
Kita lah yang memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Jalan yang kita lihat akan selalu gelap kalau kita memandangnya demikian. Aku percaya di dalam hatimu masih ada matahari kecil yang aku tutupi karena rasa ketakutan yang aku ciptakan sendiri.
Malam ini, aku berusaha membukanya sejenak. Dan aku telah menyadari betapa indahnya pelangi yang selama ini aku hindari, yaitu perasaan untuk memberi jalan dan pertolongan. Ada keluasan tersendiri bagiku sebagai gadis tanggung yang tidak tau apa-apa di saat aku mampu membantu orang lain. Bukan ... mungkin bukan orang tapi roh.
Kejadian beberapa waktu ini mengajarkan aku bahwa selalu akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan aku tidak tahu kapan hari itu akan menghantam ku. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit dengan cahayanya yang akan menghapus luka dan bayangan hitam.
Ibu ... aku semakin dewasa bukan? Aku belajar dari mu dan Tania. Aku belajar bagaimana kalian melindungi dan menolongku walaupun kalian hanya bayangan. Aku ingin sekali menjadi Sarah yang kuat agar aku mampu menjaga diriku sendiri sembari membantu orang lain.
Rasanya ... ada kelapangan hati saat satu masalah dapat diselesaikan dengan tuntas dan mendapatkan hasil terbaik di akhir ceritanya.
Sekarang aku sudah pulang. Aku berdiri di rumah yang sebelumnya tidak aku ingin kan. Tapi hari ini, aku membuka pintu rumah ini dengan senyuman. Bayangan ibu, kenangan Tania, semua itu akan menjaga tawaku saat berada di rumah ini.
"Sarah ... kamu istirahat dulu di kamar ...!Ayah dan pak Antok mau beresin rumah dulu biar nyaman. "
"Biar aku bantu ya yah ... aku sudah kuat kok yah. "
"Tidak ... kamu istirahat saja ... jangan menjawab perkataan Ayah. "
"Baiklah Ayah .... "
"Oh iya ... apa kita jadi untuk merenovasi rumah ini seperti permintaanmu waktu itu? "
"Apa boleh yah? Aku sangat ingin. "
"Ya sudah, kalau begitu ... kamu istirahat dulu ya nak! Setelah enakan, kita akan membicarakannya. "
"Iya yah ... Terima kasih. " sahut ku sambil berjalan ke kamar ku untuk beristirahat.
Aku menaikan seluruh tubuhku di atas ranjang. Dengan tangan kanan yang ku angkat untuk menutupi kedua mataku, aku berusaha untuk segera tidur. Sulit rasanya ... otakku sangat tegang dan tubuhku sangat lelah. Heeemmmh ... seandainya aku bisa tidur sebentar saja. Aku pasti akan cepat pulih. Ujarku di dalam hati.
Sekitar satu jam berlalu, aku mendengar suara tawa yang saling bersahutan tampak seru diiringi suara kaki-kaki mungil di sekelilingku. Aku tidak membuka mataku karena aku tau itu suara siapa. "Tania, kamu di sini? " ujarku setengah berbisik dan berbicara tanpa memberikan gelar kakak kepada Tania.
"Sudah-sudah mainnya ya ... sekarang kamu tidur lagi ...! Nanti, setelah kamu bangun dari tidur pulasmu, kakak janji akan mengajakmu bermain kembali. " ucap Tania kepadaku lewat bayangan dan suara dua gadis kecil yang biasa aku lihat.
Tak lama, aku merasakan tangan halus dan dingin menyentuh dahi dan mengelus-elus hingga ujung rambutku yang panjang. Air mataku menetes melalui celah-celah ujung garis mataku.
Aku ingin sekali membuka mata dan melihat Tania, tapi aku tau ... jika aku melakukannya aku akan kehilangan bayangannya dan aku tidak akan dapat merasakan sentuhan kasih sayang dari dirinya.
"Pelangi pelangi, alangkah indahmu. Merah kuning hijau, di langit yang biru. Pelukismu agung, siapa gerangan? Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan. " Tania terus menyanyikan lagu itu dengan suaranya yang lirih hingga aku benar-benar pulas tertidur dan tidak tau apa-apa lagi.
"Aku tidur nyenyak sekali hari ini Ayah. Ada Tania bersamaku. " ucapku dan itu membuat Ayah terdiam.
"Ayah tidak mengerti apa yang terjadi padamu Sarah. Kenpa kamu bisa berinteraksi dengan hal gaib. " ucap Ayah sambil menundukkan wajahnya.
"Aku juga tidak tau Ayah. Mungkin karena mereka menyayangi aku begitu juga sebaliknya. Ayah jangan sedih begitu ...! Sebenarnya, aku sangat ingin tau kenapa? Apa yang terjadi padaku? Tapi aku tidak tau harus bertanya pada siapa. Ayah, kenapa sangat bersedih? "
"Menurutmu, apa Tania benar-benar sudah Tiada Sarah? " ucap Ayah sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Tampaknya Ayah masih berharap Tania ditemukan dalam keadaan hidup.
"Kalau dalang dari hilang dan terbunuhnya Tania adalah Rima. Ayah tidak akan memaafkannya !! Ayah akan mengutuknya!! " ujar Ayah sambil memukul-mukul paha dengan tangannya.
"Ayah .... " sahut ku lirih. Aku berjanji Ayah, aku akan mencari tau dimana Tania agar Ayah bisa tenang dan hati Ayah bisa tentram. Janjiku di dalam hati.
Kami melewati makan malam bertiga, bersama Pak Antok. Rasanya nyaman sekali, walaupun semua jendela dan pintu terbuka, tapi angin dingin malam yang masuk dan menyapa kulitku tidak menyakitiku seperti biasanya.
"Non gimana keadaannya? Bapak punya kenalan orang pintar yang bisa menutup penglihatan Non Sarah itu jika Non Sarah mau. "
"Mau pak. Mau banget ... tapi tidak sekarang. Ada satu urusanku yang belum selesai. "
"Apa nak? Apa ini soal Tania? " tanya Ayah dan aku menganggukkan kepalaku.
"Aku butuh izin dan dukungan Ayah .... " ucapku dengan suara yang penuh keyakinan.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan Sarah. Lagipula Ayah yakin, Tania tidak akan menyakitimu. "
"Aku akan memulainya sejak malam ini Ayah. Karena tidur tadi siang yang pulas, aku merasa sudah sangat segar dan bugar Ayah. "
"Baiklah ... tapi tetaplah berhati-hati. Cuma kamu harta Ayah satu-satunya saat ini Sarah."
"Baik Ayah. Aku mengerti .... " ucapku sembari menghabiskan makan malam ku.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘