
Hah, hah, hah, hah ... siapapun itu, Dia sudah melepaskan cengkramannya dariku. Pagi ini tubuh ku terasa hancur dan remuk. Aku tidak kuat lagi, aku harus minta Ayah memanggilkan tukang pijat.
Aku pergi membersihkan diri, kemudian aku menuju kamar Ayah untuk sedikit menenangkan diri. "Ayah, ayah ...." ujarku sebari mengetuk pintu kamar Ayah.
"Non, Tuan ada di depan sama nyonya." ucap Pak Antok sembari menyapaku.
"Ooh iya Pak, makasih. "
"Sama-sama non Sarah. "
Aku tiba di dekat ayah dan ibu. "Ayah... Ayah ... sepertinya aku menerima tawaran Ayah yang kemarin."
"Tawaran yang mana Sarah?" ucap Ayah tampak bingung.
"Tawaran untuk pijat Ayah. " sahutku.
"Ha ha ha ha ha, Ayah kira apa. Iya nanti Ayah antarkan kamu ke sana ya nak, ketempat tukang pijat langganan keluarga kita. "
"Kemana yah?"
"Ke tempat mbok Yati. Sekalian, mungkin Ibu mu juga mau pijat di sana. Sudah lama banget Ibu tidak pijat di sana kan bu?" Bertanya kepada Ibu yang sedang duduk di sebelah Ayah.
"Ibu tidak usah yah .... " Jawab Ibu.
"Yakin? ya sudah kalau gitu ibu ikut saja yya"
"Iya yah." Jawab ibu.
Ayah segera menghabiskan makanannya. "Ayo sekarang kita berangkat, rumahnya tidak terlalu jauh kok dari sini hanya 20 menitan saja kalau kita melaju dengan santai." Mendengar ucapan ayah, aku dan ibu pun masuk ke dalam mobil lalu kami diantar oleh pak Antok.
Sekitar 25 menit berlalu, "sebentar lagi kita tiba, pertigaan kita belok kanan rumah papan paling ujung ya pak Antok." ucap ayah memberi penjelasan kepada Pak Antok.
"Iya Tuan. "
"Apa Ibu masih ingat waktu terakhir kali ke sini?" Tanya ayah kepada Ibu dan Ibu hanya menjawab dengan senyuman. "Apa jangan-jangan ibu lupa? Waktu itu usai Ibu melahirkan, mbok bilang Ibu nanti kalau hamil lagi anaknya laki-laki, ha ha ha ha." Dan sekali lagi Ibu tidak menjawab perkataan Ayah dan hanya tersenyum.
Aku terus memperhatikan Ayah dan Ibu dari kaca mobil di depan. Aku memperhatikan ekspresi mereka masing-masing, seperti tidak ada kecocokan memori, ucapku di dalam hati.
Kami sudah tiba di rumah mbok Yati, melihat kedatangan kami mbok Yati tampak sangat senang. "Waaaah, Tuan ... sudah lama sekali tidak kemari dan nyonya juga. " Sambutannya ramah.
"Iya Mbok, maaf pekerjaan banyak sekali dan setelah melahirkan, istriku ini tidak pernah mengeluh sakit pada tubuhnya dan minta diurut seperti biasanya. "
"Ooh begitu, padahal dulu hampir tiap bulan ke mari ya tuan agar bisa diurut. Ayo ayo silahkan masuk. " ucap Mbok Yati
"Iya Mbok. " Dari tadi hanya suara ayah saja yang terdengar sejak dari mobil hingga tiba di rumah ini. Setelah kami masuk ke dalam rumah dan duduk, Ayah langsung memperkenalkan aku pada si Mbok.
"Mbok, coba lihat! apa mbok Yati kenal gadis itu?" Tanya Ayah sambil melihat si Mbok kemudian si Mbok memperhatikan aku dengan teliti.
"Coba dulu, ini ... pamit ya Non, si Mbok membuka sedikit bajunya si non dari belakang, supaya bisa melihat pinggang si Non." ucap si mbok seraya mengangkat bajuku sedikit. "Ha ha ha ha, ini Non Sarah... si kecil yang pendiam." Jawab mbok Yati penuh rasa percaya diri.
Bagaimana si mbok Yati ini bisa tau? tanyaku di dalam hati. "Sekarang sudah besar segini ya, ngak terasa Tuan. Ya sudah, kalau mau pijat ayok si non masuk ke dalam kamar!" Ucap mbok Yati sembari memandang wajahku.
Aku dan mbok Yati masuk ke dalam kamar, aku membuka pakaian ku dan menggantinya dengan sarung coklat milik mbok Yati.
kamipun mulai proses pemijatannya dengan santai.
"Mbok Yati sudah tua tapi pijatannya masih sangat terasa ya mbok." ujarku memecah keheningan
" Makasih ya Non, Non persis sekali dengan Ibu Non ya, ramah .... " ucap mbok Yati
"Ooh iya Mbok, Mbok tadi mengangkat baju ku waktu ingin menjawab pertanyaan Ayah, kenapa Mbok?" Tanyaku penasaran dengan apa yang mbok Yati lakukan.
"Ha ha ha ha, iya Non karena sepengetahuan mbok, non Sarah dan ibu itu punya tahi lalat tiga titik di tempat yang sama persis, ya di daerah pinggang dan polanya seperti segitiga, mbok ingat sekali itu karena yang membantu persalinan non Sarah kan si mbok. " jelasnya
"Ooh begitu ya mbok. " sahutku mulai paham.
Aku tertawa mendengar perkataan si mbok, "bagaimana mungkin itu bisa terjadi mbok- mbok?" tanyaku.
Tapi mungkin saja sikap Ibu begitu karena tragedi yang dialami Ibu di rumah belum lagi dengan kematian si Mbok yang masih misterius. Aku juga tidak terlalu paham dan mengenali Ibu, karena aku belum pernah tinggal bersama Ibu dalam waktu yang lama, pikir ku dalam diam.
Dua jam Mbok Yati memijat ku, rasanya nyaman sekali bahkan tadi aku sempat tertidur kata mbok Yati. "Mbok, apa aku boleh main kesini lagi lain waktu?" tanyaku dengan ekspresi tenang.
"Tentu saja Non, si Mbok malah senang banget dengarnya. "
"Duh Mbok, pamit ya aku numpang pipis. " Sembari berdiri dan memegang kain sarung yang aku kenakan.
"Iya Non, silahkan... engak papa." sahut Mbok Yati. Aku keluar mengenakan kain sarung coklat yang dipakaikan mbok Yati tadi. Tidak lama keluar dari kamar mandi, Aku langsung ketempat Ayah karena Ayah memanggil ku.
"Sarah."
"Iya yah. " Jawabku sigap.
"Ayah, aku sudah selesai urut nya. "
"iya, ini uangnya berikan pada mbok Yati ya! (dalam amplop) nanti kamu yang memberikannya ke mbok Yati. " ucap Ayah karena melihat aku bingung
"Iya yah. " ucapku.
Saat aku berdiri di depan Ayah dan Ibu, Ibu terlihat kesal dan marah melihat aku menggunakan kain sarung ini. "Apa yang kamu pakai ini Sarah? (nada ibu agak tinggi). "
"Ini tadi waktu pijat, Mbok Yati memberikannya padaku untuk alas Bu. " jawabku membela diri.
"Huh, cepat buka! Jelek sekali. " ucap Ibu ketus.
Dari dalam kamat mbok Yati keluar, mungkin mendengar suara Ibu yang agak sedikit keras saat berbicara tadi.
"Ada apa ini Tuan, Nyonya? "
"Nggak papa kok Mbok, Sarah cuma di suruh cepat sama Ibu nya. "
"Ini kainnya biar cepat di ganti Mbok (Ibu menyeletuk). "
"Kenapa memang dengan kainnya Nyonya? Bukannya ini kain sarung kesayangan Nyonya sendiri? Inikan sarung pemberian Nyonya, dulu kalau pijat ya Nyonya selalu pakai ini. " Ibu hanya terdiam mendengarkan ucapan mbok Yati. "Kalau begitu maaf Nyonya, Tuan." ucap Mbok Yati.
"Nggak papa kok Mbok, cuma salah paham saja, Sarah... ayo cepat! " kata Ayah dengan wajah yang tidak enak
Aku dan mbok Yati masuk ke kamar untuk segera mengganti pakaian ku. "Apa Nyonya sedang ada masalah Non? Kenapa sikap Nyonya jauh berbeda antara yang dulu dengan yang sekarang? Mbok jadi bingung." tanya si mbok
"Sekarang ini Ibu memang lagi pusing Mbok makanya sikap Ibu begitu. " ujarku mencoba memberi penjelasan pada Mbok Yati.
"Oooh, begitu ya Non. " berkata sembari keluar dari kamar.
Tidak lama kemudian, mbok Yati masuk kembali ke dalam kamar, mbok Yati menatap lurus dan tiba-tiba Iya berpesan padaku. "Kalau tidur pintu kamarnya ditutup yang rapi, percayalah pada hatimu, terus berhati-hati dengan segala yang ada di sekitarmu, jadilah anak yang peka. " Mbok Yati berbicara dengan nada yang datar sehingga membuat aku bingung dan merasa tidak nyaman.
"Iya Mbok, terimakasih atas saran dan perhatian si mbok kepadaku. "
Aku segera keluar dari kamar. Baru tiba di depan pintu kamar, aku terkejut sekali karena melihat mbok Yati sedang asyik mengobrol bersama Ayah dan Ibu.
Lalu tadi yang di dalam itu siapa? Perlahan aku menolehkan wajahku ke kanan tapi tidak ada siapa-siapa lagi di dalam kamar, ini semua membuatku bingung, bingung, bingung, dan semakin bingung.
Siapa sosok mbok Yati yang berada di dalam kamar dan memberikan nasihat kepada ku tadi? sementara itu, aku juga masih sangat bingung dengan kematian si Mbok serta misteri tentang Tania yang sering menghantuiku serta kisah tentang gudang tua. Aku sangat bingung dengan semua akan ini.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘