untuk Papa, Mama, dan si kecil Sinar. Semoga semuanya baik-baik saja, lancar-lancar saja, dan doa yang dipanjatkan diterima oleh Tuhan kemudian Maharani ditempatkan disisinya dengan keadaan yang sempurna. "


"Amin ... makasih ya Om, makasih banyak ... kalau gitu Rio pamit dulu. "


"Silahkan Rio, hati-hati di jalan, jangan terlalu ngebut. Pacu kendaraannya santai saja agar selamat tiba di tempat. "


"Iya Om, dan Sarah ... aku pamit dulu ya. Sampai jumpa lagi besok pagi. Bay .... "


"Bay kak. "


Setelah Kak Rio meninggalkan rumah dan aku tidak lagi dapat melihat kendaraannya. Ayah menarik tanganku dan meminta agar aku segera membersihkan diri. Ayah juga bilang bahwa malam ini beliau akan mengajakku makan di luar untuk mengusir semua perasaan sedih dan tidak nyaman yang aku rasakan selama 3 hari terakhir ini.


Awalnya aku ragu, tapi menurutku tidak ada salahnya memberi kesempatan pada gelap untuk menenangkan sisi hatiku yang terdalam.


Sekitar 40 menit berlalu dan aku sudah siap membersihkan diri. Aku duduk di depan cermin sambil menatap seluruh wajah dan diriku. Aku melihat dan menilai diriku sendiri. Sepertinya aku tampak lebih bahagia sore ini, bahkan wajahku tampak memerah. Apa mungkin ini karena Kak Rio? Tanyaku di dalam hati dan aku tidak tahu jawabannya karena baru sekali ini aku merasakannya.


Jika dipikir-pikir, hidup ini memang menarik karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, seperti penonton dibuat terkesima oleh lika-liku alur yang menukik drastis.


Baru saja kemarin hingga tadi siang aku merasa hidup tidak tenang bahkan awan hitam seakan memayungi jiwa dan ragaku. Tapi saat ini, tiba-tiba Aku merasa bahagia padahal hanya melihat sepasang sorot mata dan senyuman yang sebenarnya aku tidak tahu dilemparkan untuk siapa. Aku atau ayahku? Yang jelas rasanya sama saja bagiku. Mungkin karena aku terlalu bahagia? Entahlah ... jujur, aku tidak mengerti dengan diriku saat ini.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘